IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH RELIGIUS, INTELEKTUAL, HUMANIS

27/08/2016

Rokok Sehat Ala Dokter Gretha

Saya seringkali mendengar tentang argumen "rokok itu menyehatkan" dari Dokter Gretha dan Prof Sutiman (ahli biologi dan fisika) yang keduanya membuka klinik di Malang. Mereka berhasil menjinakkan kanker dan berbagai macam penyakit, dengan menghisap dan menyemburkan asap rokok. Saya membaca artikel-artikel yang berkenaan dengan itu. Saya juga menonton video (yang dengan mudah bisa ditemukan di youtube), tentang bagaimana tembakau di tangan Dokter Gretha dan Profesor Sutiman, menjadi senjata ampuh melawan kanker kronis.

Tapi saya belum pernah melihat langsung, ---dan terus terang, saya sangat penasaran. Sampai suatu sore, Prov Among Kurnia Ebo mengajak saya pergi ke Nanggulan, Kulonprogo (20 kilometer dari Yogyakarta). Ia mengatakan, "Mari kita melihat, dan merasakan keajaiban tembakau."

Dokter Gretha, ternyata membuka cabang pengobatan tembakaunya di Kulonprogo. Klinik pengobatan itu ditangani oleh murid beliau, yang hampir 10 tahun menjadi asisten, menemani Dokter Gretha.

Tidak seperti lazimnya sebuah klinik yang selalu hampir dipastikan terdapat pengumuman "dilarang merokok", di tempat ini bertoples-toples rokok disajikan di atas meja. Lengkap dengan a***k yang berjejer. Setiap tamu yang datang dipersilahkan merokok. "Semakin banyak merokok, semakin sehat," begitu slogan yang diberlakukan di tempat ini.

Tak ayal, para asisten yang rata-rata adalah perempuan, --mereka ngobrol sambil merokok. Rokok yang mereka istilahkan dengan sebutan "devine".

Devine adalah sebuah campuran antara tembakau dan berbagai rempah, yang telah disterilkan dengan cara tertentu, sehingga menghasilkan sebuah paduan khas dengan aroma yang sedikit berbeda dengan rokok biasa. Asap yang telah menjadi nano ini (saya belum memahami betul arti kata "nano"), yang menjadi senjata utama untuk memerangi kanker.

Setiap pasien ditangani selama 3 jam. 1 jam pengasapan dengan pembakaran tembakau rempah yang dibakar di atas tungku (pasien duduk di atas kursi, dengan separuh badan ditutup sarung dimana tepat di bawah kursi diletakkan tungku yang menyala). Setelah proses pengasapan selesai, barulah proses selanjutnya, yakni: memasukkan asap dengan sebuah alat ke lubang telinga (semacam alat injeksi), seluruh area kepala, leher, dan bahu.

Tahap berikutnya adalah pembaluran. Seluruh badan dibalur rempah yang dicampur abu hasil pembakaran rokok dan tungku. Pasien kemudian dibungkus alumunium foil, dan dibaringkan selama satu jam di atas lempeng tembaga. Kemudian proses terakhir, adalah mengucuri seluruh tubuh pasien dengan air mendidih.

Air mendidih? Ya. Harus dengan air mendidih. "Tapi tenang, semua aman. Dijamin pasien tidak akan mlonyoh (julit mengelupas dan terbakar). Sebab campuran antara ramuan balur, serta pengaruh lempengan tembaga, akan menetralisir suhu seketika. Seluruh toksin, racun-racun radikal bebas yang mengendap selama bertahun-tahun di dalam tubuh, serentak keluar dalam proses ini. Lewat seluruh pori-pori, keringat, kencing, dan BAB (pasien akan langsung mules, dan mengeluarkan seluruh cairan perut berwarna hitam kecoklatan serta gas yang keluar secara beruntun).

Saya adalah pasien tanpa penyakit. Tapi tanpa disadari, seumur hidup saya telah menghirup jutaan zat beracun lewat udara (polusi, debu, asap kendaraan), lewat makanan (pestisida, zat pengawet, hingga formalin). Sebab dari sinilah salah satu sumber berbagai macam penyakit bisa tumbuh (diantaranya adalah kanker). Maka saya berbaring di atas lempengan tembaga, setelah satu jam diasapi tungku aroma tembakau pekat, sambil terus-menerus merokok devine. Telinga saya dimasuki asap, pori-pori kulit saya dimasuki asap, semuanya mengandung tembakau.

Saya berbaring dibungkus alumunium foil, rasa panas rempah yang dibalurkan ke seluruh tubuh (dari ujung kaki hingga ujung kepala) perlahan merasuki sekuruh pori-pori kulit. Mata terpejam, dan sedikit mengantuk. Imajinasi saya melayang dan membayangkan, mungkin seperti inilah ketika tubuh terbaring kaku di atas dipan jenazah. Bedanya jika mayat pasti dingin, dan yang ini hangat penuh aroma. Saya terbaring kaku, diam, selama satu jam. Ketika pikiran antara ambang sadar dan tidurm para oerawat datang membawa air mendidih. Badan saya diguyur air mendidih.

Panas? Ternyata tidak. Tapi perut langsung mulas, ---tidak tertahankan. O la la, pantas saja kamar perawatan ini dilengkapi dengan kloset duduk. Para perawat (2 orang) buru-buru keluar, sambil berseloroh, "Silahkan berak, Pak. Dan langsung mandi. Jangan lupa kunci dulu pintunya".

Hehe. "Prooot, preeet, srooot," cairan kental hitam kecoklatan menyembur dari a**s, bercampur tahi. Banyak sekali, dan suara gas yang beruntun keluar tanpa bisa ditahan terdengar keras. Saya yakin semua orang yang di luar pasti mendengarnya, berdentum-dentum, terkentut-kentut, Alamak, alangkah leganya.

Tubuh saya seperti melayang. Segar dan enteng. Alangkah ringannya. Begitu selesai mandi, ganti baju, saya keluar kamar dan melihat seluruh benda-benda (kursi-kursi, pohon, bunga, halaman rumah) dengan pandangan takjub. Alangkah segarnya tubuh saya, alangkah jelasnya mata saya, dan semua yang saya lihat begitu membahagiakan.

Ditutup dengan segelas jamu dan balutan air jeuk di muka, leher, tangan, dan kaki. Saya p**ang sambil tak lupa mengantongi berbatang-batang rokok devine, untuk saya hisap nanti di rumah.

Bulan depan saya akan kembali datang ke sini. Sebab siapa tahu masih ada racun bebal yang masih ngendon di dalam tubuh saya, ---racun-racun jahat yang telah saya simpan tanpa sengaja selama 50 tahun.

25/08/2016

Sebuah Analisa Fakta : MEMBUNUH INDONESIA : KONSPIRASI DI BALIK IKLAN "ROKOK MEMBUNUHMU"

Mengapa ada Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU", Namun Rokok masih di Produksi & Pabrik Rokok Tidak di Tutup?
Adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?
Taukah Anda Bahwa balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?

Pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia kehilangan kekayaan negeri sendiri. Sebab dulu, Indonesia yang pernah berjaya dengan penjualan minyak mandar kini telah diluluh lantakkan dengan bombardir minyak sayur.
Dulu Indonesia pernah jaya dengan minyak mandar atau lomo mandar, tapi dihancurkan dengan isu bahwa minyak mandar tidak baik untuk kesehatan oleh Amerika. Hal itu juga diberlakukan pada rokok kretek, lewat WHO, WTO dan pemerintahan Indonesia soal bahaya nikotin tinggi.
Matinya Kopra, gula, garam, jamu dan kretek menandai matinya komoditas nasional.Matinya sebuah kebudayaan lokal.

Tahukah Anda tentang sentra produksi minyak kelapa di Mandar, Sulawesi Selatan?
Tahukah Anda tentang Pulau Selayar yang dahulu kala digelari p**au sejuta emas hijau?

Mungkin tak banyak yang tahu kalau di daratan Sulawesi di tahun 1960-an adalah hamparan p**au kelapa yang menjadi tambang hidup rakyat.
Kelapa sering disebut emas hijau berkibar-kibar di sepanjang jazirah Sulawesi, hingga tiba badai jatuhnya harga kopra dunia di tahun 1980. Ditambah dengan derasnya kampanye perang anti kelapa, benar-benar mengubur minyak kelapa. Pada tahun 90-an, negeri Uwak Sam, Amerika, getol mengampanyekan bahaya minyak kelapa bagi kesehatan. Sebagai gantinya diperkenalkanlah minyak kedelai yang lebih bersahabat dengan kesehatan.

Indonesia yang sudah berabad-abad menggunakan minyak kelapa akhirnya takluk juga. Pelan tapi pasti minyak kelapa dijauhi, membuatnya tak laku dan industri inipun gulung tikar. Hal yang sama terjadi pada gula. Tahun 1930-an, Indonesia produsen gula nomor dua dunia di bawah Kuba. Tapi sejak tuan International Monetary Fund (IMF) datang ke Indonesia tahun 1998, yang memaksa pemerintah melepas tata niaga, termasuk diantaranya gula, maka gula import membanjir.

Sejak itu p**a tamatlah industri lokal syurga para semut itu. Sementara garam pernah berjaya di tanah air sendiri pada 1990-an. Kita bahkan mengekspor ke manca negara. Tapi sejak Akzo Nobel gencar kampanye garam yodium, pabrik-pabrik garam nasional bangkrut. Jamu juga mengalami nasib tragis. Posisinya sudah kian tersudut oleh obat farmasi modern. Herbal diragukan keampuhannya. Dukungan pemerintah juga minim. Jangan kaget temulawak dipatenkan oleh anak perusahaan LG, Korea Selatan.
Lagi dan lagi, pemerintah Indonesia menggunakan kacamata kuda dengan temuan baru yang dibungkus rapi dalam baju akademis dan kesehatan.

Kampanye intenasional disambut karpet merah, sementara industri lokal yang menjadi korban kampanye tak disokong baik itu kredit, subsidi, tekonologi, riset, proteksi harga dll.
Sementara industri tembakau lamban tapi pasti mengikuti jejak matinya kopra, gula, garam, jamu. Tembakau kini kian tersisih peredarannya seiring dengan aneka beleid baru yang membatasinya. Tak lama setelah Soeharto jatuh, medio 1999, menyeruaklah isu perlunya pembatasan kadar kandungan tar dan nikotin.

Dengan berlindung di balik isu kesehatan, beleid pembatasan tembakau akhirnya disahkan tahun 2009. Industri rokok kretek terpukul, sementara rokok putih diuntungkan. Dengan slogan "low tar, low nicotin", rokok kretek sempoyongan, sementara rokok putih yang menggunakan tembakau Virginia masih di atas angin, Padahal selama ratusan tahun rokok putih tak pernah bisa menggeser rokok kretek.

Dalam buku "Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek" diulas tentang adanya perang global melawan tembakau. Kampanye anti tembakau sesungguhnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat. Perusahaan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produk Ni****ne Replacement Therapy (NRT).

Di dalam negeri ada dua sisi bertolak belakang. Di satu sisi kebijakan anti tembakau sukses besar. PP tembakau sudah direvisi berkali-kali, puluhan perda anti tembakau, UU Kesehatan dan RPP Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif sedang digodog, kawasan dilarang merokok, iklan rokok tak selonggar dulu.

Sementara di sisi lain impor tembakau meningkat tajam. Tahun 2003 sebesar 29.579 ton naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Dalam waktu lima tahun ada kenaikan 250 persen. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta. Apalagi juga ada fakta raksasa rokok dunia masuk ke Indonesia.
Philips Morris mencaplok Sampoerna (2005) dan BAT mengakuisi Bentoel (2009). Perusahaan farmasi yang menjual terapi rokok juga kian populer di Indonesia. (Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak.)

Selamat datang penguasa rokok dunia, selamat tinggal industri rokok kretek yang megap-megap menjelang ajal kematian. Industri kretek dalam negeri yang memayungi hampir 30 juta orang yang bekerja di sektor ini.
Lambat tapi pasti rokok kretek menuju liang kematian yang sebelumnya telah ditempati kopra, gula, garam, jamu, dan puluhan lainnya.

Iklan "ROKOK MEMBUNUHMU" hadir Melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012, spirit PP tersebut menghancurkan industri kretek nasional untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris dan BAT, dll.

Kampanye " ROKOK MEMBUNUHMU" Di Sponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat. Bloomberg Initiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori (Membiayai) ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya, juga, termasuk, menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bahwa ada sesuatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.

Banyak pihak dipengaruhi dengan duit. Para pejabat di Departemen, tingkat menteri, di bawah menteri, gubernur, bawahannya, bupati atau wali kota dan bawahan mereka, semua menjadi korban yang berbahagia, karena limpahan duit yang tak sedikit jumlahya untuk masing-masing pihak. Mereka menjadi korban kecil, karena harus membuat aturan dan sejumlah larangan merokok, yang mungkin tak sepenuhnya cocok dengan hati nurani.

Tapi apa artinya hati nurani di jaman edan ini dibanding duit melimpah?
Para pejabat itu rela membunuh hati nurani mereka sendiri demi duit. Ada juga Gerakan Anti Rokok demi kesehatan lingkungan.
Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?
Kretek kita sangat khas. Dan di negeri orang bule, kretek kita mengantam telak perdagangan rokok putih mereka. Kretek unggul.
Dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.

Berbeda dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang.
Setelah penelitian belasan tahun, salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah, asap rokok memang mengandung zat merugikan, namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.
Lebih jauh lagi, teori Prof Sutiman menyatakan, rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit, bukan di lapangan.
Jadi, asal ada pasien mengidap kanker, dan kebetulan dia merokok, serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.
Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien, semisal 'asupan' polusi asap kendaraan, konsumsi MSG, dan sebagainya, diabaikan. Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.
Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut, menjadi cukup jelas lah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia.

Banyak tokoh nasional yang perokok kretek tetap bugar dan produktif hingga usia senja. Sebut saja misalnya Haji Agus Salim, mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan, penulis besar Pramoedya Ananta Toer, master menggambar Pak Tino Sidin, tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar, dan masih banyak contoh lain.

Mengapa Industri kretek menjadi sasaran Amerika?.

Karena Industri ini disasar karena sudah memberikan sumbangan berharga bagi struktur ekonomi Indonesia.
Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal.
Pertama, tumbuh berkembang dan bertahan lebih dari satu abad tanpa ketergantungan modal pada negara,
Kedua,menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal.
Ketiaga, terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung.
Keempat, industri melayani 93% pasar lokal. Dengan karakter sekokoh itu, tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional.
Kekuatan inilah yang diincar neo-kolonialis gaya baru ingin menguasai industri rokok, tapi dengan mematahkan ketangguhan industri kretek Indonesia. Caranya lewat kampanye ANTI ROKOK Sekarang ROKOK MEMBUNUHMU.

Sumber Info : Buku Membunuh Indonesia. Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penulis: Abhisam DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penyunting: Abhisam DM
Penerbit: Kata Kata Terbit: Desember 2011


Banyaknya aturan antirokok di berbagai dunia menunjukkan adanya upaya konspirasi global yang ingin menguasai bisnis tembakau secara global.

"Konspirasi global ingin menguasai bisnis tembakau secara dunia, karena menarik industri tembakau ini," kata anggota Komisi IX DPR Poempida Hidayatullah di Jakarta, Kamis (13/9/2012).
Poempida mengungkapkan, ada politikus dan pengusaha dari Amerika Serikat (AS) yang banyak mengeluarkan dana untuk mengkampanyekan antirokok. "Banyak dana yang masuk juga ke DPR, apa keuntungannya? Karena dia punya perusahaan jasa informasi.
Jadi dengan melakukan kampanye ini, maka dia bisa mengontrol pasar dunia," ujarnya.
Dia mengatakan, saat ini industri rokok telah menyerap tenaga kerja yang sangat besar, dan memberi kontribusi besar terhadap APBN.
Sehingga membuat beberapa pihak tergiur untuk menguasai pasar tembakau.

Sedangkan anggota DPR Rieke Dyah Pitaloka menambahkan, saat ini ada kepentingan asing dalam industri rokok.
Mereka ingin menghancurkan industri rokok nasional, sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai konsumen rokok.
"Saat ini industri tembakau kita sangat bagus. Asing tidak senang, mereka lebih senang kalau kita jadi konsumen dan tempatnya buruh dengan upah murah," tegasnya.

Sementara itu, penggiat ekonomi sekaligus Presidium Insitute Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng mengatakan, dominasi perusahaan besar soal tembakau sangat besar.
"Ketika dunia internasional industri tembakau berkembang pesat, tapi di dalam negeri itu ingin dihancurkan," kata Daeng. Menurutnya, hingga saat ini negara maju seperti Amerika dan Eropa masih mensubsidi pertanian tembakaunya. "Amerika banyak sekali, sampai ke asuransi gagal panen. Eropa juga mensubsidi tanaman tembakaunya. Di dalam negeri justru dimatikan dengan muncul peraturan pemerintah hingga perda," tandasnya.

Sumber Info : http://ekbis.sindonews.com/ read/672300/34/ ada-konspirasi-untuk-kuasai-ind ustri-tembakau

18/08/2016

Buat Immawan & Immawati Mohon di Share Kegiatan IMM di Kotanya...Terimakasih

15/08/2015

All of the place taken in Kudus City. hope you enjoy it. :)

Address

Jalan Cik Ditiro No. 23 Yogyakarta 55262
Yogyakarta City
55223

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share