13/12/2025
Salāḥuddīn al-Ayyūbī: Dari Anak Pemalu Menuju Pembebas Palestina — Warisan yang Ia Lanjutkan dari Zangī dan Para Pendahulunya
Pada tahun 1137 M, di kota Tikrit yang senyap di tepi Sungai Tigris, lahirlah seorang bayi laki-laki bernama Yūsuf bin Ayyūb. Tidak ada tanda-tanda bahwa anak ini kelak akan menggemparkan dunia. Bahkan, dalam masa kecilnya, Yūsuf dikenal sebagai anak pemalu, lembut, dan tidak begitu tertarik pada urusan perang sebagaimana tradisi keluarganya—keluarga Ayyūbiyah yang terkenal sebagai keluarga militer.
Namun sejarah memiliki jalannya sendiri.
Awal Pembentukan: Dari Tikrit ke Damaskus
Ketika Yūsuf masih bayi, keluarganya meninggalkan Tikrit dan menetap di Mosul, lalu Damaskus. Di sinilah Yūsuf muda mengenal atmosfer Syām—wilayah yang penuh dengan ketegangan antara pasukan Salib di barat dan kekuatan-kekuatan Muslim yang terpecah di dalamnya.
Ayahnya, Najm ad-Dīn Ayyūb, adalah pejabat tinggi di bawah pemerintahan Imad ad-Dīn Zangī, dan kemudian di bawah putranya, Sultan Nūr ad-Dīn Mahmud Zangī.
Nama Nūr ad-Dīn inilah yang kelak menjadi sangat penting dalam perjalanan Salāḥuddīn.
Sultan Nūr ad-Dīn Zangī: Arsitek Kebangkitan Syam
Nūr ad-Dīn adalah pemimpin yang:
sangat religius,
adil,
mencintai ilmu,
dan menjadikan jihad sebagai agenda politik negara.
Perang melawan pasukan Salib, reformasi hukum, pembangunan madrasah, penegakan syariah, dan penyatuan wilayah Syām—semua itu adalah fondasi yang ia bangun.
Di atas fondasi inilah Salāḥuddīn kelak berdiri.
Yūsuf remaja belajar tentang kepemimpinan, keberanian, kesabaran, dan kedisiplinan melalui lingkar pengaruh Zangī dan para ulama yang dekat dengannya.
Perjalanan ke Mesir: Gerbang Kejayaan
Ketika situasi Mesir kacau karena perebutan kekuasaan antara Dinasti Fatimiyah dan pasukan Salib, Nūr ad-Dīn mengirim panglima terbaiknya, Asad ad-Dīn Shirkuh, paman Salāḥuddīn.
Salāḥuddīn ikut serta dalam ekspedisi itu—bukan karena ambisi, tetapi karena ketaatan pada perintah dan amanah.
Tiga kali Shirkuh memasuki Mesir. Dalam ekspedisi terakhir, ia memenangkan Mesir dan diangkat sebagai Wazir. Tidak lama kemudian, Shirkuh wafat, dan para pemimpin Mesir sepakat mengangkat Salāḥuddīn al-Ayyūbī sebagai Wazir.
Saat itulah perjalanan Salāḥuddīn benar-benar dimulai.
Reformasi Mesir: Melanjutkan Visi Nūr ad-Dīn
Sebagai Wazir, Salāḥuddīn:
menghapuskan sisa-sisa pengaruh Syiah-Fatimiyah,
memperkuat syariat,
menata ekonomi,
membangun angkatan bersenjata,
memperluas madrasah,
dan menyatukan rakyat di bawah panji tauhid.
Ia memerintah dengan akhlak yang membuat musuh pun menghormatinya: rendah hati, adil, dan tidak mencintai kemewahan.
Hubungannya dengan Nūr ad-Dīn tetap erat. Meski kemudian terjadi ketegangan politik, Salāḥuddīn tidak pernah membangkang terhadap gurunya dan tetap menghormatinya hingga akhir.
Ketika Nūr ad-Dīn wafat pada 1174 M, dunia Islam kehilangan pemimpin besar…
dan Salāḥuddīn mewarisi misi yang belum selesai.
Menyatukan Syām dan Mesir
Setelah wafatnya Nūr ad-Dīn, wilayah Syām terpecah. Banyak pemimpin lokal merebut kekuasaan. Salāḥuddīn melihat ini sebagai ancaman terhadap cita-cita besar gurunya: menyatukan umat untuk membebaskan Palestina.
Maka ia bergerak:
Damaskus bergabung,
Hims dan Hama tunduk,
Aleppo menyusul,
dan akhirnya seluruh Syām berada di bawah satu kepemimpinan.
Inilah syarat mutlak untuk menghadapi pasukan Salib.
Inilah sebab mengapa kemenangan besar itu baru mungkin terjadi.
Menuju Puncak: Pembebasan Palestina
Tahun 1187.
Perang besar berkecamuk di Hittīn.
Pasukan Salāḥuddīn mengepung tentara Salib yang dipimpin Guy de Lusignan. Medan, strategi, disiplin, dan semangat jihad memihak kaum Muslimin. Hampir seluruh kekuatan tempur Salib hancur dalam satu pertempuran.
Dari Hittīn, Salāḥuddīn bergerak cepat:
merebut kembali kota demi kota,
hingga akhirnya tiba di gerbang Yerusalem, kota suci yang sudah 88 tahun dikuasai pasukan Salib.
Pada 2 Oktober 1187, Yerusalem kembali ke tangan umat Islam.
Bukan dengan pembantaian, bukan dengan balas dendam—tetapi dengan keadilan, pengampunan, dan perlindungan terhadap penduduknya.
Sifat mulia itu—yang membuat nama Salāḥuddīn dikenang hingga kini—adalah cerminan pendidikan rohani dan moral yang diwariskan oleh Zangī dan para ulama Syām.
Penutup: Dua Generasi, Satu Amanah
Jika Nūr ad-Dīn Zangī adalah arsitek, maka Salāḥuddīn adalah pembangun.
Jika Zangī menanam benih persatuan, Salāḥuddīn menumbuhkannya hingga berbuah pembebasan Palestina.
Kisah Salāḥuddīn bukan hanya kisah seorang panglima, tetapi kisah perjalanan panjang dua generasi pemimpin yang saling melengkapi dalam visi, akhlak, dan pengorbanan.
Dan dunia mengenang:
Pembebasan Palestina adalah kemenangan umat, tetapi fondasinya diletakkan oleh Zangī—dan disempurnakan oleh Salāḥuddīn.