Citakita Indonesia

Citakita Indonesia Learning | Thingking | Empowering

Nasi Kuning, Ketan Srikaya, Ketan Siram, Ikan Bakar Berbumbu,Gogos, Tart Labu, Kue Cara adalah sebagian kuliner khas kota kami, yang lekat dengan lidah kami sejak masih kanak-kanak. Berbagai panganan ini dulunya dibuat oleh Nenek&Mama kami untuk kemudian kami jajakan keliling kampung setiap pagi dan saat bulan Ramadhan. Ikut terlibat dalam proses pembuatan berbagai kuliner tersebut secara tidak

langsung menjadi media transfer ilmu bagi kami, baik secara langsung maupun tidak langsung. Setelah sekian lama kami menjadi koki utama yang menyiapkan makanan dan kue-kue saat Lebaran dan acara2 keluarga, awal tahun 2014 kami pun memutuskan untuk melebarkan sayap kami, membagi ilmu yang kami dapatkan dari Nenek dan Mama Tercinta, memanjakan anda sekalian yang ingin menikmati kuliner khas Ambon Manise, khususnya resep warisan dari Nenek Tercinta....
Harapan kami tentu bisa melihat wajah bahagia anda saat menikmatinya ^^

09/03/2026

melansir dari beberapa sumber, musik diyakini mampu berperan hingga 30% dalam merangsang kemampuan sensorik, motorik, juga kognitif pada anak..

namun, jenis musik yang diperdengarkan kepada anak-anak tentu akan menghasilkan output yang berbeda-beda..

musik juga diyakini memiliki banyak fungsi bagi anak-anak.. salah satunya adalah untuk meningkatkan kemapuan berpikir, daya ingat, mengembangkan keterampilan, mengajarkan hal baru, serta meredakan stress..

namun, musik untuk anak (lagu anak) hari ini mengalami kemerosotan dibandingkan 2 dekade lalu.. apa dan bagaimana nasibnya, besok kita akan ngobrol santai..

27/01/2026

Lebih dari sekadar nada, ini tentang kepedulian.. Dengarkan cerita, pelajari situasi, dan ulurkan tangan dalam diskusi dan konser amal untuk korban bencana Aceh-Sumatra..

✨🌻 Bersama kita kuat! ✊❤️

Rembuk akhir tahun penuh manfaat bagi masyarakat pesisir Malang Selatan.. Sebuah kolaborasi jelang penghujung tahun 2025...
30/12/2025

Rembuk akhir tahun penuh manfaat bagi masyarakat pesisir Malang Selatan.. Sebuah kolaborasi jelang penghujung tahun 2025, membicarakan perihal penguatan organisasi rakyat pesisir dan kelola kawasan..

Semoga bermanfaat buat warga di pesisir Malang Selatan..

Pernyataan Usman Hamid pada Konferensi Pers Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Zoom, 13 Juni 2025“Jelas keliru ucapan yan...
14/06/2025

Pernyataan Usman Hamid pada Konferensi Pers Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Zoom, 13 Juni 2025

“Jelas keliru ucapan yang bilang perkosaan massal saat kerusuhan rasial 13-15 Mei 1998 adalah rumor dan tidak ada buktinya. Rumor adalah cerita atau laporan yang beredar luas di masyarakat tapi kebenarannya diragukan karena tidak ada otoritas yang mengetahui kebenarannya. Padahal waktu itu ada otoritas yang mengetahui kebenarannya, yaitu Tim Gabungan Pencari Fakta, yang dibentuk Presiden BJ. Habibie selaku Kepala Negara,” kata Usman Hamid dalam konferensi pers Koalisi Perempuan Indonesia, Jum’at, 13/6.

Seperti diketahui, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada tanggal 23 Juli 1998 dibentuk berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung.

Tim Gabungan ini bekerja dalam rangka menemukan dan mengungkap fakta, pelaku dan latar belakang peristiwa 13-15 Mei. 1998. TGPF terdiri dari unsur-unsur pemerintah, Komnas HAM, LSM, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Sebagian rekomendasi TGPF dipenuhi oleh Presiden dengan membentuk Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan melalui Keppres. Presiden dan DPR RI saat itu juga meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan melalui UU Ratifikasi Konvensi tersebut serta mengupayakan program perlindungan saksi dan korban melalui UU Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

“Semua rekomendasi itu adalah respons atas kerusuhan rasial dan perkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa. Ini yang seharusnya diketahui oleh semua Menteri. Jangan lupa, TGPF yang dibentuk Presiden Habibie itu melibatkan institusi Komnas HAM dan berbagai instansi kementerian dan lembaga resmi pemerintah, termasuk perwakilan TNI dan Polri.

“Pernyataan Menteri tersebut lebih terlihat sebagai penyangkalan ganda demi menghindari rasa bersalah, malu, atau tidak nyaman pada pemerintah. Kesatu, penyangkalan literal yakni penolakan langsung atas fakta terkait perkosaan massal dengan menyatakan kasus itu adalah rumor dan tidak pernah ada buktinya. Kedua, penyangkalan interpretatif yakni mengakui fakta Kerusuhan Mei 1998, tapi membuat penafsiran berbeda dengan tone positif pada sesuatu yang jelas negatif, merendahkan harkat dan martabat perempuan serta etnis sekaligus. Lalu narasi sejarah dengan “tone positif” macam apa yang mau dipakai untuk mempersatukan bangsa? Penyangkalan atas serangan kepada etnis Tiongkoa justru memecah belah kesatuan bangsa.

“Pernyataan menteri tersebut mungkin muncul sebagai penyangkalan atas rekomendasi kedua TGPF yang menyebut dua nama petinggi pemerintahan sekarang.

Berikut kutipan butir dua rekomendasi TGPF:

2. Pemerintah perlu sesegera mungkin menindaklanjuti kasuis-kasus yang diperkirakan terkait dengan rangkaian tindakan kekerasan yang memuncak pada kerusuhan 13-14 Mei 1998, yang dapat diungkap secara yuridis baik terhadap warga sispil maupun militer yang terlibat dengan seadil-adilnya, guna menegakkan wibawa hukum, termasuk mempercepat proses Yudisial yang sedang berjalan. Dalam rangkaian ini Pangkoops Jaya Mayjen Syafrie Syamsoeddin perlu dimintakan pertanggung jawabannya. Dalam kasus penculikan Letjen Prabowo dan semua pihak yang terlibat harus dibawa ke pengadilan militer. Demikian juga dalam kasus Trisakti, perlu dilakukan berbagai tindakan lanjutan yang sungguh-sungguh untuk mengungkapkan peristiwa penembakan mahasiswa.

*📅 7 Juni 1893 — Saat Dunia Belajar Melawan Ketidakadilan Tanpa Kekerasan*📍 Pietermaritzburg, Afrika SelatanHari ini, 13...
07/06/2025

*📅 7 Juni 1893 — Saat Dunia Belajar Melawan Ketidakadilan Tanpa Kekerasan*
📍 Pietermaritzburg, Afrika Selatan

Hari ini, 131 tahun yang lalu, seorang pria muda bernama Mohandas Karamchand Gandhi diusir dari gerbong kelas satu kereta api hanya karena warna kulitnya. Ia tidak membalas dengan kemarahan. Ia diam, duduk di stasiun dalam dingin, dan mulai berpikir:
Bagaimana melawan ketidakadilan tanpa kekerasan?

Dari malam itulah lahir benih satyagraha — kekuatan kebenaran yang berani, namun penuh kasih.
Gerakan ini kemudian menginspirasi dunia: dari India ke Afrika Selatan, dari Martin Luther King Jr. sampai pejuang HAM di mana pun berada.

🌱 Cita Kita Indonesia percaya: perubahan besar berawal dari keberanian kecil untuk melawan dengan cara yang damai.

Mari kita terus belajar, melawan diskriminasi, dan memperjuangkan kemanusiaan—tanpa kekerasan, dengan cinta dan keadilan.



*🌙 Selamat merayakan Idul Adha 1446 H 🌙*Di tengah pengorbanan, tersimpan harapan.Di balik ketulusan, tumbuh kekuatan.Mar...
06/06/2025

*🌙 Selamat merayakan Idul Adha 1446 H 🌙*
Di tengah pengorbanan, tersimpan harapan.
Di balik ketulusan, tumbuh kekuatan.
Mari terus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan melalui aksi nyata.
Cita Kita Indonesia hadir untuk tumbuh bersama, dalam kasih dan kepedulian.
🐏

*“Pancasila: Warisan Luhur atau Tanggung Jawab Kita?”*Tanggal 1 Juni bukan sekadar peringatan—tapi pengingat.Bahwa lima ...
01/06/2025

*“Pancasila: Warisan Luhur atau Tanggung Jawab Kita?”*

Tanggal 1 Juni bukan sekadar peringatan—tapi pengingat.
Bahwa lima sila itu bukan simbol, melainkan janji.
Janji bahwa kita tak akan meninggalkan siapa pun di belakang.
Bahwa kemanusiaan, keadilan, dan persatuan harus diwujudkan, setiap hari.

Cita Kita Indonesia berdiri karena Pancasila hidup di hati dan langkah.
Mari terus menghidupinya. Hari ini, dan setiap hari.

"Pendidikan itu bukan hanya pelajaran di kelas, tapi cara kita menjalani hidup!"*🎓 Pendidikan bukanlah persiapan untuk h...
21/05/2025

"Pendidikan itu bukan hanya pelajaran di kelas, tapi cara kita menjalani hidup!"

*🎓 Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.*

Setiap langkah, setiap pengalaman, dan setiap pertanyaan yang kita ajukan—semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang belajar.

Generasi muda, jangan cuma belajar untuk ujian. Belajarlah untuk hidup, untuk tumbuh, dan untuk berkontribusi! 🌱

*📅 20 Mei — Hari Kebangkitan Nasional*🇮🇩 Saatnya kita bangkit, bukan hanya mengenang.Hari ini bukan sekadar nostalgia se...
20/05/2025

*📅 20 Mei — Hari Kebangkitan Nasional*
🇮🇩 Saatnya kita bangkit, bukan hanya mengenang.

Hari ini bukan sekadar nostalgia sejarah, tapi panggilan untuk generasi muda: untuk berani peduli, berani bersuara, dan berani bertindak bagi masa depan Indonesia.

Dulu, generasi perintis menyatukan bangsa dengan semangat perjuangan. Sekarang, giliran kita membangun Indonesia dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan kepedulian.

✨ Bangkit bukan hanya soal berdiri. Tapi tentang bergerak bersama.
Untuk pendidikan yang merata.
Untuk tumbuh kembang anak yang sehat.
Untuk perempuan yang berdaya.
Untuk hak asasi manusia yang dihargai.

Mari jadi bagian dari gerakan perubahan. Karena adalah masa depan yang kita ciptakan bersama.

🌕 Selamat Hari Raya Waisak 2569 BEDari segenap keluarga besar Cita Kita IndonesiaDi hari suci penuh cahaya ini,Mari kita...
12/05/2025

🌕 Selamat Hari Raya Waisak 2569 BE
Dari segenap keluarga besar Cita Kita Indonesia

Di hari suci penuh cahaya ini,
Mari kita meneladani cinta kasih, welas asih, dan jalan kebijaksanaan Sang Buddha.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia,
Semoga dunia semakin damai dan penuh pengertian.

✨ Waisak bukan hanya milik satu umat, tetapi milik seluruh kemanusiaan.
Karena dalam cahaya Waisak, kita belajar bahwa kebaikan, kedamaian, dan kasih sayang
adalah bahasa yang menyatukan semua hati.





💥 "Tubuh bukan hanya dikuasai secara fisik, tapi juga secara makna."Pemerkosaan bukan sekadar soal nafsu—ini tentang kek...
09/05/2025

💥 "Tubuh bukan hanya dikuasai secara fisik, tapi juga secara makna."
Pemerkosaan bukan sekadar soal nafsu—ini tentang kekuasaan, pengendalian, dan penghapusan subjektivitas seseorang.

📚 Dalam filsafat, tubuh bukan benda mati.
Ia adalah subjek.
Ketika pelaku memerkosa, ia tak hanya menyakiti tubuh—ia membatalkan kemanusiaan korban.

🧠 Foucault bilang: kekuasaan bekerja bukan hanya lewat hukum, tapi lewat cara tubuh diatur, dikendalikan, dan ditundukkan.
Simone de Beauvoir menulis: Perempuan menjadi "yang lain" karena tubuhnya direduksi sebagai objek.

📊 Lewat infografis ini, kita akan menggali:
1️⃣ Mengapa pemerkosaan adalah manifestasi ekstrem kekuasaan
2️⃣ Bagaimana tubuh dimaknai dalam filsafat eksistensial dan feminis
3️⃣ Siapa yang diuntungkan dalam budaya yang membungkam korban
4️⃣ Bagaimana kita bisa melawan—secara filosofis dan praksis

🎯 Mari bangun budaya yang lebih sadar, adil, dan memanusiakan.

📢 Karena melawan kekerasan seksual bukan hanya tugas hukum—tapi tugas moral, etis, dan filosofis.

Address

Perumahan Wisata Semanggi Blok E 18 Wonorejo Rungkut
Surabaya
60296

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 06:00 - 17:00
Wednesday 06:00 - 17:00
Thursday 06:00 - 17:00
Friday 06:00 - 17:00
Saturday 06:00 - 17:00
Sunday 06:00 - 17:00

Telephone

+6281357396364

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Citakita Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Citakita Indonesia:

Share