09/05/2026
ASTAGA‼ INDONESIA REKOR TERTINGGI DUNIA UNTUK MAKANAN ULTRA PROSES PADA BALITA DAN ANAK ANAK, BERBAHAYA DAN MEMALUKAN‼
Apakah Indonesia sedang krisis pangan??!!
Indonesia kembali mencetak rekor. Sayangnya, kali ini bukan rekor yang membuat dada tegak. Bukan rekor anak-anak paling sehat, bukan rekor keluarga paling sadar gizi, bukan juga rekor pangan lokal paling kuat. Rekor ini justru datang dari bungkus jajanan, minuman manis, makanan instan, dan produk kemasan yang makin akrab dengan anak-anak kecil.
Laporan UNICEF tentang makanan ultra-proses pada anak mencatat bahwa anak usia 0–4 tahun di Indonesia mendapatkan sekitar 43 persen kalori harian dari makanan ultra-proses. Angka 38 persen yang beredar di media sosial memang sering dipakai, tetapi rujukan UNICEF menunjukkan angka yang bahkan lebih tinggi. Intinya tetap sama. Konsumsi makanan ultra-proses pada balita Indonesia sudah bukan sekadar kebiasaan ngemil, tapi sudah masuk wilayah yang mengkhawatirkan.
Makanan ultra-proses itu gampangnya adalah makanan yang sudah melewati banyak proses industri. Bentuknya bisa berupa biskuit manis, wafer, sereal manis, minuman kemasan, sosis, nugget, mi instan, keripik, makanan ringan warna-warni, sampai jajanan yang rasanya dibuat sangat gurih. Tidak semua makanan kemasan otomatis buruk, tapi banyak makanan ultra-proses dibuat dengan gula, garam, lemak, perasa, pewarna, pengawet, dan bahan tambahan lain supaya awet, murah, menarik, dan bikin ingin makan lagi.
Masalahnya, makanan seperti ini terlalu mudah menang dalam kehidupan sehari-hari. Ia murah, praktis, tinggal sobek bungkus, rasanya kuat, dan tersedia hampir di semua tempat. Di warung dekat rumah ada. Di minimarket ada. Di toko sekolah ada. Di iklan ada. Di media sosial juga ada. Sementara makanan segar butuh waktu, tenaga, dan seringkali biaya yang tidak selalu ringan. Jadi ketika makanan sehat kalah cepat dari makanan kemasan, itu bukan sekadar soal selera. Itu soal lingkungan pangan yang memang sedang berat sebelah.
Di sinilah ironinya mulai terasa. Indonesia sering bicara tentang generasi emas, tapi sebagian anak-anaknya sejak kecil justru dibiasakan dengan makanan yang lebih pintar menjual rasa daripada memberi gizi. Negara ingin anak tumbuh hebat, kuat, dan cerdas, tapi bahan bakarnya sering kali gula, garam, lemak, dan iklan lucu. Generasi emas kok sarapannya rasa cokelat buatan, camilannya gurih berlebihan, minumnya manis, lalu malamnya ditutup makanan instan. Hebat sekali, masa depan sedang disiapkan, tapi isi piringnya kadang seperti hasil rapat marketing.
Tentu masalah ini tidak bisa disederhanakan menjadi orang tua tidak peduli. Banyak keluarga hidup dalam tekanan yang nyata. Waktu terbatas, harga pangan naik-turun, pekerjaan menumpuk, anak susah makan, dan makanan praktis selalu tersedia sebagai jalan pintas. Ketika satu bungkus jajanan bisa membuat anak tenang, sementara memasak makanan bergizi butuh belanja, mengolah, dan membujuk anak makan, pilihan sehari-hari jadi tidak selalu ideal. Masalahnya bukan hanya di dapur rumah, tapi juga di sistem yang membuat makanan tidak sehat jauh lebih mudah dijangkau.
Harga juga punya peran besar. Masyarakat sering diminta memberi anak makanan bergizi, tapi telur, ikan, ayam, buah, dan sayur tidak selalu murah bagi semua keluarga. Di sisi lain, makanan ringan kemasan bisa dibeli dengan uang receh, tampilannya menarik, dan rasanya langsung disukai. Maka jangan heran kalau makanan ultra-proses lebih cepat masuk ke tas anak daripada buah potong atau bekal rumahan. Saran makan sehat memang bagus, tapi akan terasa seperti ceramah kosong kalau akses dan harga tidak ikut dibenahi.
Dampaknya tidak bisa dianggap ringan. UNICEF Indonesia menyebut kelebihan berat badan dan obesitas sudah menjadi masalah kesehatan yang makin menekan, berdampingan dengan masalah lama seperti kekurangan gizi dan kekurangan zat gizi mikro. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, stroke, beberapa jenis kanker, dan masalah psikososial. Jadi ini bukan sekadar anak terlihat gemuk lalu dianggap lucu. Ini soal tubuh yang sejak dini bisa membawa beban kesehatan jangka panjang.
Data UNICEF Indonesia juga menunjukkan bahwa pada 2023, kelebihan berat badan dan obesitas mempengaruhi sekitar 1 dari 5 anak usia sekolah, 1 dari 7 remaja, dan 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia. Artinya, masalah ini bukan muncul tiba-tiba ketika seseorang dewasa. Polanya bisa mulai jauh lebih awal, dari kebiasaan makan di rumah, jajanan di sekolah, minuman manis, camilan harian, dan lingkungan yang terus memudahkan konsumsi makanan rendah gizi.
Yang sering luput dibahas adalah pembentukan selera sejak kecil. Anak yang terlalu sering dikenalkan pada rasa sangat manis, sangat asin, dan sangat gurih akan menganggap rasa seperti itu sebagai standar. Setelah itu, makanan rumahan bisa terasa hambar. Sayur kalah menarik. Air putih terasa membosankan. Buah kalah oleh minuman kemasan. Padahal yang sedang terjadi bukan makanan sehatnya tidak enak, tapi lidah sudah terlalu sering diajak berpesta oleh rasa buatan.
Sekolah juga tidak boleh lepas tangan. Anak bisa belajar pentingnya gizi di kelas, tapi begitu keluar kelas langsung bertemu jajanan tinggi gula, garam, dan lemak. UNICEF dalam panduan lingkungan gizi sekolah menyoroti bahwa banyak sekolah masih menjadi tempat anak terpapar makanan ultra-proses tinggi lemak, garam, dan gula, sementara aturan penjualan dan pemasarannya masih terbatas. Ini lucu sekaligus menyedihkan. Di papan tulis diajarkan hidup sehat, di luar kelas anak disambut minuman warna-warni. Pelajarannya kalah sebelum bel pulang berbunyi.
Belum lagi dunia digital. Sebuah studi tahun 2025 tentang promosi makanan dan minuman tidak sehat kepada anak Indonesia di media sosial menemukan bahwa dari 20 merek yang dianalisis, 85 persen mempromosikan setidaknya satu produk yang tidak layak dipasarkan kepada anak menurut model profil gizi WHO Asia Tenggara. Iklan bukan lagi hanya di televisi. Ia hadir di layar ponsel, masuk lewat konten, promo, visual ceria, dan strategi yang membuat produk terasa dekat dengan dunia anak.
Di titik ini, menyuruh orang tua lebih bijak saja jelas tidak cukup. Orang tua diminta kuat menahan anak dari jajanan, sementara industri punya iklan, kemasan, promo, distribusi, dan desain rasa yang dibuat untuk menang. Ini seperti menyuruh keluarga menjaga benteng kecil, sementara dari luar datang pasukan lengkap dengan spanduk warna-warni. Kalau negara hanya memberi imbauan, lalu membiarkan pemasaran makanan tidak sehat terus mengepung anak, maka yang terjadi bukan edukasi gizi, tapi lomba bertahan hidup melawan strategi dagang.
Karena itu, kebijakan harus lebih berani. Label gizi di bagian depan kemasan perlu dibuat jelas, besar, dan mudah dipahami. Bukan tulisan kecil yang membuat orang tua harus membaca seperti sedang ujian mata. Produk tinggi gula, garam, dan lemak harus diberi tanda yang terang. Iklan makanan tidak sehat untuk anak perlu dibatasi. Penjualan makanan ultra-proses di sekolah juga harus diatur lebih serius. UNICEF menekankan bahwa kebijakan seperti pelabelan depan kemasan, pembatasan pemasaran, dan standar pangan sekolah adalah langkah yang sudah terbukti dapat membantu menekan konsumsi makanan ultra-proses.
Pemerintah juga perlu melihat ini sebagai masalah ekonomi masa depan, bukan sekadar urusan bekal anak. Biaya kesehatan akibat obesitas dan penyakit turunannya bisa menjadi beban besar. UNICEF mencatat bahwa beberapa kebijakan pencegahan seperti cukai untuk produk tinggi gula, garam, dan lemak, label gizi depan kemasan, serta pembatasan pemasaran makanan tidak sehat termasuk langkah yang penting untuk memperkuat pencegahan. Kalau sejak awal pencegahan diabaikan, tagihan akhirnya akan muncul dalam bentuk biaya berobat, produktivitas turun, dan generasi yang tumbuh dengan masalah kesehatan.
Di tingkat keluarga, perubahan tidak harus ekstrem. Tidak perlu semua makanan kemasan langsung dimusuhi. Yang perlu diubah adalah posisinya. Jangan sampai makanan kemasan menjadi menu utama harian, pengganti makan besar, atau solusi otomatis setiap anak rewel. Langkah kecil bisa dimulai dari membiasakan air putih, mengurangi minuman manis, menyediakan buah lokal, memperbanyak lauk sederhana seperti telur, tempe, tahu, ikan, dan membatasi camilan kemasan secara pelan-pelan.
Saran ini memang terdengar sederhana, tapi justru di situ letak masuk akalnya. Tidak semua keluarga bisa langsung menyusun menu sempurna. Tidak semua rumah punya waktu panjang untuk memasak. Maka yang dibutuhkan bukan gaya hidup sehat yang mahal dan rumit, melainkan kebiasaan kecil yang bisa dilakukan berulang. Makanan bergizi tidak harus selalu mewah. Tempe, tahu, telur, ikan pindang, sayur bening, pisang, pepaya, ubi, dan kacang hijau tetap jauh lebih masuk akal daripada menjadikan makanan ultra-proses sebagai andalan harian.
Sekolah bisa ikut membantu dengan membuat kantin lebih sehat, membatasi minuman manis, dan memberi ruang lebih besar untuk makanan lokal. Pemerintah daerah bisa ikut memastikan pangan bergizi lebih mudah dijangkau. Produsen juga perlu didorong untuk lebih bertanggung jawab, bukan hanya berlomba membuat rasa paling nagih dan kemasan paling lucu. Kalau semua pihak hanya menyalahkan keluarga, masalahnya akan berputar di tempat yang sama. Orang tua disuruh sadar, anak tetap dikepung jajanan.
Indonesia sebenarnya tidak miskin pangan. Negeri ini punya beras, ikan, telur, sayur, buah, umbi, kacang-kacangan, tempe, tahu, dan banyak makanan lokal yang bisa menjadi kekuatan. Masalahnya, makanan lokal sering kalah promosi. Ia tidak punya iklan semeriah minuman manis. Tidak punya karakter kartun di bungkus. Tidak punya hadiah kecil di kemasan. Padahal tubuh anak tidak butuh maskot lucu. Tubuh anak butuh gizi yang benar.
Rekor ini seharusnya menjadi alarm keras. Bukan untuk membuat keluarga merasa bersalah setiap kali membeli makanan kemasan, tapi untuk menyadarkan bahwa anak-anak sedang tumbuh di tengah lingkungan pangan yang tidak netral. Mereka diarahkan, dibujuk, dan dibiasakan oleh sistem yang sangat mengerti cara menjual rasa. Kalau dibiarkan, yang terbentuk bukan hanya kebiasaan makan buruk, tapi juga beban kesehatan panjang yang harus ditanggung generasi berikutnya.
Indonesia boleh bangga mengejar banyak target besar. Tapi target besar itu akan terdengar ganjil kalau anak-anak kecil sejak dini lebih akrab dengan gula, garam, lemak, dan makanan instan daripada makanan asli. Generasi emas tidak cukup dibangun dengan pidato, slogan, dan program besar. Generasi emas juga dibentuk dari isi piring, isi bekal, isi kantin, dan isi rak makanan yang mereka lihat setiap hari.
Jadi, kalau ada rekor yang harus segera dihentikan, ini salah satunya. Indonesia tidak perlu bangga menjadi negara dengan anak-anak yang sangat tinggi mengonsumsi makanan ultra-proses. Karena ini bukan piala. Ini tanda bahaya. Dan seperti biasa, tanda bahaya yang diabaikan hari ini biasanya berubah menjadi tagihan mahal di masa depan.
---
(Dari berbagai sumber)