10/03/2025
Hari Perempuan Internasional 2025: Melindungi Pekerja Perempuan di Industri Makanan & Minuman Bukan Sekadar “Gestur Baik” — Ini Kebutuhan
Hari Perempuan Internasional bukan cuma soal hashtag, seminar inspiratif, atau kue gratis dari perusahaan (meskipun, jujur, kami tak akan menolak kue). Tahun ini, saat kita menyoroti industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia—sektor raksasa yang menyumbang lebih dari 6% PDB nasional—saatnya bicara fakta. Melindungi hak pekerja perempuan bukan sekadar formalitas demi kesetaraan; ini adalah fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Tenaga Kerja Tak Kasat Mata yang Secara Harfiah Memberi Makan Bangsa
Industri F&B Indonesia mempekerjakan lebih dari 12 juta pekerja, dan tebak siapa yang mendominasi? Sekitar 60% adalah perempuan. Dari jalur produksi mi instan di pabrik hingga warung kaki lima yang menyajikan nasi goreng, perempuan adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga industri senilai $150 miliar ini tetap berjalan. Tapi kenyataannya? Banyak dari mereka masih menerima upah yang tertinggal satu dekade, bekerja di lingkungan yang tidak aman, dan menghadapi kesenjangan besar dalam peran kepemimpinan.
Sebuah laporan Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia tahun 2024 mengungkap bahwa pekerja pabrik perempuan menerima gaji 30% lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Tidak adil.
Upah Layak dan Tempat Kerja Aman Bukan “Fasilitas Tambahan”
Lupakan jargon perusahaan. Saat kita bicara soal “melindungi hak pekerja,” yang dimaksud adalah hal-hal mendasar:
• Upah layak, agar perempuan tak perlu bekerja lembur gila-gilaan hanya demi membayar beras dan biaya sekolah anak.
• Pabrik yang aman, tanpa mesin rusak atau protokol keselamatan longgar yang bisa mencelakai pekerja.
• Nol toleransi terhadap pelecehan, karena candaan seksis dan siulan menggoda tak pantas ada di 2025.
• Kesempatan naik jabatan, karena melihat lebih banyak perempuan menjadi manajer pabrik atau CEO bukan sekadar mimpi—itu seharusnya sudah terjadi sejak lama.
Faktanya, ketika perempuan maju, bisnis ikut maju. Perusahaan dengan kebijakan kesetaraan gender mencatat peningkatan produktivitas hingga 25%, menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Dalam dunia pascapandemi di mana rantai pasok masih berantakan, berinvestasi pada pekerja perempuan bukan hanya etis—tapi juga keputusan bisnis yang cerdas.
Perjuangan Akar Rumput: Perubahan yang Perlu Kamu Ketahui
Berita baiknya? Perubahan sudah mulai terlihat. Banyak Serikat pekerja terus mendorong penegakan lebih ketat terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan 2003 yang seharusnya menjamin upah setara dan cuti melahirkan. Beberapa Startup memprioritaskan petani perempuan dalam rantai pasoknya. Bahkan sudah ada perusahaan besar yang mulai membuka program mentorship untuk mempercepat promosi pekerja perempuan ke posisi manajerial.
Tapi jangan buru-buru selebrasi. Banyak pekerja perempuan di daerah pedesaan masih tidak memiliki akses ke serikat pekerja atau bantuan hukum. Dan sementara Omnibus Law baru Indonesia bertujuan meningkatkan investasi asing, banyak pihak khawatir undang-undang ini justru akan melemahkan perlindungan tenaga kerja. Kesimpulannya? Kebijakan tanpa pengawasan yang ketat hanya akan jadi dokumen tanpa arti.
Hari Perempuan Internasional 2025: Saatnya Bukti, Bukan Janji
Tahun ini, saatnya tinggalkan sekadar simbolisme. Begini cara membuat perubahan nyata:
• Perusahaan: Audit rantai pasokmu. Bayar upah layak. Promosikan perempuan. Jangan cari alasan.
• Konsumen: Dukung merek yang —uangmu bisa membawa perubahan.
• Pemerintah: Perkuat undang-undang ketenagakerjaan dan, serius, pastikan itu ditegakkan.
Katanya “Perempuan kuat, industri kuat.” Saatnya menjadikan itu lebih dari sekadar slogan.
Kesetaraan Bukan “Isu Perempuan”—Ini Tentang Ekonomi yang Lebih Adil
Melindungi pekerja perempuan di industri F&B Indonesia bukan soal amal. Ini tentang menciptakan lapangan permainan yang adil, agar semua pihak bisa berkembang. Jadi ya, di Hari Perempuan Internasional ini, mari kita rayakan kemajuan yang sudah dicapai—tapi jangan lengah. Karena kesetaraan tak datang begitu saja. Itu harus diperjuangkan.