Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI)

Call Directions Website Contact the organization

Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) MITI adalah NGO yang bergerak di bidang IPTEK. Visi MITI yaitu IPTEK untuk kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

Gabung di Agenda MITI
https://bit.ly/PerspectiveForumCSDS

Akar Masalah Pemadaman Listrik Berulang dan Strategi Meningkatkan Keandalan Sistem Ketenagalistrikan JAKARTA, 29 Juli 20...
07/08/2026

Akar Masalah Pemadaman Listrik Berulang dan Strategi Meningkatkan Keandalan Sistem Ketenagalistrikan

JAKARTA, 29 Juli 2026 – Center for Strategic Development Studies (CSDS) MITI menyelenggarakan diskusi publik bertajuk "Pemadaman Listrik Belum Berhenti: Menguji Keandalan Pembangkit dan Kesiapan Pasokan Energi". Diskusi ini membedah akar masalah di balik gangguan kelistrikan berulang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia serta merumuskan strategi penanganan komprehensif agar dekarbonisasi nasional tidak mengorbankan ketahanan dan keandalan pasokan listrik.
Meskipun rasio elektrifikasi nasional telah mencapai 99,83% dan total kapasitas terpasang nasional (107,5 GW) secara agregat melebihi dua kali lipat beban puncak (46,8 GW), pemadaman listrik secara meluas masih terus terjadi. Dalam diskusi tersebut, Dr. Ir. Tarwaji Warsokusumo, ex-Kepala Satuan Pengembangan Teknologi dan Manajemen Aset PT PLN Indonesia Power sekaligus Dosen Institut Teknologi PLN, menekankan adanya senjang penyaluran daya (deliverability gap)—yakni jurang pemisah antara kapasitas terpasang di atas kertas dengan ketersediaan daya nyata yang siap disalurkan di titik dan jam tertentu.

“Akar masalah pemadaman listrik tidak bisa disederhanakan hanya sebagai masalah kekurangan batubara atau gangguan teknis semata, melainkan kombinasi kompleks dari risiko pasokan energi primer, keandalan mekanis pembangkit, serta dinamika operasi jaringan listrik. Banyak pembangkit besar kita dirancang untuk batubara kalori menengah, sementara mayoritas cadangan nasional adalah kalori rendah. Ketika terjadi ketidakcocokan kualitas atau keterlambatan pengiriman akibat cuaca ekstrem, ruang bakar (boiler) mengalami penumpukan kerak abu meleleh (slagging) dan kerusakan mekanis yang memicu penghentian operasi mendadak (forced outage). Oleh karena itu, kerangka utama transisi energi Indonesia harus mengadopsi prinsip Reliability First—keandalan sistem harus diprioritaskan sebelum melakukan substitusi daya,” tegas Dr. Tarwaji.

Lebih lanjut, Dr. Tarwaji menyoroti tantangan penetrasi masif Energi Baru Terbarukan (EBT) variabel seperti Tenaga Surya (PLTS) yang memunculkan fenomena k***a bebek (duck curve)—pola penurunan tajam beban listrik yang diserap jaringan di siang hari akibat produksi listrik surya, lalu melonjak drastis di malam hari. “Penetrasi energi surya yang tinggi tanpa diimbangi sistem penyimpanan energi (energy storage) memaksa pembangkit listrik pemikul beban dasar (base load) beroperasi pada beban minimum di siang hari dan menuntut operasional pembangkit beban puncak (peaker) berbiaya mahal di malam hari. Untuk menggantikan peran PLTU batubara secara bertahap tanpa mengorbankan kestabilan jaringan, Indonesia membutuhkan sumber daya listrik stabil dan stabil-kontinu (firm) bebas karbon seperti Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), di samping penyelamatan aset PLTU melalui program pembakaran pendamping (co-firing) biomassa 100% berbasis Hutan Tanaman Energi di lahan-lahan kritis,” paparnya.
Sementara itu, Prof. Edy Hartulistioso, Guru Besar Teknik Konversi Energi IPB University, memberikan perspektif dari sisi efisiensi termal pembangkit dan potensi diversifikasi energi hayati. Ia menggarisbawahi bahwa efisiensi sistem kelistrikan nasional sangat dipengaruhi oleh profil usia pembangkit dan kesiapan bahan bakar pencampur.

"Kapasitas faktor pembangkit kelistrikan kita secara rata-rata masih berada di bawah 70%, yang mengindikasikan adanya ruang optimalisasi performa aset. Program pembakaran pendamping biomassa adalah langkah transisi yang sangat strategis, namun membutuhkan pemantauan presisi karena karakteristik biomassa yang lebih korosif dan fluktuatif dapat memicu penumpukan kerak pada dinding ruang bakar jika tidak dikelola dengan benar. Kunci keberhasilannya terletak pada kepastian rantai pasok logistik, mekanisasi pemanenan, dan jaminan keekonomian di tingkat pengumpul," jelas Prof. Edy.

Prof. Edy juga menawarkan berbagai opsi teknologi tepat guna untuk mendukung dekarbonisasi industri dan kelistrikan. "Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi gasifikasi batubara guna mengubah batubara kalori rendah menjadi gas sintetis (syngas), serta adopsi sistem daur ulang panas buang (waste heat recovery) dari limbah industri maupun biomassa. Pendekatan terintegrasi seperti skema produksi gabungan listrik, panas, dan produk turunan tidak hanya menghasilkan listrik dan energi panas, tetapi juga produk sampingan bernilai tinggi seperti arang hayati (biochar) dan minyak hayati (bio-oil) yang mendukung ekonomi sirkular," terangnya.

Diskusi ini juga mengulas peluang pemanfaatan limbah menjadi energi dan kesiapan sumber daya manusia. Pemanfaatan sampah kota diakui lebih ekonomis jika diolah menjadi bahan bakar jumputan padat (Refuse Derived Fuel/RDF) sebagai pendamping bahan bakar PLTU. Di sisi lain, penyiapan SDM dan tata kelola keselamatan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dilaporkan telah mulai berjalan secara intensif melalui kolaborasi akademisi dan lembaga internasional.

Guna mengatasi kerentanan struktural sistem kelistrikan, diskusi ini merumuskan sejumlah langkah strategis, antara lain: pembentukan audit keandalan sistem interkoneksi jaringan transmisi, penguatan cadangan strategis batubara regional, percepatan regulasi pendukung sistem penyimpanan energi dan pasar layanan pendukung keandalan jaringan (ancillary services market), serta pengembangan jaringan listrik super (Supergrid) nasional untuk menghubungkan pusat-pusat EBT terisolasi ke pusat beban.
Sebagai penutup, diskusi ini menegaskan bahwa suksesnya transisi energi menuju Net Zero Emission 2060 tidak hanya diukur dari seberapa cepat kapasitas EBT dibangun, melainkan seberapa tangguh sistem kelistrikan nasional dalam mencegah gangguan teknis berubah menjadi krisis yang merugikan masyarakat dan perekonomian.

Tentang CSDS Indonesia
Center for Strategic Development Studies (CSDS) adalah lembaga riset dan pengembangan di bawah Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI) yang berfokus pada analisis kebijakan strategis, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat untuk mendorong Indonesia yang lebih mandiri dan berkeadilan.
https://csds.miti.or.id/

Kita Tidak Kurang Orang Pintar, Kita Kekurangan Orang yang "Teguh"Tragedi Stasiun Bekasi Timur adalah pengingat pahit : ...
30/04/2026

Kita Tidak Kurang Orang Pintar, Kita Kekurangan Orang yang "Teguh"

Tragedi Stasiun Bekasi Timur adalah pengingat pahit : Sampai kapan kebijakan kita akan terus berlindung di balik kata "ketidaktahuan"?

Kita tahu solusinya. Kita paham regulasinya (PM 52/2014). Tapi di mana ketahanan kita untuk tetap berada pada jalur yang benar?

Biarkan waktu yang menguji

Oleh: Mohamad Meiza Jolanda, S.T., M.T.
- diolah Tim CSDS

13/04/2026

Situasi di Selat Hormuz bukan lagi sekadar berita luar negeri. Saat 20% pasokan minyak dunia terganggu, efeknya merambat hingga ke belanja negara dan industri penerbangan di Indonesia.

Kami mengundang Anda untuk duduk bersama para pakar, membedah risiko ekonomi, dan mendiskusikan navigasi kebijakan terbaik bagi ketahanan energi nasional.

Siapkah ekonomi kita bertahan di tengah badai energi ini? Temukan jawabannya dalam Perspective Forum hari Selasa 14 April 2026!

Situasi di Selat Hormuz bukan lagi sekadar berita luar negeri. Saat 20% pasokan minyak dunia terganggu, efeknya merambat...
13/04/2026

Situasi di Selat Hormuz bukan lagi sekadar berita luar negeri. Saat 20% pasokan minyak dunia terganggu, efeknya merambat hingga ke belanja negara dan industri penerbangan di Indonesia.

Kami mengundang Anda untuk duduk bersama para pakar, membedah risiko ekonomi, dan mendiskusikan navigasi kebijakan terbaik bagi ketahanan energi nasional.

Siapkah ekonomi kita bertahan di tengah badai energi ini? Temukan jawabannya dalam Perspective Forum hari Selasa 14 April 2026!

"Proyek Panas Bumi Dilirik Danantara: Bagaimana Masa Depan Energi Terbarukan di Indonesia?"Indonesia memiliki potensi pa...
04/02/2026

"Proyek Panas Bumi Dilirik Danantara: Bagaimana Masa Depan Energi Terbarukan di Indonesia?"

Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 24 gigawatt yang belum tergarap optimal. Kehadiran Danantara dengan rencana investasi mencapai USD 5,4 miliar atau sekitar Rp88 triliun menjadi momentum penting dalam mempercepat transisi energi nasional.

Danantara membawa transformasi besar melalui dukungan pendanaan strategis pada proyek percepatan di Ulubelu dan Lahendong. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat struktur permodalan bagi pengembangan infrastruktur energi hijau.

Namun, berbagai tantangan teknis dan regulasi masih membayangi implementasi di lapangan. Oleh karena itu, CSDS MITI mengundang publik untuk memastikan bahwa integrasi investasi ini benar-benar mempercepat masa depan energi bersih Indonesia.

Mari hadir pada diskusi publik yang akan dilaksanakan pada:
🗓 Rabu, 11 Februari 2026
🕓 20.00–21.30 WIB
📍 Zoom Meeting

Narasumber:
💡 Prof. Yunus Daud
💡 Dr. rer. nat. Makky Sandra Jaya

Moderator:
🎙 M. Afkar Gumintang

Jangan lewatkan ruang diskusi penting ini. Ajak rekan-rekan yang lain untuk turut menyimak dan berpartisipasi dengan mengakses link berikut
bit.ly/PerspectiveForumCSDS

Address

Jalan Jalur Sutera Kav. 23B No. 10-11 Alam Sutera
Tangerang
15144

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+622129315008

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI):

Shortcuts

Share