07/09/2023
LEGENDA SUMURPANGGANG
Alkisah ada seorang pemuda bernama Jamaludin alias Malingguna. Jamaludin merupakan anak dari salah satu selir Sultan Trenggono. Ketika Jamaludin tiba di kerajaan Demak, Jamaludin menuntut agar diakui sebagai putra Sultan Trenggono. Namun Sultan Trenggono menolak permintaan. Frustasi dan geram dengan penolakan Sultan Trenggono, Jamaludin pun mengambil tindakan terhadap Kerajaan Demak. Jamaludin mengumpulkan kekuatan dengan bergabung dengan bandit dan pencuri untuk memberontak melawan kerajaan Demak. Jamaludin mengorganisir aksi pemberontakan di sekitar kerajaan Demak. Ia menjarah, mencuri dan merampas harta benda para bangsawan kerajaan Demak. Setiap hari ia mengunjungi rumah para bangsawan secara bergantian. Properti di rumah mereka hancur. Perampok! Perampok! Ada bandit!" teriak seorang pengawal bangsawan yang diincar Jamaludin dan kawanannya. "Diam, kamu pilih rejeki atau nyawa?!" Mau tidak mau mereka menyaksikan Jamaludin mengambil barang-barangnya. "Kalian pecundang hanya bisa mengumpulkan kekayaan, mengejek penderitaan rakyat biasa!" teriak Jamaludin.
Saat Jamaludin beraksi bersama kawanannya, para bangsawan dan pejabat Kerajaan Demak pun panik. Puluhan tentara kerajaan dikerahkan untuk menangkap Jamaludin. Namun Jamaludin rupanya mempunyai kesaktian, puluhan prajurit Kerajaan Demak kebingungan, tidak ada prajurit kerajaan yang mampu mengalahkannya. Sultan Trenggono murka dengan perbuatan Jamaludin. Suatu malam, Sultan Trenggono terbangun, tidak bisa tidur, memikirkan malapetaka yang ditimbulkan Jamaludin. Bingung, Sultan Trenggono akhirnya meminta bantuan kepada Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga. Sultan Trenggono meminta Sunan Kalijaga membantu membawa Jamaludin ke kerajaan Demak. Sebagai Waliyullah , Sunan Kalijaga siap membantu Sultan Trenggono dan berjanji akan membawa Jamaludin ke kerajaan. Sunan Kalijaga menyusun strategi untuk menangkap Jamaludin. Dia menyamar sebagai perampok untuk bergabung dengan geng Jamaludin. Sunan Kalijaga menyamar menjadi rampok dengan nama Brandal Lokajaya.
Perkelahian antara Jamaludin dan Sunan Kalijaga pun tak terelakkan. Terjadilah pertarungan sengit antara Sunan Kalija dan Jamaludin. Kesaktian Jamaludin tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Sunan Kalijaga. Jamaludin tak kuasa menahan serangan Sunan Kalijaga. Jamaludin berhasil menyita harta benda para bangsawan yang tinggal di wilayah pesisir Larangan, Brebes. Kemudian Jamaludin melanjutkan perjalanan sampai ke daerah Sumurpanggang. Sesampainya di Sumurpanggang dia menyusuri Sungai Kemiri yang berada di wilayah selatan. Tibalah Jamaludin di sebuah pedukuhan. Jamaludin tinggal di sana selama beberapa hari dan membagikan sebagian hasil rampokannya kepada masyarakat setempat. Setelah membagi hasil rampokan, Jamaludin mengubur sebagian hasil rampokan dibawah pohon randu. Sembari berpesan kepada masyarakat sekitar dengan kata ‘Rawaten panggonan iki’ yaitu untuk merawat daerah yang ditandai itu. Sementara itu, mendengar kata "rawaten" itu, warga sekitar pedukuhan tersebut menamainya daerah Rawaten. Akhirnya masyarakat sekitar menyebut desa tersebut sebagai desa Lawatan. Mengetahui kabar bahwa Sunan Kalijaga sedang mengejarnya, Jamaludin melanjutkan kembali perjalanan dan meninggalkan pedukuhan itu. Sunan Kalijaga terus mengejar Jamaludin.
Jamaludin melarikan diri ke daerah utara yang sekarang disebut daerah Cabawan ,meneruskan perjalanan ke timur sekarang dikenal Margadana, karena jalannya licin dalam bahasa Tegal ‘dalane lunyu’, sehingga diberi nama “marga lunyu”. ( Sekarang menjadi nama Desa Margadana). Dia dan komplotannya kabur ke daerah Sidakaton. Di daerah itu Jamaludin merubah identittas sehingga tidak ada yang mengenalinya. Karena sakti maka masyarakat sekitar menyebutnya Mbah Bregas.
Sepandai-pandainya Jamaludin bersembunyi akhirnya diketahui juga yang dalam bahasa Tegal “katon”, sehingga desa tersebut dikenal dengan Sidakaton. Jamaludin terus bersembunyi dan diburu. Ketika sedang bersembunyi, dia dikejar dan lompat lewat jendela. Sehingga muncul mitos yang membuat masayarakat daerah sekitar untuk tidak membuat jendela rumah.
Ringkas cerita setelah berusaha kabur beberapa langkah, dia bersembunyi di sebuah pohon besar. Disana, Jamaludin menghilang yang dalam bahasa jawa ‘Mukso’ atau ‘Kembali sempurna kehadirat ilahi robi’ . Karena jasad yang tiada, maka masayarakat sekitar membuat makam tanpa pusara yang dikenal dengan MBAH SAMPURNA. Kejadian tersebut yang kemudian membuat desa tempat Jamaludin Mukso dikenal dengan isatilah Sida Sempurna atau Sidapurna. Saat menghilang pusaka Jamaludin berterbangan kea rah selatan di sebelah barat mencelat masjid Nurul Islam yang kemudian dikenal sebagai makom Sentana.
Sunan Kalijaga merasa kesulitan mengalahkan Jamaludin. Ia pun kemudian bermunajat kepada Allah di tepi Kalikemiri Tegal. Di tengah munajatnya, tasbih yang tersusun dari kemiri itu terjatuh ke sungai. Sunan Kalijaga terjun ke kali mencarinya hingga sampai di laut dan bertemu Nabi Khidir. Sunan Kalijaga kemudian diberi ilmu oleh Nabi Khidir. Ia pun membuat perangkap dengan mengadakan pesta rakyat untuk memancing Jamaludin.
“Sunan Kalijaga membuat pesta rakyat dengan berbagai macam hiburan. Munculah Jamaludin ikut menyawer. Mengetahui itu perangkap, Jamaludin pun lari,”. Perkelahian antara Sunan Kalijaga dengan Jamaludin terjadi. Mereka berkelahi saling dorong ke utara dan selatan, dalam bahasa Tegal ‘surung-surungan’. Kini daerah tersebut bernama Kelurahan Pesurunganlor dan Kelurahan Pesurungankidul.
Aksi saling kejar terus berlanjut, di tempat yang berbeda, keduanya berkelahi saling adu kesaktian. Kesaktian sering disebut dengan kepintaran atau kepandaian, kini daerah tersebut bernama Kelurahan Kepandean.
Jamaludin pun tertangkap. Sebelum dibawa ke Demak, Sunan Kalijaga menghilangkan kesaktian Jamaludin dengan memanggangnya di atas sumur. Berdasarkan penuturan sesepuh dan masyarkat sekitar Sumurpanggang maka diketahui bahwa Sumur tersbut terletak di dalam pasar Sumurpanggang.
Source:
Chodjim, A. 2015. Sunan Kalijaga:Mistik dan Makrifat. Jakarta:Serambi Ilmu Semesta.
Musriyanti, Erna. 2021. Padasan Emas Crita Saka Tegal. Semarang: Balai Bahasa Jawa Tengah Kementrian Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Geertz, Clifford. 1969. The Religion of Java. New York: The Free Press.
------. 1989. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.
Hurgronje, S. 1989. Islam di Hindia Belanda. Penerjemah S.Gunawan. Jakarta:Bhatara Karya Aksara.
Salam, S. 1960. Sekitar Wali Songo. Kudus: Menara Kudus.
Sunyoto, A. 2012. Atlas Wali Songo. Jakarta: Pustaka Iman
https://heyzine.com/flip-book/43bda1ec06.html