Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rehabilitasi dan Konservasi Bhumi (Rekonvasi Bhumi), pembentukannya diawali oleh kegiatan "program pengenalan keanekaragaman hayati kepada masyarakat Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan sekitarnya" melalui tiga stasion radio. Program tersebut dilaksanakan selama empat puluh lima hari, dalam bentuk talk show interaktif, iklan layanan masyarakat, adlips, jingle d
an diskusi terbuka yang menghaslikan delapan butir kesepakatan bersama, yang ditanda tangani oleh Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Sekretaris Daerah Kabupaten Serang, Wakil dari masyarakat dan pengusaha serta lembaga swadaya masyarakat. Thema diskusi terbuka tersebut adalah Pelestarlan dan Kelestarian Rawa Danau" dan seluruh program didukung sepenuhnya oleh Yayasan Keanekaragaman hayati Indonesia (Kehati). Sejalan dengan pertambahan waktu dan perkembangan pengetahuan tentang pentingnya pengelolaan lingkungan hidup, disadari bahwa lingkungan hidup kita sedang dan sudah mengalami penurunan, baik secara kuantitas maupun kualitas yang diakibatkan oleh berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, oleh kebijakan pemerintah dalam menentukan konsep dan arah pelaksanaan pembangunan yang tidak ramah lingkugan, termasuk didalamnya prilaku dan mentalitas industri yang masih tidak menganggap penting dan perlunya pengelolaan lingkungan dalam proses produksinya
Persoalan pengelolaan lingkungan hidup, tidak saja disebabkan oleh faktor-faktor di atas, atau bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan polutan atau buangan sampah industri, melainkan juga persoalan yang mencakupdinamika kependudukan, pengembangan sumber daya alam dan energi, pertumbuhan ekonomi, pengembangan ilmu penegetahuan dan teknologi serta benturannya terhadaptata lingkungan. Oleh karena itu kermiskinan dan kemelaratan yang dialami masyarakat juga merupakan persoalan dan hambatan besar dalam upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup karena banyak anggota masyarakat yang terpaksa merusak hutan, merusaklingkungan hanya untuk mempertahankan hidup. Maka kami ingin mengajak berbagai lapisan masyarakat mulai dari petani sampai dengan pengusaha, terutama masyarakat industri serta pemerintah, untuk segera memulai menjadikan lingkungan hidup sebagai dasar pengambilan keputusan. pembangunan atau kita akan kembali menjadi miskin dan melarat, karena pembangunan yang dilakukan kehilangan daya dukung lingkungan. Karena kemudian kita semua harus menyediakan dan mengeluarkan investasi besar, untuk membangun fasilitas air bersih setelah aquifer kita tercemar, untuk berbagai penelitian dan teknologi pertanian setelah lahan lahan pertanian tidak lagi memiliki produktivitas setelah jenuh oleh berbagal pupuk dan pestisida kimia, sementara kekayaan laut kita mulai mengancam para pengkonsumsinya karena terkontaminasi limbah limbah organik. Pada akhirnya kita dihadapkan pada pillhan pillhan yang menyuiltkan, apakah membangun dan berkembang terus dengan resiko menghadapi kemungkinan menjadi punah atau berhenti ditempat diakibatkan oleh status quo karena tidak berkembang. Tetapi bila kita selami pilihan tersebut sampai keakar akarnya mungkin akan timbul perspektif pemikiran baru yang bisa dildikan solusi dari persoalan persoalan di atas.