20/10/2025
Idris, seorang pria dari Dhaka, Bangladesh, menjalani hidup dengan pengorbanan yang luar biasa demi masa depan anak-anaknya. Sebagai pembersih saluran pembuangan, ia menghadapi pekerjaan yang penuh stigma dan sering diabaikan oleh masyarakat. Namun, Idris menyembunyikan profesinya dari anak-anaknya, tidak karena rasa malu, tetapi karena cinta dan harapan agar mereka dapat mengejar pendidikan tanpa beban sosial.
Setiap hari, sebelum pulang ke rumah, Idris berhenti di toilet umum untuk membersihkan diri, memastikan tidak ada jejak pekerjaannya yang tersisa. Ia ingin anak-anaknya merasa bangga dan tidak pernah merasa terhina oleh profesinya. Uang yang diperolehnya digunakan sepenuhnya untuk pendidikan mereka; ia bahkan tidak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri.
Pada tahun 2014, ketika biaya pendaftaran universitas putri sulungnya tidak dapat dipenuhi, rekan-rekannya sesama pekerja mengumpulkan uang mereka untuk membantu. Mereka berkata, "Kami mungkin akan kelaparan, tetapi anakmu harus kuliah." Dukungan ini mengubah jalan hidup keluarga Idris.
Cerita Idris pertama kali diungkap oleh fotografer dokumenter Bangladesh, GMB Akash, pada tahun 2017. Melalui foto-fotonya, Akash menyoroti kehidupan orang-orang yang terpinggirkan, termasuk Idris. Kisah ini menyentuh banyak hati dan menjadi simbol cinta seorang ayah yang tak terucapkan namun terasa dalam setiap tindakannya.
Kini, anak-anak Idris telah menyelesaikan pendidikan mereka dan bekerja untuk membantu komunitas yang pernah membantu mereka. Mereka merawat ayah mereka dengan penuh kasih sayang, membuktikan bahwa cinta dan pengorbanan seorang ayah tidak pernah sia-sia.
Kisah Idris mengajarkan kita bahwa cinta sejati tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan dan pengorbanan demi masa depan orang yang kita cintai.