09/10/2025
Memerlukan Visi yang kuat serta kebersamaan yang solid antara Pengurus dan Warganya. Khususnya pengurus yang mau mendengar dan melayani.
Kalau kamu pikir diplomasi itu urusan pejabat tinggi, coba pikir ulang. Baru-baru ini Ketua RT 8/RW 4 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, nongol di stasiun TV pemerintah China, CCTV, dan kemudian diterima oleh Dubes RI untuk China, Djauhari Oratmangun, di Wisma Duta Beijing. Di sana dia menyerahkan buku karyanya, Suara-suara dari Pos Ronda, sebagai catatan simbolik kiprah RT-nya dalam inovasi lingkungan berbasis gotong royong.
Media menyebut bahwa RT 8 dikenal karena transformasi saluran beton menjadi kolam lele, komposter komunal, lampu tenaga surya, dan 43 inisiatif hijau lainnya. Kita semua tahu kota besar ini penuh tekanan macet, polusi, biaya mahal dan banyak orang cuma punya waktu buat kerja, tidur, lalu bangun ulang. Tapi lingkungan RT kecil itu memilih untuk kerja dua shift, satu untuk cari nafkah, satu lagi untuk menjaga lingkungan. Ibaratnya orang tua kerja siang malam, tapi warga gangnya juga ikut gelut sampah & air limbah supaya lingkungan makin adem. Dan tiba-tiba aksi lokal itu malah diundang ke negeri lain ingatkan kita bahwa kadang perubahan besar lahir dari lorong sempit.
Tapi jangan kira ini cuma soal melestarikan lingkungan kampung Inilah sindiran halus, pejabat dan kebijakan nasional sering bilang Transformasi Hijau, tapi ambil rencana besar sementara inisiatif RT kecil masih berjuang dapat support dasar.
Kalau RT sudah bisa pasang lampu surya sendiri, lalu kementerian belum bisa memperbaiki jalan kampung siapa yang lebih nyata kerjanya di lapangan? Lucu juga kalau slogan pemerintah soal Indonesia Emas 2045 sering dikumandangkan di panggung besar, sementara di daerah, orang RT masih urus bocor selokan sendiri.
Akar masalahnya jelas, keterbatasan akses sumber daya dan prioritas kebijakan yang lebih s**a proyek besar daripada skala mikro.
Kebijakan lingkungan nasional bisa muluk-muluk, tapi kalau dana untuk pengelolaan lingkungan komunitas dipotong, ya percuma. Distribusi dana, regulasi, dan pendampingan teknis sering berhenti di tingkat kabupaten atau provinsi, padahal akar masalah lingkungan ada di RT dan RW. Inovasi hijau seperti RT 8 harus melawan regulasi usang, birokrasi susah, dan stigma bahwa RT cuma urus sampah, bukan urus inovasi.
Ini bukan fenomena Indonesia saja. Di India, warga desa berhasil menjadikan aplikasi lokal untuk pantau kualitas air dan diundang presentasi ke universitas luar negeri. Di Brasil, kelompok komunitas kecil di favela dipanggil ke forum PBB karena solusi mereka terhadap sampah plastik. Artinya, kalau komunitas kecil bisa berbicara di panggung global, kenapa kebijakan pusat sering takut turun ke akar?
Jadi mungkin kita perlu pelan-pelan tertib dan kritis. Kita tidak tinggal diam dan pura-pura tak tahu, tapi mulai dukung inisiatif mikro, RT, RW, komunitas lingkungan.
Bukan hanya bilang bagus itu inovasi, tapi beri ruang anggaran, teknis, dan kemudahan regulasi agar inovasi lokal bisa tumbuh luas. Karena kalau yang kecil saja tak didukung, maka proyek besar pun cuma akan jadi pajangan, bukan transformasi nyata. Taufiq mungkin seorang RT, tapi keberangkatannya ke Beijing bukan sekadar perjalanan simbolik. Ia membuktikan bahwa diplomasi rakyat bukan mitos bahwa dari lorong sempit bisa terdengar suara hijau ke negeri lain.
Kalau satu RT saja bisa kena CCTV China, bayangkan kalau ribuan RT di Indonesia sama-sama bekerja dari pinggiran. Mari kita dukung dan beri ruang agar mereka tidak cuma jadi cerita viral, tapi tulang punggung transformasi Indonesia.
---
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik