Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia

Directions Contact the organization

Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia didirikan sebagai suatu wadah dari untuk beberapa pegiat dan profesional dari berbagai profesi

09/07/2026

Sobat InTI

Daerah Aliran Sungai tidak mengenal batas negara. Karena itu, pengelolaannya pun membutuhkan kolaborasi yang melampaui batas administrasi dan sektoral.

Pada 9–10 Juli 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, para perwakilan Kementerian, Lembaga, Pemerintah Daerah, Akademisi, Masyarakat Sipil, dan Mitra berkumpul dalam Lokakarya Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Daerah Aliran Sungai Lintas Batas Negara (DAS LBN) Tingkat Nasional.

Lokakarya ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat tata kelola DAS lintas batas Indonesia–Timor-Leste. Pokja DAS LBN Nasional diharapkan menjadi wadah koordinasi lintas sektor yang mampu menyelaraskan kebijakan, memperkuat pertukaran data dan informasi, serta mengawal kerja sama pengelolaan DAS secara berkelanjutan antara kedua negara.

Lebih dari sekadar membentuk sebuah kelembagaan, forum ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air, mengurangi risiko degradasi lahan dan bencana, memperkuat ketahanan air dan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di kawasan perbatasan.

Melalui kolaborasi yang kuat, Pokja DAS LBN diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama pengelolaan DAS lintas batas yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan—karena masa depan daerah aliran sungai adalah tanggung jawab yang kita jaga bersama.

Lokakarya ini merupakan bagian dari Program Timor Island Watersheds (TIWA/MITLTW) yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF) dan Conservation International, serta dilaksanakan di Indonesia bersama Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) sebagai mitra pelaksana Kementerian Kehutanan.

Sobat InTI"Persoalan air tidak hanya tentang ketersediaan sumber daya, tetapi juga tentang bagaimana berbagai pihak berb...
28/06/2026

Sobat InTI

"Persoalan air tidak hanya tentang ketersediaan sumber daya, tetapi juga tentang bagaimana berbagai pihak berbagi manfaat, tanggung jawab, dan ruang untuk berdialog."

Kalimat ini muncul dari diskusi para peserta Pelatihan Dasar Manajemen Konflik, Resolusi Konflik, dan Pembangunan Perdamaian bagi Pokja DAS LBN Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Melalui berbagai studi kasus, peserta menyadari bahwa tantangan pengelolaan DAS lintas batas tidak selalu berawal dari persoalan teknis. Perbedaan kepentingan, terbatasnya koordinasi, hingga belum terbukanya ruang dialog sering kali menjadi akar dari berbagai konflik.

Karena itu, mengelola DAS lintas batas tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur atau menjaga sumber daya alam. Dibutuhkan komunikasi, kolaborasi, dan kepercayaan di antara semua pihak yang berbagi bentang alam yang sama.

Pelatihan ini difasilitasi oleh Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) melalui Program Timor Island Watersheds (TIWA) dengan dukungan dari Conservation International dan Global Environment Facility (GEF) sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas Pokja DAS LBN dalam mewujudkan tata kelola DAS lintas batas yang kolaboratif dan berkelanjutan.

📖 Baca artikel selengkapnya melalui tautan https://inovasitangguhindonesia.org/read/150/in/mengelola-konflik-untuk-mengelola-das-lintas-batas-negara.html atau Scan QR Code.

With profound sadness, we mourn the passing of Francisco Lu Olo Guterres, former President of Timor-Leste.We extend our ...
24/06/2026

With profound sadness, we mourn the passing of Francisco Lu Olo Guterres, former President of Timor-Leste.

We extend our deepest condolences to his family, friends, colleagues, and the people of Timor-Leste. His commitment to public service, national unity, and the advancement of Timor-Leste leaves a lasting legacy that will be remembered for years to come.

We also stand in solidarity with our colleagues at Conservation International Timor-Leste and all partners across the country as they mourn this significant loss.

As Timor-Leste observes a week of national mourning, we join in honoring his life, leadership, and contributions to the nation.

May he rest in peace.

Sobat InTI, dari proses PRA di Desa Tohe dan Desa Maumutin:“Saya menjadi tahu masalah yang sebenarnya terjadi di petani,...
23/06/2026

Sobat InTI, dari proses PRA di Desa Tohe dan Desa Maumutin:

“Saya menjadi tahu masalah yang sebenarnya terjadi di petani, bukan masalah yang muncul dari asumsi saya pribadi.”

Refleksi tersebut disampaikan Flavianus Lau, co-fasilitator PRA di Desa Tohe. Sebuah pengingat bahwa memahami persoalan masyarakat harus dimulai dengan mendengar langsung pengalaman mereka.

Melalui Participatory Rural Appraisal (PRA) di Desa Tohe dan Desa Maumutin, masyarakat diajak untuk melihat kembali perjalanan desa mereka, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, sekaligus mengenali potensi yang dimiliki. Dari rendahnya hasil pertanian, kerusakan irigasi, dan perubahan lingkungan di Tohe, hingga perubahan pola pertanian, berkurangnya praktik gotong royong, dan tantangan pengelolaan sumber daya alam di Maumutin, setiap diskusi menghadirkan pembelajaran baru bagi peserta.

“Ternyata masalah ada karena kelalaian kami sendiri. Dengan kajian PRA ini kami banyak mengetahui potensi dan masalah yang ada di desa kami.” — Merlin Pereira, peserta PRA Desa Tohe.

Bagi sebagian peserta, PRA tidak hanya membantu memahami kondisi desa saat ini, tetapi juga mengajak mereka merefleksikan hubungan antara keputusan yang diambil hari ini dengan kehidupan generasi mendatang.

“Kegiatan PRA ini sangat bermanfaat dan membuka wawasan untuk mengamati dan menganalisis potensi serta permasalahan dalam desa kami.” — Marita Da Costa Pires, co-fasilitator PRA Desa Maumutin.

“Dengan kegiatan ini menyadarkan apa yang sudah kami lakukan di masa lampau akan terbawa ke kehidupan anak cucu kami.” — Arkadisu Besin, peserta PRA Desa Maumutin.

Dari pengalaman masyarakat, lahir pemahaman bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari luar. Perubahan dapat dimulai dari kesadaran, kerja sama, dan keterlibatan masyarakat itu sendiri.

Baca selengkapnya di https://inovasitangguhindonesia.org/read/149/in/melihat-akar-masalah-pembelajaran-pra-di-tohe-dan-maumutin.html atau scan QR Code.

Sobat InTIDari proses PRA di Desa Asumanu dan Baudaok, para co-fasilitator dan peserta menyampaikan:“Saya senang karena ...
17/06/2026

Sobat InTI

Dari proses PRA di Desa Asumanu dan Baudaok, para co-fasilitator dan peserta menyampaikan:

“Saya senang karena bisa mengetahui secara baik kondisi permasalahan, kondisi, dan potensi desa, serta mendukung perencanaan desa kami khususnya di DAS Talau-Loes.” — Jonisius Mau, Co-Fasilitator PRA Desa Baudaok.

Setelah rangkaian PRA di Kabupaten Malaka, proses pembelajaran bersama berlanjut di Desa Baudaok dan Desa Asumanu, Kabupaten Belu.

Melalui Participatory Rural Appraisal (PRA), masyarakat bersama-sama memetakan potensi desa, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, serta mendiskusikan perubahan lingkungan dan kondisi sosial-ekonomi yang memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.

Bagi peserta dan co-fasilitator, PRA bukan sekadar proses pengumpulan data. Kegiatan ini menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memahami desa secara lebih menyeluruh.

“Menambah wawasan dan ilmu yang baru tentang potensi apa saja yang ada di masyarakat khususnya di sektor pertanian.” — Gerardus Bere, Co-Fasilitator PRA Desa Asumanu.

Dari diskusi hingga pemetaan bersama, satu harapan yang muncul dari masyarakat adalah agar hasil kajian yang telah disusun dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan dan pengembangan desa yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Karena masyarakat adalah pihak yang paling memahami desanya sendiri.

Baca selengkapnya di https://inovasitangguhindonesia.org/read/148/in/dari-mendengar-ke-memahami-pembelajaran-masyarakat-dalam-pra-di-asumanu-dan-baudaok.html atau scan QR Code.

Sobat InTI"Selamat menyambut 1 Muharram 1448 H. Mari jadikan pergantian tahun Hijriah ini sebagai momentum untuk memperb...
16/06/2026

Sobat InTI

"Selamat menyambut 1 Muharram 1448 H. Mari jadikan pergantian tahun Hijriah ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan melangkah menuju kebaikan yang lebih baik lagi."

Sobat InTI“Ketika berbicara tentang tata kelola DAS, kita selalu bersinggungan dengan tata kelola sumber daya alam yang ...
12/06/2026

Sobat InTI

“Ketika berbicara tentang tata kelola DAS, kita selalu bersinggungan dengan tata kelola sumber daya alam yang bisa menimbulkan konflik. Terutama dalam konteks DAS Mota Masin, ketika kita berbicara tentang masyarakat di sekitar perbatasan Indonesia dan Timor-Leste yang secara adat bersaudara dan berbagi sumber daya alam dalam praktik penghidupan dan kehidupan sehari-hari, namun secara administrasi tinggal di dua negara yang berbeda dan sangat mungkin memiliki kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang berbeda pula.”

— Johan Rachmat Santosa, Technical Lead Indonesia InTI

Pengelolaan DAS lintas batas tidak hanya berbicara tentang sungai, air, atau sumber daya alam. Di dalamnya ada masyarakat, relasi sosial, kepentingan yang beragam, dan tantangan untuk membangun kesepahaman di tengah perbedaan.

Melalui Pelatihan Dasar Manajemen Konflik, Resolusi Konflik, dan Pembangunan Perdamaian bagi Pokja DAS LBN Mota Masin di Kabupaten Malaka, para peserta bersama-sama memetakan berbagai dinamika yang mereka hadapi sekaligus mendiskusikan pendekatan untuk mengelolanya secara kolaboratif.

“Pengelolaan DAS perbatasan memerlukan koordinasi, kolaborasi, dan partisipasi semua pihak, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.”

— Henri M. Simu, Wakil Bupati Malaka

Karena membangun DAS yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga dialog, kepercayaan, dan kerja sama.

Baca selengkapnya di https://inovasitangguhindonesia.org/read/147/in/dari-memetakan-konflik-menuju-mencari-solusi-bersama-di-das-mota-masin.html atau scabn QR Code.

Sobat InTI“Ketika berbicara mengenai DAS, kita tidak hanya berbicara mengenai sungai, tetapi juga sumber daya alam yang ...
11/06/2026

Sobat InTI

“Ketika berbicara mengenai DAS, kita tidak hanya berbicara mengenai sungai, tetapi juga sumber daya alam yang ada di dalamnya. Dalam konteks DAS Lintas Batas Negara, tentu ada potensi gesekan antar komunitas maupun antar kepentingan pemangku kepentingan terkait.”

— Johan Rachmat Santosa, Technical Lead Indonesia dari InTI

Pengelolaan DAS lintas batas bukan hanya soal menjaga air, hutan, dan lingkungan. Di dalamnya terdapat beragam kepentingan, hubungan sosial, hingga potensi konflik yang perlu dipahami dan dikelola bersama.

Melalui Pelatihan Dasar Manajemen Konflik, Resolusi Konflik, dan Pembangunan Perdamaian bagi Pokja DAS LBN Talau–Loes di Belu, para peserta belajar mengenali akar konflik, memetakan para pihak yang terlibat, serta mencari pendekatan penyelesaian yang lebih kolaboratif.

“Ketika berbicara tentang DAS Lintas Batas Negara, maka potensi konflik akan selalu ada, baik antarmanusia, antar sektor, maupun antarkepentingan. Yang penting adalah bagaimana kita mampu memetakan, menganalisis, dan mengelola potensi konflik tersebut dengan baik.”

— Rine Bere Baria, Ketua Pokja DAS LBN Talau–Loes Kabupaten Belu

Dari isu agraria, pengelolaan sumber air, hingga pencemaran lingkungan, para peserta mengidentifikasi berbagai tantangan yang perlu diantisipasi untuk mendukung pengelolaan DAS yang berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.

Baca selengkapnya di https://inovasitangguhindonesia.org/read/146/in/memetakan-konflik-membangun-kolaborasi-di-das-talau%26ampampndashloes.html atau scan QR Code

"PRA ini membuat kami bisa memahami tentang masalah sekaligus kekuatan atau potensi tersembunyi yang dimiliki desa dan b...
02/06/2026

"PRA ini membuat kami bisa memahami tentang masalah sekaligus kekuatan atau potensi tersembunyi yang dimiliki desa dan bisa menetapkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.”

Sobat InTI, pesan tersebut disampaikan salah satu co-fasilitator dalam pelaksanaan Participatory Rural Appraisal (PRA) di Desa Alas dan Desa Alas Selatan, Kabupaten Malaka.

Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama mengikuti proses kajian desa secara partisipatif. Mereka tidak hanya berdiskusi tentang persoalan yang dihadapi masyarakat, tetapi juga belajar mengenali potensi desa, memahami perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, dan melihat bagaimana kebutuhan masyarakat dapat diterjemahkan menjadi rencana pembangunan.

Di Desa Alas Selatan, refleksi serupa juga muncul dari peserta.

“PRA yang difasilitasi oleh InTI dan co-fasilitator membuat kami sebagai orang tua dan anak muda mulai memahami tentang kondisi dan keberadaan wilayah desa kami, seperti masalah, potensi, dan keterlibatan beberapa komponen di desa kami.”

Meski sebagian co-fasilitator mengaku baru pertama kali memfasilitasi diskusi PRA, pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar untuk membangun diskusi yang lebih partisipatif di tingkat desa.

Harapan yang muncul pun sederhana: agar hasil kajian yang disusun bersama tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi dapat menjadi acuan dalam Musrenbang, perencanaan pembangunan desa, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang lebih sesuai dengan kebutuhan warga.

Dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk pembangunan desa yang lebih tepat sasaran.

Baca selengkapnya di https://inovasitangguhindonesia.org/read/144/in/belajar-mengenali-desa-dari-pengalaman-masyarakat-di-alas-dan-alas-selatan.html atau scan QR Code

Address

Jalan Panuluh 377 A Pringwulung, Condongcatur Depok Sleman
Yogyakarta City
55283

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Perkumpulan Inovasi Tangguh Indonesia:

Shortcuts

Share