Doa Anak Yatim

Doa Anak Yatim Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Doa Anak Yatim, Charitable organisation, Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk, Semarang.

🤲🏻 Doa Mereka Tulus, Amalanmu Tak Akan Putus
📌 Part of
Program titip Doa anak yatim yang membantu menyelesaikan permasalahan hidup bagi mereka yang mengulurkan tangan untuk anak-anak yatim
🔗Langkah kecil kita dimulai dari sini👇🏻

Senin, 13 Juli 2026, sebuah kecelakaan maut terjadi di jalur turunan Gronggong, Jalan Raya Cirebon–Kuningan, tepatnya di...
15/07/2026

Senin, 13 Juli 2026, sebuah kecelakaan maut terjadi di jalur turunan Gronggong, Jalan Raya Cirebon–Kuningan, tepatnya di Desa Ciperna, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Sebuah truk pengangkut air mineral yang diduga mengalami rem blong kehilangan kendali, masuk ke jalur berlawanan, lalu menabrak sejumlah sepeda motor dan sebuah warung di pinggir jalan.

Di antara para korban, ada seorang siswi kelas VI SDN Guntur Kota Cirebon bernama Lovanya Evelyn Kautsar. Ia selamat, namun mengalami luka berat dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD Gunung Jati. Lovanya harus menjalani operasi, bahkan menghadapi kemungkinan amputasi pada kaki kanannya akibat luka yang dideritanya.

Namun luka fisik bukanlah satu-satunya ujian yang harus dihadapi. Dalam kecelakaan tersebut, ayahnya, Enggar A. Kautsar, ibunya, Neneng Intan Permatasari, dan adik perempuannya yang baru berusia tujuh bulan meninggal dunia. Kini, Lovanya harus menjalani hidup sebagai seorang yatim piatu.

Yang membuat kisah ini semakin mengiris hati, hingga saat ini Lovanya dikabarkan masih belum mengetahui bahwa ayah, ibu, dan adik tercintanya telah berp**ang. Di tengah perjuangannya melawan rasa sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit, ia belum menyadari bahwa orang-orang yang selama ini menjadi tempatnya p**ang telah tiada.

Guru SDN Guntur, Siti Wasilah, yang menjenguk Lovanya di rumah sakit menceritakan bahwa kondisi muridnya saat itu belum sepenuhnya sadar. Ia mengaku syok melihat luka-luka yang dialami Lovanya. "Saya lihat luka di kaki kanan, tangan kanan. Saya sendiri shock, nggak bisa berkata-kata," ungkapnya. Siti juga menyampaikan harapannya agar Lovanya diberi kekuatan untuk menghadapi kenyataan pahit, baik dalam proses pemulihan setelah operasi maupun saat nanti mengetahui bahwa kedua orang tua dan adiknya telah tiada.

Mungkin luka di tubuhnya akan berangsur sembuh. Namun kehilangan ayah, ibu, dan adik dalam satu hari adalah luka yang tak mudah dipulihkan. Di usia yang masih belia, Dek Lovanya harus memulai lembaran hidup yang sama sekali berbeda.

Mari kita panjatkan doa terbaik untuk Dek Lovanya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan, kesabaran, dan kesembuhan untuknya. Semoga Allah juga mengampuni dosa-dosa ayah, ibu, dan adiknya, melapangkan kubur mereka, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

sumber:tt/tribuncirebon
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Seratus hari sudah berlalu sejak ayah Sukma meninggal dunia. Namun, duka itu belum sempat benar-benar reda karena hidup ...
14/07/2026

Seratus hari sudah berlalu sejak ayah Sukma meninggal dunia. Namun, duka itu belum sempat benar-benar reda karena hidup terus memaksanya untuk kuat. Di usianya yang baru 16 tahun, Sukma kini menjadi sosok yang ikut menopang keluarganya. Bersama sang ibu dan adiknya, Jasmine, mereka bertiga berjuang menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan.

Rumah yang mereka tempati saat ini pun bukan milik sendiri, melainkan rumah sederhana milik pemerintah desa. Sebelumnya, mereka sudah bertahun-tahun hidup berpindah dari satu rumah kontrakan ke kontrakan lainnya karena belum memiliki tempat tinggal sendiri. Di rumah itu, tak ada kemewahan. Untuk memasak, mereka masih mengandalkan kayu bakar demi menghemat biaya. Saat malam tiba, Sukma, ibunya, dan Jasmine bahkan harus beristirahat tanpa alas kasur.

Jauh sebelum sang ayah berp**ang, Sukma sudah terbiasa membantu mencari nafkah. Sejak kelas delapan SMP, sep**ang sekolah ia tak pernah langsung p**ang untuk beristirahat. Ia memilih bekerja mengangkat tebu dan mengangkut kompos dari kotoran sapi agar bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, setelah lulus SMP, tanggung jawab itu menjadi jauh lebih besar karena sang ayah telah tiada.

Banyak orang berharap Sukma bisa melanjutkan sekolah. Begitu p**a dirinya. Ia memiliki impian untuk suatu hari nanti mengikuti sekolah kejar paket agar tetap bisa belajar sambil bekerja. Namun untuk saat ini, yang lebih ia pikirkan adalah bagaimana ibunya tidak berjuang sendirian dan Jasmine, adiknya yang kini naik ke kelas berikutnya, bisa terus bersekolah tanpa harus mengalami nasib yang sama.

Tak ada anak yang ingin menunda mimpinya. Tetapi Sukma memilih mendahulukan keluarganya. Di balik tangannya yang setiap hari mengangkat tebu dan kotoran sapi, tersimpan satu harapan sederhana: ia ingin melihat adiknya bisa sekolah lebih tinggi dan meraih masa depan yang lebih baik daripada dirinya.

sumber:ig/mrgacistha
📌DEMI MENJAGA PRIVASI DAN KENYAMANAN PIHAK TERKAIT, INFORMASI ALAMAT TIDAK DICANTUMKAN. BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Tak ada anak yang benar-benar siap kehilangan sosok ayah. Terlebih di usia tujuh tahun, ketika kenangan bersama orang tu...
13/07/2026

Tak ada anak yang benar-benar siap kehilangan sosok ayah. Terlebih di usia tujuh tahun, ketika kenangan bersama orang tua masih begitu melekat dalam ingatan.

Belakangan ini, video Cila mengundang haru banyak orang. Di depan makam sang ayah, ia menangis sambil memanggil, "Bapak... Bapak... aku kangen." Namun yang membuat hati semakin sesak, Cila tak hanya menangis. Ia juga terus mengoceh, mengenang saat-saat ketika dulu ia pernah datang ke tempat itu bersama ayahnya. Seolah setiap sudut yang ia lihat mengingatkannya pada sosok yang kini hanya bisa ia temui lewat doa.

Jauh sebelum kepergian ayahnya, Cila pernah menuliskan sepucuk surat. Dengan tulisan sederhana khas seorang anak, ia berharap ayahnya segera sembuh. "Bapak cepet sehat ya... kapan-kapan kita bersama lagi ya. Bapak dulu masih bisa naik motor, dulu masih muda. Sekarang kok bapak sakit sih? Aku doain kok pak, tenang aja. Aku doain setiap hari."

Tak hanya untuk ayah, Cila juga menulis surat untuk ibunya. Ia mendoakan agar sang ibu selalu sehat, tetap kuat menjalani hari, bahkan berharap suatu saat bisa berangkat ke Mekkah. Di usia yang masih begitu kecil, ia telah belajar menyayangi dan menguatkan orang-orang yang paling ia cintai.

Hari ini, surat itu mungkin telah menjadi bagian dari kenangan mereka. Namun cinta seorang anak kepada ayahnya tak ikut terkubur bersama waktu. Ia tetap hidup dalam doa-doa yang tak pernah putus, dalam rindu yang terus dipanjatkan, dan dalam kenangan sederhana yang akan selalu tinggal di hati Cila.

Semoga Allah melapangkan kubur ayah Cila, menerima seluruh amal ibadahnya, serta memberikan kekuatan dan ketabahan untuk Cila dan ibunya dalam menjalani hari-hari ke depan.

sumber: tt/sekilas.u
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMAISKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Di usia 14 tahun, Noval sudah harus menjalani hidup tanpa kedua orang tua. Ibunya meninggal saat ia masih berusia 2 tahu...
07/07/2026

Di usia 14 tahun, Noval sudah harus menjalani hidup tanpa kedua orang tua. Ibunya meninggal saat ia masih berusia 2 tahun, lalu dua tahun kemudian ayahnya juga meninggal akibat kecelakaan saat bekerja sebagai nelayan. Kini, Noval hanya tinggal bersama neneknya yang berusia 61 tahun.

Di usia senjanya, sang nenek bekerja sebagai buruh cuci dengan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan. Uang itu bahkan belum cukup untuk membayar kontrakan rumah sebesar Rp500.000, hingga mereka menunggak selama dua bulan.

Tak tega melihat neneknya bekerja sendirian, setiap p**ang sekolah Noval pergi ke hutan bakau untuk mencari kepiting. Hasilnya tak menentu. Terkadang hanya mendapat satu hingga tiga ekor, bahkan sering p**ang dengan tangan kosong. Dari hasil itu, Noval biasanya hanya membawa p**ang Rp5.000 hingga Rp10.000 sehari, padahal setiap langkahnya harus menghadapi lumpur, arus laut, dan ancaman ular bakau berbisa.

Karena keterbatasan ekonomi, Noval dan neneknya kerap hanya makan sekali sehari. Ia juga hampir putus sekolah karena tak mampu membayar SPP Rp35.000 per bulan. Beruntung, para gurunya berinisiatif membantu membayarkan SPP selama satu tahun agar Noval tetap bisa belajar. Meski begitu, tas dan sepatu sekolahnya kini sudah tak lagi layak digunakan.

Di tengah segala keterbatasan yang ia hadapi, Noval tak pernah menyerah. Ia bercita-cita menjadi TNI Angkatan Laut agar suatu hari nanti bisa membahagiakan nenek yang telah merawatnya sejak kecil.

sumber:ig/berkahytm
📌DEMI MENJAGA PRIVASI DAN KENYAMANAN PIHAK TERKAIT, INFORMASI ALAMAT TIDAK DICANTUMKAN. BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Dua tahun lalu, Fahri kehilangan sang ayah. Baru satu bulan yang lalu, ibunya pun menyusul berp**ang. Sejak saat itu, Fa...
03/07/2026

Dua tahun lalu, Fahri kehilangan sang ayah. Baru satu bulan yang lalu, ibunya pun menyusul berp**ang. Sejak saat itu, Fahri yang baru berusia 12 tahun dan adiknya, Anjani yang masih berusia 8 tahun, harus menjalani hidup tanpa kedua orang tua. Mereka berasal dari Kampung Panyindangan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, dan kini menumpang tinggal di rumah pamannya.

Meski masih duduk di bangku kelas 5 SD, Fahri sadar ia harus menjadi tempat bersandar bagi adiknya. Setiap p**ang sekolah, ia memikul dagangan pisang lalu berkeliling kampung dari rumah ke rumah. Di sampingnya, Anjani sering ikut menemani. Hasil jualannya pun tak seberapa, hanya sekitar Rp20.000 sehari, itu pun masih harus dibagi karena pisang yang dijual bukan miliknya sendiri.

Uang itu bukan untuk membeli mainan atau memenuhi keinginannya. Fahri hanya ingin Anjani tetap bisa sekolah, memiliki uang jajan, dan tidak merasa sendirian setelah kehilangan kedua orang tuanya. Saat ditanya apa yang ia lakukan ketika merindukan sang ibu, Fahri hanya menundukkan kepala lalu menjawab pelan, "Kalau kangen ibu, biasanya nangis." Di usia 12 tahun, Fahri kehilangan masa kecilnya, tetapi demi adik yang kini menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki, ia memilih tetap kuat dan terus berjuang.

sumber:ig/tmnbaik
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Momen kelulusan biasanya menjadi hari yang paling ditunggu oleh setiap anak. Mereka p**ang dengan wajah penuh kebahagiaa...
02/07/2026

Momen kelulusan biasanya menjadi hari yang paling ditunggu oleh setiap anak. Mereka p**ang dengan wajah penuh kebahagiaan sambil memperlihatkan rapor kepada kedua orang tuanya. Namun, momen itu terasa sangat berbeda bagi dua anak kembar bernama Baim dan Adam. Video mereka viral di media sosial setelah terlihat berlari menuju makam sang ibu sambil membawa rapor kelulusan TK. Bukan tanpa alasan, mereka hanya ingin menyampaikan kabar yang seharusnya menjadi kebahagiaan pertama untuk sosok yang paling mereka rindukan.

Dari informasi yang dibagikan oleh kakak kandungnya, ibu Baim dan Adam telah meninggal dunia. Sementara sang ayah dikabarkan pergi dan hingga kini tidak bersama mereka. Kini keduanya diasuh oleh kakak kandung beserta suaminya yang merawat mereka dengan penuh kasih sayang, bahkan telah menganggap Baim dan Adam seperti anak sendiri.

Dalam unggahannya, sang kakak menuliskan kalimat yang membuat banyak orang tersentuh, "Gapapa ya Dek beda sama teman-teman yang lain. Teman-teman ngasih bunga ke mamanya pas wisuda, adek harus ke rumah mama dulu. Tapi pasti Mama Uci bangga lihat adek sudah gede, sudah lulus TK, dan mau masuk SD habis ini. Terima kasih sudah selalu pintar dan kuat ya Dek. Al-Fatihah Mama Uci."

Bagi sebagian anak, kelulusan adalah momen untuk dipeluk dan diberi ucapan selamat oleh orang tua. Namun bagi Baim dan Adam, kebahagiaan itu hanya bisa mereka sampaikan di hadapan pusara sang ibu. Sebuah momen sederhana yang mengingatkan kita bahwa masih banyak anak yatim yang harus belajar menjadi kuat di usia yang sangat belia.

Semoga Allah SWT menjaga Baim dan Adam, memberikan tempat terbaik untuk almarhumah ibunya, serta menguatkan setiap langkah mereka dalam menjalani kehidupan. Dan semoga kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita untuk tidak pernah melupakan anak-anak yatim. Mungkin kita tak bisa menggantikan sosok yang mereka rindukan, tetapi kita selalu bisa menghadiahkan doa terbaik untuk mereka.

sumber:tt/artaraaraaa
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Tak semua orang yang kehilangan ayah dan ibunya masih memiliki tempat untuk bersandar. Itulah yang dialami Ari, seorang ...
01/07/2026

Tak semua orang yang kehilangan ayah dan ibunya masih memiliki tempat untuk bersandar. Itulah yang dialami Ari, seorang penyandang disabilitas yang tinggal di sekitar Solo. Setelah sang ibu meninggal dunia, dua tahun kemudian ayahnya pun menyusul. Sejak saat itu, Ari harus menjalani hidup seorang diri sebagai anak yatim piatu, tanpa orang tua, tanpa saudara, dan tanpa siapa pun yang bisa menjadi tempat p**ang. Di saat cobaan hidup sudah begitu berat, Ari juga harus menjalani hari-harinya dengan kondisi disabilitas. Penglihatannya tidak sempurna, tangan kanannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan langkah kakinya pun tak semudah orang lain.

Namun, semua keterbatasan itu tidak membuat Ari memilih jalan yang mudah. Setiap pagi, sejak sekitar pukul enam hingga menjelang siang, ia berjualan tisu dan jajanan sederhana seharga seribu hingga tiga ribu rupiah di sekitar kawasan Manahan, Surakarta, terutama di depan sekolah-sekolah. Menjelang waktu Dzuhur, Ari p**ang untuk menunaikan salat, lalu kembali melanjutkan jualannya dari rumah. Keuntungan yang didapat mungkin tidak besar, tetapi dari situlah Ari berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari.

Ari tidak memilih mengulurkan tangan untuk meminta-minta. Ia lebih memilih menawarkan dagangannya dengan penuh harapan, berharap ada yang membeli, bukan sekadar merasa iba. Di balik setiap tisu yang berhasil terjual, tersimpan perjuangan seorang anak yatim piatu yang harus menghadapi kerasnya hidup seorang diri. Meski kehilangan keluarga dan hidup dengan segala keterbatasan, Ari tetap berusaha mencari rezeki yang halal. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik senyum yang sederhana, ada perjuangan luar biasa yang jarang terlihat.

Sumber:ig/donyprakoso
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia bagi Adi Taufik Suhartono, seorang siswa SMP di Ciamis, Jawa Barat. Bersama tem...
22/06/2026

Hari itu seharusnya menjadi hari bahagia bagi Adi Taufik Suhartono, seorang siswa SMP di Ciamis, Jawa Barat. Bersama teman-temannya, ia menghadiri acara perpisahan dan pembagian rapor di sekolahnya. Namun berbeda dengan siswa lainnya yang datang ditemani ayah atau ibu, Adi harus menghadapi momen istimewa itu tanpa kehadiran orang tuanya.

Ibunda yang selama ini menjadi tempatnya bersandar telah lebih dulu meninggal dunia. Sementara sang ayah dikabarkan sudah tidak pernah p**ang selama hampir 10 tahun. Biasanya, Adi dirawat oleh sang kakak. Namun pada hari itu, kakaknya juga tidak bisa hadir karena harus menghadiri acara kelulusan anaknya di tempat lain.

Tak ingin Adi melewati hari penting tersebut seorang diri, keluarga akhirnya meminta bantuan petugas Pemadam Kebakaran Ciamis Pos WMK Banjarsari untuk mendampinginya. Dua petugas Damkar, Dikri dan Nurholis, datang mengenakan seragam lengkap. Mereka menemani Adi sejak menerima rapor hingga mengikuti seluruh rangkaian acara perpisahan.

Momen yang paling mengharukan terjadi saat prosesi sungkeman. Ketika siswa lain bersimpuh di hadapan orang tua mereka, Adi tampak kebingungan karena tidak memiliki ayah dan ibu untuk disungkemi. Melihat hal itu, petugas Damkar yang mendampinginya mengambil alih peran tersebut. Mereka menerima sungkeman Adi dengan penuh kehangatan.

Bahkan, Dikri mengaku tak kuasa menahan air mata saat melihat Adi berdiri tanpa sosok orang tua di sisinya. Di balik kisah yang menyentuh hati ini, Adi juga dikenal sebagai anak yang tangguh. Sejak duduk di bangku kelas 1 SMP, ia sudah bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri sekaligus membantu kakaknya. Di usia ketika banyak anak masih bergantung pada orang tua, Adi justru belajar kuat menghadapi hidup dengan segala keterbatasannya.

Kisah Adi mengingatkan kita bahwa di luar sana masih banyak anak yatim dan piatu yang harus berjuang menjalani hari-harinya tanpa pelukan dan pendampingan orang tua. Namun di tengah beratnya kehidupan, mereka tetap berusaha melangkah dan menggapai masa depan dengan penuh harapan.

sumber: ig/ahquote
📌KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Di usia 11 tahun, Fatiyah harus memikul beban yang tak seharusnya dirasakan seorang anak. Bersama adiknya, Agung, dan sa...
18/06/2026

Di usia 11 tahun, Fatiyah harus memikul beban yang tak seharusnya dirasakan seorang anak. Bersama adiknya, Agung, dan sang nenek yang telah berusia 72 tahun, ia tinggal di sebuah kontrakan sederhana yang kini terancam hilang karena sudah tiga bulan menunggak biaya sewa.

Sejak ayahnya meninggal tujuh tahun lalu dan ibunya pergi setelah menikah lagi, Fatiyah dan Agung hanya hidup bersama nenek yang kini sering sakit-sakitan. Karena sang nenek tak lagi mampu bekerja, Fatiyah berusaha membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan kangkung sep**ang sekolah.

Jika tidak memiliki dagangan, Fatiyah dan Agung mencari kangkung sendiri di genangan air sekitar sawah untuk dijual ke pasar. Hasilnya tak seberapa, kadang hanya beberapa ribu rupiah, bahkan sering kali tidak cukup untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari.

Meski hidup dalam keterbatasan, Fatiyah tak pernah menyerah. Ia tetap rajin bersekolah dan menyimpan cita-cita besar untuk menjadi seorang dokter. Setiap kali rindu pada ayahnya, ia sering datang ke makam sang ayah untuk bercerita dan memanjatkan doa.

Perjuangan Fatiyah akhirnya menyentuh hati banyak orang. Pada 23 Februari 2026, bantuan dari orang-orang baik datang menghampiri. Kehadiran mereka bukan hanya meringankan beban hidup Fatiyah dan keluarganya, tetapi juga menghadirkan harapan baru bahwa di tengah kesulitan, masih ada banyak hati yang peduli.

sumber:brkahyatim
📌DEMI MENJAGA PRIVASI DAN KENYAMANAN PIHAK TERKAIT, INFORMASI ALAMAT TIDAK DICANTUMKAN. KISAH INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Address

Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk
Semarang
50115

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Doa Anak Yatim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Doa Anak Yatim:

Shortcuts

Share