18/03/2026
"Si Tou Mamuali Tou"
Manusia harus menjadi benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Memperlakukan sesama manusia, se tou wo se meno-nou selayaknya memperlakukan diri sendiri.
Kali ini kami memilih Nimawanua Kakaskasen sebagai tempat kami bertemu dan berefleksi. Dipertemukan bukan secara kebetulan atau karena undangan, tapi atas dasar Tanah dan Situs adalah ikatan darah Tou Minahasa.
Upacara adat, Ritus yang hidup serta penyelamatan situs bukanlah sekadar seremoni masa lalu, melainkan senjata utama Masyarakat Adat untuk melawan penggusuran ruang hidup dan penghapusan identitas. Di tengah kepungan industri ekstraktif dan regulasi yang buta akan sejarah, menghidupi kembali tanah ulayat dan konsisten mengikuti jalan leluhur adalah satu-satunya cara untuk merawat ingatan agar tidak lumat oleh zaman.
Klaim atas wilayah adat akan jauh lebih kuat jika kita hidup di dalamnya, jika ada ritme tradisi yang terus berdenyut di atas tanah itu. Penyelamatan situs dan pelaksanaan upacara adat adalah cara paling tua dan paling dasar untuk menjaga akar kita agar tidak gampang rubuh.
Tanah hari ini bisa bersertifikat pribadi, tapi Situs dan Ritus yang hidup diatasnya adalah milik sah Komunitas Masyarakat Adat yang terus menghidupinya.
Tou Minahasa berhak eksis diatas tanah Leluhurnya sendiri.
Momentum ini bukan hanya perayaan organisatoris saja. 27 tahun lalu perwakilan komunitas Masyarakat Adat berkumpul dan berkonsolidasi di Jakarta. Akhirnya melahirkan Gerakan Masyarakat Adat yang terus lestari hingga sekarang.
Buah-buah perjuangan harus terus tumbuh dan tertanam hingga ke komunitas, akar rumput.
Hari ini, kita bangkit. Bukan hanya untuk merayakan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) & 27 tahun AMAN. Tapi untuk mengingatkan bahwa pengakuan negara atas hak kami, hutan serta identitas kami, masih menjadi tanda tanya.
27 tahun AMAN bersuara. Puluhan tahun kami menunggu.
Untuk para wakil rakyat, untuk pemerintah!!! Selamat Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara.
Jangan hanya janji. Buktikan. Sahkan RUU Masyarakat Adat. Sekarang juga!
Makapulu' Leos yang so hadir. Tona'as Jhein Taroreh, Tona'as Frangky Wehantow Wetik , Tona'as Marthen Rampengan, Tona'as Rinto Taroreh , Sarian Markus Pandelaki, Matulandi Paat Lontoh Supit & Rikson Karundeng (Dewan AMAN Sulawesi Utara), Lefrando Andre Gosal (Mantan Ketua AMAN Sulut), Denni Pinontoan (Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur), Hence Mahaury (Dosen Fatek UNIMA), Iswan Sual (Laroma), Juann Rattu, Manuel Wehantouw & Pit Pungus (LAKT Tomohon), Kalfein Wuisan (Wuwuk, Smartphone Movement), Armando Loho (Mawale Photography, Kamang Wangko), Makatana Minahasa, BAD dan kawan-kawan komunitas MA & ormas budaya lain.
Ketua Badan Urusan Legislasi Daerah (BULD) DPD RI Stefanus Ban Liow, yang bisa hadir dan diskusi bersama .