PAC GP ANSOR Seririt

PAC GP ANSOR Seririt PAC GP ANSOR Seririt adalah salah satu gerakan pemuda Badan otonomi Nahdlatul ulama yg ruang lingku

Monggo sahabat-sahabat... 💪💪💪🙏
10/02/2022

Monggo sahabat-sahabat... 💪💪💪🙏

Monggo sahabat-sahabat.... 💪💪💪🙏
10/02/2022

Monggo sahabat-sahabat.... 💪💪💪🙏

Berguru Kepada Cak Banser@ rijal mumazziq zPercaya atau tidak, banyak anggota Banser yang dalam DNA-nya mengalir genetik...
20/09/2020

Berguru Kepada Cak Banser

@ rijal mumazziq z

Percaya atau tidak, banyak anggota Banser yang dalam DNA-nya mengalir genetika pengawal ulama. Artinya, jika ditelusuri, leluhur mereka ini dulunya anggota laskar Diponegoro yang berdiaspora di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika tidak, bisa dipastikan bapak maupun simbah mereka dulu pernah nderek (menyertai) kiainya bertempur dalam perang kemerdekaan maupun mengawal para ulama dalam ontran-ontran 1965. Ada jiwa keperwiraan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, meski Banser dirundung, diolok-olok dan difitnah, sampai kapan pun tetap ada peminatnya karena memang punya suplier tetap. Bukti lain, peminat Diklatsar dan Susbalan, dua pola rekrutmen dan seleksi anggota, dari tahun ke tahun terus meningkat. Pola pengawalan dan pengawalan protap-nya juga semakin bagus. Kedisiplinan anggota juga meningkat. Dulu, beberapa anggota Banser berdiri menjaga pengajian diselingi rokok yang menyempil di jarinya. Kini, tidak lagi. Bukan karena mereka tidak merokok, melainkan aturan yang semakin diperketat: jangan merokok saat bertugas. Kalau pengen kebal-kebul harus menyingkir dulu, sambil melepas baret hitamnya.

Soal rokok ini, KH. Hasyim Muzadi pernah meledek mereka. Banser itu berpenampilan meyakinkan, sayang rokoknya eceran. Hehehe. Yang diledek hanya terbahak saja.

Kontribusi ke masyarakat juga ditingkatkan. Pembentukan satuan khusus, seperti Banser Tanggap Bencana (Bagana), yang bertugas di daerah tertimpa bencana; Banser Penanggulangan Kebakaran (Balakar), Banser Protokoler, berfungsi mengatur, menata, dan mengelola acara kenegaraan, organisasi atau acara resmi sesuai dengan perencanaan kegiatan, Banser Maritim (Baritim), yang punya kemampuan dalam menjaga konservasi laut, maupun sigap dalam membantu kecelakaan di pantai. Semacam Tim-SAR laut. Biasanya dibentuk di kawasan pesisir. PC GP Ansor Kencong punya satuan khusus ini.

Soal militansi, nekat, loyalitas dan keikhlasan, saya angkat kopiah kepada mereka. Soal seragam, walaupun kadang disediakan, lebih banyak dari mereka yang membeli sendiri. Kadang bahkan dengan mencicilnya. Alasannya, lebih mantap di hati. Soal bayaran tentu saja mereka nggak dapat fee saat menjaga pengajian dan pengawalan. Meski panitia biasanya juga menyediakan kopi, rokok dan nasi berkat buat oleh-oleh ke keluarganya. Soal loyalitas dan militansi, kadang bikin geleng-geleng. Ketika diperintah komandan berjaga di satu titik, mereka betah berdiri mematung berjam-jam. Bahkan di bawah terik matahari yang menyengat sekalipun.

Soal kepolosan dan kekonyolan polah tingkah anggota Banser, saya malah teringat manakala Belanda melakukan agresi militer 1 (Juli 1947). Yang dihadapi serdadu Belanda saat itu bukan TNI, yang masih membentuk diri, melainkan para milisi lokal yang selain loyal pada warlord-nya, juga tidak memiliki senjata komplit. Polah tingkah-nya juga unik dan menggelitik (film-film perang kemerdekaan Indonesia pasti menampilkan kelakuan laskar rakyat yang lucu-lucu ini, yang tidak pernah kita jumpai dalam film Hollywood ala Rambo, misalnya)

Dalam Agresi Militer 1 yang dihadapi serdadu bule itu ya laskar-laskar rakyat yang terdiri dari orang-orang ikhlas macam ini. Sebab, agresi militer 1 ini merangsek ke pelosok, ke desa-desa, yang bertujuan memberangus kantong-kantong pejuang rakyat. Agresi sengaja dilaksanakan pada bulan Ramadan dan puncaknya Belanda berhasil merebut kota Malang, basis milisi Hizbullah, kelaskaran muslim yang anggotanya antara lain terdiri dari mantan aktivis BANOE (Barisan NO, embrio Banser), dan Sabilillah, kebadanan para ulama. Jatuhnya kota Malang di tangan Belanda, Juli 1947, ini yang menyebabkan KH. M. Hasyim Asy'ari syok hingga berujung kewafatan beliau.

Pembakaran beberapa pesantren yang dilakukan satuan baret merah Belanda juga banyak dilakukan saat agresi militer pertama ini.

****

Soal latarbelakang juga variatif. Dalam keseharian, ada hafidz Al-Qur'an yang juga kiai pengasuh pesantren seperti Ustadz Abdul Haris, Bupati seperti Cak Thoriqul Haq (Lumajang) dan Gus Yusuf Irsyad (Pasuruan), dosen, pengusaha dll. Ada juga yang berlatar belakang tukang becak tapi punya kemampuan baca kitab yang mumpuni dan koleksi kitab berjilid-jilid seperti almarhum Cak Hamid, Banser Surabaya, tapi banyak p**a yang dalam keseharian menjadi penjual cilot, pedagang asongan, bakul es degan, pemilik warkop, tukang pijat, petani penggarap, maupun peternak. Pulang dari tugas, mampir ngarit, lalu tanpa canggung membawa rumput di sak yang ditaruh di atas jok motor. Ada juga yang sep**ang berjaga, motor bututnya mogok kehabisan bensin, mau telepon minta bantuan nggak punya pulsa, hingga akhirnya menuntun motornya ratusan meter. Mau beli bensin isi kantong kosong tanpa fulus (dompet nggak bawa), akhirnya diselamatkan oleh sesama kawannya yang tugasnya paling akhir. Ya ngenes, lucu, kasihan, tapi juga salut dengan keikhlasan mereka.

Dari yang alim hingga yang awam semua ada di barisan Banser. Dari yang hafal Al-Qur'an hingga mantan preman, diterima senang hati di barisan ini. Dari yang menguasai khazanah keilmuan klasik hingga kajian kontemporer, semua ada dalam satuan ini. Niatnya khidmah, mengabdi, juga menjaga ulama dan menjadi benteng NKRI.

"Besok, Banser itu masuk surga terlebih dulu daripada kiainya," kata Gus Muwafiq, dalam sebuah pengajiannya.

"Kok bisa Gus?"

"Jelas bisa, wong mereka bagian cek lokasi, kok!"

Wallahu A'lam Bisshawab.
.

Sugeng Milad ke- 76.. Mbah Yai Gus MusAthalallahu baqa'akum...Mabruk Alfa Mabruk..Al Fatihah 🤲
10/08/2020

Sugeng Milad ke- 76.. Mbah Yai Gus Mus
Athalallahu baqa'akum...

Mabruk Alfa Mabruk..
Al Fatihah 🤲

07/08/2020
INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI'UN..Telah p**ang ke rahmatullah, almaghfurlah:KH. SUBHAN SYIBROMULIS KHOLILI (yai sib)Pe...
02/08/2020

INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJI'UN..

Telah p**ang ke rahmatullah, almaghfurlah:

KH. SUBHAN SYIBROMULIS KHOLILI (yai sib)
Pengasuh pondok pesantren Canga'an Bangil

Ahad 02 agustus 2020M / 12 Dzulhijjah 1441H
Pukul 06:00 wib

Jenazah akan diberangkatkan ke madura Ba'da dluhur menuju peristirahatan terakhir di Ponpes Darul Mukhlisin, tangkel burneh-bangkalan

اللهم اغفر له وارحمه وعافه وعف عنه. امين.....

*SANAD ILMU NU SAMPAI KE ROSULULLOH* ______________Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama – Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepa...
17/07/2020

*SANAD ILMU NU SAMPAI KE ROSULULLOH*
______________
Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama – Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallam memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.

1. Jalur Imam Malik

Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)

Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).

Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

2. Jalur Imam Abu Hanifah

Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).
Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).

Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)

Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama

Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).

Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i
Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).

Thabqah II

Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).

Thabqah III

al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).

Thabqah IV

al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).

Thabqah V

al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).

Thabqah VI

Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).

Thabqah VII

Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).

Thabqah VIII

Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).

Thabqah IX

Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).

Thabqah X

Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).

Thabqah XI

Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).

Thabqah XII

Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyar al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).

Thabqah XIII

Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).

Thabqah XIV

KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama

INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan,...
16/07/2020

INI 9 KOMANDAN PERANG YANG PERNAH DIMILIKI NU

Kontribusi Nahdlatul Ulama dalam membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan, tidak dapat ditanggalkan begitu saja dari alur sejarah kemerdekaan Indonesia. Hizbullah menjadi salah satu motor penggerak para pejuang kala itu. Dari pergolakan perjuangan inilah muncul nama-nama besar para komandan perang NU yang patut kita teladani bersama.

1. KH. ZAINUL ARIFIN

Postur tubuhnya yang tegap, gagah dan berparas tampan menguatkan profil dirinya sebagai seorang pejuang sejati. Pria kelahiran Barus, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1909 ini memang identik dengan Hizbullah. Tampuk kepemimpinan organisasi ini juga pernah dijabatnya sejak awal Januari 1945. Sebagai seorang komandan dirinya selalu memberikan contoh yang baik kepada para bawahannya.

Geliat perjuangannya memang tidak terekam jelas dalam sejarah. Namun, dengan diangkatnya Kiai Zainul sebagai Komandan Hizbullah menandakan dirinya berperan besar dalam pergulatan perjuangan NU melawan penjajah. Pria yang masih keturunan dari Raja Barus (Sutan Ramali Pohan bin Sutan Sahi Alain) ini juga telah banyak terkontribusi baik bagi NU maupun negara. Jabatan sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Kerja III (1962-1963) menjadi satu komitmen khusus kesetiaannya kepada negara. Di akhir hayatnya (2 Maret 1963) ia tercatat sebagai Pahlawan Nasional dan penyandang penghargaan Mahaputera dari pemerintah.

2. KH. MASJKUR

Lahir di Singosari, Malang, 1315 H/30 Desember 1900 M. Masa mudanya banyak ia habiskan untuk merantau dari pesantren ke pesantren. Pengembaraannya dimulai dari Pesantren B**gkuk di Singosari, berlanjut ke Pondok Sono, Siwalanpanji, Tebuireng hingga berguru kepada Syaikhona Cholil Bangkalan.

Di masa-masa perjuangan revolusi pembebasan atas penjajahan, Kiai Masjkur aktif turut berjuang sebagai seorang pejuang. Tak ayal jabatan sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947) diamanahkan kepada dirinya. Dan di masa Mr. Amir Syarifuddin ia ditunjuk secara resmi untuk menjadi anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

Banyak perjuangan lain yang ia tunjukkan demi mengabdi pada negara. Bahkan dirinya juga tercatat pernah menjabat sebagai seorang Menteri Agama hingga 4 kabinet. Pada 19 Desember 1992 dirinya harus berp**ang ke Rahmatullah. Dan di waktu pemakaman itulah dirinya mendapat penghormatan secara militer, berkat jasa-jasanya yang besar terhadap negara.

3. KH. MUNASIR ALI

Dilahirkan di daerah Modopuro, Mojasari, Mojokerto pada 2 Maret 1919 dari seorang ayah bernama H. Ali yang merupakan seorang kepala desa yang dihormati di daerahnya. Selama perang kemerdekaan meletus Kiai Munasir aktif sebagai seorang pejuang dan berkarir di dunia kemiliteran.

Karirnya dimulai dengan mengikuti latihan kemiliteran prajurit Jepang dengan masuk sebagai anggota penerangan Heiho. Aktif sebagai pasukan Hizbullah dengan menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Dan ketika Hizbullah melebur ke dalam barisan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

Di akhir hayatnya pada 1 Januari 2002 pelbagai penghargaan pernah diberikan kepadanya mulai dari Satya Lentjana peristiwa Perang Kemerdekaan I dan II, Bintang Gerilya dan lain sebagainya.

4. KH. SULLAM SYAMSUN

Dia adalah satu-satunya penyandang pangkat tertinggi kemiliteran dari para tokoh NU yang pernah aktif di sana. KH. Sullam Syamsun begitulah nama lengkapnya dilahirkan di Malang 29 April 1922.

Pada masa karir keaktifannya di dunia kemiliteran pelbagai jabatan telah ia rengkuh mulai dari Komandan Kompi I merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan Keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pada tahun 1977 pensiun penuh dengan pangkat terakhir Brigadir Jenderal TNI.

5. KH. ISKANDAR SULAIMAN

Terlahir dari nasab keturunan bangsawan yang kaya raya. Iskandar Sulaiman tak menampakkan sedikitpun raut kepongahan. Justru ia dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.

Selepas perjalanannya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng, dengan kekayaannya digunakannya untuk memakmurkan masyarakat sekitar sekaligus memperkenalkan NU kepada masyarakat. Beberapa unit pendidikan seperti madrasah dan kegiatan penunjang lain turut didirikannya.

Namun, karirnya tidak hanya berhenti sebagai seorang pengajar saja. Di masa menjelang dan setelah masa kemerdekaan ia aktif di dunia kemiliteran. Semangat nasionalisme selalu terpancar dari sosoknya. Perjuangan itu terus ia lakukan hingga pangkat terakhir yang pernah ia raih sebagai seorang kolonel.

6. KH. HASYIM LATIEF

Dilahirkan di daerah Sumobito, Jombang pada 17 Mei 1928. Nama lengkapnya ialah Hasyim Latief, ia dikenal sebagai seorang tokoh Hizbullah. Awal karirnya di Hizbullah ia mulai di kala ia berstatus sebagai peserta pada pelatihan opsir Hizbullah di Cibarusa, Bogor (1945) Se-Jawa dan Madura.

Di saat Hizbullah Jombang didirikan, Kiai Hasyim Latief lansung menjabat sebagai seorang komandan latihan. Dan ketika kisaran tahun 1947 terjadi peleburan antara TNI dengan Hizbullah, ia masuk ke dalam resimen 293 dengan komandan Letkol KH. A. Wahib Wehab. Pangkat terakhimya yang ia panggul adalah Komandan Kompi I Yon Munasir. Sayang, perjuangannya harus terhenti pada Mei 2005, pada usia 77 tahun dirinya dipanggil Sang Khalik.

7. KH. ZAINAL MUSTOFA

Nama kecilnya adalah Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Nyonya Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna. Dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki banyak pengikut (baik dari kalangan santri dan masyarakat) sekaligus getol dalam menyemangatkan gerakan perlawanan terhadap penjajahan.

Ia selalu menyerang kebijakan politik kolonial Belanda yang kerap disampaikannya dalam ceramah dan khutbah-khutbahnya. Di masa penjajahan Jepang dirinya juga mengatur strategi perlawanan terhadap Jepang. Dengan semangat jihad membela kebenaran agama dan memperjuangkan bangsa, KH. Zaenal Mustafa merencanakan akan mengadakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Pebruari 1944 (1 Maulud 1363 H).

Ia juga turut serta mengomandoi perlawanan terhadap Jepang di Sukamanah Tasikmalaya. Namun sayang perjuangannya harus berakhir di balik jeruji besi. Pesantren yang didirikannya harus ditutup oleh Jepang. Dan atas jasa-jasa itulah kini KH. Zainal Mustofa diangkat sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 064/TK/Tahun 1972.

8. H. ABDUL MANAN WIJAYA

Namanya cukup melegenda di wilayah Kotatif Batu. Itu karena namanya telah dijadikan sebagai nama jalan, tepatnya Jl. Manan Wijaya, yang membentang di sepanjang daerah Pujon. Nama aslinya Rumpoko, lahir di Pujon pada 1910. Ayahnya seorang mandor jalan. Manan Wijaya adalah alumni Pesantren Tebuireng Jombang.

Ketika PETA dibentuk, ia langsung bergabung dengan kesatuan militer Jepang tersebut meski sebagai tentara aktif, namun sosok santri selalu tampak. Ia juga rutin berlangganan Suara NU dan Suara Ansor dari Surabaya.

Setelah menjadi pembicara dalam rapat akbar di Tebuireng (1967) dan menyebut “Hamid Roesdi itu Ketua Ansor” ia diMabeskan hingga pensiun.
Pensiun dengan pangkat terakhir Brigjen. Jenazah dimakamkan di Desa Sisir Kecamatan Batu, atas permintaan sendiri, karena tidak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

9. HAMID ROESDI

Nama Hamid Roesdi telah menjadi legenda pahlawan masyarakat Kota Malang, sama halnya nama B**g Tomo untuk masyarakat Surabaya. Bahkan nama Hamid Roesdi tidak hanya dijadikan sebagai nama jalan di pusat kota, tapi juga nama terminal di Kedungkandang. Patungnya juga dapat dilihat di Malang.

Lahir di Sumbermanjing Kulon (Pagak) Malang Selatan pada 1917. Ia putera ke empat H. Umar Roesdi.

Di masa penjajahan Jepang ia masuk pendidikan perwira Bo Ei Gyugun Kanku Kyokutai di Bogor, kemudian menjadi Cudancho PETA di Malang Syu Dai I Daidan (Dai I Cudan) yang berkedudukan di Glagah Aren Sumbermanjing.

Awal 1947 diangkat sebagai komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan sebagai Komandan Pertahanan Daerah Malang berkedudukan di Pandaan Pasuruan. Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair) ia menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo).

Menghadapi Clash II Belanda menjabat Komandan Sub Wherkreise I dan memimpin gerilya di daerah pendudukan Malang Timur dengan pangkat mayor. Pada 8 Maret 1949 ia gugur bersama pasukannya di daerah Wonokoyo, Kedungkandang pukul 03.00 dinihari.

Sumber: Majalah AULA Edisi November 2012, hal. 58-59.

*BERITA DUKA*________________________________Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barokatuh....انا لله وانا اليه راجعونKami...
16/07/2020

*BERITA DUKA*
________________________________

Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barokatuh....

انا لله وانا اليه راجعون

Kami Pengurus PP. ASSUNNIYAH KENCONG JEMBER menginformasikan bahwa pada malam ini :

Guru Kita *KH. MADAH ZAWAWI* (Adik KH. Jauhari Zawawi), Pengasuh PP. ASSUNNIYAH KENCONG JEMBER _telah wafat_

Semoga Amal beliau diterima disisi Allah SWT.

اللهم اغفر له و ارحمه و عافه واعف عنه
اللهم اجعل قبره روضة من رياض الجنان ...

Ttd

Pengurus PP. Assunniyah Kencong Jember

GP ANSOR Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia, yang ber...
15/07/2020

GP ANSOR

Gerakan Pemuda Ansor (disingkat GP Ansor) adalah sebuah organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia, yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada tanggal 24 April 1934. GP Ansor juga mengelola Barisan Ansor Serbaguna (Banser).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab (ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu), yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: Ketua H.M. Thohir Bakri; Wakil Ketua Abdullah Oebayd; Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam (tanggal 24 April itulah yang kemudian dikenal sebagai tanggal kelahiran Gerakan Pemuda Ansor).


https://m.youtube.com/watch?v=RsK5OrtzFHQ
15/07/2020

https://m.youtube.com/watch?v=RsK5OrtzFHQ

Bersama alm. Gus Dur, KH. Sahal Mahfudz, dan Dr. Fahmi Syaifuddin menghadap tokoh Wahabi di Saudi, Abdullah bin Baz. Mendengar penuturan Gus Mus tentang NU, ...

Address

Singaraja
81153

Telephone

+62895360009

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PAC GP ANSOR Seririt posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to PAC GP ANSOR Seririt:

Share