Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM) telah menutup masa pendaftaran Batch 1 tanggal 3 Juli 2018 lalu. Sebanyak 1.262 orang telah menyampaikan minatnya untuk ikut andil dalam pembangunan masyarakat melalui pengembangan wirausaha pedesaan. Peminat tersebar dari seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah keikutsertaan terbanyak berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah melalui tahap seleksi, dari jumlah tersebut telah terpilih 100 orang untuk menjadi peserta AKM Batch 1 di Yogyakarta.
Para peserta terpilih akan mengikuti proses cloning selama 10 hari (19-28 Juli 2018) untuk membangun mental, karakter, serta kompetensi dasar kewirausahaan yang dibimbing langsung oleh para mentor yang merupakan para praktisi wirausaha yang telah berhasil.
Rangkaian kegiatan dalam proses cloning ini berupa inkubasi, pembangunan karakter, dan dialog kebangsaan dengan melibatkan sejumlah kelompok bisnis, filantropi, sociopreneur dan entrepreneur yang telah berpengalaman, pemerintah pusat, pemerintah daerah, AAU Yogyakarta, serta para pelaku sociopreneur internasional. Selama proses cloning, AKM menyediakan berbagai fasilitas, antara lain biaya transportasi dari daerah asal ke Yogyakarta (PP), akomodasi, dan konsumsi. Tidak ada pungutan biaya apapun bagi peserta program ini.
Pasca proses cloning, para peserta akan mengikuti tahap berikutnya, yaitu deployment atau diterjunkan langsung ke desa-desa yang menjadi target binaan para mitra AKM. Para mitra ini adalah Lembaga pemerintah dan swasta yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap pembangunan masyarakat pedesaan.
Di desa-desa tersebut para peserta akan menjalankan peran sebagai pendamping pengembangan wirausaha berbasis potensi desa masing-masing. Berbekal ilmu yang diperoleh selama proses cloning, mereka diharapkan mampu melakukan pemetaan masalah dan potensi desa serta mengaktivasi masyarakat lokal untuk merintis wirausaha bersama-sama. Selama masa deployment yang berdurasi selama 1 tahun ini, para peserta akan memperoleh manfaat dari para mitra AKM.
Tidak hanya memberikan bekal berupa keahlian dan kesempatan terjun langsung ke masyarakat pedesaan, AKM juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk memanfaatkan jejaring (network) yang dimiliki oleh AKM. Setiap inisiasi wirausaha yang berhasil dikembangkan oleh masyarakat desa, AKM memberikan perhatian penuh pada upaya pengembangannya, baik berupa akses teknologi maupun akses pasar (comprehensive off-taker).
Gagasan program AKM ini berangkat dari sejumlah pertimbangan. Pertama, besarnya angka pengangguran terdidik. Data terbaru menunjukkan, dalam satu tahun terdapat sekitar 800.000 lulusan sarjana, namun tidak semuanya terserap dunia kerja dan/atau memiliki usaha sendiri. Estimasi per tahun, ada tambahan pengangguran terdidik sekitar 66.000. Untuk itu diperlukan langkah terobosan untuk mendidik calon wirausaha-wirausaha baru.
Kedua, rendahnya Global Enterpreneurship Index (GEI) Indonesia. Saat ini peringkat GEI berada di urutan 97 dari 136 negara. Peringkat Indonesia bahkan kalah dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara (mis. Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam). Salah satu penyebab rendahnya GEI tersebut adalah kecilnya presentase jumlah wirausaha dibandingkan keseluruhan penduduk sebagai akibat dari rendahnya ketrampilan dan ethos kewirausahaan. Untuk itu, langkah shortcut dan terobosan sangat mendesak dalam rangka mengejar ketertinggalan ini.
Dan ketiga, di tengah situasi yang tidak ideal di atas, bangsa Indonesia memiliki banyak potensi komoditas yang tersebar di puluhan ribu desa, yang belum dikelola optimal. Masyarakat di banyak desa Indonesia menunjukkan geliat pengembangan ekonomi, namun di banyak desa lainnya yang memiliki potensi yang besar justru terjebak dalam situasi kemiskinan. Berdasarkan data Kemendes, saat ini tercatat setidaknya 22.000 desa masuk kategori tertinggal. Untuk itu, diperlukan adanya intervensi positif ke pedesaan, salah satunya melalui pengiriman sarjana wirausaha untuk bekerja bersama dengan rakyat.
Dalam rangka untuk mengatasi tantangan di atas, ketrampilan dan ethos wirausaha bagi generasi muda dan masyarakat luas mutlak dibutuhkan. Namun, hal ini dihadapkan pada kenyataan bahwa sekolah bisnis untuk mendapatkan pengetahuan dan skill wirausaha sangat mahal dan hanya dinikmati kalangan tertentu. “Untuk itu perlu sekolah bisnis yang berkarakter disruptive (murah, cepat, aplikatif, dan menjangkau seluas mungkin). AKM yang dikembangkan C-Hub Fisipol UGM akan menghadirkan sekolah wirausaha dengan karakter disruptive tersebut.
Melalui AKM, C-Hub Fisipol UGM mendorong lahirnya para Sarjana Pendamping Kewirausahaan yang siap diterjunkan ke desa-desa untuk menularkan berbagai pengetahuan, ketrampilan, dan jejaring yang dibutuhkan untuk pengembangan wirausaha. Sarjana pendamping juga akan bekerja secara riil bersama masyarakat untuk mengembangkan dan melaksanakan kewirausahaan yang selaras dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.
AKM akan segera membuka pendaftaran Batch berikutnya pada bulan Agustus 2018. Cara mendaftar dapat dilakukan melalui website https://akmindonesia.org