20/01/2024
Banyak anak yang cerdas, tetapi hatinya tumpul. Banyak anak yang otaknya cemerlang, tetapi hatinya tidak peka. Banyak yang IQ-nya tinggi, tetapi akalnya mati. Dan banyak p**a anak yang bakatnya berkembang, kepintarannya melejit, tetapi jiwanya rapuh.
Ada p**a anak yang semangat bergerak hanya ketika berlimpah pujian. Kegiatannya padat, tetapi gagasannya tiada. Ia hanya disibukkan oleh sekolah atau orangtua sehingga ketika libur, ia tidak tahu apa yang harus ia kerjakan. Ia sibuk karena disibukkan dengan agenda yang ia tidak memiliki gagasan mengenai kesibukan itu. Ia bukan menyibukkan diri. Padahal sangat berbeda antara disibukkan dengan menyibukkan diri.
Anak yang menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, memikirkan berbagai kebaikan, maka dimana pun ia berada, akalnya hidup dan kebijaksanaannya tumbuh. Maka tepatlah ungkapan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah ketika berkata:
وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ
“Dan jiwamu, jika engkau tidak terus menyibukkan diri dengan kebenaran, maka pasti ia akan membawamu pada kebathilan.”
Sementara ketika anak hanya disibukkan (meskipun disibukkan dengan hal-hal yang tampak baik), sementara pemikirannya tentang kebaikan kosong atau bahkan menolaknya, maka lama-lama nuraninya bisa mati. Padahal matinya nurani adalah kehilangan segalanya.