05/02/2026
Filem ini diangkat dari Perjuangan 4 kaum di Kerinci,alim ulama,cerdik pandai,kaum adat dan hulubalang.bersatu melawan penjajah
Penjaga negeri
sebuah wilayah yang telah lama dikenal dengan kekayaan alamnya, menjadi saksi bisu perjuangan heroik melawan penjajahan Belanda. Pada abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1815, Belanda berhasil menguasai Muko-Muko dan Indrapura. Kekayaan hasil bumi Kerinci menjadi daya tarik bagi Belanda, yang kemudian berusaha keras untuk menguasai wilayah ini.
Pada tahun 1900, Belanda mengirim pasukan dari Muko-Muko untuk mengadakan patroli di Bukit Setinjau Laut. Mereka mendirikan pesanggrahan di puncak Gunung Raya sebagai tanda kehadiran mereka. Kehadiran Belanda yang dianggap kafir oleh penduduk Kerinci yang mayoritas beragama Islam, memicu kemarahan besar.
Para hulubalang Kerinci, yang dipimpin oleh Depati Parbo dari Lolo dan Depati Agung di Lempur, menghadang utusan Belanda di antara Lempur dan Lolo. Utusan tersebut dibunuh, memicu persiapan Belanda untuk menyerang Kerinci. Pasukan Belanda berjumlah 300 orang, tetapi para hulubalang Kerinci telah siap menghadang.
Pertempuran Awal di Renah Manjuto
Pertempuran pertama terjadi di Renah Manjuto. Depati Parbo memimpin perlawanan dengan benteng pertahanan di selatan Desa Lempur Mudik. Banyak korban jatuh di pihak Belanda, dan mereka gagal memasuki Kerinci. Perang Kerinci melawan penjajahan Belanda pun dimulai pada tahun 1901.
Di bawah pemerintahan G.G. Van Hents, Belanda terus mencari jalan ke Kerinci dengan bantuan Tuanku Regen Indrapura. Namun, bujuk rayu mereka tidak berhasil. Pada Oktober 1901, Kumendur H.K Manupasya bersama asisten Residen Kooreman meminta Tuanku Regen membujuk para depati dan hulubalang Kerinci untuk menerima pemerintahan Belanda.
Para depati dan hulubalang Kerinci sudah bertekad mempertahankan wilayah mereka sampai titik darah penghabisan. Pada Maret 1902, pasukan Belanda sebanyak 500 orang di bawah komando Kapten Bolmar mendarat di Muaro Sakai. Mereka menyerang dari tiga jurusan: Renah Manjuto, Koto Limau Sering, dan Temiai. Pertempuran sengit terjadi di ketiga tempat ini.