Faithfuel

Faithfuel FaithFuel menyajikan renungan, doa, dan kutipan harian untuk menyalakan imanmu setiap hari. Bertumbuh bersama dalam kasih dan kebenaran Kristus.

Hadir sebagai bahan bakar rohani yang sederhana, hangat, dan membangun.

Renungan HarianBersihkan Bagian Dalam!“Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu bagian dalam cawan dan pinggan it...
03/02/2026

Renungan Harian
Bersihkan Bagian Dalam!

“Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu bagian dalam cawan dan pinggan itu, supaya bagian luarnya juga menjadi bersih.” (Matius 23:26)

Orang Farisi hanya memperhatikan kebersihan lahiriah dan upacara, tetapi membiarkan hati mereka kotor. Banyak orang menahan tingkah lakunya di depan umum seperti “membersihkan bagian luar cawan”, namun ketika tidak ada yang melihat, mereka menuruti hawa nafsu pribadi sehingga “bagian dalamnya penuh dengan pemerasan dan kenajisan.” Jika kita hidup dalam kenyataan rohani dan terlebih dahulu memperhatikan hati serta motivasi di dalam diri kita, maka dari dalam akan keluar perkataan dan perbuatan yang baik serta murni. Apa yang Tuhan Yesus ingin mereka bersihkan? Bagian dalam hati.

Orang Tiongkok sangat memahami perkara “hati”, sebab banyak huruf perasaan berkaitan dengan kata “hati”: marah, mengampuni, sabar, benci, kasih — semuanya mengandung unsur hati. Hati itu seperti “ladang hati”. Huruf “pikir” terdiri dari “ladang” di atas dan “hati” di bawah, artinya hati bisa menjadi ladang yang baik. Hatimu sangat penting. Dalam huruf sederhana, kata “kasih” kehilangan unsur “hati”, seakan kasih tanpa hati kehilangan maknanya.

Jika di dalam hatimu ada Kerajaan Allah, ke mana pun engkau pergi Kerajaan Allah akan ada. Jika di dalam hatimu ada neraka, ke mana pun engkau pergi neraka juga akan ada. “Rumah seperti surga” sering menjadi impian, tetapi bila di dalam dirimu ada surga, rumahmu pun menjadi surga. Jika di dalam dirimu ada neraka, rumahmu pun terasa seperti neraka. Bukan terutama mengubah pasangan atau anak-anak, yang perlu diubah adalah satu hal: biarlah hatimu dipenuhi kemuliaan Kerajaan Allah, hati yang dipenuhi Kerajaan-Nya.

Saudaraku terkasih, bersihkanlah dahulu bagian dalam cawanmu.

13/01/2026

🧚‍♀️ Renungan Harian
Masa Lalu Tidak Menentukan Masa Depan!

“Manasye” artinya: Allah membuat aku melupakan segala kesukaranku.
“Efraim” artinya: Allah membuat aku beranak cucu di tanah penderitaanku.
(Kejadian 41:51–52)

Jangan biarkan kegagalan di masa lalu, perlakuan buruk orang terhadapmu, kehilangan harta, atau kehilangan orang yang kau kasihi, beserta segala rasa sakit dan kesedihan itu terus berputar di pikiranmu. Jangan sampai semua itu menghalangi karya baru yang Allah hendak lakukan dalam hidupmu. Bukan hanya percaya bahwa di masa depan engkau akan menerima berkat yang lebih besar—bahwa pernikahanmu, keluargamu, usahamu, dan pekerjaanmu akan mengalami terobosan—tetapi juga jangan biarkan masa lalumu memengaruhi masa depanmu.

Yusuf pernah dibuang ke dalam sumur, dijual sebagai budak, menjadi pengurus rumah seorang pejabat, lalu difitnah oleh istri pejabat itu dan dipenjarakan. Ia mengalami begitu banyak penderitaan. Ketika ia mendapatkan anak pertamanya, ia menamainya Manasye, yang berarti “Allah membuat aku melupakan.” Yusuf mengerti bahwa jika ia tidak melepaskan luka masa lalu, hal itu akan menghalangi perkara baru yang Allah ingin kerjakan dalam hidupnya. Anak keduanya dinamainya Efraim, yang berarti “Allah membuat aku berbuah.” Ia memilih untuk bertumbuh dan diberkati justru di tempat penderitaannya.

Manasye menandai berakhirnya masa pengembaraan dan penderitaan Yusuf, sedangkan Efraim menandai awal kehidupan baru yang penuh kelimpahan. Engkau perlu mengalami Manasye terlebih dahulu, barulah Efraim. Ingatlah, jangan hidup di masa lalu. Jangan biarkan kegagalan, kekecewaan, keputusasaan, bahkan keberhasilan di masa lalu menghalangi apa yang Allah ingin genapi dalam hidupmu. Itu bukan pola pikir yang benar. Arahkan pandanganmu ke masa depan.

Saudaraku yang terkasih, masa lalumu tidak menentukan masa depanmu!

12/01/2026

🧚‍♀️ Renungan Harian
Bukan Melarikan Diri dari “Kekacauan”…!

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudra raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.
(Kejadian 1:1–2)

Allah terlebih dahulu menciptakan langit dan bumi, lalu Ia bekerja di tengah keadaan yang kosong, kacau, dan gelap. Di dalam kekacauan itulah Roh Allah bergerak kembali untuk memulai pekerjaan yang baru. Hal ini menunjukkan kelembutan dan kasih Allah. Sering kali kita berharap Allah mengubah keadaan, tetapi kehendak-Nya yang lebih besar adalah membentuk karakter kita. Allah adalah Sang Pencipta; segala yang diciptakan-Nya sempurna. Ia juga adalah Sang Penebus; sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa, Ia tetap membayar harga untuk memulihkan kita melalui kasih karunia. Allah tidak pernah menyerah mengerjakan hal-hal baru di dalam hidup yang lama dan terluka.

Ketika Allah berjanji akan melakukan sesuatu yang baru, hal itu selalu berkaitan dengan umat-Nya. Perkara baru yang Allah kerjakan bukan hanya menyangkut perubahan keadaan, melainkan kehidupan manusia, ciptaan-Nya yang paling berharga. Rencana Allah yang ajaib berkaitan langsung dengan hidup kita; kita bukan sekadar penonton. Allah ingin melakukan karya baru di dalam diri kita dan mengukirkannya dalam kehidupan kita. Allah yang sama, dahulu, sekarang, dan selama-lamanya, terus bekerja tanpa henti. Roh-Nya tidak pernah berhenti bergerak. Dahulu Ia berbelaskasihan kepada bangsa Israel, dan hari ini Ia juga memperhatikan kita.

Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu Ia memisahkan terang dari gelap. Terang dan gelap harus dipisahkan. Demikian p**a ketika perkara baru dari Allah terjadi. Allah ingin kita memulai kembali dari tempat kegagalan. Setelah kita berdiri teguh, barulah kita belajar membedakan, baik dalam penggunaan waktu, uang, maupun dalam membangun relasi.
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Saudaraku yang terkasih, engkau bukan sedang melarikan diri dari sebuah kekacauan, melainkan sedang masuk ke dalam Kerajaan Allah yang baru.

10/01/2026

🌻 Kalimat Renungan Harian –
Berhenti Memberi “Bahan Bakar” bagi Kebohongan!

“Supaya kita jangan lagi menjadi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.”
(Efesus 4:14)

Bayangkan kita ingin mengisi bensin mobil. Saat tiba di SPBU, kita melihat tulisan besar: “Maaf, bensin habis.” Kita tentu kecewa, tetapi kita akan pergi ke SPBU lain. Ketika Iblis berusaha menimbulkan masalah dalam hidup kita, seharusnya kita pun “memasang tanda” di leher kita: “Bahan bakar habis.” Iblis selalu mencari orang yang menyukai kebohongan—orang yang di dalam hatinya masih menyediakan “bahan bakar” untuk api kebohongan itu. Namun, orang itu bukanlah engkau!

Selama ini, jika kita mau, kita bisa dengan mudah membuat suasana hati kita menjadi buruk. Cukup luangkan beberapa menit untuk memikirkan orang-orang yang pernah melukai dan mengecewakan kita; lalu mengingat kembali kegagalan demi kegagalan di masa lalu; kemudian membayangkan masa depan yang penuh kemalangan. Tidak lama kemudian, hati kita akan dipenuhi kesedihan, kekecewaan, dan akhirnya berubah menjadi kemarahan. Untuk apa menyiksa diri sendiri? Cobalah bertanya: apa yang baru saja kupikirkan atau kubicarakan? Dari sanalah biasanya akar masalah itu muncul.

Sering kali kita diombang-ambingkan oleh berbagai kebohongan yang dirangkai melalui tipu daya dan kelicikan manusia, sehingga pikiran kita menjadi kacau dan tidak stabil. Ciri orang percaya yang dewasa adalah tidak lagi menjadi kanak-kanak, tidak mudah dikendalikan oleh penyesatan dan tipu muslihat manusia. Membuat anak-anak Allah terombang-ambing adalah strategi musuh. Tugas kita sederhana namun penting: mengenal Anak Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga hidup kita bertumbuh menuju kedewasaan, penuh, dan serupa dengan kepenuhan Kristus.

Sahabat terkasih, berhentilah memberi bahan bakar bagi kebohongan!

09/01/2026

☘️ Kalimat Renungan Harian –
Akar pahit merusak sikap hati!

“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang.”
(Ibrani 12:15)

Apakah melihat kekurangan orang lain sering membuatmu kesal? Pernahkah engkau menyadari bahwa pikiranmu makin sering mengkritik pendeta, atasan, rekan kerja, teman, bahkan anggota keluarga? Apakah engkau merasa dirimu “lebih baik” daripada kebanyakan orang yang engkau temui? Banyak orang tidak menyadari konsekuensi ketika mereka menghakimi orang lain dengan standar yang tinggi. Saat seseorang menjalani hidup yang bersikeras bahwa hanya dirinya yang benar, ia sebenarnya mulai menempuh jalan yang mencemarkan dirinya sendiri—dan pada akhirnya akan terisolasi.

Ketika aku memilih mempertahankan bahwa akulah yang benar, alih-alih berfokus menyalurkan kasih karunia Allah kepada orang lain, aku mulai menyimpan pikiran negatif terhadap mereka yang tidak sejalan denganku dalam pikiran dan tindakan. Tanpa kusadari, aku menjadi sok benar dan munafik: satu standar kupakai untuk menilai orang lain, standar lain kupakai untuk diriku sendiri. Bahkan ketika pada isu-isu tertentu aku merasa berdiri di pihak “kebenaran”, sikap hatiku justru tanpa sadar menempatkanku sebarisan dengan si jahat—dan aku pun kehilangan kasih karunia Allah.

“Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Orang percaya pun, bila lalai menjaga sikap hati, dapat kehilangan pengalaman akan kasih karunia Allah. Apa yang dunia anggap dapat diterima tetaplah dosa di hadapan Allah; namun Allah telah menyediakan pengampunan, penebusan, dan kebebasan di dalam Kristus. Ketika kita kehilangan kasih karunia Allah, fokus kita beralih pada kekurangan orang lain. Bukan orang lain yang mencemarkan kita—melainkan akar pahit di dalam diri kitalah yang mencemarkan kita.

Sahabat, akar pahit merusak sikap hati!

08/01/2026

🧚‍♀️ Kalimat Renungan Harian
Tidak perlu bergumul dengan kepahitan dan belenggu!

“Dengan roti yang tidak beragi dan dengan sayur pahit mereka harus memakannya bersama domba Paskah.”
(Bilangan 9:11)

Setiap kali suami-istri bertengkar, sering kali salah satu pihak tidak menanggapi persoalan yang sedang terjadi, melainkan mulai membuka kembali luka lama—bahkan kejadian bertahun-tahun yang lalu ikut diungkit. Jika pihak yang lain berkepribadian ceria dan tidak pendendam, ia akan heran betapa tajamnya ingatan pasangannya, sampai bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin semua kesalahanku diingat sedetail itu?” Sebelum kita belajar hidup dengan lebih bijaksana, kita cenderung menyimpan hal-hal kecil di dalam hati, lalu ketika ada kesempatan, kita melemparkannya seperti peluru ke segala arah.

Kita terbiasa menimbun “ganjalan kecil” di hati, bahkan membesarkannya secara tidak proporsional. Ada kalanya kita memang terluka atau diserang dengan serius, tetapi kita membiarkan kepahitan dan kebencian bertumbuh di dalam hati. Semakin lama dibiarkan membusuk, semakin rumit persoalannya, dan semakin sulit kita dilepaskan dari belenggu. Awalnya mungkin hanya luka-luka kecil yang membuat tidak nyaman dan terus teringat. Luka-luka itu berulang kali diputar di dalam pikiran, hingga ketidaknyamanan itu membesar dan akhirnya sulit dikendalikan.

Dalam perjamuan Paskah ada hidangan bernama “sayur pahit.” Tuhan ingin umat Israel mengingat kepahitan yang mereka alami saat hidup dalam perbudakan. Memakan domba Paskah bersama roti tidak beragi dan sayur pahit melambangkan penerimaan kita akan hidup Yesus Kristus yang tidak beragi—tanpa dosa. Ketika kita berbuat dosa, hati akan merasakan kepahitan yang menegur kita untuk bertobat. Hidup seperti ini peka terhadap dosa dan segala sesuatu yang berasal dari daging. Jika kita ingin menghindari belenggu, kita harus lebih dahulu menjauhkan diri dari kepahitan.

Sahabat, kepahitan dan belenggu itu satu keluarga!

07/01/2026

🧚‍♀️ Kalimat Renungan Harian
Kekuatan Kasih (II)
Kasih menutupi segala sesuatu!

“Kasih menutupi segala sesuatu.”
(1 Korintus 13:7)

Fungsi utama atap adalah melindungi. Demi melindungi, atap harus menahan terpaan angin, hujan, petir, dan badai. Menahan bukanlah tujuan, melainkan proses untuk mencapai tujuan perlindungan. Ada orang yang memahami “menutupi” sebagai sekadar menahan, padahal makna dasarnya adalah melindungi—sedangkan menahan hanyalah turunan dari makna itu.
Sebaliknya, budaya “membongkar aib” justru berlawanan: ketika orang lain berbuat salah, bukan dilindungi, melainkan diumbar dan dipertontonkan—bukan menutupi, tetapi mengekspos, bahkan mempermalukan.

Ketika Musa mengambil seorang istri dari Midian, kakaknya, Miryam, mulai membicarakan keburukan Musa. Tuhan mendengarnya, dan Miryam terkena kusta. Lalu Musa datang memohon kepada Tuhan agar mengampuni kakaknya. Betapa besar kasih yang menutupi: orang yang difitnahnya justru didoakan olehnya, dan Tuhan mengabulkan doa Musa. Walau difitnah dan dilukai, Musa memilih menutupi—itulah sebabnya Tuhan memilih dan memakai Musa, karena ia memiliki kasih yang melindungi.

Melindungi orang yang menyerang kita—agar ia tidak semakin terluka—bukanlah hal mudah. Jika engkau sanggup menutupi kesalahan orang lain, orang akan menghargaimu. Tetapi jika setiap kali engkau menyoroti kesalahan, sahabat pun bisa menjauh. “Menutupi segala sesuatu” berarti melindungi seseorang, tidak menyebarkan keburukannya, tidak memamerkan kesalahannya. Inilah tingkat kasih yang paling tinggi—dan paling sulit dilakukan. Melindungi yang lemah mungkin dapat dimengerti; melindungi orang yang bersalah sungguh luar biasa.

Sahabat, kasih menutupi segala sesuatu!

06/01/2026

🧚‍♀️ Kalimat Renungan Harian
Damai sejahtera ada pada-Ku!

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia.”
(Yohanes 14:27)

Apakah belajar dengan sungguh-sungguh pasti membawa damai sejahtera? Namun kenyataannya, saat ujian kita bisa saja gagal dan kehilangan ketenangan. Apakah memiliki pengetahuan luas menjamin damai sejahtera? Kadang justru semakin banyak tahu, semakin gelisah. Apakah bekerja keras dengan penghasilan yang stabil pasti memberi damai sejahtera? Banyak orang bisa kehilangan pekerjaan dalam sekejap. Dunia mungkin memberimu jimat “penenang”, seolah-olah itu tanda bahwa engkau tidak memiliki damai sejahtera—dan jimat itu lebih untuk menenangkan perasaan orang lain. Jika engkau merasa perlu mengenakannya, itu justru menunjukkan bahwa damai sejahtera sejati belum ada di dalam dirimu. Orang yang benar-benar memiliki damai sejahtera tidak membutuhkan damai sejahtera versi dunia.

Damai sejahtera sejati membuat kita tetap tenang meski menghadapi pengangguran, kemiskinan, atau sakit penyakit. Damai sejahtera sejati membuat kita tetap tenang sekalipun dalam kesendirian. Damai sejahtera sejati membuat kita menghadapi kematian tanpa ketakutan, karena kita tahu ke mana kita akan pergi. Damai sejahtera sejati bukanlah ketenangan saat laut teduh, melainkan ketenangan di tengah badai. Bukan ketenangan karena sehat dan kaya, melainkan ketenangan yang tetap ada ketika hidup berada di lembah terdalam.

Damai sejahtera yang ditawarkan dunia bersifat pasif—untuk menghindari malapetaka, melupakan masalah, atau membius perasaan. Damai sejahtera yang diberikan Yesus bersifat aktif—di tengah penderitaan, kita tetap mampu menang. Kelahiran Yesus menunjukkan jalan menuju damai sejahtera yang sejati. Jika kita menolak damai sejahtera dari Yesus Kristus, kita tidak akan menemukannya di tempat lain. Dan ketika kita meninggalkan dunia ini tanpa Dia, kita tidak memiliki apa-apa, bukan siapa-siapa, dan tidak tahu ke mana harus pergi.

Sahabat, kelahiran Yesus membawa damai sejahtera!

05/01/2026

🍁 Kalimat Renungan Harian –
Kasih percaya segala sesuatu!

“Kasih percaya segala sesuatu.”
(1 Korintus 13:7)

Beberapa waktu lalu, seorang karyawan menyampaikan perkataan yang menyakitkan, bahkan berpotensi mengancam, kepada atasannya. Reaksi awal sang atasan adalah terkejut, lalu kecewa, kemudian bingung, dan akhirnya marah—bahkan sempat terpikir untuk memecat karyawan tersebut karena tidak memahami motif di balik perkataannya. Namun karena sang atasan telah berkomitmen untuk mengejar damai sejahtera dan menolak dikendalikan oleh emosi, ia memutuskan untuk “percaya segala sesuatu” dan bertindak sesuai firman Tuhan. Ia berkata pada dirinya sendiri, mungkin karyawan itu sedang mengalami hal-hal sulit, sehingga dari hati yang terluka keluarlah kata-kata seperti itu.

Sang atasan menduga bahwa karyawan tersebut mungkin tidak menyadari betapa besar dampak dari perkataannya. Ia pun mulai mendoakannya. Ketika ada orang bertanya apa pendapatnya, sang atasan menjawab, “Saya terkejut dan tidak memahami tindakannya, tetapi saya memilih untuk tetap berpegang pada prinsip percaya segala sesuatu.” Ia mendapati bahwa sikap ini menenangkan emosinya sendiri dan juga meredakan ketegangan orang-orang lain yang terlibat. Sang atasan yakin, “Jika kita bisa berpikir ke arah yang negatif, tentu kita juga bisa memilih untuk berpikir ke arah yang positif.”

Ungkapan “kasih percaya segala sesuatu” telah kita baca berkali-kali, namun sering kali kita tidak menyadari bahwa percaya segala sesuatu adalah penenang rohani. Karena kita mengenal Allah secara pribadi—kesetiaan dan kuasa-Nya—kita percaya bahwa Ia memiliki rencana yang baik dalam setiap orang dan setiap keadaan. Sekalipun motif orang lain tampak mengerikan, kita tetap dapat melindungi diri dengan memilih untuk percaya segala sesuatu. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakan orang lain, tetapi kita bertanggung jawab atas respons kita sendiri—percaya bahwa Allah sanggup mengubah kutuk menjadi berkat.

Sahabat, kasih percaya segala sesuatu!

Doa Hari Ini
12/09/2025

Doa Hari Ini

Satu hari satu ayat  Doa tidak dibatasi oleh awal atau akhir!> “Yesus sedang berdoa di suatu tempat; setelah selesai ber...
12/09/2025

Satu hari satu ayat
Doa tidak dibatasi oleh awal atau akhir!

> “Yesus sedang berdoa di suatu tempat; setelah selesai berdoa,” — Lukas 11:1

Kadang saat berkencan, kita terganggu oleh hal-hal tak terkendali atau harus pergi karena keadaan darurat. Kadang jadwal mengharuskan meninggalkan demi memenuhi janji di agenda. Kita pun merasa “Belum selesai! Aku ingin lebih lama bersamamu.” Sebelum hari berakhir, kita ingin kembali melanjutkan pertemuan itu. Kita perlu memulai lagi dari tempat pembicaraan terputus.

Yesus pun pernah “selesai berdoa”! Jelas doa-Nya memiliki titik akhir yang pasti. Secara teknis, kita tahu Yesus tidak berhenti berdoa, tapi ketika Ia berhenti, ada waktu yang jelas sebagai akhir doa. Rahasia doa adalah tetap di dalam Kristus sampai selesai. Cara tahu kapan boleh mengakhiri tergantung keputusan Tuhan, bukan perasaan kita. Biarkan Tuhan yang menentukan kapan doa harus selesai dan beri Dia kehormatan untuk mengakhiri doa.

Tuhan Yesus mengerti kebutuhan hidup yang menarik kita dari doa dan tidak menghakimi. Ia senang bila kita jujur ingin berlama-lama di hadapan-Nya dan menghargai hati tulus itu. Setelah memutuskan beranjak dan mengurusi dunia, penting untuk mengakhiri waktu dengan Tuhan agar bisa kembali dan mulai lagi dari tempat terputus.

Doa tidak dibatasi oleh awal atau akhir!

Address

Singkawang

Opening Hours

Tuesday 18:30 - 20:00
Wednesday 18:30 - 20:00
Friday 18:30 - 20:00
Saturday 18:30 - 20:00
Sunday 09:00 - 11:00
18:30 - 20:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Faithfuel posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Faithfuel:

Share