03/07/2024
Murid-murid Zaman Now Ga Ada Akhlak?
Jangankan di berita, di antara kamu mungkin ada yang melihat sendiri gurumu direndahkan oleh murid si paling merasa berprivilege, dimarahi oleh walimurid si paling tinggi jabatan. Apa yang terjadi sekarang adalah bencana besar: tidak dihargainya guru dan betapa overpriced-nya penyanyi serta komedian yang manggung 5 menit dibayar 200 juta. Laa haula wa laa quwwata illaa billah.
Aku merinding kemudian, ketika membaca bahwa peradaban Umat Islam begitu menghargai guru, dan getirnya; itu yang saat ini malah dipraktekkan oleh negara-negara di Asia Timur. BBC menulis bahwa, "Jika guru ingin memiliki status yang dimuliakan, mereka akan mendapatkannya di ruang kelas di Cina, Malaysia atau Taiwan, karena survei internasional menunjukkan bahwa ini adalah negara-negara di mana pengajaran dijunjung tinggi oleh publik."
Suatu kali, setelah memakamkan jenazah, Ibnu Abbas mempersilakan Zaid bin Tsabit untuk menaiki seekor baghal, kemudian Ibnu Abbas memegang tali pelananya dan menuntun baghal tersebut. Zaid bin Tsabit tentu merasa tak enakan, sembari berkata, "engkau menuntun baghalku, padahal engkau adalah keponakan Rasulullah ﷺ?!" Maka Ibnu Abbas menjawab, "karena inilah yang kami lakukan pada ulama-ulama kami."
Ulama besar bernama Abu Hanifah, adalah seorang yang tidak akan menjulurkan kakinya ketika ia menghadap ke arah rumah gurunya —Hammad rahimahullah— karena beliau begitu menghormati gurunya. Imam Syafi'i pun memuliakan gurunya dengan cara istimewa, sampai-sampai beliau sangat hati-hati membalikkan lembaran bukunya, khawatir suaranya akan mengganggu guru yang sedang mengajarkan ilmu.
Gambaran betapa peradaban Islam memuliakan guru, bisa kamu dapatkan ketika menjelajahi masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid rahimahullah. Anaknya dididik untuk hormat pada guru, bahkan sampai mencuci kaki para guru yang mengajarkan ilmu bagi anak-anak Khalifah. Putra-putri Khalifah Al Ma'mun pun berlomba-lomba mengambilkan alas kaki gurunya dan memakaikannya. Padahal mereka putra mahkota!
Ibnu Abbas memberi nasihat menarik yang related juga untuk zaman kita, "kerendahan hatimu pada guru, membuat guru akan memberikan ilmunya sepenuh hati padamu, sehingga orang-orang pun akan membutuhkanmu." Indonesia kita sedang tak baik-baik saja, selama generasi mudanya tak berakhlak pada guru dan ahli ilmu. Jika tetap begitu, khawatirnya tahun 2045 bukan "bonus" demografi yang didapat, melainkan "beban demografi." Wal iyadhu billah.
Namun, nasihat dari Imam Ghazali ini cocok nian untuk keduanya: guru dan murid. Beliau menulis dalam Kitab Ihya Ulumuddin, "jika seorang guru memiliki 3 sifat ini, maka betapa nikmatnya jadi muridnya: sabar, rendah hati dan akhlaq nan mulia. Dan jika seorang murid memiliki 3 sifat ini, bahagialah yang menjadi gurunya: menghadirkan akal saat belajar, beradab dan sungguh-sungguh dalam memahami." (Ihya Ulumuddin, 1/76)
Referensi:
1. Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Ghazali
2. Where do teachers get the most respect?, BBC
3. عناية الدولة بالعلماء في الحضارة الإسلامية
===================
Artikel dan Pic diambil : Gen Saladin | .saladin | t.me/gensaladin