26/08/2026
"Kemuliaan Akhlak Ibnu 'Arabi Di Balik Kontroversi"
Ibnu 'Arabi dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165 M di Mursia, wilayah tenggara Andalusia (Spanyol). Ia dikenal sebagai keturunan Hatim ath-Tha’i, sosok legendaris Arab yang masyhur karena kedermawanan dan jiwa kesatrianya. Warisan akhlak luhur itu mengalir kuat dalam diri Ibnu ‘Arabi sejak kecil.
Sebagaimana dicatat Muhammad Ibnu Sahroji dalam artikelnya Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi dan Filosof Besar dari Spanyol, sejak awal kelahirannya telah tampak tanda-tanda keistimewaan pada diri Ibnu ‘Arabi. Ia lahir pada tanggal 17 Ramadhan, hari yang sama dengan turunnya wahyu pertama al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. Lebih dari itu, tahun kelahirannya juga bertepatan dengan wafatnya seorang wali besar, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Kebetulan sejarah ini membuat sebagian ulama dan pencari makrifat memandang kelahirannya sebagai isyarat akan hadirnya sosok agung dalam dunia spiritual Islam.
Prediksi itu terbukti. Ibnu ‘Arabi tumbuh menjadi ulama besar lintas disiplin. Dalam dunia tasawuf, ia dikenal dengan gelar Muhyiddin (penghidup agama) dan Syaikhul Akbar. Kedudukannya dalam khazanah keilmuan Islam sering disejajarkan dengan Imam al-Ghazali, meskipun keduanya memiliki corak pemikiran yang berbeda.
Jika al-Ghazali lebih banyak diterima dalam tradisi Sunni, maka Ibnu ‘Arabi justru melampaui sekat mazhab. Pemikirannya dipelajari dan dihargai oleh kalangan Sunni, Syi'ah, bahkan non-Muslim. Kompleksitas dan kedalaman ajarannya membuat Ibnu ‘Arabi menjadi tokoh universal dalam sejarah intelektual Islam.
Sepanjang hidupnya, Ibnu ‘Arabi mengabdikan diri pada ilmu, pengajaran, dan penulisan karya. Ia dikenal sangat produktif. Dua karya monumentalnya, Fushush al-Hikam dan al-Futuhat al-Makkiyah, menjadi rujukan utama dalam tasawuf falsafi. Khusus al-Futuhat al-Makkiyah, kitab ini merupakan ensiklopedia besar pemikiran sufistik yang sangat kompleks, mendalam, dan membutuhkan keluasan ilmu untuk memahaminya.
Namun, kedalaman itu p**a yang membuat Ibnu ‘Arabi kerap disalahpahami. Ajarannya —terutama konsep wahdatul wujud— sering dianggap menyimpang oleh sebagian kalangan. Tak sedikit yang melabelinya dengan tuduhan sesat, fasik, bahkan kafir. Hinaan dan cacian menjadi bagian dari hidupnya.
Ibnu ‘Imad al-Hanbali dalam Syadzarat adz-Dzahab fi Akhbar man Dzahab mengisahkan sebuah peristiwa yang mencerminkan kemuliaan akhlak Ibnu ‘Arabi. Dikisahkan, ada seorang pria dari Damaskus yang sangat membenci Ibnu ‘Arabi. Setiap hari, tanpa pernah absen, ia melafalkan sepuluh kalimat laknat kepada Syaikhul Akbar. Jika suatu hari ia lupa, maka keesokan harinya laknat itu ia gandakan.
Kebencian itu ia bawa hingga akhir hayatnya. Ketika pria tersebut wafat, kabar kematiannya sampai kepada Ibnu ‘Arabi. Alih-alih bersyukur atau merasa lega, Ibnu ‘Arabi justru bersedih. Ia segera mendatangi rumah duka untuk bertakziah.
Ibnu ‘Arabi duduk di sisi jenazah orang yang selama bertahun-tahun melaknatnya. Seharian penuh ia menemani jenazah itu, menghadap kiblat, berdzikir, dan berdoa. Ia tidak makan dan tidak minum hingga waktu Isya'. Para pelayat dan keluarga jenazah merasa heran atas sikap tersebut.
Ketika ditanya tentang apa yang ia lakukan, Ibnu ‘Arabi menjawab:
"Aku telah berjanji kepada Allah untuk tidak makan dan tidak minum sampai Allah mengampuni dosa orang yang melaknatku ini. Aku telah menghadiahkan baginya tujuh puluh ribu bacaan Lā ilāha illallāh, dan Allah pun mengampuninya."
Demikianlah kemuliaan akhlak Ibnu ‘Arabi. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, tidak membalas hinaan dengan dendam. Justru ia membalasnya dengan doa, kasih sayang, dan penghambaan yang tulus kepada Allah. Sebuah teladan luhur tentang bagaimana ilmu, tasawuf, dan akhlak berpadu dalam diri seorang wali besar. Wallāhu a'lam
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
_______
Download Aplikasi Pejalan Ruhani: https://pejalanruhani.com/app
iOS/Browser: https://pejalanruhani.com/
Semoga bermanfaat 🙏