Taring Padi

Taring Padi Taring Padi, formed in 1998, is an art collective based in Yogyakarta Indonesia that uses art as a tool for political expression and education for all.

Taring Padi menggunakan seni sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, seni bisa digunakan sebagai media pendidikan untuk semua. Taring Padi is a political art collective based in Sembungan, Yogyakarta Indonesia, formed on the 21st of December 1998. Taring Padi uses art as a medium for education for all.

Taring Padi, “Rakyat Demokratik,” 1999 (replika 2021), 5 x 4 m, akrilik di atas kainSelamat Ulang tahun ke 27 Taring Pad...
23/12/2025

Taring Padi, “Rakyat Demokratik,” 1999 (replika 2021),
5 x 4 m, akrilik di atas kain

Selamat Ulang tahun ke 27 Taring Padi!

“Rakyat Demokratik” dibuat sebagai bagian dari deklarasi Lembaga Budaya Kerakyatan TARING PADI di LBH Yogyakarta 21 Desember 1998. Banner ini menandai orientasi artistik dan ideologis Taring Padi yang lahir di tengah keriuhan dan gempita reformasi, penuh carut marut tapi juga harapan. Dalam transisi sosio-politik di era awal reformasi itu, Taring Padi melihat bahaya konflik horizontal yang memecah belah gerakan sosial di akar rumput dan merusak insiatif-inisiatif demokratis di berbagai elemen rakyat, seperti ketika Pangab Jendral Wiranto membentuk milisi Ratih (rakyat terlatih) menjelang pemilu 1999. Ironisnya, banner “Rakyat Demokratik” ini dibakar oleh milisi militer dalam aksi solidaritas kaum miskin kota di Titik Nol Yogyakarta tahun 2000. Militerisme tidak begitu saja hilang setelah diktator militeristik Suharto jatuh. Militerisme akan selalu ada sebagai bahaya laten yang mengancam terselenggarannya proses-proses domokrasi kerakyatan di semua level tatanan kehidupan sosial dan bernegara. Semua ini muncul secara literal dan visual di dalam banner “Rakyat Demokratik.” Di bagian atas banner, seruan massa “Tolak Ratih” berhadapan dengan wajah Karl Marx (1818-1883) sebagai simbol ide-ide kiri progresif demokrasi kerakyatan yang salah satunya divisualisasikan dalam bentuk solidaritas sosial figur tokoh agama, petani dan bisnis. Di bagian bawah, adalah solusi yang ditawarkan Taring Padi: koperasi untuk petani, okupasi pabrik oleh buruh dan pendidikan rakyat yang akan membawa kesejahteraan sosial (disimbolkan oleh dua untai padi) dan terciptanya Rakyat Demokratik, tertulis di pita kuning dengan tinta merah.

Pict 2. The first public display of "Rakyat Demokratik" LBH Yogyakarta, 21 December 1998

Pict 3. The installation of "Rakyat Demokratik" in Yogyakarta city center prior to its destruction by militia forces in 1999

Tanah untuk RakyatAcrylic di atas kain220x170 cmDibuat tahun 2000, banner “Tanah untuk Rakyat” ini menyuarakan salah sat...
21/12/2025

Tanah untuk Rakyat
Acrylic di atas kain
220x170 cm

Dibuat tahun 2000, banner “Tanah untuk Rakyat” ini menyuarakan salah satu tuntutan di era pasca Orde Baru: Reformasi Agraria. Setelah tuntutan popular reformasi seperti dihapuskannya dwifungsi Abri dan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta pemilu multi partai yang demokratis berlangsung tahun 1999, isu-isu yang lebih fundamental mulai tak terelakan. Salah satunya adalah isu tanah. Taring Padi belajar tentang isu tanah ini ketika bersolidaritas dengan petani di Kerawang, Jawa Barat tahun 1999 yang menghasilkan banner “Tanah Adalah Hidup Kami.” Dalam banner ini digambarkan barisan petani mendobrak gerbang bertuliskan “Tanah ini Milik Negara.”

Dalam banner “Tanah untuk Rakyat “ ini, tuntutan mengembalikan hak tanah kepada rakyat, dihadirkan lebih brutal dengan menunjuk langsung sumber masalahnya: kolusi antara modal, tentara dan birokrat. Mereka digambarkan dalam figur-figur zoomorphic (setengah manusia setengah binatang). Figur zoomorphic ini kemudian menjadi karakter visual dalam menggambarkan sosok-sosok antagonis dalam narasi karya-karya Taring Padi selanjutnya. Banner “Tanah untuk Rakyat ini adalah hasil workshop Taring Padi dengan Yayak Yatmaka (l. 1956) yang sejak 1970an sudah menggunakan seni sebagai alat politik. Dan tahun 1980-an Yayak membuat kalender politik, yang juga berjudul “Tanah untuk Rakyat.” Seri kalender ini membuat Yayak mengungsi ke Jerman dan baru bisa pulang setelah Suharto jatuh.

Banner “Tanah untuk Rakyat” ini juga menyerukan pembentukan serikat-serikat tani untuk mengembalikan tanah pada bapak dan ibu tani yang digambarkan di kiri kanan bawah banner. Figur petani menjadi karakter visual protogonis dalam karya-karya Taring Padi, ber-evolusi dalam berbagai medium dan variasi sebagai simbol pembawa harapan dalam perjuangan yang panjang. Lebih dari itu, perkara tanah menjadi salah satu tema utama yang digarap Taring Padi, sebagaimana termaktub dalam judul dua pameran mutakhir “Tanah Merdeka” (2023) dan “Tanah Tumpah Darah” (2024).

   with .repost・・・Mempersembahkan“TITIK RAPUH REPUBLIK”Menghimpun Kemanusiaan melalui Karya SeniDi sekitar kita, ada ken...
20/12/2025

with .repost
・・・
Mempersembahkan

“TITIK RAPUH REPUBLIK”
Menghimpun Kemanusiaan melalui Karya Seni

Di sekitar kita, ada kenyataan yang kerap luput dari pemberitaan dan percakapan sehari-hari.
Hari ini, ratusan hingga ribuan warga, aktivis lingkungan, pegiat sosial, hingga anak-anak, tersangkut dalam proses hukum yang timpang akibat manipulasi kekuasaan. Di belakang mereka, keluarga-keluarga seketika kehilangan penopang hidup, dipaksa bertahan dalam ketidakpastian ekonomi dan masa depan yang rapuh.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ribuan warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih berjuang bangkit setelah banjir bandang merenggut rumah, lahan, dan sumber penghidupan.
Mereka bukan sekadar angka dalam laporan kebijakan.
Mereka adalah manusia, sesama warga negara, yang hak atas rasa aman, hidup layak, dan lingkungan yang sehat telah dilanggar.

Berangkat dari kenyataan inilah, TITIK RAPUH REPUBLIK dihadirkan.
Sebuah rangkaian pameran arsip, praktik seni, dan aksi solidaritas yang berpijak pada nilai-nilai Hak Asasi Manusia, dengan menempatkan ingatan, kesaksian, dan empati sebagai kekuatan kolektif.

Di ruang ini, seni tidak berhenti sebagai ekspresi estetis.
Ia hadir sebagai arsip perlawanan, bahasa kemanusiaan, dan alat advokasi.
Melalui penjualan karya seni rupa dan donasi langsung di lokasi acara, pengunjung diajak berpartisipasi secara nyata dalam penghimpunan solidaritas kemanusiaan, agar penderitaan tidak dinormalkan, ketidakadilan tidak dilenyapkan, dan harapan tetap dirawat bersama.

17–22 Desember 2025
10.00 – 21.00 WIB

Langgeng Art Foundation
Jl. Suryodiningratan No. 37
Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Banner Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi, 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600cmBanner ini dipersembahkan pada komu...
17/12/2025

Banner Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi, 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600cm

Banner ini dipersembahkan pada komunitas Sedulur Sikep, dengan siapa Taring Padi belajar dan bekerja bersama lebih dari dua dekade. Banner ini juga ingin membagi hasil dari pembelajaran bersama ini. Sebagaimana kita tahu, Sedulur Sikep adalah saudara yang bersikap, sikap yang berlandaskan ajaran Samin Surosentiko (1859-1914) yang mengutamakan kejujuran, kesederhanaan dan perlawanan tanpa kekerasan. Mereka meyakini bahwa tanah dan air harus kita jaga dan rawat. Karena itu, Sedulur Sikep bergabung dengan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) untuk berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang akan merusak keseimbangan alam di daerah mereka.

Mulai dari judul “Kendeng Lestari: Nyawiji Kanggo Ibu Bumi,” visualisasi detil prosesi lamporan sampai bentuk-bentuk perlawanan tanpa kekerasan, banner ini mencatat, merekam dan menyebarkan apa yang pelajari dari perjuangan panjang merawat dan mempertahankan tanah dan air, dimana perempuan mempunyai peran sentral. Aksi menyemen kaki massal di depan istana negara di Jakarta tahun 2016 lalu adalah salah satu bentuk perlawanan tanpa kekerasan yang kreatif dan militan. Aksi itu sekarang menjadi menjadi sumber inspirasi untuk perjuangan-perjuangan serupa di seluruh penjuru nusantara. Lirik doa dan lagu mereka “Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili” dan “Nak ora iso nggawe ojo ngerusak” menjadi seruan nasional. Dari mereka kita belajar bahwa aksi protes sebaiknya berlandas pada tradisi dan kebajikan lokal. Banner ini secara khusus memaparkan “lamporan”, tradisi tahunan berarak di malam hari sambil membawa obor untuk menolak bala dan hama. Dalam prosesi ini ada “temon banyu geni” (mempertemukan api dengan sumber air) dan juga “temon banyu beras” mempertemukan beras dengan sumber air. Beras itu kemudian dimasak menjadi ketupat yang dirangkai menjadi gunungan dan diarak keliling kampung dalam acara “Kupatan Kendeng” sebagai wujud rasa syukur dan ngaku “lepat” kepada ibu bumi yg sudah memberi.

Banner “Kendeng Lestari” ini dikawal oleh barisan panji-panji berisi doa dan lagu Sedulur Sikep yang mereka daraskan sejak lebih dari 100 tahun lalu. Anggota Taring Padi dan jaringannya juga memproduksi rontek sebagai ekspresi solidaritas atas perjuangan mempertahankan Kendeng.

Kendeng Lestari: Nyawiji Kanggo Ibu Bumi/, Kendeng Lestari, Being One for Mother Earth (People’s Justice 5) 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600 cm

This banner is dedicated to the life path of the Sedulur Sikep community with whom Taring Padi have been working over the past two decades, and their fight against the development of a state-owned cement factory in their karst rich area in the alliance of Community Network Concerned for the Kendeng Mountains (JM-PPK). In 2016, their silent sit-in protest in front of the Presidential Palace in Jakarta with their feet cemented in wooden boxes became a national inspiration. One of their songs, “Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili” (Javanese: Mother earth provides, Mother earth is being hurt, Mother earth will deliver judgement) are often quoted in different environmental struggles across the nation. Their protests are often embedded in their rituals such as lamporan: night marching with torches in a pilgrimage to spring waters and rice fields to remove bad omens. Their militant, creative, non-violent and ritual-based protests are source of inspiration and power for our common struggles.

Invite to everyoneArt exhibition & Artists talk “Tolong Menolong On Tour to capital”BOOK OF ABSTRACTSSoutheast Asían Stu...
12/11/2025

Invite to everyone
Art exhibition & Artists talk
“Tolong Menolong On Tour to capital”

BOOK OF ABSTRACTS
Southeast Asían Studíes
Ideas, Audiences, Approaches, and Aspirations
Institute of East Asían Studíes,
Thammasat University, Rangsit Campus, Thailand
13-14 November 2025

Please come!!!!🙌🏼🙌🏼🙌🏼🔥🔥🔥❤️❤️❤️


Taring Padi, “Mengadili  Suharto dan Para Jendralnya”, (Bring Suharto and His Generals to Justice) 2000, acrylic on fabr...
11/11/2025

Taring Padi, “Mengadili Suharto dan Para Jendralnya”, (Bring Suharto and His Generals to Justice) 2000, acrylic on fabric, 300x300cm.

Banner ini adalah satu dari sekitar 12 banner yang diproduksi Taring Padi antara tahun 1998 dan 2002. Produktifitas kolektif ini didorong oleh tuntutan sejarah dan kegentingan politis di era awal reformasi setelah jatuhnya diktator militer Suharto tahun 1998. Berdiri sejak Desember 1998, Taring Padi mendukung demokrasi kerakyatan dengan salah satu misi utama melawan fasisme dan militerisme dengan menjadikan kerja artistik sebagai bagian dari kerja politik, memfungsikan seni sebagai alat agitasi, propaganda dan pendidikan politik. Taring Padi yakin bahwa militerisme, dalam segala rupa, bentuk dan manifestasinya di setiap aspek kehidupan kita, adalah salah satu penghalang fundamental terwujudnya demokrasi kerakyatan di Indonesia. Hal ini menjelaskan mengapa figur militer selalu muncul sebagai sosok antagonis (biasanya) dalam figur setengah manusia setengah binatang (zoomorphic) di semua banner Taring Padi. Namun dalam “Mengadili Suharto dan Para Jendralnya,” sosok Jendral bintang lima Suharto tidak perlu lagi digambarkan sebagai figure zoomorphic, walau dia dikelilingi oleh sosok-sosok berkepala serigala, babi dan tikus yang terikat. Dibuat tahun 2000, banner ini mengingatkan bahwa sudah 25 tahun kita menuntut pengadilan atas rentetan kejahatan kemanusian Suharto dan para jendralnya. Alih-alih, salah satu jendral Suharto itu sekarang menjadi presiden Indonesia dan di hari pahlawan kemarin dia menganugerahi Suharto gelar pahlawan nasional republik Indonesia. Perjuangan masih panjang dan harus kita teruskan. “Kita telah berjuang… sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” (Pramodya Ananta Toer) dan kita akan terus berjuang, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
This banner is one of around twelve produced by Taring Padi between 1998 and 2002. The collective’s productivity during this period was driven by historical urgency and political tension in the early Reformasi era following the fall of military dictator Suharto in 1998. Founded in December 1998, Taring Padi believe in people’s democracy, with one of its main missions in to fight against fascism and militarism by making artistic work an integral part of political struggle—using art as a tool for agitation, propaganda, and political education. For Taring Padi, militarism, in all its forms and manifestations across every aspect of our lives, is one of the fundamental obstacles to realising a truly democratic society in Indonesia. This explains why military figures often appear as antagonistic characters, usually depicted as half-human, half animal (zoomorphic) figures in all of Taring Padi’s banners. However, in “Bring Suharto and His Generals to Justice,” the five-star General Suharto himself no longer needs to be rendered as a zoomorphic figure, even though he is surrounded by bound figures with the heads of wolve, pig, and rat. Created in 2000, this banner reminds us that for 25 years we have demanded justice for the series of crimes against humanity committed by Suharto and his generals. Instead, one of Suharto’s own generals has now become President of Indonesia, and on Heroes’ Day (10 November 2025), he even bestowed upon Suharto the title of National Hero of the Republic of Indonesia. The struggle is long, and we must continue it. “We have fought… as best and as honorably as we could.” (Pramoedya Ananta Toer). And we will continue to fight, as best and as honorably as we can.

Senang bisa berbagi cerita tentang karya, kegiatan & berkolektif yang menjadi ruang belajar bersama. Kunjungan  ini menj...
25/10/2025

Senang bisa berbagi cerita tentang karya, kegiatan & berkolektif yang menjadi ruang belajar bersama. Kunjungan ini menjadi bagian dalam mata kuliah Studi Orientasi Profesi, jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta
Semangat selalu, muda dan berbahaya 🔥

Sampai jumpa di kegiatan selanjutnya.🙏🏽

  from .ir In collaboration with the Inter-Asia Woodcut Mapping Group, Espace Noir is hosting a major exhibition of wood...
05/10/2025

from .ir
In collaboration with the Inter-Asia Woodcut Mapping Group, Espace Noir is hosting a major exhibition of woodcut prints in its gallery from October 11 to December 19, 2025. Fifteen collectives and artists will take part in the exhibition, with their artworks displayed on the walls of Espace Noir for over two months.

Coming from China, Japan, South Korea, Hong Kong, Taiwan, the Philippines, Malaysia, and Indonesia, these fifteen collectives and artists have responded to our call to create a collective exhibition: “Carving Dissensus: Contemporary Printmaking Practices in Inter-Asian Context.” The exhibition aims to present a rich panorama of contemporary woodcut printmaking practices in East and Southeast Asia. It not only seeks to show how artists use woodcut techniques to create inspiring artworks, but also to highlight their open methods of self-organization—exploring how art enables them to unite people across social classes and to restore voice and visibility to marginalized and ignored social groups.

Galerie Coopérative ESPACE NOIR
Rue Francillon 29
2610 Saint-Imier
Switzerland

  from  S͎A͎V͎E͎ ͎T͎H͎E͎ ͎D͎A͎T͎E͎.1 OCTOBER, 7 - 11 pm On October 1st, the Indonesian collective  opens their first exh...
27/09/2025

from
S͎A͎V͎E͎ ͎T͎H͎E͎ ͎D͎A͎T͎E͎.

1 OCTOBER, 7 - 11 pm

On October 1st, the Indonesian collective opens their first exhibition in Rome at C͎A͎N͎T͎A͎D͎O͎R͎A͎, presenting a new large-scale banner created during their residency in the city.

Rooted in the collective’s foundational principles — Organise, Educate and Agitate — the project hosted by the gallery, reflects the ethos of Taring Padi and lends its name to the final exhibition. The banner — rendered in their iconic visual language — is dedicated to the stories of Sikh men and women from Punjab who live and work in the agricultural areas surrounding Rome. This community, one of the largest migrant labor forces in the region, faces systemic exploitation by the agromafia networks that dominate Italy’s rural coastlines, often under conditions akin to modern slavery.

Alongside the banner, a selection of individual works from the artists’ archives will also be on view, offering insight into the personal practices that coexist and intersect within the collective identity of Taring Padi. Artists Fitri DK, Dodi Irwandi, Ucup Baik, Setu Legi, Surya Wirawan will inhabit both the gallery and the city — building relationships and alliances with local communities, as is central to their artistic and political practice.

✍🏻info and press .it
👁️visual

Sabah, 13–21 Juli 2025Selama satu minggu penuh, kami mendapat kesempatan untuk berkumpul dan belajar bersama dalam progr...
09/09/2025

Sabah, 13–21 Juli 2025

Selama satu minggu penuh, kami mendapat kesempatan untuk berkumpul dan belajar bersama dalam program Narrating Localities — sebuah perjumpaan hangat yang diorganisir oleh

Bersama kawan-kawan seniman grafis dari berbagai negara, kami berbagi pengalaman, cerita, isu-isu sosial yang menjadi fokus, dan proses kreatif—baik di ruang pamer, simposium, maupun ketika mengunjungi komunitas-komunitas lokal progresif yang terus menjaga semangat solidaritas.

Kami menyampaikan pesan mengenai isu Lingkungan Hidup melalui karya Jungle of Hopes, kolaborasi dengan Just seed pada tahun 2021 dan karya Flying in the Sea, kolaborasi dengan ikkibaWikrrr dan Komunitas Akar Padi pada tahun 2023. Menjaga dan merawat bumi pertiwi merupakan kesadaran ekologis yang perlu diperjuangkan sebagai ruang hidup bersama. Ekosistem alam raya yang dijaga dan dirawat adalah masa depan kehidupan.

Di penghujung residensi, kami bersama peserta lain merefleksikan pengalaman dan pengetahuan yang didapat dalam perjumpaan ini dengan membuat karya kolektif berbentuk accordion book dengan teknik cukil kayu — medium yang kami gunakan untuk menyampaikan pesan, sebagai media pendidikan, perlawanan dan membangun solidaritas.

Pameran ini masih dapat dikunjungi di Gallery Azman Hashim, Universiti Malaysia Sabah (GAH-UMS) hingga 30 September 2025.

Terima kasih untuk ruang perjumpaan ini.

Suara demi suara dibungkam dan dilenyapkan, bukan didengarkan apalagi dikabulkan. Suara demi suara dikriminalisasi bukan...
06/09/2025

Suara demi suara dibungkam dan dilenyapkan, bukan didengarkan apalagi dikabulkan.
Suara demi suara dikriminalisasi bukan diamini .
Luka demi luka terus menganga, meninggalkan perih hingga berujung kematian demi kematian.
Negara diam, seolah negara tanpa warga.
Negara lupa, bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan.

Semua kepentingan diamankan agar terus bergelimang kekuasaan.
Semua harapan dilibas demi keabadian kekuasaan segelintir orang.
Tak ada harap pada negara yang rakus, tamak, congkak, dan brutal.

Rawat semangat perlawanan hingga keadilan ditegakkan.
Ruwat api penindasan hingga kedaulatan dalam genggaman.






Poster ini dipersembahkan untuk siapapun yang bersepakat melawan segala bentuk ketidakadilan. Download dan sebarkan nyala perlawanan, jangan biarkan padam !! 🔥

Jangan mau di adu domba, kita bersatu, kita pasti menang. Lawan segala bentuk penindasan! Lawan koruptor, lawan pemegang...
04/09/2025

Jangan mau di adu domba, kita bersatu, kita pasti menang. Lawan segala bentuk penindasan! Lawan koruptor, lawan pemegang kekuasaan yang serakah dan sewenang wenang.

Address

Desa Sembungan, RT 02 – Bangunjiwo Kasihan Bantul
Yogyakarta City
55799

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taring Padi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Taring Padi:

Share