16/12/2019
P merupakan anak 2 dari 3 bersaudara. Ayahnya sudah meningga bulan september 2018 karena penyakit diabetus militus. Ibunya bekerja di sanggar belajar sebagai tukang masak dan bersih - bersih. Ayahnya sempat masuk kelapas di medaeng karena tersangkut kasus perjudian. Setelah keluar dari lapas kondisi kesehatan ayahnya makin buruk dan ibunya menjadi tulang punggung keluarga sehingga ibunya tidak mengikuti perkembangan anak – anaknya.
Putri tergolong anak yang pendiam dan rajin mengikuti kegiatan yg ada di sekolah,sanggar belajar maupun di TPA. Kakak laki2 nya juga bersekolah di SMP Bina Karya tetapi sama pihak sekolah dikelurkan karena prilakunya yang dianggap sudah kelewat batas.( berani memukul dan mengancam gurunya ) prilkunya kakaknya berubah ketika ayahnya sedang menjalani masa tahanan dan mulai minum2an keras,berani memukul ibunya dan sering tidak pulang berkumpul dengan teman2 sebayanya. Awal kejadian ketika putri lulus SD dan melanjutkan sekolah di SMP.
Ketika itu siang dan kondisi rumahnya sepi, putri tiduran sambil menonton TV,tiba2 kakaknya datang dan langsung mengajaknya ke kamar,putri bertanya dan kakaknya tetap memaksanya masuk ke dalam kamar,setelah itu putri diancam dan dipaksa untuk melihat video p***o sambil tangan kakaknya meraba bagian2 tubuh putri dan putri sempat melawan tapi terus kakaknya mengamcam dan memeksanya sampai akhirnya terjadi hubungan selayaknya suami istri,
Puas melakukan itu kakaknya langsung keluar sambil terus mengancam dan memberikan makanan agar adeknya mau diam. Kejadian itu terung berulang sampai di bulan juli 2019 putri deman dan ketika dibawa ke Puskesmas didiagnosa typus dan diminta untuk cek laboratorium dan disarankan untuk minum obat dan dihindari makanan yg pedes,kecut.
Beberapa hari minum obat ternyata tidak ada hasilnya dan putri selalu meminta buah seperti jeruk dan pepaya. Ibunya mulai curiga dengan perubahan bentuk tubuh dan prilaku anaknya. Tanpa pikir panjang ibunya membeli Testpack dan P diminta untuk kencing dan langsung di test. Ketika melihat hasilnya positif ibunya langsung schock dan bertanya siapakah ayahnya, ketika ditanya apakah punya pacar, atau kira2 siapa pelakunya. Ibunya tidak mendapatkan jawaban ketika ibunya bilang apakah kakaknya yang melakukan ini P langsung mengangguk.
Ibunya sambil menangis lalu pergi ke sanggar dan mengadu ke pendamping Lembaga. Kemudian ibu dan pendamping melaporkan kejadian tersebut di Polres KP3 tanjung perak. Setelah itu dilakukan visum dan BAP Pelakunya ditanggap setelah hasil visum keluar. Kerena terjadi KTD maka pendamping lembaga bekerja sama dengan YHS untuk melakukan pemeriksaan dan sebisa mungkin dilakukan tindakan IH jika memungkinkan karena ditakutkan adanya kecacatan karena tergolong sedarah. P dan ibunya juga berharap bisa di hentikan agar bisa melanjutkan sekolah lagi.
Bantu Yayasan Hotline melakukan Pemberdayaan korban Eksploitasi Seksual dan membantu korban menjadi survivor. Donasi anda sangat mereka butuhkan..
Bantu DONASI dengan klik https://kitabisa.com/donasiyayasanhotline