01/05/2026
Tahukah kita … ada kisah menarik dari lagu “Day-O (Banana Boat Song)” dengan genre Calipso yang dipopulerkan oleh Harry Belafonte pada pertengahan tahun 1950an sering dianggap ceria, ringan, bahkan humoris. Namun, jika dilihat dari perspektif sejarah dan budaya, lagu ini adalah arsip kolektif yang menyimpan pengalaman buruh di Jamaika, terutama mereka yang bekerja dalam bayang-bayang sistem ekonomi kolonial. Pada masa ketika lagu ini hidup dalam tradisi lisan, industri ekspor pisang Karibia adalah bagian dari ekonomi kolonial yang dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan besar dari Eropa dan Amerika Utara.
Meskipun berasal dari konteks Jamaika, tema lagu ini melampaui batas geografis, yaitu : kerja fisik yang tak terlihat (invisible labor) di mana kaum pekerja yang menjaga industri tetap hidupnamun sering tidak terlihat dalam narasi kemajuan ekonomi. “Day-O” mengangkat suara mereka dari pinggiran ke pusat perhatian. Harapan yang sederhana tetapi universal. Harapan untuk pulang dengan selamat, untuk mendapat upah yang cukup, untuk melihat hari esok yang lebih baik, dan hal ini berlaku di seluruh dunia. Dan terakhir, sebuah kritik halus terhadap ketimpangan.
Tanpa harus menggunakan jargon politik, lagu ini menggambarkan dunia di mana: tenaga kerja keras dihargai rendah, kekayaan mengalir ke pihak yang mengontrol perekonomian, buruh selalu berharap “jam kerja berakhir” yang merupakan sebuah metafora bagi perubahan kondisi hidup.
Dengan demikian, Day-O dapat dibaca sebagai narasi kelas pekerja global, bukan hanya buruh perkebunan pisang. Walaupun bukan lagu protes eksplisit, Day-O mengandung elemen yang sangat selaras dengan semangat Hari Buruh yang menggambarkan ketidakadilan struktural, menyoroti peran buruh dalam rantai ekonomi global, menyuarakan kelelahan, pengharapan, dan kemanusiaan, serta mengingatkan bahwa kerja adalah inti kehidupan sosial, tetapi sering tidak dihargai dengan pantas.
Hari Buruh bukan hanya mengenang perjuangan serikat pekerja, tetapi juga memberi ruang bagi cerita-cerita kecil, manusiawi, dan sehari-hari—seperti para pekerja yang menyanyikan “Day-O” di bawah cahaya rembulan.
Selamat memperingati Hari Buruh Intenasional.