Paguyuban Batur Awidya

Call Directions Website

Paguyuban Batur Awidya Underbow Yayasan Bakti Pertiwi Jati :Situs & Ritus tetamian leluhur Bali mewilayahi Bali Barat: Tabanan, Jembrana, Buleleng.

Nyelang Margi ajebos Semeton... Ngopi bareng kumpul2 bersama semeton paguyuban, terarah, terukur terjangkau teresonansi....
23/09/2026

Nyelang Margi ajebos Semeton... Ngopi bareng kumpul2 bersama semeton paguyuban, terarah, terukur terjangkau teresonansi... Duduk sama rata berdiri sama tinggi, tumbuh bersama, belajar bersama, bermain bersama, bersama-sama, saling percaya dalam bingkai kehangatan kekeluargaan dan dalam ruang diskusi spirit idealisme muladara🌀 yang kokoh serta tidak menyurutkan militansi jiwa2 patriotisme dengan kepala tengadah tegap berdiri, yang anti tergadaikan dan mengorbankan atas dalih dalil keterbatasan dan ego pembenaran... PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG De'AYU De'BAGUS Channel I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus Bakti Pertiwi Jati

19/09/2026
BALI, WAKTUNYA BERBENAH...Mari kita pahami terlebih dahulu.Banyak yang mencari ke luar bukan karena tidak mencintai Bali...
17/09/2026

BALI, WAKTUNYA BERBENAH...

Mari kita pahami terlebih dahulu.
Banyak yang mencari ke luar bukan karena tidak mencintai Bali, tetapi karena haus akan pengetahuan BALI. Ketika dahulu ajaran dan warisan pengetahuan Bali belum terbuka luas, mereka mencari jawaban melalui literatur Hindu yg berkiblat pada luar, khususnya India dan berbagai sumber lainnya.

Hari ini keadaan sudah mulai berubah.

Pengetahuan warisan leluhur Bali semakin banyak dibuka, diteliti, diterjemahkan, dan dibagikan kepada masyarakat.

Maka inilah saatnya kita berbenah.

Belajar dari India boleh.
Membaca literatur dunia boleh.
Mengenal berbagai filsafat boleh.

Tetapi gunakan semua itu untuk membaca dan memahami Bali dan juga sebaliknya membaca serta memahami luar dengan mengacu pada basis pandang Bali. Bali itu sangat genuine di Nusantara.

Jangan sampai pengetahuan dari luar justru membuat kita lupa bertanya: "Apa yang sebenarnya diwariskan leluhur kita sendiri di Bali?”

Tetapi untuk menemukan kembali apa yang pernah diwariskan kepada kita. Belajar dari dunia tidak berarti harus kehilangan Akar kita di Bali.

Semakin jauh kita belajar, semakin penting kita mengenal akar jati diri sendiri

Karena bisa jadi, sebagian jawaban yang selama ini kita cari jauh-jauh, TERNYATA masih tersimpan di rumah kita sendiri. Jangan pernah mengakui rumah tetangga/rumag orang lain, p**au lain, negara lain, bangsa lain.

Bali, waktunya NGEH kemBALI. Eling lan Waspada kemBALI. Mari p**ang kepada akar, bukan untuk menutup diri dari dunia, tetapi agar kita mampu berdiri di dunia tanpa kehilangan jati diri kita, warisan DNA Genetik leluhur kita, bukan leluhur orang lain. Bakti Pertiwi Jati De'AYU De'BAGUS Channel PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus

KEBOHONGAN MENJADI SEBUAH POLA  Tentang Kebenaran, Waktu, dan Hukum Alam, Kebohongan hampir tidak pernah berdiri sendiri...
14/09/2026

KEBOHONGAN MENJADI SEBUAH POLA

Tentang Kebenaran, Waktu, dan Hukum Alam, Kebohongan hampir tidak pernah berdiri sendirian.

Satu kebohongan biasanya membutuhkan kebohongan berikutnya untuk mempertahankan dirinya. Ketika sebuah kenyataan mulai dipertanyakan, maka dibuatlah alasan. Ketika alasan mulai terbantahkan, muncul pembenaran baru. Ketika pembenaran tidak lagi cukup, orang lain pun dilibatkan untuk menguatkan cerita yang sama.

Akhirnya, yang semula hanya sebuah kebohongan kecil dapat berubah menjadi sebuah pola.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar. Sebab kebohongan bukan lagi sekadar tindakan seseorang untuk menyembunyikan sesuatu, tetapi dapat berkembang menjadi "Sistem pembenaran", ketika orang-orang yang terlibat merasa harus terus menjaga cerita agar tidak runtuh.

Mereka mungkin tidak semuanya memulai kebohongan itu. Tetapi ketika sudah mengetahui sesuatu dan memilih ikut menutupinya, mereka telah menjadi bagian dari mata rantai yang sama.

Namun ada sesuatu yang sering dilupakan manusia: Waktu tidak perlu berbohong. Waktu hanya berjalan.

Ia tidak perlu membela siapa pun. Tidak perlu memihak siapa pun. Tidak perlu membuat alasan. Tetapi semakin panjang perjalanan waktu, semakin banyak jejak yang tertinggal.

Peristiwa meninggalkan akibat.
Keputusan meninggalkan konsekuensi.
Ucapan meninggalkan ingatan.
Tindakan meninggalkan jejak.

Apa yang hari ini ditutupi, suatu hari dapat muncul melalui akibatnya sendiri. Karena itu, kebenaran tidak selalu harus “dimenangkan” melalui pertengkaran. Ada kalanya kebenaran hanya membutuhkan ruang dan waktu untuk memperlihatkan dirinya.

Kebohongan Melahirkan Kebohongan

Masalah terbesar dari kebohongan bukan hanya karena ia menyembunyikan kebenaran. Masalahnya adalah kebohongan membutuhkan pemeliharaan.

Hari ini seseorang mengatakan sesuatu yang tidak benar. Besok ia harus mengingat kembali apa yang telah dikatakannya. Lalu ia harus menyesuaikan cerita ketika muncul pertanyaan baru. Ketika orang lain mengetahui sebagian fakta, cerita harus kembali disusun.

Semakin banyak orang yang dilibatkan, semakin banyak p**a versi yang harus dipertahankan. Pada akhirnya, manusia bukan lagi sekadar menyembunyikan sebuah fakta, tetapi sibuk menjaga bangunan cerita yang dibangunnya sendiri.

Di sinilah sebuah kekeliruan dapat berubah menjadi pola. Dan pola yang tidak disadari akan cenderung berulang.

Jangan Mengulangi Kesalahan yang Sama.Manusia tentu dapat melakukan kesalahan.

Kesalahan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru kesalahan dapat menjadi guru yang sangat berharga apabila seseorang mau melihatnya dengan jujur.

Yang berbahaya bukan semata-mata pernah salah. Yang berbahaya adalah "Menolak belajar dari kesalahan."

Ketika kesalahan yang sama terus dilakukan, sebenarnya kita tidak sedang menghadapi satu kesalahan yang berdiri sendiri. Kita sedang melihat sebuah pola.

Hari ini terjadi karena keputusan kemarin.
Besok dapat kembali terjadi karena kita tidak mengubah cara berpikir hari ini.

Maka, jangan hanya bertanya: >> “Siapa yang salah?” Tetapi bertanyalah: >> “Pola apa yang membuat kesalahan ini terus terjadi?”

Pertanyaan kedua jauh lebih penting. Sebab dengan menemukan polanya, kita memiliki kesempatan untuk memutus mata rantainya.

Hukum Alam Tidak Mengenal Pembenaran. Dalam kehidupan, manusia dapat membuat pembenaran.

Kita dapat mengatakan bahwa sesuatu tidak terjadi.
Kita dapat menyalahkan keadaan.
Kita dapat mencari kambing hitam.
Kita dapat membuat cerita untuk menutupi cerita sebelumnya.

Tetapi hukum sebab-akibat tidak bekerja berdasarkan pembenaran manusia. Benih yang ditanam akan memiliki konsekuensi sesuai dengan sifat benihnya. Perbuatan pun demikian.

Bukan berarti setiap akibat selalu datang dengan cepat. Justru sering kali manusia keliru karena mengira bahwa sesuatu yang belum terlihat berarti tidak memiliki akibat.

Padahal tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Ada proses yang berjalan diam-diam.

Seperti benih di dalam tanah: untuk beberapa waktu tidak terlihat apa-apa. Tetapi kehidupan sedang bekerja di bawah permukaan.

Karena itu, “Hukum Alam” bukan semata-mata tentang hukuman, melainkan tentang keteraturan sebab dan akibat. Apa yang kita lakukan akan membentuk keadaan berikutnya.

Waktu Membuka Tabir. Ada hal-hal yang tidak dapat dipaksakan untuk terbuka hari ini.

Kadang-kadang kita terlalu ingin segera membuktikan kebenaran sehingga tanpa sadar ikut masuk ke dalam permainan yang sama: saling menyerang, saling membantah, saling membuat narasi.

Padahal ada saat ketika tindakan terbaik justru adalah berhenti menambah kebisingan. Biarkan fakta berbicara melalui perjalanan waktu.

Sebab semakin panjang sebuah cerita yang tidak sesuai kenyataan dipertahankan, semakin besar kemungkinan muncul pertentangan di antara cerita, tindakan, dan kenyataan.

Pada akhirnya, bukan hanya perkataan yang berbicara. "Perbuatanlah yang menjadi saksi." Dan waktu adalah salah satu ruang tempat kesaksian itu muncul.

Memutus Pola itu, yang paling penting bukan hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Lebih jauh dari itu, manusia perlu belajar "Mengenali Pola." Jika sebuah kesalahan pernah terjadi, jangan hanya memperbaiki akibatnya. Tetapi cari akar penyebabnya.

Jika pernah terjadi ketidakjujuran, jangan hanya menutup kasusnya. Tetapi bangun kembali budaya kejujuran. Jika pernah terjadi ketidakadilan, jangan hanya mengganti orangnya.

Perbaiki sistem yang memungkinkan ketidakadilan itu terjadi. Jika pernah terjadi kerusakan karena keputusan yang keliru, jangan mengulangi pola keputusan yang sama hanya dengan orang dan nama yang berbeda.

Sebab mengganti pelaku tanpa mengubah pola hanya akan menghasilkan cerita yang berbeda dengan akibat yang serupa.

Kebenaran Tidak Membutuhkan Banyak Cerita. Kebenaran pada dasarnya sederhana. Ia tidak membutuhkan terlalu banyak penjelasan untuk menjadi benar.

Sebaliknya, sesuatu yang terus-menerus membutuhkan alasan, pembenaran, dan cerita tambahan justru patut diperiksa dengan lebih jernih.

Bukan berarti setiap penjelasan adalah kebohongan. Tidak demikian. Tetapi kita perlu memiliki kewaspadaan untuk membedakan antara *Penjelasan yang lahir dari kejujuran dan *Pembenaran yang dibuat untuk mempertahankan kesalahan.

Di sinilah kesadaran menjadi penting. Jangan mudah percaya hanya karena sebuah cerita diulang berkali-kali. Dan jangan p**a langsung menghakimi hanya karena sebuah cerita berbeda dengan apa yang kita yakini.

Carilah fakta.
Periksa jejaknya.
Amati akibatnya.
Bandingkan antara perkataan dan perbuatan. Karena kebenaran tidak hanya tinggal di dalam kata-kata. Ia juga hidup di dalam kenyataan.

Maka Berhentilah Mengulang

Kehidupan sebenarnya terus memberikan kesempatan kepada manusia untuk belajar.

Kesalahan dapat menjadi guru.
Kegagalan dapat menjadi peringatan.
Kekecewaan dapat menjadi cermin.
Waktu dapat menjadi pembuka tabir.

Tetapi semua itu hanya berarti apabila manusia mau belajar. Jangan mengulangi kesalahan yang sama lalu berharap mendapatkan hasil yang berbeda. Jangan mempertahankan kebohongan lama dengan kebohongan baru.

Jangan melibatkan semakin banyak orang hanya untuk menyelamatkan sesuatu yang sejak awal dibangun di atas ketidakjujuran. Dan jangan mengira bahwa sesuatu akan selamanya tersembunyi hanya karena hari ini belum terbuka.

Sebab kehidupan memiliki caranya sendiri untuk mengembalikan manusia kepada kenyataan.

Yang ditanam akan tumbuh.
Yang dilakukan akan berakibat.
Yang disembunyikan dapat menemukan jalannya untuk terbuka.
Dan pola yang tidak diputus akan kembali berulang.

Maka tugas kita bukan menunggu kehancuran sebuah kebohongan. Tugas kita adalah Berani menghentikan pola kebohongan, atau mengakui kekeliruan, memperbaiki akibat, dan memutus pola agar kesalahan yang sama tidak diwariskan kepada hari berikutnya.

Pada akhirnya, hukum alam tidak perlu berteriak. Ia hanya bekerja. Dan waktu, dengan kesabarannya sendiri, akan membuka apa yang memang harus terbuka. PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG De'AYU De'BAGUS Channel I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus Bakti Pertiwi Jati

Kenapa ya, leluhur Bali tau apa yang terjadi hari ini pada waktu itu dimasa lalu disebut masa depan? Bahkan semua sudah ...
13/09/2026

Kenapa ya, leluhur Bali tau apa yang terjadi hari ini pada waktu itu dimasa lalu disebut masa depan? Bahkan semua sudah di tulis sejak ratusan bahkan ribuan tahun.

Seharusnya kemampuan tsb, di teliti secara ilmiah supaya Bali, bisa mempersiapkan diri untuk masa depannya.

RAJA SEBAGAI RSI JAGAT PALAKA
(MATAHARI MAGELUNG)

Membaca Makna Wisnu Murti pada Paduka Haji Anak Wungsu

Dalam sejarah Bali Kuna, prasasti bukan sekadar catatan tentang siapa yang memerintah, kapan sebuah keputusan kerajaan dibuat, atau kepada siapa suatu tanah dianugerahkan. Di balik susunan kata dan gelar yang terukir pada batu, lempeng logam tembaga, tersimpan cara pandang sebuah peradaban terhadap manusia, kekuasaan, alam, agama, dan keteraturan jagat.

Salah satu ungkapan yang menarik terdapat dalam prasasti yang berkaitan dengan Paduka Haji Anak Wungsu. Maharaja dijelaskan sebagai "Saksat Wisnu Murti” bahkan disebut p**a sebagai “Maharaja Wisnu Murti Saksat Jagat Palaka".

Ungkapan tersebut sekilas dapat membawa kita pada kesimp**an bahwa Sang Raja di Bali adalah seorang Bhujangga (Raja Rsi Maputgala Bermahkota) bahwa kerajaan/Nagara pada masa itu menempatkan Wisnu sebagai satu-satunya pusat keagamaan di kerajaan. Namun pembacaan seperti itu terlalu sederhana apabila dilepaskan dari konteks kebudayaan dan pemikiran Bali Kuna.

Sebab, kata-kata tersebut justru membuka pemahaman yang lebih luas: "Raja digambarkan sebagai Rsi memiliki keserupaan fungsi dengan Wisnu sebagai pemelihara dan pelindung jagat."

Wisnu dikenal sebagai kekuatan pemelihara. Ia menjaga keberlangsungan kehidupan dan mempertahankan keteraturan ketika dunia berada dalam ancaman kekacauan. Karena itu, ketika seorang raja disebut sebagai Wisnu Murti, ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai penegasan terhadap kualitas pengetahuan Siwa Waisnawa sang Bhujangga dan kewajiban seorang penguasa: menjadi pelindung, pemelihara, dan penjaga keseimbangan kehidupan.

Di sinilah istilah menjadi penting.

Jagat adalah dunia, alam semesta, atau kehidupan yang bergerak dan berlangsung. Sementara Palaka menunjuk pada yang memelihara, menjaga, atau melindungi. Maka Jagat Palaka dapat dipahami sebagai pelindung dan pemelihara jagat.

Wisnu melindungi jagat dalam dimensi kosmik; Raja melindungi kerajaan dan rakyat dalam dimensi sosial. Keduanya tidak harus disamakan sebagai pribadi yang identik, melainkan dipertemukan melalui keserupaan fungsi.

Dengan demikian, menyebut Raja sebagai Wisnu Murti bukan semata-mata memberikan status ketuhanan kepada seorang penerang(Surya) penguasa dengan istilah Raja Dewa. Lebih jauh daripada itu, gelar tersebut mengandung sebuah tuntutan etis Raja Rsi.

Jika Raja adalah pelindung, maka kekuasaan bukanlah hak untuk memiliki rakyat, melainkan kewajiban untuk menjaga rakyat.

Jika Raja adalah pemelihara, maka kekuasaan bukanlah kebebasan untuk melakukan kehendak pribadi, melainkan tanggung jawab untuk mempertahankan keteraturan.

Jika Raja disebut Jagat Palaka maka keberadaan Raja semestinya memberi rasa aman kepada kehidupan yang berada di bawah perlindungannya.

Dalam perspektif ini: "Dharma menjadi lebih tinggi daripada kekuasaan itu sendiri."

Raja yang memiliki kekuasaan tetapi jika tidak menjalankan dharma maka kehilangan hakikat kepemimpinannya. Sebaliknya, Raja yang menjalankan kewajiban perlindungan menjadikan kekuasaan sebagai bagian dari keteraturan Semesta.

Karena itu, konsep Raja Rsi dalam Kemaharajaan Bali Kuna tidak tepat jika hanya dibaca melalui ukuran politik modern. Ia berada dalam ruang pemikiran yang mempertemukan ...Sekala dan niskala... manusia dan jagat, kekuasaan dan dharma.

Raja berada di dalam dunia, tetapi pada saat yang sama dibebani kewajiban untuk menjaga dunia yang dipercayakan kepadanya.

Hal ini juga membantu kita memahami mengapa penyebutan seorang raja dengan atribut Dewa tidak selalu berarti bahwa seluruh kehidupan keagamaan kerajaan harus dikategorikan ke dalam satu sekte tertentu. Dalam kebudayaan Hindu Bali Kuna, simbol-simbol keilahian dapat bekerja pada tingkat yang lebih luas: sebagai bahasa untuk menjelaskan fungsi, kualitas, legitimasi, dan kewajiban seorang penguasa.

Maka Wisnu Murti dapat dibaca bukan hanya sebagai “raja yang menjadi Wisnu”, tetapi sebagai "Raja sebagai Rsi yang menjalankan fungsi pemeliharaan Penerang(Surya) sebagaimana prinsip Wisnu dalam tatanan semesta

Di sini terdapat pelajaran penting bagi pembacaan sejarah Bali Kuna dengan situs pemujaan Bali Kuna. Kita sering kali melihat gelar keagamaan sebagai label identitas: Siwa berarti Siwaisme, Wisnu berarti Waisnawa, Buddha berarti Buddhisme. Padahal masyarakat masa lampau dapat memiliki cara pandang yang jauh lebih cair dan integratif. Simbol ketuhanan tidak selalu digunakan untuk membatasi identitas; ia juga digunakan untuk menjelaskan "tatanan kehidupan."

Wisnu menjadi bahasa bagi fungsi pemeliharaan. Raja adalah Rsi sebagai pelaksana fungsi perlindungan dalam ruang kerajaan. Dharma menjadi hukum moral yang mengikat keduanya.

Dengan demikian, hubungan antara Wisnu dan Raja sesungguhnya dapat dibaca sebagai sebuah cermin kosmologis perwujudan Siwa Waisnawa.

Apa yang berlangsung pada jagat besar tercermin dalam jagat manusia. Jagat membutuhkan pemeliharaan. Kerajaan/Nagara membutuhkan perlindungan. Rakyat membutuhkan keadilan. Alam membutuhkan keseimbangan. Dan semuanya membutuhkan dharma sebagai landasan.

Dari sini kita dapat melihat bahwa konsep "Raja sebagai jagat palaka”, sesungguhnya jauh lebih dalam daripada sekadar gelar kebesaran. Ia merupakan gambaran tentang ideal kepemimpinan: Kekuasaan yang mengabdi kepada kehidupan.

Seorang Raja tidak hanya berdiri di atas singgasana. Ia berdiri di antara manusia, alam, leluhur, dan kekuatan-kekuatan sakral dan suci yang diyakini menopang keberlangsungan jagat.

Karena itu, kebesaran seorang Raja bukan terutama diukur dari seberapa luas wilayah kekuasaannya, seberapa banyak harta yang dimilikinya, atau seberapa tinggi gelar yang disandangnya. Kebesaran itu justru diuji oleh satu pertanyaan yang sederhana namun mendasar:

Apakah ia mampu menjadi pelindung kehidupan?

Di sinilah ungkapan Saksat Wisnu Murti Jagat Palaka memperoleh maknanya yang paling filosofis. Ia bukan sekadar pujian kepada seorang raja. Ia adalah cermin kewajiban raja. Wisnu memelihara jagat. Raja bersosok Rsi memelihara praja. Dharma menjaga keduanya agar tidak keluar dari keseimbangan.

Dan ketika keseimbangan itu terjaga, kekuasaan tidak lagi hanya menjadi kekuatan untuk memerintah, melainkan menjadi Surya Sewana pengabdian kepada seluruh kehidupan.

Mungkin inilah salah satu pesan terpenting yang dapat kita dengarkan kembali dari batu-batu prasasti Bali Kuna dan Logam-logam tua tembaga: bahwa seorang pemimpin pada hakikatnya bukanlah pusat dari segala sesuatu.

Ia justru penjaga agar segala sesuatu tetap berada pada tempatnya. Bukan penguasa jagat, tetapi pengemban kewajiban terhadap jagat. Bukan pemilik kehidupan, tetapi pelindung kehidupan. Dan bukan karena dirinya semata-mata mulia, melainkan karena ia dituntut untuk menjalankan dharma.

Dengan demikian, gelar Wisnu Murti pada Paduka Haji Anak Wungsu dapat dibaca sebagai sebuah gagasan besar tentang kepemimpinan Bali Kuna:

Raja adalah Rsi pelindung dalam jagat manusia, sebagaimana prinsip Wisnu adalah pemelihara dalam jagat kosmik. Ketika kekuasaan berjalan bersama dharma, maka kerajaan bukan sekadar wilayah kekuasaan, melainkan bagian dari keteraturan jagat.

Dan mungkin, pada titik inilah prasasti tidak lagi hanya berbicara tentang masa lalu. Ia berbicara kepada manusia sepanjang zaman: kekuasaan yang tidak melindungi akan kehilangan maknanya;
kepemimpinan yang tidak memelihara akan kehilangan dharmanya dan manusia yang lupa bahwa dirinya adalah bagian dari jagat pada akhirnya akan merusak jagat yang menopang kehidupannya sendiri. PAGUYUBAN BATUR MAHA AGUNG De'AYU De'BAGUS Channel I Gede Yogi Astrawan Paon De'Bagus Bakti Pertiwi Jati

Address

Tabanan
83111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Paguyuban Batur Awidya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share