Paguyuban Batur Awidya

Paguyuban Batur Awidya Underbow Yayasan Bakti Pertiwi Jati :Situs & Ritus tetamian leluhur Bali mewilayahi Bali Barat: Tabanan, Jembrana, Buleleng.

🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81: MERDEKA BERAKAR BERBUDAYA, BERDAULAT PARA LELUHUR 🇮🇩Cc:Paguyuban Batur AwidyaNasi...
17/08/2026

🇮🇩 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81: MERDEKA BERAKAR BERBUDAYA, BERDAULAT PARA LELUHUR 🇮🇩

Cc:Paguyuban Batur Awidya

Nasionalisme Sejati: Bukan Hanya Bendera, Tapi Darah & Tanah Kelahiran. Di usia ke-81 Republik ini, di tengah badai tantangan 2026 rentan perpecahan, hilang jati diri, ujian kedaulatan, dan lupa asal, kita tegaskan: Cinta Tanah Air bagi kita bukan sekadar semboyan, melainkan perwujudan ajaran leluhur Nusantara.

Nasionalisme kita tidak terbang di udara kosong. Ia berakar kuat pada Adat, Istiadat, dan Kearifan Asli Nusantara terkhususnya jiwa Bali yang tak tergoyahkan. Merdeka bukan berarti melepaskan warisan, melainkan meneguhkan identitas bangsa yang dibangun ribuan tahun sebelum negara ini lahir.

Jiwa Nusantara & Bali adalah Fondasi Kekebalan Bangsa: Kesatuan di dalam keberagaman. Bali sebagai bagian tak terpisahkan dari Nusantara, menjaga api suci agar tidak padam bagi seluruh Indonesia.

Kekuatan Indonesia tidak datang dari luar, melainkan dari harta karun budaya sendiri yang selama ini sering kita lupakan. Bangsa yang melupakan akarnya, akan runtuh sebelum dihancurkan musuh.

Generasi Muda, kalian adalah pewaris, bukan pengganti. Pemuda-pemudi Bali dan seluruh Indonesia: Tantangan terbesar masa depan bukanlah teknologi atau persaingan dunia melainkan hilangnya kesadaran siapa kita sebenarnya. Jangan Tukar Identitas: Majulah dengan ilmu zaman, tapi jangan ganti ruh leluhur. Orang Bali yang maju adalah yang tetap teguh pada Satya, Sila, dan Bhakti. Bela Negara dengan Cara Sendiri: Menjaga Pura kahyangan, Desa adat Pakraman, Bahasa, dan Adat Istiadat adalah bentuk paling nyata membela kedaulatan budaya bangsa. Persatuan dalam Ragam: "Bhinneka Tunggal Ika" bukan sekadar tulisan karena itu adalah napas kehidupan Nusantara. Bali menyatu dengan Indonesia. Sekali Merdeka, Tetap Merdeka: Merdeka dari penjajahan lama, cara berpikir penjajah, jiwa penjajah, otak penjajah, sifat penjajah dan merdeka dari penjajahan baru: pemikiran asing yang merusak tatanan, lupa asal, dan memecah belah.

Kami Paguyuban Batur Awidya menyatakan:
Republik Indonesia berdiri tegak di atas bumi Nusantara yang suci. Budaya Leluhur bukan masa lalu, ia adalah sumber kekuatan abadi untuk melewati segala ujian masa depan. Tanpa jiwa adat, bangsa hanyalah tumpukan pasir. Dengan kearifan leluhur, kita menjadi gunung yang tak tergoyahkan.

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE-81!
WARISAN LELUHUR JADI TIANG NEGARA!
SEKALI MERDEKA, TETAP MERDEKA!

Ong Santi Santi Santi Ong 🇮🇩
- Paguyuban Batur Awidya
De'AYU De'BAGUS Channel PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG Bakti Pertiwi Jati I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus

Perjalanan Sains Modern dan Perspektif Kearifan Lokal pada Warisan Leluhur BaliPara ilmuwan barat telah menempuh perjala...
16/08/2026

Perjalanan Sains Modern dan Perspektif Kearifan Lokal pada Warisan Leluhur Bali

Para ilmuwan barat telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Selama berabad-abad, mereka terus membenahi diri, merancang ulang pemahaman mereka, melakukan eksperimen tanpa henti, mengkaji setiap gejala alam, dan meneliti segala hal yang tampak maupun yang tersembunyi di jagat raya ini. Mereka membelah materi, menelusuri lapisan yang semakin dalam, hingga menyelami struktur terkecil dari segala yang ada.

Hingga memasuki abad ke-21, tepatnya pada tahun 2000-an, puncak dari serangkaian penelitian itu akhirnya membawa mereka pada satu kesimp**an yang sungguh mengguncang pandangan dunia yang selama ini mereka pegang: tidak ada satu pun benda mati di alam semesta ini. Semua yang ada ternyata hidup.

Melalui penelusuran hingga ke tingkat partikel terkecil, para ilmuwan menemukan hal yang menakjubkan. Baik itu batu, air, udara, tanah, logam besi dan baja, maupun makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, dan manusia apabila ditelusuri hingga ke inti paling kecil, semuanya tersusun dari partikel yang sama. Dan partikel itu tidak diam; ia terus bergerak, bergetar, dan memiliki daya.

Sifat partikel dasar ini ternyata abadi: tidak dapat diciptakan, tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat berubah wujud. Ia tetap ada, hanya berubah bentuk dan sifat tampaknya. Para ilmuwan memberinya berbagai nama ada yang menyebutnya energi, ada yang menyebutnya partikel Tuhan, ada p**a yang menyadari bahwa di sanalah letak kesatuan dari segala sesuatu. Berbagai teori baru pun terus bermunculan, saling melengkapi atau menggantikan yang lama. Dan entah berapa lama lagi, berapa banyak penelitian yang masih harus dilakukan, sebelum mereka sepenuhnya sampai pada pemahaman yang utuh.

Namun tahukah Anda? Di saat para ilmuwan barat merasa menemukan sesuatu yang baru, lalu mempublikasikannya sebagai penemuan mutakhir ternyata leluhur kita, sejak zaman dahulu kala, sudah mengetahui hal yang sama.

Bukan sekadar dalam bentuk teori atau perkiraan belaka melainkan sudah menjadi pemahaman yang mendalam, pengalaman batin, dan diterapkan sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya mengerti konsepnya, melainkan menghayati, mengamalkan, dan menjadikannya panduan hidup.

Bukti-bukti itu tidak sedikit, tidak hanya satu-dua, melainkan sangat banyak, dan tercatat abadi di Bumi Ibu Pertiwi termasuk p**a di tanah Bali yang kita cintai ini.

Mungkin terdengar sombong, namun inilah kenyataannya: ketika barat masih sibuk menyusun teori demi teori, leluhur kita sudah menjadikannya kenyataan dan tindakan sejak zaman dahulu. Apa yang kini baru mereka temukan, bukanlah hal baru bagi kita. Ia sudah ada di sini, sejak lama. Tinggal kita yang kini kembali mencarinya, memahaminya, dan mengkaji ulang pengetahuan serta kebijaksanaan leluhur kita sendiri.

Dan pada akhirnya, semua penelitian itu mengarah pada satu titik yang sudah diketahui leluhur sejak dulu:

Alam Semesta (Makrokosmos) dan Partikel Terkecil (Mikrokosmos) di tengah-tengahnya, adalah KITA, MANUSIA.

Artinya: apa yang ada di langit, ada juga di bumi. Apa yang ada di bumi, ada juga di dalam diri kita. Partikel yang menyusun batu, air, udara, dan bintang itulah yang juga menyusun tubuh kita. Getaran yang ada di alam semesta, sama dengan getaran yang ada di dalam diri. Manusia bukan sekadar bagian kecil dari alam semesta melainkan pusat pertemuan antara yang terbesar dan yang terkecil, cermin tempat seluruh jagat raya memandang dirinya sendiri.

Inilah kebenaran yang baru kini didekati sains melalui rumus dan eksperimen namun telah dihayati dan diamalkan leluhur sebagai kesadaran hidup: bahwa kita adalah satu dengan segala yang ada. Bahwa segala yang hidup di luar kita, juga hidup di dalam diri kita. Bahwa tidak ada yang terpisah.

Sains barat perlahan-lahan sampai pada gerbang kebenaran yang sudah lama terbuka bagi leluhur kita. Yang mereka temukan hari ini sebagai penemuan baru sesungguhnya adalah kebijaksanaan lama yang telah hidup di tanah kita sejak zaman purba. Tinggal kita sadari, pelajari, dan hidupi kembali. PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG De'AYU De'BAGUS Channel I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus Bakti Pertiwi Jati

Address

Tabanan
83111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Paguyuban Batur Awidya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share