31/12/2025
*PERADABAN MATA SATU: KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI MODERN*
Tim Riset IPCE 26 Desember 2025.
Dari 'Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
_"Tidaklah seorang Nabi pun diutus selain telah memperingatkan kaumnya terhadap yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwasanya dajjal itu buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta sebelah..."._ (HR. Bukhari, 7131).
Peradaban modern, dalam diagnosa sejumlah pemikir, berjalan dengan satu mata yang terpejam. Mata yang terbuka adalah mata material-empiris: melihat apa yang terukur, terhitung, dan teraba. Mata yang tertutup adalah mata spiritual-intelektual (al-‘ain al-bashirah): yang melihat makna, tujuan, dan hakikat di balik fenomena.
Syekh Imran Nazar Hosein, dalam berbagai kuliah dan tulisannya (terutama dalam The Quranic Guidance for Curing the Diseases of the Heart and the Soul, 2014), secara konsisten mendiagnosis kondisi ini sebagai "Epistemologi Mata Satu" (One-Eyed Epistemology).
Ini adalah sistem pengetahuan yang hanya mengakui realitas materi-empiris (dunia syahadah) sebagai satu-satunya kebenaran yang valid, sementara secara metafisis buta terhadap realitas non-materi dan teleologis (dunia ghaib).
Kebutaan ini bukanlah ketidaktahuan biasa, melainkan kebutaan yang terstruktur dan terlembagakan melalui institusi-institusi pengetahuan modern—universitas, pusat riset, dan media—yang menyingkirkan secara sistematis setiap klaim kebenaran yang tidak bisa diverifikasi secara empiris.
Kritik terhadap epistemologi modern ini menemukan resonansi yang dalam dalam tradisi intelektual Islam, yang melihat pemisahan antara ilmu dan hikmah sebagai akar dari krisis peradaban kontemporer.
Artikel ini akan membedah tiga dimensi kebutaan epistemik modern dan menelaah koreksi radikal yang ditawarkan oleh para pemikir Muslim seperti Mulla Sadra, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Seyyed Hossein Nasr.
BAGIAN 1: TIGA DIMENSI KEBUTAAN EPISTEMOLOGI MODERN
Epistemologi Mata Satu melahirkan tiga pemisahan fatal yang menjadi sumber krisis multidimensi:
1. Pemisahan Ilmu dari Wahyu dan Hikmah
Epistemologi modern mengklaim otonomi penuh dari sumber-sumber pengetahuan transenden. Proses sekularisasi pengetahuan ini tidak hanya berarti memisahkan negara dari agama, tetapi lebih mendasar: memisahkan kerangka kebenaran dari referensi metafisik apa pun.
Syed Muhammad Naquib al-Attas (1993) dalam Islam and Secularism mendefinisikan sekularisasi sebagai "pembebasan manusia pertama dari agama, lalu dari metafisika dalam pengaturan hidup dunianya."
Proyek Pencerahan (Enlightenment) Barat yang menjadi fondasi epistemologi modern, seperti dijelaskan Seyyed Hossein Nasr (1981) dalam Knowledge and the Sacred, pada hakikatnya adalah "pemberontakan terhadap yang Sakral."
Akal manusia (human reason) didewakan menjadi satu-satunya hakim kebenaran, memotong hubungannya dengan Intellect (Nous dalam tradisi Yunani, 'Aql dalam tradisi Islam) yang bersifat transenden dan menerima iluminasi dari Yang Ilahi.
Konsekuensi: Lahirlah pengetahuan yang terfragmentasi, instrumental, dan kehilangan tujuan tertinggi. Universitas berubah menjadi "pabrik legitimasi" bagi paradigma sekular-materialistik, menghasilkan para spesialis yang mahir dalam bagaimana namun bisu dalam untuk apa.
Al-Attas (1993) memperingatkan bahwa ilmu yang terpisah dari kerangka Tawhid akan selalu mengandung "kekacauan (chaos) dan kebingungan (confusion)" dalam dirinya sendiri, karena kehilangan prinsip pengatur yang menyatukan.
2. Pemisahan Akal dari Kalbu
Dalam epistemologi modern, akal ('aql) direduksi menjadi sekadar reason; nalar diskursif-analitis yang bekerja pada data inderawi.
Sementara itu, kalbu (hati-intuisi-intelektus) yang mampu menangkap kebenaran secara langsung, holistik, dan pra-reflektif, disingkirkan sebagai "irasional" atau "subjektif."
Padahal dalam tradisi epistemologi Islam, seperti dijelaskan Mulla Sadra (1571-1640), kalbu adalah pusat kesadaran dan tempat turunnya ilham (ilham) dan pengetahuan langsung ('irfan).
Nasr (1981) menegaskan bahwa "Intelijen sejati adalah cahaya yang memancar dari Kalbu, bukan hanya alat kalkulasi mekanis." Epistemologi modern memotong saluran cahaya ini, menghasilkan akal yang kering, teknokratis, dan tak mampu mencapai kebenaran hakiki (haqiqah).
Implikasinya, seperti dikritik Syekh Imran Hosein, adalah terciptanya "ilmuwan tanpa spiritualitas" dan "spiritualis tanpa ilmu": sebuah dikotomi yang merusak di mana etika dan kebijaksanaan terpisah dari kemajuan teknis.
Konsekuensi: Lahirlah pengetahuan yang pintar secara teknis tetapi bodoh secara spiritual; mampu menciptakan bom atom atau rekayasa genetika, tetapi tidak memiliki kerangka etika-transenden yang kokoh untuk menentukan apakah penerapannya bermasalah secara moral. Krisis bioetika dan krisis ekologis modern bersumber dari pemisahan fatal ini.
3. Pemisahan Manusia dari Kosmos
Alam, dalam epistemologi modern, direduksi menjadi sekadar "sumber daya" (natural resources) atau "lingkungan" (environment) yang mati, pasif, dan mekanistik, menunggu untuk dieksploitasi demi kemajuan manusia.
Pandangan dunia yang memandang kosmos sebagai entitas yang hidup, bernyawa, penuh makna, dan dipenuhi tanda-tanda (ayat) Ilahi, diganti dengan model Newtonian-Cartesian yang mekanistik.
Nasr (1993) dalam The Need for a Sacred Science menunjukkan bahwa sains modern telah menghilangkan dimensi "kesucian" (sacred) dari alam.
Pohon bukan lagi makhluk yang memiliki hak dan martabat dalam rantai penciptaan, tetapi sekadar "biomassa" yang bisa dikonversi menjadi angka dalam kalkulasi ekonomi. Hilangnya rasa sakral inilah yang, menurut Nasr, membuka pintu bagi eksploitasi ekologis tanpa batas.
Konsekuensi: Terjadi krisis ekologis yang mendalam dan multidimensional. Manusia menjadi "alien di rumahnya sendiri", merasa terasing dari alam karena cara mengetahuinya telah mengubah alam dari "Engkau" (subjek yang hidup) menjadi "Itu" (objek yang mati). Etika eksploitasi menggantikan etika penyembuhan dan pemeliharaan (khalifah).
BAGIAN 2: SUARA-SUARA KOREKTIF
Menghadapi reduksi dan pemisahan ini, tradisi intelektual Islam menawarkan koreksi radikal melalui epistemologi yang integral dan holistik:
1. Mulla Sadra dan Filsafat Hikmah
Dalam magnum opus-nya, Al-Asfar al-Arba'ah ("Empat Perjalanan Intelektual"), Mulla Sadra membangun sistem filsafat yang menyatukan empat sumber pengetahuan: demonstrasi rasional (burhan), penyinaran hati (isyraq), wahyu (Qur'an), dan penyingkapan mistis (kashf).
Konsep sentralnya adalah "Gerakan Substantif" (al-harakah al-jawhariyyah)—bahwa seluruh realitas, termasuk jiwa manusia, berada dalam proses dinamik menjadi (becoming) menuju kesempurnaan dan penyatuan dengan Sumbernya.
Bagi Mulla Sadra, mengetahui adalah proses transformasi eksistensial sang pengetahui. Ia tidak hanya mengumpulkan informasi, tetapi "berjalan" (safar) melalui tahapan pemurnian jiwa sehingga menjadi cermin yang jernih untuk memantulkan kebenaran Ilahi.
Epistemologi demikian menolak dikotomi subjek-objek; peneliti terlibat secara eksistensial dengan objek penelitiannya, karena keduanya adalah bagian dari realitas wujud yang satu dan dinamis.
2. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dan Islamisasi Ilmu
Bagi Al-Attas (1993), krisis peradaban modern berakar pada "kekacauan dalam pengetahuan" yang disebabkan oleh penggunaan konsep-konsep kunci (seperti 'ilmu', 'akal', 'keadilan', 'kebahagiaan') yang telah dikaburkan dan dicemari makna aslinya oleh peradaban Barat sekular.
Proyek Islamisasi ilmu, oleh karena itu, bukanlah upaya "mengislamkan" ilmu Barat dengan memberi label Islam, melainkan:
"Pembebasan manusia dari magis, mitologis, animistis, nasional-kultural, dan yang paling penting, dari sekularisme dalam diri dan bahasanya." (Al-Attas, 1993).
Ini adalah kerja epistemologis-fundamental: membersihkan kerangka pengetahuan (framework of knowledge) dari unsur-unsur yang bertentangan dengan Tawhid, dan mendefinisikan ulang konsep-konsep pokok sesuai dengan pandangan dunia Islam.
Tujuannya adalah melahirkan "manusia beradab" (adab) yang memiliki pengenalan dan penempatan yang benar terhadap segala sesuatu dalam tatanan penciptaan.
3. Seyyed Hossein Nasr dan "Sains Sakral"
Nasr (1981, 1993) menawarkan kritik paling sistematis terhadap sains modern dari perspektif sophia perennis (kebijaksanaan abadi).
Ia membedakan dengan tegas antara "sains modern" (modern science) yang sekular, reduksionis, dan desakralisasi, dengan "sains tradisional" (traditional sciences) yang ada dalam berbagai peradaban (Islam, Hindu, Cina, Kristen Abad Pertengahan) yang bersifat sakral, holistik, dan simbolis.
Sains sakral memandang alam sebagai jaringan tanda-tanda (ayat) dan simbol yang mengarah pada Realitas Transenden. Mempelajari alam adalah bentuk ibadah dan jalan pengetahuan spiritual (ma'rifah).
Ilmu seperti kosmologi, alkimia, dan astrologi tradisional (berbeda dengan astrologi horoskop modern) bertujuan untuk memahami keselarasan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta).
Nasr menyerukan kembalinya sains ke pangkuan kebijaksanaan abadi ini sebagai satu-satunya jalan keluar dari krisis ekologis dan spiritual.
BAGIAN 3: TITIK TEMU DAN ANCAMAN BERSAMA
Kritik dari para pemikir Islam ini, menemukan titik temu yang signifikan dengan kritik dari tradisi kebijaksanaan lain: filsafat Vedanta Hindu, Buddhisme, Kristen Ortodoks, maupun kebijaksanaan pribumi berbagai belahan dunia.
Musuh bersamanya adalah reduksionisme materialistik, desakralisasi total kehidupan, dan pengerdilan makna manusia.
Epistemologi Mata Satu tidak hanya menghasilkan krisis ekologis dan spiritual, tetapi juga krisis makna eksistensial yang meluas. Ia menciptakan manusia yang, dalam kata-kata C.S. Lewis (1947) yang dikutip Nasr, "dijadikan ruhnya untuk teknologi, bukannya teknologi untuk ruhnya."
Manusia modern, yang jiwanya dibentuk oleh epistemologi ini, mengalami keterasingan mendalam: dari dirinya sendiri (karena terpisah dari kalbu), dari sesama (karena hubungan direduksi menjadi transaksi), dari alam (karena dilihat sebagai objek), dan dari Tuhan (karena dimensi transenden disingkirkan).
Namun, perlu ditekankan bahwa kritik ini bukanlah ajakan untuk menolak teknologi, metode empiris, atau kemajuan material secara membabi-buta. Ini adalah seruan untuk koreksi orientasi dan peletakan fondasi.
Ini adalah tuntutan agar kemajuan material dipandu oleh kebijaksanaan spiritual (hikmah), agar akal analitis diterangi dan dikoreksi oleh cahaya kalbu, dan agar eksplorasi ilmiah dilakukan dengan rasa sakral dan tanggung jawab moral (khilafah).
EPILOG: SAAT ALAM MENJADI KORBAN MATA YANG BUTA
Tragedi banjir Sumatra, yang terus berulang di banyak tempat lain, bukan sekadar peristiwa alam, melainkan peristiwa makna. Ia adalah teks peradaban yang sedang menulis dirinya sendiri dengan bahasa air, lumpur, dan kehilangan. Ketika hutan runtuh, sungai meluap, dan kampung-kampung tenggelam, yang sesungguhnya pecah bukan hanya bentang alam, tetapi juga kerangka cara kita mengetahui dan memposisikan alam dalam pandangan hidup kita.
Epistemologi Mata Satu telah lama melatih kita melihat hutan sebagai angka, bukan amanah; sungai sebagai saluran ekonomi, bukan ayat; dan tanah sebagai komoditas, bukan tubuh kehidupan.
Dalam cara mengetahui yang terdistorsi ini, alam direduksi menjadi resource, sementara manusia menempatkan dirinya sebagai pengelola tanpa kesadaran khalifah.
Al-Qur’an telah lama mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali.” (QS. ar-Rum: 41).
Ayat ini bukan vonis teologis, melainkan diagnosis epistemik. Kerusakan bukan sekadar akibat teknis, tetapi hasil dari cara pandang yang memisahkan pengetahuan dari tanggung jawab, dan kemajuan dari hikmah.
Maka banjir tidak hanya berbicara tentang curah hujan ekstrem, tetapi tentang kebutaan yang dilembagakan: ketika ilmu dilepaskan dari makna, ketika kebijakan berjalan tanpa kalbu, dan ketika perencanaan teknokratik bergerak tanpa rasa sakral.
Air yang meluap seolah sedang menegur bahwa alam tidak pernah netral terhadap cara kita memahaminya. Ia merespons pandangan dunia yang kita sematkan padanya.
Dalam Kosmologi Islam, dan dalam kebijaksanaan Nusantara yang hidup dalam tuturan para leluhur, alam bukan benda mati. Ia hidup, terhubung, dan bertasbih.
Para sufi menyebut alam sebagai kitab terbuka; siapa yang membacanya dengan mata lahir saja, hanya melihat huruf. Siapa yang membacanya dengan mata kalbu, menangkap pesan.
Tragedi Sumatra memperlihatkan wajah peradaban yang berjalan dengan satu mata: tajam menghitung, tetapi rabun memaknai. Kita membangun bendungan, tetapi merobohkan hutan. Kita menyusun analisis risiko, tetapi mengabaikan luka epistemik yang lebih dalam, yakni pemutusan relasi etis antara manusia dan kosmos.
Pemulihan ekologis tidak mungkin lahir dari epistemologi yang sama yang melukainya. Selama fakta dipisahkan dari makna, efisiensi dari etika, dan kemajuan dari hikmah, maka bencana akan terus hadir sebagai koreksi yang tidak kita kehendaki, tetapi kita undang sendiri.
Membuka mata yang tertutup berarti mengembalikan pengetahuan ke pangkuan adab. Menempatkan kembali alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai mitra keberadaan.
Dan di tengah air yang meluap serta tanah yang retak itu, alam sedang mengajukan sebuah undangan sunyi: agar kita kembali belajar mengetahui, bukan sebagai penguasa yang menghitung, tetapi sebagai hamba yang mendengar.
Karena pada akhirnya, cara kita mengetahui alam, akan menentukan apakah ia menjadi rumah, atau pengadilan bagi peradaban kita sendiri.
REFERENSI
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1993). Islam and Secularism. International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Hosein, Imran N. (2014). The Quranic Guidance for Curing the Diseases of the Heart and the Soul. Masjid Darul Qur'an.
Lewis, C.S. (1947). The Abolition of Man. Oxford University Press.
Nasr, Seyyed Hossein. (1981). Knowledge and the Sacred. The Gifford Lectures. Crossroad Publishing.
Nasr, Seyyed Hossein. (1993). The Need for a Sacred Science. State University of New York Press.
Sadr al-Din Shirazi (Mulla Sadra). (2008). The Elixir of the Gnostics (Terj. & Ed. William C. Chittick). Brigham Young University Press. (Terjemahan dari bagian Al-Asfar al-Arba'ah).
Chittick, William C. (2014). Science of the Cosmos, Science of the Soul: The Pertinence of Islamic Cosmology in the Modern World. Islamic Texts Society.
والله اعلم