04/08/2025
Solidaritas di Lapangan Futsal: Ketika Mahasiswa Menjadi Motor Perubahan Sosial
Makassar ~ Ada yang berbeda di Lapangan Super Futsal Rutan Makassar pada Minggu (3/8/2025). Bukan sekadar adu keterampilan menendang bola atau seruan para suporter yang menggemuruh di pinggir lapangan. Di sana, semangat solidaritas dan kepedulian sosial menjelma dalam bentuk Turnamen Futsal yang digagas oleh Kerukunan Mahasiswa Katolik (KMK) Universitas Patompo Makassar. Sebuah inisiatif sederhana namun sarat makna: olahraga bukan hanya untuk menghibur, tapi juga menggerakkan.
Turnamen ini mempertemukan 18 tim dari berbagai daerah Sumba, Manggarai, dan komunitas pemuda lain di sekitar Makassar. Di tengah suhu politik dan sosial yang sering kali memecah, KMK menghadirkan ruang di mana perbedaan justru menjadi kekuatan kolektif. Semua disatukan oleh tujuan yang lebih besar: penggalangan dana untuk Bakti Sosial di Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Dalam negara yang masih berkutat dengan ketimpangan pembangunan dan distribusi akses sosial, gerakan semacam ini patut diapresiasi. Mahasiswa yang seringkali hanya dianggap “aktivis kampus” membuktikan bahwa mereka bisa hadir sebagai agen perubahan nyata.
Bukan melalui demonstrasi di jalanan atau debat kusir di media sosial, tetapi lewat tindakan nyata yang menyentuh akar persoalan: membantu daerah tertinggal melalui pelayanan langsung.
Menarik mencermati susunan juara dalam turnamen ini. Juara pertama diraih oleh PSTM, tim dari Sumba yang menunjukkan dominasi dan konsistensi di lapangan. Disusul AMT dari Kecamatan Borong, Kab. Manggarai Timur, dan Harapan Baru sebagai juara ketiga. Tapi dalam konteks ini, gelar juara hanyalah pelengkap.
Karena yang utama bukanlah trofi, melainkan solidaritas. Setiap gol yang tercipta, setiap peluh yang menetes, dan setiap sorakan yang bergema adalah bentuk kontribusi nyata terhadap cita-cita kemanusiaan.
Kegiatan seperti ini juga menjadi penanda bahwa ruang publik tidak lagi harus formal atau birokratis untuk bisa menjadi tempat pembelajaran nilai. Mahasiswa Patompo dan komunitas KMK-nya menjadikan lapangan futsal sebagai ruang dialektika sosial di mana pertemuan lintas identitas membentuk ikatan emosional yang melampaui sekat kampus, agama, dan daerah.
Pertanyaan yang layak diajukan kemudian adalah: mengapa negara justru sering tertinggal dalam gerak seperti ini? Mengapa inisiatif kecil dari kelompok mahasiswa justru terasa lebih nyata dan berdampak, dibandingkan program-program birokratis yang kerap mandek di meja rapat?
KMK telah membuktikan bahwa kepedulian sosial tak butuh anggaran besar, cukup kemauan kolektif dan semangat gotong royong. Kegiatan ini adalah refleksi dari adagium lama: jika tak mampu memperbaiki dunia secara besar-besaran, setidaknya mulailah dari sekitar kita, dari hal yang bisa dijangkau.
Melalui turnamen ini, mahasiswa menunjukkan versi mereka tentang pembangunan: membumi, partisipatif, dan menjangkau yang terpinggirkan. Di tengah hiruk-pikuk politik yang kian elitis, suara mahasiswa semacam ini menjadi oase harapan.
Bahwa di luar gedung DPR dan ruang-ruang kekuasaan, masih ada gerakan yang benar-benar hidup untuk rakyat meskipun berangkat dari lapangan futsal.
Gerakan ini memang sederhana, tapi bukan remeh. Sebab dari ruang-ruang kecil inilah perubahan bermula. Jika solidaritas bisa lahir dari adu bola, mengapa negara masih ragu untuk berjalan bersama rakyat?
✍️Media Center KMK Universitas Patompo