Ikatan Alumni SMAN 6 Surabaya

Ikatan Alumni SMAN 6 Surabaya ALUMNI SMAN 6 Surabaya SEMUA ANGKATAN. Bersatu menyambung persahabatan dan berbagi info utk bisa berbakti pada Guru dan Sekolah

Buat yang usia masih 20-an...
13/04/2026

Buat yang usia masih 20-an...

Halo, perkenalkan, saya Fikri Ramadhan Kusuma. Asli Malang, sekarang umur 30 tahun, dan sehari-hari saya bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Basel, Swiss.

Cerita saya mungkin dimulai seperti banyak teman seangkatan. Lulus dari Fakultas Keperawatan Universitas Brawijaya, saya langsung diterima kerja di RS Lavalette, Malang. Saat itu saya berumur 23 tahun. Gaji pokok saya Rp 3.4 juta. Setelah dipotong iuran ini-itu, yang masuk ke tangan sekitar Rp 2.8 juta. Saya ingat betul angka itu karena saya mencatat setiap pengeluaran. Untuk sewa kontrakan sederhana, makan, transportasi, dan menyisihkan sedikit untuk orang tua, uang itu habis tepat di tanggal 25. Sisa hari-hari di akhir bulan, jujur, sering mengandalkan indomie atau bantuan dari ibu.

Saya bertahan hampir 4 tahun. Bukan cuma karena finansial, tapi lebih karena beban moral. Rasanya hampa. Bekerja shift malam, merawat 15-20 pasien sendirian, dengan tanggung jawab yang besar, namun penghargaan — baik secara finansial maupun profesional — terasa sangat minimal. Saya melihat ilmu yang saya pelajari tidak bisa diterapkan secara optimal karena keterbatasan waktu dan sumber daya.

Titik baliknya adalah saat saya merawat seorang bapak tua, pensiunan guru. Dia bilang, “Mas, kamu baik dan telaten. Kalau di negara lain, skillmu bisa sangat dihargai.” Kalimat itu mengendap. Saya mulai riset serius. Pilihan saya jatuh ke Swiss. Alasannya jelas: sistem kesehatan yang maju, profesi perawat sangat dihormati, dan ada jalur yang jelas untuk perawat internasional.

Namun jalannya tidak mulus. Syarat utama selain pengalaman adalah sertifikasi bahasa. Swiss punya tiga bahasa nasional. Saya pilih Jerman karena daerah Basel. Bayangkan, dari nol sama sekali, harus lulus ujian B2 Goethe Institut. Saya belajar setiap habis shift, pagi hari sebelum tidur, hari libur. Tabungan saya habis untuk kursus dan buku. Bahkan pernah hampir menyerah karena ujian pertama gagal. Waktu itu umur 26, merasa sudah terlambat.

Tapi saya cubit sendiri. Kegagalan itu cuma berarti saya harus belajar lebih keras. Saya cari sponsor dengan mengirimkan puluhan aplikasi dan CV ke berbagai rumah sakit di Swiss. Ditolak berkali-kali, seringkali bahkan tidak dapat balasan. Hingga akhirnya, di usia 27, ada sebuah rumah sakit di Basel yang merespon positif. Mereka tertarik dengan pengalaman saya di IGD dan bersedia menjadi sponsor untuk visa kerja tipe L (izin tinggal jangka pendek).

Prosesnya panjang hampir setahun: verifikasi ijazah, pengurusan lisensi perawat Swiss melalui Red Cross, wawancara, dan akhirnya mendapatkan kontrak kerja. Saya berangkat tepat di hari ulang tahun saya yang ke-28, dengan perasaan campur aduk antara harap dan takut.

Sekarang? Saya bekerja di Departemen Kardiologi. Gaji saya bersih sekitar CHF 7,800 per bulan. Jika dirupiahkan sekitar Rp 120 juta. Tentu biaya hidup di sini tinggi. Sewa apartemen studio saja CHF 1,500. Tapi setelah semua kebutuhan hidup, saya masih bisa menabung sekitar CHF 3,000 setiap bulannya. Dalam setahun, jika dikonversi, tabungan saya kira-kira setara dengan Rp 550-600 juta. Sebuah angka yang dulu bahkan tidak bisa saya bayangkan.

Hidup di sini bukan berarti tanpa tantangan. Bahasa, budaya kerja yang sangat berbeda, dan rasa rindu yang kadang mengganjal. Tapi di sini, saya merasa menjadi seorang perawat seutuhnya. Waktu untuk setiap pasien cukup, alat penunjang lengkap, dan yang paling penting, ada rasa saling menghormati antara staf medis dan pasien.

Jika ada yang ingin saya bagi dari perjalanan ini:

1. Keputusan untuk Berubah Dimulai dari Ketidaknyamanan. Jangan takut merasa tidak nyaman dengan kondisi Anda sekarang. Itu adalah alarm bahwa sudah waktunya bergerak.
2. Investasi pada Skill yang Diakui Global. Bahasa asing dan sertifikasi internasional adalah kunci. Fokuslah pada itu, bukan pada gaji kecil Anda saat ini.
3. Document Your Journey. Catat setiap pencapaian, proyek, dan tanggung jawab di pekerjaan Anda. CV yang kuat adalah kombinasi pengalaman yang terdokumentasi dengan baik.
4. Resilience is Key. Akan ada banyak penolakan dan kegagalan. Anggap setiap “no” sebagai langkah mendekati satu “yes” yang tepat.
5. Start Before You Feel Ready. Anda tidak akan pernah merasa 100% siap. Ketika peluang itu datang, meski Anda merasa hanya 70% siap, terjunlah. Sisanya akan Anda pelajari sambil jalan.

Saya bukan orang yang luar biasa pintar. Saya hanya seorang dari Malang yang memutuskan untuk tidak menyerah pada keadaan, dan dengan tekun menjalani prosesnya satu per satu. Jika saya bisa, saya yakin Anda juga bisa. Semangat berjuang, teman-teman. Masa depan itu bisa kita rancang sendiri.



Address

Jalan Gubernur Suryo 11
Surabaya
60271

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ikatan Alumni SMAN 6 Surabaya posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share