02/02/2025
William Marsden (1783) dalam Sejarah Sumatera: Negara Batak.
oleh Dr. Bona Tua Silalahi
Setelah Pires tahun 1512 menceritakan Kerajaan Batak dari sisi Pantai Timur Sumatera atau Selat Malaka, 27 tahun kemudian tepatnya tahun 1539 Fernao Mendes Pinto dari sisi Pantai Barat atau Samudera Hindia tepatnya di Singkel (analisis peneliti). Pasca penjajahan Kerajaan Aceh (1540), sejarah Batak bak hilang ditelan bumi sampai akhirnya Marsden muncul mengangkat kisah Negara Batak.
William Marsden (1754-1836) adalah seorang orientalis, linguis, numismatis, dan perintis dalam studi ilmiah mengenai Indonesia. Ia lahir di County Wicklow, Irlandia, dan dididik di Dublin. Pada usia 16 tahun, Marsden mendapatkan penunjukan dinas sipil di East India Company dan dikirim ke Bencoolen (sekarang Bengkulu), Sumatra, pada tahun 1771.
Selama hampir 10 tahun di Sumatra, Marsden mempelajari bahasa, budaya, dan masyarakat setempat. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1779, ia menulis buku "The History of Sumatra" yang diterbitkan pada tahun 1783. Buku ini memberikan gambaran mendalam tentang flora, fauna, produk ekonomi, organisasi sosial, agama, bahasa, dan banyak aspek lainnya dari Sumatra.
Buku The History of Sumatra tersaji dalam bahasa Inggris tertuang pada hampir 500 halaman dimana khusus menceritakan Negara Batta (Batak) dimulai dari hal 365 sampai 395, dan sedikit menyinggung kata Batta pada 23 halaman terpisah. Tercatat Marsden menyebutkan kata "Batta" sebanyak 81 kali.
Pada bukunya, Marsden menjabarkan tentang Teluk Tappanuli, Perjalanan ke Pedalaman, Pohon Cassia, Pemerintahan, Senjata, Perang, Perdagangan, Pameran, Makanan, Tata Krama, Bahasa, Menulis dan Kebiasaan Biasa. Sebagai linguis, dia tidak lupa memuat Alfabet Batak, perbandingannya ke Rejang dan Lampung. Dalam hal spesimen bahasa yang digunakan, dia juga membandingkan antara bahasa Batak dengan Malay, Achin, Rejang dan Lampong.
Hal paling menarik penelitian saya adalah perubahan situasi Geopolitik selama 233 tahun pasca keruntuhan Kerajaan Batak tahun 1540 (Pinto, 1614) dimana entitas politik Batak berubah dari Kerajaan (kingdom) menjadi Negara (country). Sepertinya selama 233 tahun terjadi perjuangan kemerdekaan oleh bekas Kerajaan Batak dan berhasil namun menjadi negara Persekutuan 3(tiga) kerajaan Besar yaitu
1. Kerajaan Simamora: Batong, Sunayang, Ria, Allas, Batadera, Kapkap, Batahol, Kotta-tinggi (tempat kediaman raja), dengan dua tempat yang terletak di pantai timur bernama Suitaramale dan Jambu-ayer.
2. Kerajaan Bata-salindong: Salindong (tempat kediaman raja),Bata-gopit, dll.
3. Kerajaan Butar: Pulo Serony, Batu Bara, Longtong, Sirigar.
Marsden juga menjelaskan geopolitik Kerajaan Aceh saat itu dimana salah satu wilayahnya yaitu Karrau dicatatnya sebagai "menyerupai Batak", saya beranalisis bahwa wilayah ini adalah Tanah Karo yang masih dikuasai Kerajaan Aceh paskah pejajahan 1539 yang saat itu bernama Lingau (lihat di Page ini pada judul Bab 12 atau klik https://www.facebook.com/share/p/1GC2nPw6pM/.
Bagaimana isi bukunya akan saya coba terjemahkan secara bertahap pada Page ini atau dapat mengikuti link berikut:
1. Teluk Tappanuli: https://www.facebook.com/share/p/18KNNSEQzj/
2. Perjalanan ke Pedalaman: (menyusul, ikuti terus Page ini)
3. Pohon Cassia: (menyusul, ikuti terus Page ini)
4. Pemerintahan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
5. Senjata: (menyusul, ikuti terus Page ini)
6. Perang: (menyusul, ikuti terus Page ini)
7. Perdagangan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
8. Pameran: (menyusul, ikuti terus Page ini)
9. Makanan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
10. Tata Krama: (menyusul, ikuti terus Page ini)
11. Bahasa: (menyusul, ikuti terus Page ini)
12. Menulis dan Kebiasaan Biasa: (menyusul, ikuti terus Page ini)
Sumber: Marsden, W. (1811). The History of Sumatra (3rd ed.). Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown.