14/04/2026
TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Yayasan Pengembangan Ekonomi Daerah (REDEF) menggelar pelatihan bertajuk Skills for Future (S4F) bagi pemuda dan pemudi prasejahtera di Hotel Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Senin (13/4/2026).
Program ini didukung British Council Indonesia sebagai bagian dari inisiatif global Youth Connect.
Ketua REDEF, Santi Nining Susanti menjelaskan, pelatihan ini merupakan tahap uji coba atau pilot cascade training dari modul S4F yang dikembangkan bersama konsultan internasional dan lokal di Indonesia serta Vietnam.
“Program ini berbasis human-centered learning, bukan lagi pendekatan peserta sebagai ‘gelas kosong’. Mereka justru datang dengan potensi yang harus digali, diperkuat, lalu dikoneksikan dengan peluang,” ujarnya. Ia menyebut, metode pelatihan mengusung konsep ground, grow, connect. Peserta diajak mengenali potensi diri (ground), mengembangkan keterampilan (grow), hingga menghubungkannya dengan peluang ekonomi (connect).
Berbeda dengan pelatihan konvensional yang cenderung satu arah, S4F mengedepankan pendekatan partisipatif dan interaktif. Peserta dilibatkan aktif melalui simulasi, metafora, hingga praktik langsung agar materi lebih membekas.
“Kalau hanya ceramah, cepat hilang tertiup angin. Tapi kalau mereka mengalami sendiri prosesnya, itu akan tertanam,” katanya, menyindir pola pelatihan lama yang dianggap kurang efektif.
Program ini menyasar tiga kelompok rentan, yakni penyandang disabilitas, pemuda dari keluarga prasejahtera, serta perempuan tulang punggung keluarga. Ketiganya dinilai memiliki kesenjangan akses terhadap pendidikan dan keterampilan. Dalam pelatihan, peserta dibekali tiga kompetensi utama: kesadaran diri (self-awareness), kepercayaan diri (self-confidence), dan kemampuan komunikasi.
Selain itu, mereka juga diperkenalkan pada keterampilan praktis seperti pembuatan CV, teknik wawancara kerja, hingga dasar kewirausahaan dan digital skill. Tak hanya berhenti di pelatihan, REDEF juga menyiapkan tahap lanjutan berupa koneksi ke dunia kerja maupun pendampingan usaha bagi peserta yang ingin berwirausaha.
Kalau ingin kerja formal, kita coba hubungkan dengan perusahaan. Kalau ingin usaha, kita dampingi lewat jaringan yang ada,” jelas Santi.
"Sementara itu, Founder REDEF, Tantan Rustandi menyoroti tingginya angka kemiskinan di Kota Tasikmalaya yang dinilai masih menjadi paradoks. “Kota Tasikmalaya ini ironis. Sebagai pusat ekonomi, tapi justru masuk tiga besar daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Jawa Barat,” ungkapnya.
Menurut dia, solusi kemiskinan tidak cukup dengan bantuan sosial semata. Pola charity justru berpotensi melanggengkan ketergantungan masyarakat. “Jangan terus diberi ikan. Harus mulai diberikan kail. Kalau tidak, ya kemiskinan akan terus berputar seperti lingkaran setan,” tegasnya.
Ia mendorong agar kebijakan anggaran, termasuk dana hibah, lebih diarahkan pada sektor pendidikan dan penguatan keterampilan masyarakat.
Selain itu, Tantan juga mengkritik minimnya integrasi kearifan lokal dalam sistem pendidikan. Padahal, menurutnya, potensi sumber daya di Tasikmalaya sangat melimpah, mulai dari kerajinan mendong, bambu, hingga sektor pertanian.
“Anak-anak kita tahu nasi di meja, tapi tidak tahu proses menanam padi. Ini ironi pendidikan. Harus ada keberanian keluar dari pola lama, jangan business as usual,” tambahnya. Program S4F sendiri diujicobakan di enam lembaga di Indonesia dengan total 120 peserta. Hasil evaluasi pelatihan ini akan menjadi dasar penyempurnaan modul yang rencananya akan diadopsi secara global oleh British Council. REDEF berharap, jika program ini dinilai efektif, jumlah penerima manfaat di Kota Tasikmalaya bisa diperluas hingga ratusan peserta dalam tahun ini. (rezza rizaldi)