Rumah Anak Yatim As-Sakinah

Rumah Anak Yatim As-Sakinah Sebuah rumah perlindungan anak2 yatim dan anak2 asnaf Beroperasi disebuah rumah berkembar setingkat di Taman Pantai(Sabindo), Kinarut, Papar Sabah.

Menjaga kebajikan 35 orang anak yatim yang menginap di samping menaungi ramai lagi anak2 yatim yang tinggal di kawasan persekitaran, tetapi tidak tinggal di asrama. Menyediakan semua kemudahan asas kehidupan dan pembelajaran secara percuma dengan menggunakan sepenuhnya dana daripada sumbangan masyarakat.Pengendalian diketuai oleh sebuah lembaga pemegang amanah(sukarela), jawatankuasa pengurusan(sukarela), dan 6 orang staf
bergaji tetap.

15/02/2026
17/11/2025
13/11/2025

đź’” The Man Who Refuses to Let Children Die Alone
For over 30 years, Mohamed Bzeek, an Arab-American from California, has done something most hearts couldn’t bear — he’s opened his home to children the world has given up on.
He is one of the only foster parents in Los Angeles who cares exclusively for terminally ill children — those who have no family left to hold them through their final days.
“I’ve cared for 80 children,” he says softly.
“Ten of them died in my arms.”
Many arrive without names.
He gives them one.
Many are expected to live only weeks.
Some stay for years.
He knows every yes will end in heartbreak — but he says yes anyway.
Because in his home, no child dies in a hospital bed surrounded by machines.
They die in peace.
In warmth.
In love.
Today, Mohamed himself battles cancer.
Yet he continues — caring for a little girl born with severe brain deformities, a child the system forgot.
“She has feelings. She has a soul,” he says. “She’s a human being. I know it hurts, but in my heart, I believe we should help each other.”
They call him the Muslim Mother Teresa.
But he doesn’t seek titles.
He seeks to make sure that every child — no matter how brief their life — is loved until the very last breath. ❤️

20/10/2025

Idris, seorang pria dari Dhaka, Bangladesh, menjalani hidup dengan pengorbanan yang luar biasa demi masa depan anak-anaknya. Sebagai pembersih saluran pembuangan, ia menghadapi pekerjaan yang penuh stigma dan sering diabaikan oleh masyarakat. Namun, Idris menyembunyikan profesinya dari anak-anaknya, tidak karena rasa malu, tetapi karena cinta dan harapan agar mereka dapat mengejar pendidikan tanpa beban sosial.

Setiap hari, sebelum pulang ke rumah, Idris berhenti di toilet umum untuk membersihkan diri, memastikan tidak ada jejak pekerjaannya yang tersisa. Ia ingin anak-anaknya merasa bangga dan tidak pernah merasa terhina oleh profesinya. Uang yang diperolehnya digunakan sepenuhnya untuk pendidikan mereka; ia bahkan tidak pernah membeli pakaian baru untuk dirinya sendiri.

Pada tahun 2014, ketika biaya pendaftaran universitas putri sulungnya tidak dapat dipenuhi, rekan-rekannya sesama pekerja mengumpulkan uang mereka untuk membantu. Mereka berkata, "Kami mungkin akan kelaparan, tetapi anakmu harus kuliah." Dukungan ini mengubah jalan hidup keluarga Idris.

Cerita Idris pertama kali diungkap oleh fotografer dokumenter Bangladesh, GMB Akash, pada tahun 2017. Melalui foto-fotonya, Akash menyoroti kehidupan orang-orang yang terpinggirkan, termasuk Idris. Kisah ini menyentuh banyak hati dan menjadi simbol cinta seorang ayah yang tak terucapkan namun terasa dalam setiap tindakannya.

Kini, anak-anak Idris telah menyelesaikan pendidikan mereka dan bekerja untuk membantu komunitas yang pernah membantu mereka. Mereka merawat ayah mereka dengan penuh kasih sayang, membuktikan bahwa cinta dan pengorbanan seorang ayah tidak pernah sia-sia.

Kisah Idris mengajarkan kita bahwa cinta sejati tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan dan pengorbanan demi masa depan orang yang kita cintai.

Address

No. 503, Jalan Pandan, Taman Pantai Lok Kawi
Papar
89600

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumah Anak Yatim As-Sakinah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Rumah Anak Yatim As-Sakinah:

Share