Doa Anak Yatim

Directions Website Contact the organization

Doa Anak Yatim Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Doa Anak Yatim, Charitable organisation, Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk, Semarang.

🤲🏻 Doa Mereka Tulus, Amalanmu Tak Akan Putus
📌 Part of
Program titip Doa anak yatim yang membantu menyelesaikan permasalahan hidup bagi mereka yang mengulurkan tangan untuk anak-anak yatim
🔗Langkah kecil kita dimulai dari sini👇🏻

Dari satu es yang terjual, Sri dan Dhapini hanya mendapat keuntungan sekitar Rp200. Uang sekecil itu mereka kumpulkan se...
22/10/2026

Dari satu es yang terjual, Sri dan Dhapini hanya mendapat keuntungan sekitar Rp200. Uang sekecil itu mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, bukan untuk jajan, melainkan membantu nenek memenuhi kebutuhan makan dan mencicil utang warung sekitar Rp600 ribu.

Kakak beradik kembar ini sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Ayah mereka lebih dulu meninggal dunia, disusul sang ibu setahun kemudian akibat sakit. Kini, sepulang sekolah, keduanya berjualan es dan buah limus hingga sore untuk membantu nenek yang merawat mereka.

Di tengah keadaan yang serba terbatas, Sri dan Dhapini masih punya keinginan sederhana. Mereka berharap suatu hari bisa punya modal untuk berjualan es sendiri, melunasi utang, dan tetap melanjutkan sekolah.

Menariknya, ketika ditanya soal cita-cita, keduanya justru ingin menjadi guru ngaji. Di tengah kesibukan mencari uang sepulang sekolah, mereka masih menyimpan harapan untuk bisa mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain.

Semoga Sri dan Dhapini selalu diberi kesehatan, kemudahan rezeki, dan kesempatan untuk meraih cita-citanya. Aamiin. ❤️

Unggahan ini bukan penggalangan donasi. Kami membagikan kisah Sri dan Dhapini sebagai bentuk kepedulian terhadap perjuangan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Kami juga belum mengetahui alamat maupun kondisi terbaru Sri dan Dhapini secara langsung, sehingga Informasi dalam unggahan ini merujuk pada video dan keterangan dari sumber yang beredar
sumber:tt/penderma.id

PART 2 | SETELAH 5 TAHUN LEBIH, AKHIRNYA KAMI MENYERAH JUGA. 🥺💔Lebih dari lima tahun, Yayasan Al-Fatihah berusaha member...
20/10/2026

PART 2 | SETELAH 5 TAHUN LEBIH, AKHIRNYA KAMI MENYERAH JUGA. 🥺💔

Lebih dari lima tahun, Yayasan Al-Fatihah berusaha membersamai anak-anak yatim melalui berbagai program santunan. Lebih dari 1.600 anak telah menerima bantuan, dengan total penyaluran lebih dari Rp5 miliar sejak tahun 2020.

Namun, perjalanan panjang ini bukan berarti tanpa kekurangan. Kritik dan masukan yang kami terima menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang perlu kami perbaiki, terutama demi kenyamanan dan kebutuhan anak-anak yatim beserta keluarganya.

Di tengah kondisi penghimpunan donasi yang semakin berat, kami harus mengambil keputusan untuk mengurangi program santunan secara signifikan di Kota Semarang dan mengalihkan sebagian fokus bantuan ke daerah yang lebih membutuhkan.

Maafkan kami, anak-anak. Bukan karena kami tak ingin lagi membersamai kalian, tetapi karena kemampuan kami juga memiliki batas.😭💔

Meski begitu, kami belum ingin menyerah sepenuhnya. Insyaallah, kami akan terus berikhtiar semampu kami hingga akhir tahun 2026.

Terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, dan pihak yang telah membersamai perjalanan ini.

Mohon doanya, semoga Allah masih memberikan jalan agar kebaikan ini terus berlanjut. 🤲💜

SETELAH 5 TAHUN LEBIH, AKHIRNYA KAMI MENYERAH JUGA. 🥺💔Lebih dari lima tahun, Yayasan Al-Fatihah berusaha membersamai ana...
20/10/2026

SETELAH 5 TAHUN LEBIH, AKHIRNYA KAMI MENYERAH JUGA. 🥺💔

Lebih dari lima tahun, Yayasan Al-Fatihah berusaha membersamai anak-anak yatim melalui berbagai program santunan. Lebih dari 1.600 anak telah menerima bantuan, dengan total penyaluran lebih dari Rp5 miliar sejak tahun 2020.

Namun, perjalanan panjang ini bukan berarti tanpa kekurangan. Kritik dan masukan yang kami terima menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang perlu kami perbaiki, terutama demi kenyamanan dan kebutuhan anak-anak yatim beserta keluarganya.

Di tengah kondisi penghimpunan donasi yang semakin berat, kami harus mengambil keputusan untuk mengurangi program santunan secara signifikan di Kota Semarang dan mengalihkan sebagian fokus bantuan ke daerah yang lebih membutuhkan.

Maafkan kami, anak-anak. Bukan karena kami tak ingin lagi membersamai kalian, tetapi karena kemampuan kami juga memiliki batas.😭💔

Meski begitu, kami belum ingin menyerah sepenuhnya. Insyaallah, kami akan terus berikhtiar semampu kami hingga akhir tahun 2026.

Terima kasih kepada seluruh donatur, relawan, dan pihak yang telah membersamai perjalanan ini.

Mohon doanya, semoga Allah masih memberikan jalan agar kebaikan ini terus berlanjut. 🤲💜

Bagi Farabi, uang Rp10.000 bukan untuk membeli jajanan sepulang sekolah. Uang itu harus ia pikirkan baik-baik, apakah ak...
20/10/2026

Bagi Farabi, uang Rp10.000 bukan untuk membeli jajanan sepulang sekolah. Uang itu harus ia pikirkan baik-baik, apakah akan digunakan untuk makan atau disimpan agar bisa membeli obat.

Muhammad Zidna Azka Al Farabi, bocah 11 tahun yang masih duduk di kelas 5 SD, harus berkeliling sejauh sekitar 6 kilometer untuk menjajakan kerupuk dan keripik singkong milik orang lain. Dari perjalanan sejauh itu, ia hanya membawa pulang upah sekitar Rp5.000–Rp10.000 sehari.

Padahal, Farabi sendiri sedang berjuang melawan infeksi saluran kemih (ISK). Obat dari dokter yang harus ia beli seharga Rp50.000, sementara penghasilannya sehari bahkan belum mencapai setengah dari harga tersebut.

Dulu, ada ayah yang membawanya berobat. Namun, sejak sang ayah meninggal akibat serangan jantung mendadak sekitar sebulan lalu, Farabi harus menghadapi banyak hal tanpa kehadirannya. Sang ibu pun sudah lama tak ada kabar, membuat Farabi kini tinggal seorang diri di rumah peninggalan orang tuanya.

Di sekolah, Farabi hanya memiliki satu buku, pensil yang tinggal setengah, dan sepatu yang mulai lusuh. Bahkan untuk makan, terkadang ia hanya mengandalkan mi instan atau kerupuk karena tak ada beras di rumah.

Di usia ketika anak-anak lain masih bergantung pada orang tuanya, Farabi justru harus memikirkan bagaimana caranya bisa makan, tetap sekolah, sekaligus membeli obat untuk dirinya sendiri.

Unggahan ini bukan penggalangan donasi. Kami membagikan kisah Farabi sebagai bentuk kepedulian terhadap perjuangan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Kami juga belum mengetahui alamat maupun kondisi terbaru Farabi secara langsung, sehingga Informasi dalam unggahan ini merujuk pada video dan keterangan dari sumber yang beredar
sumber: donasi online

Keinginan Azzahra untuk terus bersekolah ternyata harus dibayar dengan sebuah pengorbanan. Anak yatim yang kini duduk di...
19/10/2026

Keinginan Azzahra untuk terus bersekolah ternyata harus dibayar dengan sebuah pengorbanan. Anak yatim yang kini duduk di kelas 1 SMP ini terpaksa merelakan HP miliknya dijual hanya untuk membayar buku sekolah yang dibutuhkan selama belajar.

Sejak kehilangan sosok ayah, kehidupan Azzahra dan kedua saudaranya hanya bergantung pada sang ibu yang berjuang seorang diri menghidupi ketiga anaknya.

Setiap hari, ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Demi mendapatkan penghasilan, sang ibu harus mengayuh sepeda selama kurang lebih 1,5 jam menuju tempat kerja.

Azzahra dan keluarganya pun tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Di tengah kondisi tempat tinggal yang seadanya, mereka masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kerja keras sang ibu belum selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, mereka pernah berada dalam kondisi tidak memiliki uang untuk membeli beras. 💔😭

Di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, Azzahra juga harus menghadapi kenyataan bahwa untuk mendapatkan buku sekolah saja, ia harus merelakan barang miliknya.

Di usia yang seharusnya bisa menikmati masa remaja, Azzahra justru harus belajar berkorban demi pendidikan yang ingin terus ia perjuangkan.

Meski telah kehilangan ayah dan hidup dalam keterbatasan, Azzahra tetap memiliki harapan untuk terus bersekolah dan mengejar cita-citanya.

HP miliknya mungkin sudah terjual untuk membayar buku sekolah. Namun, bagaimana dengan kebutuhan pendidikan Azzahra di hari-hari berikutnya?

Perjuangan Azzahra untuk tetap sekolah masih panjang. Yuk, ambil bagian dalam membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim binaan Yayasan Alfatihah. ❤️

Keinginan Azzahra untuk terus bersekolah ternyata harus dibayar dengan sebuah pengorbanan. Anak yatim yang kini duduk di...
19/10/2026

Keinginan Azzahra untuk terus bersekolah ternyata harus dibayar dengan sebuah pengorbanan. Anak yatim yang kini duduk di kelas 1 SMP ini terpaksa merelakan HP miliknya dijual hanya untuk membayar buku sekolah yang dibutuhkan selama belajar.

Sejak kehilangan sosok ayah, kehidupan Azzahra dan kedua saudaranya hanya bergantung pada sang ibu yang berjuang seorang diri menghidupi ketiga anaknya.

Setiap hari, ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Demi mendapatkan penghasilan, sang ibu harus mengayuh sepeda selama kurang lebih 1,5 jam menuju tempat kerja.

Azzahra dan keluarganya pun tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Di tengah kondisi tempat tinggal yang seadanya, mereka masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kerja keras sang ibu belum selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, mereka pernah berada dalam kondisi tidak memiliki uang untuk membeli beras. 💔😭

Di tengah sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari, Azzahra juga harus menghadapi kenyataan bahwa untuk mendapatkan buku sekolah saja, ia harus merelakan barang miliknya.

Di usia yang seharusnya bisa menikmati masa remaja, Azzahra justru harus belajar berkorban demi pendidikan yang ingin terus ia perjuangkan.

Meski telah kehilangan ayah dan hidup dalam keterbatasan, Azzahra tetap memiliki harapan untuk terus bersekolah dan mengejar cita-citanya.

HP miliknya mungkin sudah terjual untuk membayar buku sekolah. Namun, bagaimana dengan kebutuhan pendidikan Azzahra di hari-hari berikutnya?

Perjuangan Azzahra untuk tetap sekolah masih panjang. Yuk, ambil bagian dalam membantu kebutuhan pendidikan anak-anak yatim binaan Yayasan Alfatihah. ❤️

Belum selesai merasakan kehilangan seorang ibu, Imel kembali harus menerima kenyataan pahit. Pada Februari 2026, ayahnya...
14/10/2026

Belum selesai merasakan kehilangan seorang ibu, Imel kembali harus menerima kenyataan pahit. Pada Februari 2026, ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Kini, remaja yang masih duduk di bangku kelas 1 SMK itu harus menjalani hidup tanpa kedua orang tuanya.

Sejak sang ibu meninggal pada 2021, Imel sudah tinggal bersama pamannya. Di usia yang seharusnya masih bisa merasakan kasih sayang dan perhatian orang tua, Imel justru harus tumbuh tanpa kehadiran ayah dan ibu di sisinya.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah dan pribadinya, Imel berusaha mencari penghasilan sendiri dengan membuat buket bunga dan gantungan kunci. Gantungan kunci buatannya dijual seharga Rp5.000, sementara buket mulai dari Rp25.000. Namun, pesanan tidak selalu datang. Terkadang usahanya hanya ramai saat musim wisuda.

Kesedihan Imel tak berhenti di situ. Meski sudah mendapat sedikit tanah pemberian keluarga untuk tempat tinggal, kondisi bangunannya masih jauh dari kata layak. Atapnya bocor, belum ada kamar untuk beristirahat dengan nyaman, bahkan untuk mendapatkan air wudu pun masih menjadi kesulitan.

Di tengah beratnya keadaan, Imel tetap berusaha menjaga hafalan Al-Qur'annya. Sepulang sekolah, ia masih mengikuti kegiatan mengaji di pondok hingga pukul 10 malam. Meski kehilangan kedua orang tua dan hidup dalam keterbatasan, Imel tetap berjuang agar pendidikan dan hafalan Al-Qur'annya tidak terhenti.

Imel mungkin tak bisa lagi merasakan pelukan ayah dan ibunya. Namun, ia masih menyimpan harapan untuk memiliki tempat tinggal yang layak, menyelesaikan pendidikan, dan terus menjaga ayat-ayat Al-Qur'an yang telah dihafalnya.

Unggahan ini bukan penggalangan donasi. Kami membagikan kisah Imel sebagai bentuk kepedulian terhadap perjuangan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Kami juga belum mengetahui alamat maupun kondisi terbaru Imel secara langsung, sehingga Informasi dalam unggahan ini merujuk pada video dan keterangan dari sumber yang beredar
sumber:yt/bangbewok

Bayangkan, di usia yang baru 5 tahun, Aura harus menghadapi kenyataan yang bahkan begitu berat untuk diterima orang dewa...
13/10/2026

Bayangkan, di usia yang baru 5 tahun, Aura harus menghadapi kenyataan yang bahkan begitu berat untuk diterima orang dewasa.

Di rumahnya sendiri, Aura menjadi orang pertama yang menemukan sang ibu sudah tidak bernyawa.

Sejak hari itu, Aura dan adiknya, Almira, harus tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu. Padahal saat itu, Almira bahkan baru berusia 2,5 tahun.

Di usia ketika anak-anak lain masih bisa bermanja, dipeluk, dan menghabiskan waktu bersama ibunya, keduanya justru harus menerima kenyataan bahwa sosok yang begitu mereka sayangi telah pergi untuk selamanya.

Bertahun-tahun berlalu, saat tim Yayasan Alfatihah datang menemui mereka, Aura dan Almira justru menyambut dengan penuh keceriaan.

Senyum dan tingkah polos keduanya membuat siapa pun mungkin tak menyangka bahwa mereka pernah mengalami kehilangan yang begitu besar di usia yang masih sangat kecil.

Entah seberapa banyak Aura mengingat kejadian itu. Namun, membayangkan seorang anak berusia 5 tahun harus menemukan ibunya dalam kondisi tersebut saja sudah terasa begitu menyakitkan.

Di balik perjalanan hidupnya yang tidak mudah, Aura ternyata masih menyimpan mimpi yang begitu indah.

Kini Aura duduk di kelas 2 SD dan bercita-cita menjadi seorang guru. Sementara adiknya, Almira, masih duduk di bangku TK. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang ceria dan punya semangat tinggi untuk belajar.

Aura mungkin tak bisa mengulang masa kecil bersama ibunya. Namun, ia masih punya perjalanan panjang untuk mengejar cita-citanya.

Sosok ibu memang tak bisa kembali. Tapi mimpi Aura dan Almira masih bisa kita jaga bersama.

Teman baik, Aura dan Almira merupakan anak binaan Yayasan Alfatihah. Yuk, ikut hadirkan kesempatan pendidikan dan masa depan yang lebih baik bagi mereka serta anak-anak yatim lainnya melalui donasi terbaikmu. Sahabat dapat berdonasi melalui link di bio atau menghubungi kami melalui DM. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi jalan hadirnya harapan baru bagi mereka.🤍

Di rumah, ada dua anak kecil yang selalu menunggu kakaknya pulang. Bukan membawa mainan atau jajanan, melainkan berharap...
12/10/2026

Di rumah, ada dua anak kecil yang selalu menunggu kakaknya pulang. Bukan membawa mainan atau jajanan, melainkan berharap ada makanan yang bisa mereka makan hari itu.

Kakak itu bernama Dika (13). Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu dan ibunya pergi merantau tanpa kabar maupun kiriman uang, Dika terpaksa menjadi tumpuan hidup kedua adiknya, Alfan (5) dan Sania (3), serta Nenek Paini (63) yang sudah sakit-sakitan dan tak mampu bekerja.

Sepulang sekolah, Dika harus menyewa perahu menuju hutan bakau untuk mencari daun nipah. Bahkan, ia harus menyelam di sungai yang menurutnya banyak ular, meski sebenarnya ia sangat ketakutan.

"Sebenernya aku takut bang. Banyak ular di sana. Tapi aku harus berani demi adek dan nenek di rumah. Mereka nungguin aku biar bisa makan," ungkapnya.

Daun nipah itu harus dijemur selama dua hari sebelum diolah menjadi sapu lidi. Dari hasil penjualan, Dika hanya mendapat Rp20.000–Rp30.000. Setelah dipotong biaya sewa perahu, uang yang dibawanya pulang tinggal Rp10.000–Rp20.000 setiap dua hari sekali.

Dengan penghasilan sekecil itu, Dika dan keluarganya sering kali hanya bisa makan mi instan. Padahal, ia begitu ingin memberikan makanan yang lebih layak untuk kedua adiknya.

Belum lagi utang warung sebesar Rp1 juta yang kini ditagih, serta kebutuhan seragam sekolah Rp350 ribu yang belum mampu dibayar. Bahkan, celana sekolah yang Dika kenakan hanyalah pemberian orang lain yang sudah tipis dan robek.

Namun, yang paling menyakitkan baginya bukanlah rasa takut saat mencari nafkah, melainkan ketika Alfan dan Sania meminta makan, sementara tak ada uang sedikit pun di tangannya.

Dika hanya ingin kedua adiknya bisa makan dengan layak dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, di usianya yang baru 13 tahun, perjuangan itu terlalu berat jika harus ia tanggung sendirian.

Unggahan ini bukan penggalangan donasi. Kami membagikan kisah Dika sebagai bentuk kepedulian terhadap perjuangan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Kami juga belum mengetahui alamat maupun kondisi terbaru Dika secara langsung, sehingga Informasi dalam unggahan ini merujuk pada video dan keterangan dari sumber yang beredar
sumber:donasionline

Bukan karena tidak ingin belajar, Reyal berhenti sekolah karena perlakuan teman-temannya yang membuat ia takut untuk kem...
10/10/2026

Bukan karena tidak ingin belajar, Reyal berhenti sekolah karena perlakuan teman-temannya yang membuat ia takut untuk kembali.

Di usianya yang baru 12 tahun, Reyal harus menghadapi kenyataan yang tidak mudah. Ia memiliki keterbatasan penglihatan dan pernah menjadi korban perundungan saat masih bersekolah. Kondisi matanya yang berbeda justru menjadi bahan ejekan teman-temannya, hingga pengalaman tersebut meninggalkan trauma dan membuatnya tidak lagi bersekolah.

Sejak sang ayah meninggal dunia, Reyal tinggal bersama kakeknya yang kini sedang sakit. Di tengah keterbatasan penglihatannya, Reyal justru memilih berkeliling menjajakan es mambo untuk mendapatkan uang.

Sebenarnya, sang kakek sudah melarang Reyal berjualan keliling karena mengkhawatirkan kondisinya. Namun, Reyal tetap ingin berusaha. Uang hasil jualannya ia gunakan untuk membeli kebutuhan jajannya sendiri sekaligus membantu keluarganya.

Perjuangan Reyal tidak berhenti di situ. Rumah yang ia tinggali bersama kakeknya pun jauh dari kondisi layak. Beberapa bagian bangunan sudah rusak, bahkan atapnya berlubang dan kerap bocor ketika hujan turun.

Di balik kesehariannya berjualan es mambo, Reyal masih menyimpan harapan yang belum terwujud. Ia ingin bisa kembali bersekolah tanpa harus takut diejek, dan berharap suatu hari penglihatannya bisa membaik.

Reyal tidak seharusnya kehilangan kesempatan belajar hanya karena kondisi yang tidak pernah ia pilih. Di usia 12 tahun, ia masih punya banyak mimpi yang ingin diperjuangkan.

Unggahan ini bukan penggalangan donasi. Kami membagikan kisah Reyal sebagai bentuk kepedulian terhadap perjuangan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan. Kami juga belum mengetahui alamat maupun kondisi terbaru Reyal secara langsung, sehingga Informasi dalam unggahan ini merujuk pada video dan keterangan dari sumber yang beredar
sumber:temenbaikcom

Address

Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk
Semarang
50115

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Doa Anak Yatim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Doa Anak Yatim:

Shortcuts

Share