Taring Padi

Taring Padi Taring Padi, formed in 1998, is an art collective based in Yogyakarta Indonesia that uses art as a tool for political expression and education for all.

Taring Padi menggunakan seni sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, seni bisa digunakan sebagai media pendidikan untuk semua. Taring Padi is a political art collective based in Sembungan, Yogyakarta Indonesia, formed on the 21st of December 1998. Taring Padi uses art as a medium for education for all.

Tragedi 335, Ziarah dan Harapan MerekaTRAGEDI 335Tragedi 335 di adaptasi dari peristiwa satu keluarga Hind Rajab anak be...
31/07/2026

Tragedi 335, Ziarah dan Harapan Mereka

TRAGEDI 335
Tragedi 335 di adaptasi dari peristiwa satu keluarga Hind Rajab anak berumur 5 tahun yang dibunuh didalam mobil dengan 335 tembakan peluru tentara Israel di Tel Al-Hawa dekat kota Gaza Palestina. Satu tragedi dari ratusan ribu derita yang terjadi di Palestina.

ZIARAH
Ziarah adalah instalasi seni interaktif yang merepresentasikan ritual ziarah sebagai upaya membuka ruang refleksi, bertanya, mengenang, penyembuhan luka, berdoa dan penghormatan mendalam terhadap semua korban genosida dimanapun. Di pertemuan antara yang hidup dan yang mati ini, kami berharap menggalang solidaritas untuk menghentikan semua bentuk penindasan di muka bumi, sekarang.

HARAPAN MEREKA
Setiap orang memiliki harapan hidupnya masing-masing. Harapan merdeka untuk belajar dan berkarya, berkumpul dan berotonomi, hidup sejahtera, adil dan beradab adalah hak setiap manusia. Perbedaan dalam praktiknya, ibarat taman bermain dimana setiap individu belajar menjaga keseimbangan dengan gembira.
Karya ini menjadi bagian dalam Kenduri Seni “Tolong Menolong” 2026 dengan tema “RASO” di Patani Art Space Patani Artspace Karya ini masih dipamerkan sampai tanggal 30 September 2026. Silakan berkunjung!
📸 taken by Jendelarumahkita™

Seluruh rangkaian program Kenduri Seni Tolong Menolong “Raso” sudah berakhir, tapi pameran seni masih bisa dikunjungi, s...
08/07/2026

Seluruh rangkaian program Kenduri Seni Tolong Menolong “Raso” sudah berakhir, tapi pameran seni masih bisa dikunjungi, silakan 🙏🏼

Taring Padi, “Rakyat Demokratik,” 1999 (replika 2021), 5 x 4 m, akrilik di atas kainSelamat Ulang tahun ke 27 Taring Pad...
23/12/2025

Taring Padi, “Rakyat Demokratik,” 1999 (replika 2021),
5 x 4 m, akrilik di atas kain

Selamat Ulang tahun ke 27 Taring Padi!

“Rakyat Demokratik” dibuat sebagai bagian dari deklarasi Lembaga Budaya Kerakyatan TARING PADI di LBH Yogyakarta 21 Desember 1998. Banner ini menandai orientasi artistik dan ideologis Taring Padi yang lahir di tengah keriuhan dan gempita reformasi, penuh carut marut tapi juga harapan. Dalam transisi sosio-politik di era awal reformasi itu, Taring Padi melihat bahaya konflik horizontal yang memecah belah gerakan sosial di akar rumput dan merusak insiatif-inisiatif demokratis di berbagai elemen rakyat, seperti ketika Pangab Jendral Wiranto membentuk milisi Ratih (rakyat terlatih) menjelang pemilu 1999. Ironisnya, banner “Rakyat Demokratik” ini dibakar oleh milisi militer dalam aksi solidaritas kaum miskin kota di Titik Nol Yogyakarta tahun 2000. Militerisme tidak begitu saja hilang setelah diktator militeristik Suharto jatuh. Militerisme akan selalu ada sebagai bahaya laten yang mengancam terselenggarannya proses-proses domokrasi kerakyatan di semua level tatanan kehidupan sosial dan bernegara. Semua ini muncul secara literal dan visual di dalam banner “Rakyat Demokratik.” Di bagian atas banner, seruan massa “Tolak Ratih” berhadapan dengan wajah Karl Marx (1818-1883) sebagai simbol ide-ide kiri progresif demokrasi kerakyatan yang salah satunya divisualisasikan dalam bentuk solidaritas sosial figur tokoh agama, petani dan bisnis. Di bagian bawah, adalah solusi yang ditawarkan Taring Padi: koperasi untuk petani, okupasi pabrik oleh buruh dan pendidikan rakyat yang akan membawa kesejahteraan sosial (disimbolkan oleh dua untai padi) dan terciptanya Rakyat Demokratik, tertulis di pita kuning dengan tinta merah.

Pict 2. The first public display of "Rakyat Demokratik" LBH Yogyakarta, 21 December 1998

Pict 3. The installation of "Rakyat Demokratik" in Yogyakarta city center prior to its destruction by militia forces in 1999

Tanah untuk RakyatAcrylic di atas kain220x170 cmDibuat tahun 2000, banner “Tanah untuk Rakyat” ini menyuarakan salah sat...
21/12/2025

Tanah untuk Rakyat
Acrylic di atas kain
220x170 cm

Dibuat tahun 2000, banner “Tanah untuk Rakyat” ini menyuarakan salah satu tuntutan di era pasca Orde Baru: Reformasi Agraria. Setelah tuntutan popular reformasi seperti dihapuskannya dwifungsi Abri dan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) serta pemilu multi partai yang demokratis berlangsung tahun 1999, isu-isu yang lebih fundamental mulai tak terelakan. Salah satunya adalah isu tanah. Taring Padi belajar tentang isu tanah ini ketika bersolidaritas dengan petani di Kerawang, Jawa Barat tahun 1999 yang menghasilkan banner “Tanah Adalah Hidup Kami.” Dalam banner ini digambarkan barisan petani mendobrak gerbang bertuliskan “Tanah ini Milik Negara.”

Dalam banner “Tanah untuk Rakyat “ ini, tuntutan mengembalikan hak tanah kepada rakyat, dihadirkan lebih brutal dengan menunjuk langsung sumber masalahnya: kolusi antara modal, tentara dan birokrat. Mereka digambarkan dalam figur-figur zoomorphic (setengah manusia setengah binatang). Figur zoomorphic ini kemudian menjadi karakter visual dalam menggambarkan sosok-sosok antagonis dalam narasi karya-karya Taring Padi selanjutnya. Banner “Tanah untuk Rakyat ini adalah hasil workshop Taring Padi dengan Yayak Yatmaka (l. 1956) yang sejak 1970an sudah menggunakan seni sebagai alat politik. Dan tahun 1980-an Yayak membuat kalender politik, yang juga berjudul “Tanah untuk Rakyat.” Seri kalender ini membuat Yayak mengungsi ke Jerman dan baru bisa pulang setelah Suharto jatuh.

Banner “Tanah untuk Rakyat” ini juga menyerukan pembentukan serikat-serikat tani untuk mengembalikan tanah pada bapak dan ibu tani yang digambarkan di kiri kanan bawah banner. Figur petani menjadi karakter visual protogonis dalam karya-karya Taring Padi, ber-evolusi dalam berbagai medium dan variasi sebagai simbol pembawa harapan dalam perjuangan yang panjang. Lebih dari itu, perkara tanah menjadi salah satu tema utama yang digarap Taring Padi, sebagaimana termaktub dalam judul dua pameran mutakhir “Tanah Merdeka” (2023) dan “Tanah Tumpah Darah” (2024).

   with .repost・・・Mempersembahkan“TITIK RAPUH REPUBLIK”Menghimpun Kemanusiaan melalui Karya SeniDi sekitar kita, ada ken...
20/12/2025

with .repost
・・・
Mempersembahkan

“TITIK RAPUH REPUBLIK”
Menghimpun Kemanusiaan melalui Karya Seni

Di sekitar kita, ada kenyataan yang kerap luput dari pemberitaan dan percakapan sehari-hari.
Hari ini, ratusan hingga ribuan warga, aktivis lingkungan, pegiat sosial, hingga anak-anak, tersangkut dalam proses hukum yang timpang akibat manipulasi kekuasaan. Di belakang mereka, keluarga-keluarga seketika kehilangan penopang hidup, dipaksa bertahan dalam ketidakpastian ekonomi dan masa depan yang rapuh.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, ribuan warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih berjuang bangkit setelah banjir bandang merenggut rumah, lahan, dan sumber penghidupan.
Mereka bukan sekadar angka dalam laporan kebijakan.
Mereka adalah manusia, sesama warga negara, yang hak atas rasa aman, hidup layak, dan lingkungan yang sehat telah dilanggar.

Berangkat dari kenyataan inilah, TITIK RAPUH REPUBLIK dihadirkan.
Sebuah rangkaian pameran arsip, praktik seni, dan aksi solidaritas yang berpijak pada nilai-nilai Hak Asasi Manusia, dengan menempatkan ingatan, kesaksian, dan empati sebagai kekuatan kolektif.

Di ruang ini, seni tidak berhenti sebagai ekspresi estetis.
Ia hadir sebagai arsip perlawanan, bahasa kemanusiaan, dan alat advokasi.
Melalui penjualan karya seni rupa dan donasi langsung di lokasi acara, pengunjung diajak berpartisipasi secara nyata dalam penghimpunan solidaritas kemanusiaan, agar penderitaan tidak dinormalkan, ketidakadilan tidak dilenyapkan, dan harapan tetap dirawat bersama.

17–22 Desember 2025
10.00 – 21.00 WIB

Langgeng Art Foundation
Jl. Suryodiningratan No. 37
Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Banner Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi, 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600cmBanner ini dipersembahkan pada komu...
17/12/2025

Banner Kendeng Lestari, Nyawiji Kanggo Ibu Bumi, 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600cm

Banner ini dipersembahkan pada komunitas Sedulur Sikep, dengan siapa Taring Padi belajar dan bekerja bersama lebih dari dua dekade. Banner ini juga ingin membagi hasil dari pembelajaran bersama ini. Sebagaimana kita tahu, Sedulur Sikep adalah saudara yang bersikap, sikap yang berlandaskan ajaran Samin Surosentiko (1859-1914) yang mengutamakan kejujuran, kesederhanaan dan perlawanan tanpa kekerasan. Mereka meyakini bahwa tanah dan air harus kita jaga dan rawat. Karena itu, Sedulur Sikep bergabung dengan Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) untuk berjuang menolak pembangunan pabrik semen yang akan merusak keseimbangan alam di daerah mereka.

Mulai dari judul “Kendeng Lestari: Nyawiji Kanggo Ibu Bumi,” visualisasi detil prosesi lamporan sampai bentuk-bentuk perlawanan tanpa kekerasan, banner ini mencatat, merekam dan menyebarkan apa yang pelajari dari perjuangan panjang merawat dan mempertahankan tanah dan air, dimana perempuan mempunyai peran sentral. Aksi menyemen kaki massal di depan istana negara di Jakarta tahun 2016 lalu adalah salah satu bentuk perlawanan tanpa kekerasan yang kreatif dan militan. Aksi itu sekarang menjadi menjadi sumber inspirasi untuk perjuangan-perjuangan serupa di seluruh penjuru nusantara. Lirik doa dan lagu mereka “Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili” dan “Nak ora iso nggawe ojo ngerusak” menjadi seruan nasional. Dari mereka kita belajar bahwa aksi protes sebaiknya berlandas pada tradisi dan kebajikan lokal. Banner ini secara khusus memaparkan “lamporan”, tradisi tahunan berarak di malam hari sambil membawa obor untuk menolak bala dan hama. Dalam prosesi ini ada “temon banyu geni” (mempertemukan api dengan sumber air) dan juga “temon banyu beras” mempertemukan beras dengan sumber air. Beras itu kemudian dimasak menjadi ketupat yang dirangkai menjadi gunungan dan diarak keliling kampung dalam acara “Kupatan Kendeng” sebagai wujud rasa syukur dan ngaku “lepat” kepada ibu bumi yg sudah memberi.

Banner “Kendeng Lestari” ini dikawal oleh barisan panji-panji berisi doa dan lagu Sedulur Sikep yang mereka daraskan sejak lebih dari 100 tahun lalu. Anggota Taring Padi dan jaringannya juga memproduksi rontek sebagai ekspresi solidaritas atas perjuangan mempertahankan Kendeng.

Kendeng Lestari: Nyawiji Kanggo Ibu Bumi/, Kendeng Lestari, Being One for Mother Earth (People’s Justice 5) 2023, Acrylic on canvas, 480 x 600 cm

This banner is dedicated to the life path of the Sedulur Sikep community with whom Taring Padi have been working over the past two decades, and their fight against the development of a state-owned cement factory in their karst rich area in the alliance of Community Network Concerned for the Kendeng Mountains (JM-PPK). In 2016, their silent sit-in protest in front of the Presidential Palace in Jakarta with their feet cemented in wooden boxes became a national inspiration. One of their songs, “Ibu bumi wis maringi, Ibu bumi dilarani, Ibu bumi kang ngadili” (Javanese: Mother earth provides, Mother earth is being hurt, Mother earth will deliver judgement) are often quoted in different environmental struggles across the nation. Their protests are often embedded in their rituals such as lamporan: night marching with torches in a pilgrimage to spring waters and rice fields to remove bad omens. Their militant, creative, non-violent and ritual-based protests are source of inspiration and power for our common struggles.

Address

Desa Sembungan, RT 02 – Bangunjiwo Kasihan Bantul
Yogyakarta City
55799

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Taring Padi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Taring Padi:

Shortcuts

Share