21/06/2024
🌹🌹 JAUH WANGI HARUM, DEKAT TERASA BAU BANGKAI
Sebuah ungkapan yang mengandung makna sanak saudara bila jauh selalu terkenang, bila dekat selalu bertengkar.Begitulah faktanya, akan tetapi perumpamaan ini tidak sampai batas itu bahkan bisa lebih luas lagi.
Dari perspektif Islam terutama dalam Sirah An-Nabawi peribahasa diatas sesuai p**a dengan kisah proses dakwah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Sallam ketika pada fase dakwah Makkah.
Abd Aml-'Uzza bin 'Abd Al-Mutthalib, yang populer dengan sebutan Abu Lahab adalah paman juga tetangga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Ia merupakan lawan setia selama misi kenabian Rasulullah di Mekkah.
Setelah kematian Abu Thalib, kepemimpinan Bani Hasyim jatuh kepada Abu Lahab. Namun, alih-alih memberikan dukungan kepada keponakannya, Abu Lahab justru selalu mencari cara untuk menyusahkan Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Bahkan, perlawanan Abu Lahab ini p**a yang menjadi salah satu alasan mengapa Rasulullah memutuskan untuk hijrah ke Madinah.
Abu Lahab merupakan salah satu tokoh penentang yang disebut namanya dalam Al-Qur'an yaitu dalam surat Al-Lahab yang isinya secara penuh menceritakan tentang sosok Abu Lahab dan istrinya.
Banyak kezhaliman yang dilakukan Abu Lahab terhadap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Sallam, di antaranya :
▪︎ Mencela dan Menolak Islam
Abu Lahab secara terang-terangan menolak Islam dan amat keras penentangannya pada kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah. Ia bukan hanya menolak menjadi seorang Muslim, tetapi ia juga selalu berupaya menghalangi orang lain dari menerima kebenaran (Islam).
▪︎Memfitnah dan mencemarkan nama baik Rasulullah
Abu Lahab tidak segan-segan menyebarkan fitnah dan cerita palsu tentang Rasulullah. Ia selalu berusaha mencemarkan nama baik Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan menyebarkan fitnah, tuduhan juga berita-berita yang merendahkan beliau.
▪︎Melakukan serangan fisik dan penghinaan secara terang-terangan
Permusuhan Abu Lahab terhadap Rasulullah tidak hanya sebatas verbal, tetapi kebenciannya ditunjukan p**a dengan tindakan fisik yang merendahkan Nabi. Seperti, ia pernah melempari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan isi perut hewan saat Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sedang menjalankan shalat.
▪︎Menghalangi dan mencela peringatan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Ketika Rasulullah memberikan peringatan akan azab Allah kepada kaumnya, Abu Lahab merespon dengan mengutuk dan mencela Rasulullah. Ia menolak untuk mendengarkan pesan peringatan dan justru semakin menunjukkan permusuhan.
▪︎Memerintahkan putranya untuk menceraikan Putri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam
Sebelum Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima wahyu, Rasulullah telah menikahkan 2 putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan 2 putra Abu Lahab yaitu Utbah dan Utaibah.
Tetapi, setelah Nabi Muhammad menjadi Rasul, Abu Lahab memerintahkan kedua anaknya untuk menceraikan kedua putri Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu dengan cara yang kasar. Hingga akhirnya mereka pun berpisah.
▪︎Bergembira atas wafatnya putra Rasulullah
Ketika Abdullah, putra kedua Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam meninggal dunia, Abu Lahab merasa sangat senang dan dengan s**acita ia memberitakan kepada kaum musyrikin bahwa keturunan Muhammad telah terputus.
Ia dengan bangga menyampaikan kabar tersebut untuk merendahkan juga menghina Rasulullah dan ajaran-ajaran Islam yang diperjuangkannya.
Saat itu, Abu Lahab merasa senang dengan kejadian tersebut dan berusaha memperburuk citra Nabi dan dakwahnya di kalangan kaumnya.
▪︎Bergabung dengan musuh Islam
Abu Lahab aktif bergabung dengan musuh-musuh Islam, termasuk dalam boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Boikot tersebut menyebabkan penderitaan dan kesulitan bagi Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keluarganya.
▪︎ Menentang dakwah Islam dengan segala cara
Abu Lahab menggunakan segala sarana yang ada di tangannya, termasuk status sosial dan kekayaannya untuk menentang dan merintangi dakwah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
📚 HIKMAH DAN PELAJARAN
Itulah beberapa di antara kezhaliman Abu Lahab, paman Rasulullah yang sangat menentang ajaran yang dibawa oleh keponakan dan tetangga dekatnya sendiri.
Begitulah, maka sudah menjadi sunnatullah, aktivitas dakwah akan menghadapi penolakan dan penentangan. Baik itu berupa fitnah, propaganda negatif, maupun penganiayaan secara fisik sebagaimana dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan Nabi-nabi sebelumnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)
Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir menjelaskan dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Sebagaimana Kami jadikan untukmu wahai Muhammad, musuh-musuh yang menentang, memusuhi, dan menyaingimu, Kami jadikan p**a bagi setiap Nabi yang ada sebelummu musuh-musuh tersebut. Oleh karena itu, janganlah engkau bersedih hati akan hal ini.” Ayat ini semakna dengan apa yang disebut di dalam ayat lain dalam firman-Nya,
فَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ
“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (p**a).“ (QS. Ali Imran: 184)
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ
“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Furqan: 31)
Waraqah bin Naufal pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya tiada seorang pun yang datang dengan membawa semisal dengan apa yang engkau datangkan, melainkan pasti dimusuhi.”
Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,
شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ
“Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.” (QS. Al-An’am: 112)
يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)
Maksudnya, sebagian dari mereka membisikkan kata-kata yang indah-indah lagi penuh kepalsuan untuk menipu pendengarnya dari kalangan orang-orang yang tidak mengetahui.
Imam Abu Jafar Muhammad bin Jarir Ath-Thabari dalam Jami Al-Bayan fi Tawil Al-Qur’an atau lebih dikenal dengan Tafsir Ath-Thabari, menjelaskan bahwa ujian yang disebutkan Allah dalam ayat ini tidak hanya menimpa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam saja, tetapi berlaku umum bagi orang-orang yang mengikuti beliau dalam berdakwah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Jalan menuju Allah adalah jalan di mana Adam kelelahan, Nuh mengeluh, Ibrahim dilempar ke dalam api, Ismail direbahkan untuk disembelih, Yusuf dijual sebagai budak dengan harga yang murah hingga ia dipenjara beberapa tahun, Zakariya dibunuh dengan digergaji, Yahya disembelih, Ayyub diuji dengan sakit yang parah, Dawud menangis melebihi kadarnya, Isa berjalan dengan rasa takut yang sangat, dan Muhammad diuji dengan kefakiran dan berbagai gangguan lainnya. Lalu kalian ingin menempuhnya dengan bersantai ria dan bermain-main?!” (Al-Fawaid hal. 56)
💡KESIMPULAN
Sebagaimana pepatah jauh wangi harum, dekat terasa bau bangkai. Kebaikan walau banyak sering kali tak dilihat atau dirasa oleh orang-orang terdekat, terutama mereka pembawa kebenaran (Islam) dan sudah menjadi SUNNATULLAH p**a bila gangguan dan rintangan dakwah itu berasal dari orang-orang terdekat baik secara nasab ataupun tempat (tetangga) yang seharusnya merekalah yang menjadi orang pertama yang menerima dan menjadi pembela dakwah Islam.
Wallahu a'lam bish-shawwab...
Semoga bermanfaat.
✍️ GRBJ. 13 Dzulhijjah 1445 H. / 19 Juni 2024 M.
👤 Abu Abdirrahman M.Amin Al-Hajjamy, MA.