Aneka Pesisir Tapteng Sibolga

Aneka Pesisir Tapteng Sibolga Berjuang Demi Kemajuan Kampung Halaman. Merangkum ide dan saran masyarakat Tapteng Sibolga

William Marsden (1783) dalam Sejarah Sumatera: Negara Batak.oleh Dr. Bona Tua SilalahiSetelah Pires tahun 1512 mencerita...
02/02/2025

William Marsden (1783) dalam Sejarah Sumatera: Negara Batak.
oleh Dr. Bona Tua Silalahi

Setelah Pires tahun 1512 menceritakan Kerajaan Batak dari sisi Pantai Timur Sumatera atau Selat Malaka, 27 tahun kemudian tepatnya tahun 1539 Fernao Mendes Pinto dari sisi Pantai Barat atau Samudera Hindia tepatnya di Singkel (analisis peneliti). Pasca penjajahan Kerajaan Aceh (1540), sejarah Batak bak hilang ditelan bumi sampai akhirnya Marsden muncul mengangkat kisah Negara Batak.

William Marsden (1754-1836) adalah seorang orientalis, linguis, numismatis, dan perintis dalam studi ilmiah mengenai Indonesia. Ia lahir di County Wicklow, Irlandia, dan dididik di Dublin. Pada usia 16 tahun, Marsden mendapatkan penunjukan dinas sipil di East India Company dan dikirim ke Bencoolen (sekarang Bengkulu), Sumatra, pada tahun 1771.

Selama hampir 10 tahun di Sumatra, Marsden mempelajari bahasa, budaya, dan masyarakat setempat. Setelah kembali ke Inggris pada tahun 1779, ia menulis buku "The History of Sumatra" yang diterbitkan pada tahun 1783. Buku ini memberikan gambaran mendalam tentang flora, fauna, produk ekonomi, organisasi sosial, agama, bahasa, dan banyak aspek lainnya dari Sumatra.

Buku The History of Sumatra tersaji dalam bahasa Inggris tertuang pada hampir 500 halaman dimana khusus menceritakan Negara Batta (Batak) dimulai dari hal 365 sampai 395, dan sedikit menyinggung kata Batta pada 23 halaman terpisah. Tercatat Marsden menyebutkan kata "Batta" sebanyak 81 kali.

Pada bukunya, Marsden menjabarkan tentang Teluk Tappanuli, Perjalanan ke Pedalaman, Pohon Cassia, Pemerintahan, Senjata, Perang, Perdagangan, Pameran, Makanan, Tata Krama, Bahasa, Menulis dan Kebiasaan Biasa. Sebagai linguis, dia tidak lupa memuat Alfabet Batak, perbandingannya ke Rejang dan Lampung. Dalam hal spesimen bahasa yang digunakan, dia juga membandingkan antara bahasa Batak dengan Malay, Achin, Rejang dan Lampong.

Hal paling menarik penelitian saya adalah perubahan situasi Geopolitik selama 233 tahun pasca keruntuhan Kerajaan Batak tahun 1540 (Pinto, 1614) dimana entitas politik Batak berubah dari Kerajaan (kingdom) menjadi Negara (country). Sepertinya selama 233 tahun terjadi perjuangan kemerdekaan oleh bekas Kerajaan Batak dan berhasil namun menjadi negara Persekutuan 3(tiga) kerajaan Besar yaitu
1. Kerajaan Simamora: Batong, Sunayang, Ria, Allas, Batadera, Kapkap, Batahol, Kotta-tinggi (tempat kediaman raja), dengan dua tempat yang terletak di pantai timur bernama Suitaramale dan Jambu-ayer.
2. Kerajaan Bata-salindong: Salindong (tempat kediaman raja),Bata-gopit, dll.
3. Kerajaan Butar: Pulo Serony, Batu Bara, Longtong, Sirigar.

Marsden juga menjelaskan geopolitik Kerajaan Aceh saat itu dimana salah satu wilayahnya yaitu Karrau dicatatnya sebagai "menyerupai Batak", saya beranalisis bahwa wilayah ini adalah Tanah Karo yang masih dikuasai Kerajaan Aceh paskah pejajahan 1539 yang saat itu bernama Lingau (lihat di Page ini pada judul Bab 12 atau klik https://www.facebook.com/share/p/1GC2nPw6pM/.

Bagaimana isi bukunya akan saya coba terjemahkan secara bertahap pada Page ini atau dapat mengikuti link berikut:
1. Teluk Tappanuli: https://www.facebook.com/share/p/18KNNSEQzj/
2. Perjalanan ke Pedalaman: (menyusul, ikuti terus Page ini)
3. Pohon Cassia: (menyusul, ikuti terus Page ini)
4. Pemerintahan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
5. Senjata: (menyusul, ikuti terus Page ini)
6. Perang: (menyusul, ikuti terus Page ini)
7. Perdagangan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
8. Pameran: (menyusul, ikuti terus Page ini)
9. Makanan: (menyusul, ikuti terus Page ini)
10. Tata Krama: (menyusul, ikuti terus Page ini)
11. Bahasa: (menyusul, ikuti terus Page ini)
12. Menulis dan Kebiasaan Biasa: (menyusul, ikuti terus Page ini)

Sumber: Marsden, W. (1811). The History of Sumatra (3rd ed.). Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown.

SIBOLGA PELABUHAN EKSPOR KARET UTAMASyafriwal El PasisiSebelum Belawan mengambil alih pelabuhan ekspor impor utama di Su...
22/01/2025

SIBOLGA PELABUHAN EKSPOR KARET UTAMA
Syafriwal El Pasisi

Sebelum Belawan mengambil alih pelabuhan ekspor impor utama di Sumatera Utara, jauh sebelumnya Sibolga terlebih dahulu sudah menjadi pelabuhan utama ekspor import utama di Sumut.

Bermula pasca kemerdekaan Indonesia, dimana ekonomi sedang lesu akibat Jepang merusak semua sendi-sendi kehidupan di Sibolga, saat itulah (1950) FL Tobing sebagai Residence Tapanuli merasa perlu ada persatuan dagang di Sibolga agar bisa menyatukan para pengusaha membuka perwakilan di Singapura.

Hal itu perlu karena karet yang bernilai tinggi di dunia saat itu selalu didikte para pembeli di Singapura dengan cara berbarter.

Maka terbentuklah di tahun 1950, NV. Perseroan Dagang Tapanuli yang berkedudukan di Sibolga, untuk menjalankan perdagangan eksport dan import.
Karena Republik belum diakui Belanda dan Inggris maka sistim yg berlaku waktu itu adalah “sistim barter”, Sibolga mengeksport karet, kemenyan, rotan, dll hasil hutan, Singapura menukarnya dg. Tekstil, kelontong, bahan makanan, obat2an, rokok dll.

Saat itu hasil alam terutama karet sangat mahal dan bernilai tinggi dipasaran Internasional, oleh sebab itu para pengusaha China Singapura meraup untung sangat begitu besar.
Ekonomi negeri koloni Inggris ini (Singapura) langsung melejit dan menjadi tempat para pedagang serumpun (China) dari Hongkong, Taipeh (Taiwan) bahkan Eropa dan Amerika berburu hasil alam Indonesia (Tapanuli).
Geliat ekonomi Singapura yg begitu pesat membuat para pedagang China yg ada di Sibolga menancapkan perwakilan dagang di sana (Lie Pie Tao) salah seorang eksportir karet yang kuat dari Sibolga turut berkibar dan menjadi konglomerat yang mempunyai banyak anak perusahaan baik farmasi, tekstil, elektronik dan alat2 pertanian.

Foto terlihat tumpukan karet mentah sampai 1975 dari jepretan Gustav Sibolga masih jadi andalan Pelabuhan Sibolga.

SIBOLGA DAN MANGROVESyafriwal MarbunSekitar tahun 70an, dimana bahan bakar utama rumah tangga untuk memasak adalah kayu....
21/01/2025

SIBOLGA DAN MANGROVE
Syafriwal Marbun

Sekitar tahun 70an, dimana bahan bakar utama rumah tangga untuk memasak adalah kayu. Penduduk perkotaan saat itu sangat tergantung pasokan dari desa-desa sekitarnya.

Sibolga yang tepat berada di Teluk Tapian Nauli sangat beruntung karena pinggir pantainya banyak ditumbuhi mangrove berjenis tumbuhan bakau.

Tumbuhan ini memiliki kayu keras memiliki arang yang tidak banyak asapnya. Penebangan masiv bakau ini nyaris menghabiskan seluruh pohon bakau di sekitar Sibolga karena permintaaannya yang tinggi, bahkan di ekspor ke Singapura.

Ikan-ikan yang tadinya banyak, perlahan semakin sulit berkembang dikarenakan mangrove tempat berkembang biak mereka telah habis.

Foto di bawah adalah kondisi Sibolga sekitar tahun 1975 dimana salah satu jalan di Sibolga dipenuhi kayu yang dijual untuk kebutuhan rumah tangga. Foto diambil Gustav Neuenschwander, photografer dari Jerman.

KENDURI NAIK PARABUNG (RANGKA ATAP) DALAM MASYARAKAT PASISISyafriwal El Pasisi Masyarakat Pasisi Sibolga dan Tapanuli Te...
12/07/2024

KENDURI NAIK PARABUNG (RANGKA ATAP) DALAM MASYARAKAT PASISI
Syafriwal El Pasisi

Masyarakat Pasisi Sibolga dan Tapanuli Tengah sejak zaman nenek moyang dahulu sarat dengan berbagai macam kearifan lokal yang tumbuh mengakar mebudaya dikehidupan sehari-harinya, mereka juga dikenal sangat menghargai alam sekitar dan dalam setiap tindakanya selalu mengandung makna filosofis luhur yang sangat menarik untuk dijadikan bahan kajian.

Salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan seseorang adalah kebutuhan tempat tinggal, oleh sebab itu mereka akan memikirkan masak-masak saat membangun rumah dengan mengikuti tatanan budaya yang mengatur tentang bagaimana tata cara mempersiapkan tempat tinggal.

Walaupun saat ini masyarakat Pasisi telah menganut agama Islam, namun ada beberapa acara kuno yang semenjak dahulu turun temurun dilaksanakan dan tidak ada dalam ajaran Islam, masih kita temui ritualnya sampai saat ini, semisal memberikan sesaji ketika menaikkan rangka atap rumah (bubungan). Dengan berdalih sebagai memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rizki. Upacara kenduri menaikkan bubungan ini tetap dipertahankan dengan dibalut doa untuk dipanjatkan kepada Allah SWT.

Sebagai rasa syukur telah hampir rampungnya sebuah perjuangan membangun rumah, maka tuan rumah dengan mengundang keluarga terdekat mengadakan kenduri kecil-kecilan. Kenduri ini diadakan pada tahap pemasangan kerangka atap. Dimana selain acara makan-makan juga disediakan bahan-bahan yang dianggap mewakili (mengandung arti filosofis luhur), yang nantinya akan diikatkan ke tiang utama penyangga atap (bubungan rumah yang dibangun tersebut.

Benda-benda tersebut akan kita pelajari dari segi philosofynya karena hal ini sangat menarik untuk dipelajari.

a. Tebu yang dicabut dari pangkalnya
Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga yang nantinya menempati rumah senantiasa beristiqamah dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang tegak menopang batang tebu.

b. Satu ikat padi kuning
Memiliki makna sebagai harapan dan doa agar keluarga di dalam rumah tersebut dapat menggapai kejayaan dan kemakmuran, sebagaimana layaknya padi yang semakin menguning dan berisi semakin menunduk (tawadhu') tidak sombong.

c. Kelapa
Sama halnya dengan tanaman kelapa yang setiap bagian tubuhnya memiliki manfaat, keluarga yang menempati rumah baru ini juga diharapkan dapat menjadi keluarga yang kuat dan dapat bermanfaat untuk sesama sebagaimana kelapa yang berguna dari akar hingga pucuknya.

d. Bendera Merah Putih
Bendera (ini yang agak istimewa) hal mana sebenarnya baru ada ketika awal Indonesia merdeka. Mungkin dimaksudkan sebagi wujud nasionalisme dari masyarakat, karena rasa syukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemerdekaan sehingga dapat memiliki tanah air sebagai tempat tinggal.

e. Uang logam (koin)
Ada juga menggunakan sebentuk uang dalam upacara ini (walaupun tidak selalu). Uang di sini mewakili lambang modal finansial yang dimiliki oleh keluarga yang akan menempati rumah. Hal ini juga sebentuk harapan agar Tuhan senantiasa melimpahkan rizki yang berkah kepada keluarga yang menghuni rumah tersebut.

f. Pisang dan Kundur (labu).
Sebagai panjatan rasa syukur, si pemilik rumah baru juga mempersembahkan setandan pisang di tiang utama tadi. Umumnya yang sering disuguhkan adalah pisang raja dan pisang emas yang sudah masak dan bisa dimakan. Pisang ini melambangkan mudah didapatkan dan tidak susah diolah (gampang dimakan). Memiliki arti seseorang itu sangat pemurah dan saling membutuhkan kesesamanya, dalam hal apapun kesulitan dalam keluarga (suami, istri dan anak) harus saling membantu, karena sesuatu yang dilakukan sendiri hasilnya tidak bisa memuaskan.

Kundur adalah lambang kedinginan, kesejukan sebagaimana buah kundur ini yang banyak mengandung air dan bisa menjadi penurun panas saat demam bila diminum. Berpilosofi hendaknya penghuni rumah selalu diberikan kesejukan selama menghuninya kelak.

g. Telur ayam
Adalah simbolkan awal mula kehidupan yang senantiasa berasa dari dua sisi yang berbeda sama halnya warna telur kuning putih, laki-laki, perempuan siang-malam dan lain-lainnya. Hal ini untuk harapan agar kelak di dalam rumah ini terjadi keturunan yang diharapkan dalam masyarakat.

Tulisan ini hanya sekedar pengetahuan umum saja, bukan anjuran agar dilakukan karena bukan berasal dari adat pasisi. Ritual ini gambaran dahulu semasa masih kuatnya tradisi berbau Hindu dalam masyarakat Pasisi yang konon hingga kini masih tetap ada yang mengadakan.

GARAM DAN SEJARAH TELUK SIBOLGAoleh : Syafriwal El PasisiPada masa kolonial baik zaman Inggris maupun Belanda, garam asa...
20/06/2024

GARAM DAN SEJARAH TELUK SIBOLGA
oleh : Syafriwal El Pasisi

Pada masa kolonial baik zaman Inggris maupun Belanda, garam asal Sibolga dan Pulau Mursala amat diminati oleh masyarakat pedalaman sekitar Danau Toba. Monopoli garam oleh Inggris dan Belanda menjadi sumber uang bagi penjajah.

Tapanuli tepatnya Sibolga sering perang bergolak karena dimonopolinya garam oleh Inggris dan Belanda, mereka tahu siapa yg menguasai garam dialah penguasa secara tak langsung kawasan ini.
Penduduk di pedalaman atau sekitar Danau Toba yang sangat membutuhkan garam ini sebagai asupan mineral mereka dan keberadaannya yang terdekat hanya di sekitar Teluk Sibolga, oleh sebab itu berkali-kali terjadi perang semuanya bermuara karena garam.
Baru pada 1882 pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan secara tegas mengatur mengenai monopoli produksi dan distribusi garam di Hindia Belanda.

Di satu sisi peraturan itu untuk melindungi penduduk pribumi dan berbagai praktik manip**asi dan eksploitasi yang dilakukan oleh para pemodal swasta yang semasa zaman VOC memperoleh keuntungan yang sangat besar dengan cara merugikan para konsumen. Namun di sisi lain, kebijakan baru itu menjadi penghalang bagi kaum pribumi yang ingin mengembangkan usaha di bidang pengusahaan dan perdagangan garam.

Lagi-lagi petani garam terjepit, sulit berupaya untuk mengubah nasib. Bahkan ketika Indonesia merdeka, nasib petani garam tetap terpuruk.

Photo terlampir adalah gudang garam peninggalan Belanda di Jl. KH Zainul Arifin dipinggir Aek Doras, Kota Baringin, Sibolga, yang masih dipakai hingga kini.

Sebuah aset sejarah perjalanan kota yang perlu pemugaran agar tetap kuat berdiri.

Galedor/perata jalan manual jaman dahulu kala.
18/12/2023

Galedor/perata jalan manual jaman dahulu kala.

POLONIA Berasal dari nama negara POLANDIASEJARAH PERTAMA KOTA MEDAN DALAM JARINGAN PENERBANGAN. Lapangan Terbang POLONIA...
17/12/2023

POLONIA Berasal dari nama negara POLANDIA

SEJARAH PERTAMA KOTA MEDAN DALAM JARINGAN PENERBANGAN.

Lapangan Terbang POLONIA Medan mendapat namanya dari Baron Michalsky, seorang bangsa Polandia, yang mendapat konsesi membuka perkebunan tembakau dalam tahun 1872 dan menamakan konsesinya itu POLONIA, yaitu nama negeri kelahirannya (dalam bahasa Polandia: POLANDIA dibaca “Polonia”).
Dalam tahun 1879, konsesinya itu berpindah tangan kepada Deli Maatschappij. Kemudian terdengar kabar bahwa pionir penerbangan bangsa Belanda, VAN DER HOOP, akan menerbangkan pesawat kecilnya “Fokker” dari Eropah ke Hindia Belanda dalam waktu 20 jam, maka Deli Maatschappij (Deli Mij.) yang kini memegang konsesi tanah itu menyediakan sebidang tanah untuk diserahkan sebagai pelabuhan udara yang pertama untuk Medan (untuk Sumatera).

Mengingat bahwa waktu yang sangat pendek sehingga persiapan pelabuhan udara itu tidak bisa dikejar, mau tak mau pesawat kecil dari Van Der Hoop terpaksa mendarat di lapangan pacuan kuda dekat tempat lapangan terbang itu, yaitu sebidang tanah yang dipergunakan oleh “Deli Revereeniging”. Pesawat Fokker itu mendarat dalam keadaan darurat di Sumatera, tentu dengan sambutan yang luar biasa meriahnya. Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dari Serdang adalah yang pertama-tama dijamu untuk menaikinya, melihat-lihat kota Medan dari udara (1924).

- dibangun dengan biaya F. 70.000 (gulden)

Pada tahun 1928 lapangan terbang Polonia itu dibuka dengan resmi dengan singgahnya 6 buah pesawat pos udara KLM dari Negeri Belanda.
Dalam tahun 1930 baik KLM maupun KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart My, yaitu Perusahaan penerbangan Hindia Belanda, anak perusahaan dari KLM) telah membuka jaringan penerbangan ke Medan secara berkala.
Dalam tahun 1937 KNILM turut membantu mengadakan pemetaan Kota Medan dan sekitarnya dari udara.
(kutip dari buku: Sejarah Medan Tempo Doeloe - Tengku Luckman Sinar. SH)

foto: Aankomst van de Fokker F-VII te Medan tijdens de eerste vlucht van Nederland naar Nederlands-Indië met als bemanning vlieger A.N.J. Thomassen à Thuessink van der Hoop, luitenant-vlieger H. van Weerden Poelman en boordwerktuigkundige P.A. van den Broeke. 21-11-1924 [media-kitlv.nl]

**Kedatangan Fokker F-VII ke Medan selama penerbangan pertama dari Belanda ke Hindia Belanda, dengan awak penerbang ANJ Thomassen à Thuessink van der Hoop, Letnan penerbang H. van Weerden Poelman dan insinyur penerbangan PA van den Broeke. 21-11-1924

ARTI BARALEK ZAMAN DAULU SAMO URANG PASISI TAPTENG SIBOGASyafriwal El PasisiAdalah sebuah kekecewaan bagi orang pasisi d...
10/12/2023

ARTI BARALEK ZAMAN DAULU SAMO URANG PASISI TAPTENG SIBOGA
Syafriwal El Pasisi

Adalah sebuah kekecewaan bagi orang pasisi dahulu bila di dalam kampung diadakan baralek gadang tapi sebagai warga kampung itu tidak ikut diundang.

Bagi warga pasisi ikut diundang pada acara baralek gadang adalah sebuah kehormatan. Undangan itu membuktikan dia adalah warga yang terhormat di kampung tersebut, apa lagi beliau tidak ada hubungan perdusanakan dengan ahlul bait pelaksana hajatan tersebut.

Dalam pelaksanaan baralek (pesta pernikahan) yang mengundang sebanyak mungkin warga kampung, tentu dibutuhkan banyak p**a tenaga. Berbagai bentuk pekerjaan yang dahulu masih menggunakan tenaga perlu ada salah satu komando yang berwibawa.

Karena salah satu saja tenaga andalan mogok, maka hancurlah acara tersebut. Semisal kepala dapur andalan tak pandai mengambil hatinya maka pekerjaan besar itu bisa jadi hambar nantinya.

Segala sesuatu dari awal beliau sudah diajak bermufakat serta dihubungi tentang rencana tersebut, apalagi di kampung itu sedikit yang bisa diandalkan mengepalai urusan dapur dalam baralek gadang.

Mengapa urusan dapur ini jadi urusan utama ? Karena orang sekampung akan mencicipi menu utama dalam baralek ini yang sangat jarang mereka cicipi waktu itu sehari-hati (gulai daging bercampur nangka).

Oleh sebab itu dicarilah ahli masak (biasanya laki-laki) bila dia sudah bekeluarga, semenjak dia mulai bekerja di dapur umum (biasanya H -3) makanan keluarganya sudah diantarkan ke rumahnya memakai rantang susun (orang pasisi menyebutnya ketel).

Hal ini dikarenakan beliau sebagai kepala keluarga agar tenang saat bekerja di dapur umum, tidak lagi gelisah apakah keluarganya di rumah sudah makan apa belum, karena bekerja di dapur umum berarti meninggalkan pekerjaan sehari-hari p**a untuk nafkah keluarga di rumah.

Bagi yang punya hajat hal ini diserahkan pada seseorang untuk mengaturnya sehingga tidak luput diperhatikan. Jangan nanti mereka yang diharapkan jadi tulang punggung acara hilang berp**angan karena memikirkan dapur p**a di rumah.

Saat dulu makan daging dalam baralek adalah menu utama, makanya setiap pesta pernikahan tak asing dipertanyakan berapa ekor kerbau dipotong. Selain symbil kemampuan yang punya hajat, juga akan mencerminkan baralek itu nemakai 'gala' berapa. Apakah dia bangsawan atau rakyat biasa.

Beda zaman sekarang, semua serba instan, sehingga sudah biasa kita dengar masakan diurus oleh catering, sehingga peranan tukang masak dalam baralek tidak dibutuhkan lagi sejaligus kearifan lokal bergotongroyong dalam masyarakat pesisir sudah semakin menipis.

HombungIndonesian Heritage Museum menyimpan sebuah benda yang oleh pengunjung sering disalahartikan sebagai peti mati. B...
09/12/2023

Hombung

Indonesian Heritage Museum menyimpan sebuah benda yang oleh pengunjung sering disalahartikan sebagai peti mati. Benda ini oleh masyarakat Batak disebut Hombung, Hombung sendiri memang lebih seperti peti, namun merupakan tempat tidur masyarakat Batak jaman dahulu dan hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai taraf hidup yang sudah cukup mapan.

Sementara bagian dalamnya dipergunakan sebagai penyimpan barang berharga seperti emas, perak, ulos ataupun barang pusaka lainnnya. Hombung biasanya terbuat dari kayu nangka, diukir dengan motif gorga Batara Siang.

Hombung sendiri tidak bisa dibuka sembarangan, Hombung dibuka saat pemiliknya sudah meninggal, dengan upacara ungkap hombung yang termasuk dalam upacara Pangarapoton.

Setelah sang pemilik diantar ke pemakaman, anak-anaknya harus memberikan kuncinya kepada hula-hula (tulang, paman, saudara dari ibunya, yang jenazahnya telah dimakamkan) agar hombung tersebut dibuka dan diperiksa isinya.

Begitulah zaman dahulu ungkap hombung dilakukan. Tapi zaman sekarang ini, kunci-kunci itu diserahkan secara simbolis dalam bentuk rupiah di dalam amplop kepada pihak hula-hula.

Beliau berpesan kepada anak-anak almarhumah agar mengupayakan s**a cita bagi hula-hula-nya melalui tradisi ungkap hombung itu. Sebagaiman diketahui, bahwa hula-hula adalah pihak yang dihormati dalam adat Batak .

Address

Sorkam

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Aneka Pesisir Tapteng Sibolga posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Aneka Pesisir Tapteng Sibolga:

Share