Dayak Bukit Kelingkang Pampang Kapit

Dayak Bukit Kelingkang Pampang Kapit Adil Katalino
Bacuramin ka saruga
Basengat ka Jubata
Arus Arus Arus ���

Adil katalino,Bacuramin ka Saruga,Basengat ka Jubata ,Arus Arus Arus 🚩🚩🚩15/3/2026 ngenatai ke bantu ngagai Cik Puan Nora...
16/03/2026

Adil katalino,
Bacuramin ka Saruga,
Basengat ka Jubata ,
Arus Arus Arus 🚩🚩🚩

15/3/2026 ngenatai ke bantu ngagai Cik Puan Norafifa Binti Mohd Ramli ke kena penusah rumah Angus di kapit. Kami Ari Pampang DBK kapit serta serakup DBK Sarawak ngenatai ke penyinu Ati ngagai sida sebilik ke dituntung penusah ke nyadi. Besampi ke sida meruan mujur serta Sabar napi semua penguji.

Sapa-sapa ke deka Meri bantuan Tau contact enggau Cik Puan Norafifa tauka contact ngagai admin Untuk maklumat lanjut.

Kepenudi ,admin Meri besai Terima kasih mega ngagai team ke udah kiruh serta besusah payah ke terlibat secara langsung enggau enda secara langsung. Semina petara aja malas semua pemanah kita.

Ari aku ,
DBKK968-001

8/10/2025Meri bantu ngagai sida ke kena penusah angus di Bintulu.Besampi ke sida meruan tabah ngelaban penguji.
08/10/2025

8/10/2025
Meri bantu ngagai sida ke kena penusah angus di Bintulu.
Besampi ke sida meruan tabah ngelaban penguji.



24/09/2025

20/09/2025

"Mangkang Menua, Mangkang Dunya, Ngetan Ke Bansa!!"

UPACARA NGAYAU, KEPALA MUSUH UNTUK KEHORMATAN DAN KEKUASAAN

Upacara ini untuk pertama kalinya digelar di muka umum di luar sub suku Dayak Iban. Sebagai upacara untuk umum, tentu saja pelaksanaannya hanya modifikasi dari upacara yang sesungguhnya yang tak bisa lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Kurang lebih, dalam upacara yang digelar pada Selasa 22 Mei 2007 dalam acara Gawe Dayak dan Gelar Budaya Dayak 2007 di Rumah Betang, Pontianak, hanya fragmentasi dari tata cara suku Iban menyelenggarakan tradisi Ngayau.
Ngayau merupakan tradisi suku dayak yang mendiami Pulau Kalimantan, baik suku dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya termasuk Malaysia mengenal tradisi Ngayau, Namun pada gelar Budaya Dayak ini dikhususkan tradisi Ngayau menurut suku Dayak Iban.

Secara historis Ngayau menurut suku Dayak Iban mempunyai arti turun berperang dalam rangka mempertahankan status kekuasaan, misalnya mempertahankan atau memperluas daerah kekuasaan yang dibuktikan dengan banyaknya jumlah kepala musuh.

Semakin banyak kepala musuh yang diperoleh, maka semakin kuat/ perkasa orang yang bersangkutan. Dalam bahasa Iban Ngau bermakna juga sebagai perang berburu kepala yang dilakukan secara berkelompok disebut “Kayau Banyak”atau individu yang disebut “Ngayau Anak” . Sedangkan orang yang memperoleh kepala dianggap sebagai pahlawan perang yang biasa dianggap dengan “Bujang Berani” atau ksatria.

Adat Ngayau pertama kali diturunkan oleh Urang Libau Lendau Dibiau Takang Isang (kayangan) yang saat itu sebagai tuai rumah (kepala kampung) yang bernama Keling. Berkat keberaniannya dan kegagahannya maka diberikan gelar : Keling Gerasi Nading, Bujang Berani Kempang (Keling merupakan orang yang gagah berani). Gelar tersebut diberikan oleh Tetua Iban yang bernama Merdan Tuai Iban, yang saat ini tinggal di Tatai Bandam (masuk dalam wilayah lubuk Antu Serawak Malaysia).

Upacara mengayau yang sekarang ini dilakukan mempunyai makna mengisyarakatkan atau memberitahukan kepada generasi muda tentang peristiwa ngayau pada waktu dulu.

Bahan-bahan yang dipersiapkandalam upacara ngayau, antara lain:
– 7 piring pulut (ketan)
– 7 piring tempe (pulut yang dicampur dengan beras)
– 7 piring rendai (terbuat dari beras ketan yang disangrai)
– 7 butir telur ayam matang
– 1 piring berisi: sirih, gambir (sedek), rokok, kapur pinang, buah pinan, tembakau, 7 buah ketupat yang diikat, beras dicampur pulut, 7 jalong cubit, seikat benang yang diikatkan di sungki (ketupat/lepat diikat dengan daun).
– 1 piring utai bekaki (tepung pulut dicampur dengan tepung beras dibuat hiasan seperti tutup sersang, bintang, bintang banyak, udang, pesawat, dan sebagainya).
-3 piring udah berisi bahan-bahan yang digunakan dalam upacara dan ditempatkan dalam ancak yang terbuat dari potongan bambu yang dirangkai dengan seutas tali.
– 2 ekor babi (boleh jantan atau betina).
– 3 ekor ayam jantan
– tengkorak manusia sebagai simbol
– 1 buah kelapa tua sebagai simbol kepala manusia
– minuman tuak

Peralatan perang antara lain :
– sangkok atau tombak
– terabi (perisai)
– tersang (ancak) terbuat dari bambu untuk menyimpan sesajian
– mandau
– 1 buah bendera dengan 5 warna :

– merah = sifat berani
– hijau = lambang kesuburan
– kuning = melambangkan ketulusan
– hitam = melambangkan perlindungan dari orang yang bermaksud tidak baik.
– putih = melambangkan hati dan pikiran yang suci/jernih.

Alat-alat yag digunakan :
– grumung (gong kecil)
– tawak (gong besar)
– gendang
-bebendai (gong sedang)

Prosesi Upacara

– Ngantar pedara (ngantar sesajen)
1. Sebelum turun mengayau, satu minggu sebelumnya para wanita mempersiapkan segala perangkat adat yang dipergunakan untuk membuat sesajen (pedara).
Persiapan untuk membuat sesajen disebut engkira, yaitu mempersiapkan segala bahan-bahan yang digunakan untuk upacara. Sedangkan kaum laki-laki mempersiapkan segala peralatan untuk berperang dan mendata pengaroh (jimat) serta begiga (berburu), mencari lauk pauk untuk persediaan perbekalan selama ngayau.

2. Para Kesatria perang duduk secara berderet lalu bermacam-macam sesajen yg masing-masing terdiri dari 7 piring dihidangkan di depan kesatria. 7 piring mempunyai makna 7 lapis langit.

3. Membaca mantra dilakukan oleh kepala kampung lalu mengibaskas ayam diatas kepala ksatria perang sebanyak tiga kali dan dilakukqan secara berulang-ulang.

4. Kepala kampung mengajak ketua adat yang dipilih untuk membuat sesajen yang diawali dengan pembacaan mantra atau jampi-jampi, lalu ketua adat mencurahkan air tuak sebanyak 7 kali untuk memanggil roh nenek moyang yang dianggap sebagai pelindung dalam perang untuk melindungi dan membantu selama berperang.

5. Mencurahkan atau membuang tuak sebanyak 3 kali untuk mengundang orang-orang dari kayangan untuk hadir dirumah Betang.

6. Ketua adat meminum tuak supaya roh-roh nenek moyang yang sudah berada dirumah Betang untuk melakukan kompromi dalam membuat sesajen yang dipersembahkan kepada roh-roh nenek moyang yang hadir di rumah Betang. Dalam membuat sesajen, yang pertama diambil adalah pulut sebagai lambang perekat kebersamaaan, dimana dalam perang diperlukan adanya persatuan dan kesatuan.

7. Kepada kampung mempersiapkan para tamu untuk menikmati hidangan yang disajikan oleh kedua wanita, maknanya adalah para tamu diharapkan untuk mendukung kegiatan/ peperangan yang akan dilakukan.

8. Kepala kampung mengajak para ksatria perang meminum tuak maknanya memberikan semangat kepada ksatria dalam menghadapi peperangan.

9. Kepala kampung mengambil tumpe lalu menaburkan padi yang telah disanangrai yang melambangkan bahwa masyarakat Dayak Iban mempunyai hati nurani yang jujur dan luhur.

10. Mengambil sirih dan perlengkapan seperti :rokok, daun apok, serta perlengkapan sesajen yang lain masing-masing diambil 5 batang untuk setiap satu piring, lalu ditaruh diacak yang didirikan ditiang tengah dari rumah Betang/tiang ranyai agar orang-orang panggau (kayangan) bersama dengan para tamu dirumah Betang.

Turun Ngayau

1. Kepala adat membaca mantra untuk peralatan perang supaya diberkati oleh ketua-ketua adat yang telah mendahului.

2. Kepala adat memotong ayam dilakukan diatas`tangga dan diambil darahnya untuk mengolesi kaki dan dahi para ksatria yang akan berperang agar diberkati. Setelah itu mencabut bulu ayam dan dioleskan didahi para tamu agar tridak diganggu oleh roh-roh jahat.

3. Para ksatria perang mengambil peralatan perang (pedang dan perisai) sertau mandau yang diselipkan dipinggang.

4. Lalu para ksatria menuruni tangga rumah Betang dengan korban satu ekor babi dengan maksud agar orang panggau (kayangan) ikut bersama dan membantu dalam perang.

5. Para ksatria mengatur strategi supaya dapat memotong kepala musuh yang berada didaerah-daerah.

6. Terjadilah pertempuran atau mengayau, musuh akhirnya kalah dan dipotong kepalanya yang dilambangkan dengan kelapa tua atau tengkorak manusia.

7. Setelah berhasil memotong kepala musuh, para ksatria meluapkan kegembiraan dengan menari-nari lalu mengatur strategi untuk kembali ke rumah Betang.

8. Para ksatria meletakkan hasil perolehan selama perang didepan tangga menuju rumah Betang sambil bercengkerama mengisahkan pengalaman mereka selama perang.

9. 2 orang wanita dan pawangnya menuruni tangga rumah Betang untuk mengantar sesajen untuk memberkati hasil perang.

10. Tuai rumah mengibaskan ayam dan memilih orang-orang yang akan membuat sesajen yang akan dipersembahkan kepada orang panggau ( kayangan ) yang telah membantu perang. 3 piring ditempelkan kepada 3 ancak yang terbuat dari bambu lalu dipasang pada tangga menuju rumah Betang untuk persembahan. Menurut kepercayaan mereka, sesajen ini selama 3 hari tidak boleh diganggu karena dapat mendetangkan musibah.

Memasuki rumah Betang

1. Setelah terdengar bunyi-bunyian alat musik sebagai pertanda bahwa para kesatria perang diperbolehkan untuk menaiki rumah betang dengan terlebih dahulu dibacakan mantera, lalu para ksatria dikibas dengan ayam, mencabut bulu ayam, memotong babi lalu dioleskan di dahi barulah menaiki tangga rumah betang. Sampai pada tangga paling atas dicurahkan tuak, lalu tuai rumah memberikan minuman tuak untuk memberi semangat kepada para ksatria perang yang telah berhasil memotong kepala musuh.

2. Setelah di rumah betang, kepala kampung menyiapkan sesajen lalu mengibaskan ayam kepada para ksatria perang.

3. Ayam dipotong darahnya dioleskan ke kepala musuh (tengkorakmanusia) yang berhasil dipotong dan buah kelapa (sebagai simbol), mencabut bulu ayam lalu di oleskan di dahi para ksatria, sesajen diletakkan atau digantung diancak yang ditaruh pada tiang ranjai.

4. Para ksatria perang dengan membawa kepala musuh dan kelapa menari bersama dengan para wanita mengelilingi tiang ranyai sebagai ungkapan syukau kepada para panggau (orang kayangan) yang telah membantu perang, lalu mengelilingi rumah betang.

Dayak Bukit Kelingkang
Jenuh Kena Bunuh...
Ngetu Kena Indik...
ANGKAT DAYAK ANGKAT!!!

11/09/2025

"Adat Sabak"

Adat "Sabak Mati" atau nyabak didalam Budaya dayak iban adalah upacara meratapi dan menghantar roh si mati kw alam sebayan yang dilakukan oleh seorang tukang sabak. Tukang sabak adalah pakar nyanyian ratapan yang menceritakan perjalanan roh si mati dan upacara ini penting untuk memastikan roh mendapat laluan yang lancar ke tempat sepatutnya.

"Peranan Tukang Sabak"

* Tukang sabak akan menceritakan perjalanan dan persinggahan yang dilalui oleh si roh si mati di dalam alam sebayan seolah olah menemani roh si mati.

" Menghantar roh dengan lancar"
* Peranan utama adalah untuk memastikan roh si mati dapat pergi ke alamnya dengan baik dan tanpa gangguan.

" Persembahan ratapan"
* Nyanyian yang dibawakan oleh tukang sabak adalah bentuk ratapan untuk menghormati si mati dan mengiringi roh nya ke alam lain ke (Batang mandai )*

" Proses adat sabak mati"

* Panggilan untuk tukang sabak jika rumah panjang si mati tidak mempunyai tukang sabak ahli keluarga akan menjemput tukang sabak dari rumah panjang lain untuk hadir.

* Perhimpunan tetamu para keluarga dan tetamu akan berkumpul dan membawa sumbangan seperti beras pulut ayam dan duit untuk membantu keluarga si mati serta untuk upacara nyabak. ( Pemberian tidak telaluk didalam sesatu rumah panjang kerana mengikut sesatu daerah dan tempat)

" Nyanyian dan ratapan"
* Tukang sabak akan mula menyanyikan lagu lagu ratapan untuk mengiringi roh si mati yang juga fungsi sebagai perkhabaran kepada ahli keluarga yang masih hidup tentang perjalanan roh si mati.

"Kepentingan Budaya"
"Menghormati arwah"
* Adat nyabak adalah cara masyarakat dayak Iban untuk menghormati roh orang yang telah meninggal dunia.

" Menjaga identiti Budaya"
Meskipun amalan tradisional ini semakin berkurangan disebabkan pemodenan. Ia masih menjadi sebahagian daripada identiti budaya masyarakat Dayak Iban yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Jenuh Kena Bunuh...
Ngetu Kena Indik...
ANGKAT DAYAK ANGKAT!!!

11/09/2025

NGADING PETARA SEBEDAU BUMAI

Mayuh bala kitai ba nengeri nyangka lubah deka mereti jalai aki ni kitai kelia ngidupka diri, sereta mega chara sida nyembah Petara ke besai reti ba pengidup sida, lebih agi dalam pengawa ke dikemeranka sida kena idup, kena ngiga pemakai.

Kitai Iban sigi bansa asal orang ngemeranka pengawa bumai. Taja pan diatu pengawa bumai nya udah jarang dikereja ketegal anembiak kemaya haritu ke udah mayuh besekula, bala rebak baru diatu enda tau enda nemu mimit pasal asal pengawa bumai nitih ka jalai orang tuai menya. Kebuah pia, enti bala anembiak enda nemu, sida lalu enda mereti bakani ku gaya runding enggau jalai pengidup orang tuai, aki ini sida empu kelia.

Gawai Batu nya sebengkah gawai ti didirika kitai Iban lebuh baru deka belabuh bumai. Nyadi jalai tusui aku tu nitih padah sida niang ini menya lalu mega bepanggai ba padah niang Benedict Sandin dalam bup iya Raja Durong.

Nyadi semua pengeraja kitai Iban dulu menya endang ulih ari pemulih padi magang. Nya alai laban umai nya pun pengidup bansa kitai, nya mega kebuah kitai Iban jimat bendar megai adat bumai betaun. Empa penyimat sida, enti asi bisi belimbur kia-kia, asi nya enda tau enda diputik sida enggau naka penyiru, enggau naka penangi.

Ba genap rumah panjai Iban, endang sigi bisi siku orang dipaduka nyadi epala bumai betaun. Nyadi orang tu enda tau enda orang ke nemu pasal burung, ngelala pejalai bintang enggau bulan, likun pendiau, lalu ruai tikai iya enda tau sekali endur ngempuru laya enggau chakah indu anembiak laban takutka ruai iya kamah laban bekau pengamah enggau penyai. Pia mega orang kena pilih nya sigi enda tau enda orang ke pemulih padi enggau reta, reti nya, iya sigi orang ke pama agi pendiau.

Kejang deka bumai, kepala taun enda tau enda baum betanya ka utai deka dikereja sida serumah ungkupka taun nya, enti endur bumai udah ditetapka alai ba aum tuai rumah dulu ari nya.

BETANYA DULU

Dia sida lalu betanya ngagai pangan diri sekalika taun ke dulu nya chelap lalu likun ba pengidup padi. Tauka iya bisi asai sereta berupai renga. Enti sema iya renga, tuai nya lalu mai orang ngenselan menua ke dikumbai Buling ka Menua. Tang enti taun ke dulu nya manah sida nadai nyebut tu. Manah tauka jai taun ke dulu, sida endang seruran gagit deka niri Gawai Batu kena bechelap lalu ngemanahka agi umai ba taun baru.

Nyadi enti menua digenselan, babi siku mesti dibunuh tambah enggau siku tauka dua iku manuk kena miau piring. Orang ke ngereja pengawa tu enda tau kurang ari tiga ngagai lima iku. Endur sida enselan nya endur lama, enti bisi, lalu enti nadai ulih mungkal endur baru.

Ba senentang atur piring, siti piring tumbak, siti engkah atas para, siti engkah atas keresang, empat iti engkah ba sukut para enggau siti buai ke ai. Udah tembu miring nya baru ngaga serepak enggau pentik digaga ari kayu kumpang tauka menuak dua iti. Tembu nya, baru tuai orang ke ngenselan menua lalu nyampi munyi tu:

“O hoi! O hoi! Tu aku miau ka manuk, kena miau piring, miau ading, miau perengka, miau tengkira. Ngambika nadai runggang, nadai timpang, bisi semua, bisi sereta. Kebuah alai pengawa kami bakatu, laban kami tu enselan menua, enselan tanah, enselan ai. Laban menua kami taun siti tu kemari udah diasai ka kami bisi menawa, bisi senika, alai kami nanam padi, nanam tempuli. Kami tu minta tulung Petara Aki, Petara Ini, ke menya ke kelia. Kami tu endang nampung endang nerujung, endang niti endang nali ajar Petara, ajar Sempulang Gana, kenyau ari kelia nyentukka kemayatu. Kami tu nyau deka bumai baru meh, nya alai nyau ka nuchi, ka meresi, ka ngupas ka ngendas, muai Antu Menawa Antu Senika, muai Antu Kudi, Antu Bebali.”

Udah tembu nyampi nya baru munuh manuk enggau babi. Darah timbun mimit atas mua lubang ke alai darah nya siuh. Darah ke siuh nya lalu ninggang piring enggau tanah dalam lubang. Udah tembu munuh babi, nya baru nganjung semua piring ke disebut nya tadi ngagai endur sida siti-siti.

BEGERAH NGANJUNG BATU

Datai sida di rumah, nya baru begerah ngasuh orang siku sepintu nganjung batu, duku kena mantap enggau pengait, ngagai langkau panggau ke digaga orang ke tinggal di rumah, tinggal orang ke munuh babi enselan menua dulu tadi.

Udah nya kepala taun ke nyadi tuai gawai miauka manuk baru kena beranchau tikai. Orang dulu ngembaika tikai di ruai kepala taun empu.

Udah tembu beranchau, dua iku orang belanda ngirit chapan berengkah ari ruai tuai gawai siku ke setak, siku ke setak, mupuka Antu Rua, niti tempuan. Dia orang ke indu lalu meri mayuh macham utai ke enda manah baka gari sepit, gari raga, gari senduk enggau utai bukai. Datai seduai ba pala tangga, seduai lalu ngebuka semua utai dalam chapan ke baruh rumah enggau jaku munyi tu:

“Nya nyah, tu beri kami ngagai nuan Antu Rua, Antu Rangka. Anang agi minta, anang agi nanya. Utai tu bai nuan pulai ke Brunai, ke tasik besai, bai pulai ke Sintang, ke Tawang.”

Udah tembu nya manuk dibiau baru kena ngerah ngalu batu. Orang pan lalu nurun siku sepintu, mai pua kumbu kena nyandik tauka ngema batu pulai ke rumah. Ripih sida bejalai pulai mai batu nya, siku dulu nyan setunggul burak, lalu ditangkanka orang siku minching manuk. Udah nya dientudika orang siku minching tabak piring, nya baru tuai gawai ke lalu ditangkan sida bukai bejalai betunda udi, dulu ari bala lemambang ke mengap enggau orang ke begendang. Datai di tanah sida lalu bejalai melit langkau panggau nya tiga kali besundang. Indu lalu nabur panggau batu enggau letup. Udah nya baru lelaki miau enggau manuk munyi tu:

“Sa, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh! Aku miau batu enggau manuk, kena aku minta taun tu enggau ti agi tu ila mansang jurus, mansang alus, enda senika, enda menawa. Aku minta bulih padi, bulih tempuli. Aku minta kami belimpah minta kami betuah bulih reta, bulih pengeraja ari taun ti udah, ngambika kami tau senang, tau lantang.

Udah langkau panggau batu dibiau enggau manuk, tuai gawai lalu ngambi batu ai iya dulu, lalu dima tauka disandik iya enggau pua. Iya lalu ditangkanka sida bukai niki ke rumah niti tempuan. Nyadi semua pintu bilik sekayu rumah nya ditelengaka orang magang lakka Petara tama nganjung tuah. Sida ke bejalai nya besundang tiga kali niti ruai enggau pantar ngenuluka bala lemambang ke mengap enggau orang ke begendang.

Sekumbang bejalai sida dilanggar sida sarumah nya enggau tuak ke benama ngelanggar batu tiki. Udah tembu bejalai, nya baru sida lalu duduk ba ruai tuai gawai tauka ba bilik iya nitihka atur dulu. Sereta duduk orang lalu ngasuh bini tuai gawai nyendiaka ai kena masu batu.

Nyadi utai endur masu batu nya, enti agi kelia ngena bisin temaga, tang kamayatu bisin ari tin tauka plastic pan tau ga dikena. Utai direndam dia nya baka rangki, pelaga, gerunung, tinchin mas enggau ringgit. Nyadi utai kena ngirah ngambika manah bau nya buah kepayang kirai, kerupak buah langgir, tepus bau, bunga tual, bunga buot rangkai begulai enggau darah manuk enggau darah babi ti dibai pulai ari tanah kena ngenselan menua pagi nya.

Tiap iku orang ke empu batu lalu ngambi ai magang kena masu batu. Udah bekau nya, orang ke bisi pengaruh lalu, masu pengaruh sida ba ai ke diambi diri iya empu tadi. Udah nya baru tuai gawai ngemansutka upah orang ke masu batu. Upah iya duku sebilah ambika kering semengat, tepayan sigi ka kurung semengat enggau belachu sedepa ka tudung iya.

Kejang orang deka berengkah masu batu, gendang rayah lalu dipangkung tiga renggat. Sereta gendang bemunyi, siku orang lalu masu batu ngena ai ke diambi orang tadi enggau siku lalu ngeminyak iya. Udah batu diminyak, iya lalu ngengkahka batu nya atas dulang tapang, laban batu nya enda tau sabarang alai engkah.

BERUMPU MAKAI

Tembu nya, sida lalu berumpu makai enggau ngirup ngagai ruai tuai gawai sereta berami nitihka peneka sida empu. Bisi sekeda mai tuak enggau arak, kupi enggau ruti, salai, kasam enggau pemakai bukai ambika semua pengabang enggau mensia mayuh sama bela ampit ensepi iya.

Udah bekau begulu tu bala lemambang lalu nampung pengap sida baru, mulaika semengat padi, semengat batu enggau semengat sida empu enggaika udah terunda-runda tepejuh jauh lebuh maya gawai.

Abis pengawa lemambang ke mengap, nya sida lalu digempuru ba ruai tuai gawai lalu diberi upah mega mata duit, belachu enggau kebuk sereta enggau besi baka duku ambika kering semengat.

Kadang-kadang, kena orang serumah nya berami baru, bala lemambang bisi mega diasuh orang nenjang bala orang ke minta denjang. Denjang tu reti iya pengap puji ngagai orang siku-siku. Udah tembu nenjang siku, lalu nenjang siku mega. Orang ke minta denjang nya sigi udah nyendiaka pemeri ngagai sapa lemambang ke dipinta sida nenjang.

Niang Lemambang Salok Anak Jembu ke tebilang manah nyawa sereta landik ngena leka jaku ba kandang menua batang Krian, Paku enggau Rimbas dipadah orang selalu mai pulai mayuh bengkah pemeri ari orang ke minta denjang. Entara utai ke kala diberi orang nya baka mata duit, tinchin mas, gelik mas, jam jari, tajung baru, pua kumbu sereta enggau utai bukai baka beras, kebuk enggau manuk sabung.

Nyadi batu ke udah diminyak nya tejuka ba panggau dia dulu. Nyau pagi siti baru sida ke empu batu nya mai batu ngagai umai sida laban maya tu sigi udah manggul. Batu nya alai sida beransah kena ngepunka tebas sida, lalu jadika indu batu. Kebuah pia, laban ukai semina siti batu pengansah aja ke bisi dibai ngagai pelasar endur sida ngetu tauka palan alai ngetu belelak lebuh nebas.

Gawai Batu tu lama udah nadai kala didirika ba menua kami laban udah lama masuk pengarap baru. Ka tambah mega udah kurang lemambang.

Kredit:
https://utusansarawak.com.my/ngading-petara-sebedau-bumai/

Jenuh Kena Bunuh...
Ngetu Kena Indik...
ANGKAT DAYAK ANGKAT!!!

09/09/2025
06/09/2025

NGAYAP

Bagi masyarakat Iban dahulu, usaha bagi si
teruna untuk memikat si dara akan dilakukan
pada malam hari melalui amalan yang
dipanggil Ngayap (Sandin,1980:69).amalan
ngayap ini dilaksanakan bagi membolehkan si
teruna dan si dara untuk berkenalan dan
meluahkan isi hati kepada pasangan masing-
masing,walaupun amalan ngayap dibenarkan
,namun ngayap seharusnya dilakukan dengan
adap sopan santun yang berlandaskan adat
dan pegangan hidup bermasyarakat kaum
iban itu sendiri bagi mengelakan salah sangka
dan fitnah yang boleh mencemarkan nilai
budaya masyarakat iban.
Mengikut Adat, seseorang teruna boleh
mengunjungi si dara tidak melebihi tiga
malam berturut,jika kunjungan berterusan
,ibu- bapa si gadis mempunyai hak untuk
menentukan dan bertanya kepada si teruna
samada si teruna serius di dalam usahanya
untuk memikat atau tidak, jika didapati si
teruna tidak jujur dan hanya ingin berfoya-
foya maka kunjunganya haruslah dihentikan
dengan segera . Dan jika si teruna serius dan
bercadang untuk mengawini si Gadis, maka si
teruna dinasihatkan supaya memberitahu
ibubapanya tentang hasratnya untuk datang
meminang si gadis.sekiranya si teruna masih
berkunjung tanpa membuat keputusan maka
ibubapa si gadis berhak menangkap si teruna
dan menguruskan perkahwinan pasangan
yang berkernaan dan kemudian merujuk
perkara tersebut kepada Tuai Rumah(Ketua
Kaum) dan penduduk rumah panjang yang
berkenaan.
Pada masa kini tradisi dan amalan ngayap
tidak lagi diamalkan di dalam arus
pembangunan dan cara hidup yang lebih
bersifat kemodenan, justeru itu perjumpaan si
teruna dan dara dijalankan semasa maljlis
keramaian,seperti gawai,pergaulan di
sekolah, di institusi pengajian tinggi,atau di
tempat kerja pasangan masing-
masing.namun demikian ngayap adalah
sebahagian kecil daripada budaya warisan
iban, untuk mengelakan budaya ini dari
disalahgunakan oleh generasi baru, maka
amalan ini harus dihadkan untuk orang iban
sahaja,sekiranya terdapat pelanggaran adap
atau campurtangan kaum lain di dalam
amalan ini, maka undang-undang boleh
diambil seperti yang termaktup dalam
Seksyen 132 Adat Iban,1993.

- Dayak Bukit Kelingkang -

02/09/2025

ADAT ENGGAU MAIN

ADAT IBAN

Iban endang kaya enggau adat. Adat tu tau dikumbai atur, chara tauka jalai kitai ngintu tauka ngaduka pengawa ngambika beripih, betusun, teratur sereta berurun lalu enda tak sengapa nadai temu pun, temu ujung. Tau dikumbai semua tusun pendiau kitai Iban endang bepelasarka adat, nya alai leka jaku nadai adat tu suah ditujuka ngagai orang ka enda beradat tauka nadai enggau ngena atur maya ngaduka pengawa tauka ka enda nitihka chara tauka adat orang mayuh. Adat disebut nitihka tuju ngena iya; sekeda ari adat ka suah disebut, kelebih agi Iban kelia iyanya baka

1. Adat belaki bebini/melah pinang.
2. Adat ngintu pemati (pana).
3. Adat bumai betaun.
4. Adat berumah panjai.
5. Adat pendam.
6. Adat gawai.
7. Adat sabung enggau mayuh agi adat ka bukai.

MAIN ASAL

Kitai Iban mega kaya enggau main asal. Main asal Iban endang lengkap nitihka penuai umur, bisi main dikena anembiak mit, anembiak rebak baru, orang bujang enggau oranng tuai.

Sekeda ari main asal Iban:

1. Main kelugi.
2. Main sambut.
3. Main bit-bit inchi.
4. Main chai juai.
5. Main tampin abu.
6. Bepangka (gasing).
7. Bebatak lampung,
8. Bibat lengan.
9. Bintih patung enggau mayuh agi ka bukai.

LEKA MAIN

1. RenUng / Kana (Kalaka-Saribas).
2. Leka Sabak (Nyabak Nerengka: Kalaka-Saribas).
3. Timang Jalung
4. Nimang Tapang.
5. Timang Kenyalang.
6. Sampi.
7. Biau.
8. Ramban
9. Ganu.
10. Sugi.
11. Pantun (Pantun Puji- Batang Rajang).
12. Puchau.
13. Ensera.
14. Leka main anak mit.
15. Tusut.

Jenuh Kena Bunuh...
Ngetu Kena Indik...
ANGKAT DAYAK ANGKAT!!!

31/08/2025

PERAHU PERANG (PERAU PENGAYAU)

Bangkong adalah perahu perang suku Dayak, yang biasanya dipakai oleh Dayak Laut (suku Iban) dari Sarawak. Perahu tersebut dipakai untuk peperangan sungai di Borneo, tetapi juga boleh dipakai untuk berlayar di laut.

Perahu-perahu ini dibuat dengan satu batang kayu yang dilubangi. Walaupun itu sebuah perahu perang besar, panjangnya mencapai 90 kaki (27 m), dibina dari sebuah batang pohon. Papan atau bibir perahu dijahit (stitched) di samping, dan jahitannya didempul, untuk membuat perahu kalis air. Papan-papan itu diikat dengan rotan, yang membuatnya mudah dibongkar. Mereka biasanya dipersenjatai dengan 1 atau 2 lela dan beberapa senapang lantak. Mereka boleh membawa 60-80 orang. Mereka didorong oleh dayung pendek, dan mereka dapat bertahan 6 batu/jam (9.7 km/jam) selama 18 jam, mencapai jarak 100 batu (160.9 km) dalam sehari, atau 12 batu/jam (19.3 km/jam) jika mengejar sesuatu.

Jenuh Kena Bunuh...
Ngetu Kena Indik...
ANGKAT DAYAK ANGKAT!!!

31/08/2025

Address

Kapit
96800KAPITSARAWAK

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dayak Bukit Kelingkang Pampang Kapit posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share