Doa Anak Yatim

Doa Anak Yatim Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Doa Anak Yatim, Charitable organisation, Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk, Semarang.

🤲🏻 Doa Mereka Tulus, Amalanmu Tak Akan Putus
📌 Part of
Program titip Doa anak yatim yang membantu menyelesaikan permasalahan hidup bagi mereka yang mengulurkan tangan untuk anak-anak yatim
🔗Langkah kecil kita dimulai dari sini👇

Adrian adalah seorang remaja yatim piatu yang kini duduk di bangku SMP dan harus hidup sendiri di sebuah kost kecil di B...
06/05/2026

Adrian adalah seorang remaja yatim piatu yang kini duduk di bangku SMP dan harus hidup sendiri di sebuah kost kecil di Bandung. Ia kehilangan Ibunya dua tahun lalu, lalu disusul Ayahnya setahun kemudian—membuatnya terpaksa belajar kuat di usia yang masih sangat muda.

Meski biaya sekolahnya sudah terbantu, Adrian tetap harus menanggung kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk sewa kost sebesar Rp500 ribu setiap bulan. Untuk makan, ia hanya mengandalkan bantuan dari MBG. Tak jarang, ia harus memilih menahan lapar demi bisa tetap memiliki tempat berteduh.

Sepulang sekolah, Adrian bekerja sebagai juru parkir di sebuah toko buku loak. Dari recehan itulah ia bertahan hidup. Bahkan, Adrian mengaku belum makan sejak kemarin karena tidak memiliki biaya sama sekali.

Di tengah keterbatasan, Adrian tetap rajin beribadah dan tidak menyerah. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang tentara. Jika suatu hari Allah memberinya rezeki lebih, Adrian ingin memperbaiki makam sang Ayah yang kini sudah rusak. Ia terus bersekolah, karena ia percaya pendidikan adalah harapan untuk mengubah masa depannya.

Kini, di tengah perjuangannya, mulai hadir banyak orang-orang baik yang peduli dan mengulurkan bantuan untuk Adrian. Sedikit demi sedikit, harapan itu kembali tumbuh bahwa ia tidak lagi benar-benar sendiri.

Sumber: yt/abifatimahfahira
📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

05/05/2026

Kisah pilu ini datang dari Samarinda, tentang seorang remaja 16 tahun, yang harus mengakhiri hidupnya karena sesuatu yang bagi kita mungkin terlihat sepele: sepatu sekolah yang kekecilan.

Namanya Mandala Rizky Syahputra (16) Siswa kelas 2 SMK Negeri 4 Samarinda. Di balik rumah kontrakan kayu sederhana di Jalan Tarmidi, Kelurahan Sungai Pinang Luar. Mandala tumbuh sebagai anak yatim, yang setiap harinya harus berjuang lebih keras dari kebanyakan remaja seusianya. Sepatu yang ia pakai ke sekolah sudah lama tak lagi muat. Ukuran 40 dipaksakan masuk ke kaki berukuran 44. Setiap hari, kakinya merah, bengkak, lecet, perih. Tapi Mandala tetap memakainya. Bahkan, ia menyelipkan pembungkus buah berwarna pink ke dalam sepatu itu hanya agar rasa sakitnya sedikit berkurang.

Ibunya, Ratnasari (40) hanya bisa melihat. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas membeli sepatu baru bukanlah hal yang mudah. Namun Mandala tidak berhenti. Ia tetap berangkat sekolah, tetap menjalani hari-harinya. Bahkan, ia pun sedang magang sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda. Pekerjaan itu menuntutnya berdiri sepanjang hari. Luka di kakinya pun semakin parah gesekan dari sepatu sempit itu perlahan berubah menjadi infeksi. Kondisinya memburuk. Nafsu makannya menurun drastis. Tubuhnya semakin kurus semakin lemah.

Ibunya sempat membawanya berobat. Namun tekanan ekonomi membuat semuanya terasa terlambat. Awalnya kabar yang beredar menyebut Mandala meninggal karena gizi buruk. Namun setelah ditelusuri kenyataannya jauh lebih menyayat hati. Pihak sekolah sempat mengetahui kondisinya. Sejak awal April 2026, Mandala sudah izin karena sakit. Pihak sekolah bahkan sempat memberikan bantuan untuk pengobatan. Mereka juga menyarankan agar Mandala dibawa ke fasilitas kesehatan. Meski Mandala terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, kartu itu tidak bisa digunakan karena adanya tunggakan iuran.

Sekolah pun berusaha membantu mengaktifkannya kembali. Beberapa hari kemudian, kondisi Mandala sempat membaik. Pembengkakan di kakinya mulai berkurang. Bahkan pihak sekolah berencana membelikan sepatu baru untuknya. Namun takdir berkata lain. Sebelum semua itu terwujud, pada Jumat dini hari, 24 April 2026. Mandala mengembuskan napas terakhirnya dalam tidurnya.

Sebelum ia pergi, ia sempat mengatakan sesuatu kepada ibunya: Dengan suara pelan Mandala berkata: “Mandala lupa… kalau Mandala anak yatim.”

Kalimat sederhana yang kini hanya menyisakan luka yang dalam.

Sumber: tt/kawanku.co
📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Senin sore itu, sekitar pukul 17.30 WIB, seorang anak sempat mengirim pesan sederhana kepada ibunya. “Mamah di mana?”Jaw...
04/05/2026

Senin sore itu, sekitar pukul 17.30 WIB, seorang anak sempat mengirim pesan sederhana kepada ibunya. “Mamah di mana?”Jawabannya singkat, seperti hari-hari biasa. “Masih di sekolah, pulang malam.”

Tak ada yang terasa berbeda. Sang anak pun tak membalas lagi, karena ia sudah terbiasa ibunya memang sering pulang larut saat ada kegiatan sekolah. Namun malam itu, waktu terasa berjalan lebih lama dari biasanya. Jam demi jam berlalu, tapi sang ibu tak kunjung tiba di rumah. Padahal biasanya, pukul 9 atau 10 malam, ia sudah pulang.

Di waktu yang sama, Nurlaela (37), seorang guru yang mengajar di SD Pejagan 11 Pulogebang, sedang dalam perjalanan pulang. Ia tak pernah tahu, perjalanan itu akan menjadi yang terakhir. Kabar mengejutkan datang terjadi kecelakaan kereta di Bekasi Timur, melibatkan Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek. Keluarga mulai cemas, ponselnya terus dihubungi tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya, telepon itu diangkat. Namun bukan suara Nurlaela yang terdengar. Seseorang dari pihak berwenang memberi kabar, bahwa ponsel miliknya ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan. Tapi keberadaan dirinya belum diketahui.

Kecemasan berubah menjadi kepanikan. Keluarga segera menuju lokasi. Sekitar satu jam pencarian, akhirnya Nurlaela ditemukan. Namun tak lagi bernyawa🥀Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke rumah duka di Cikarang Timur, dan tiba sekitar pukul 03.00 WIB. Dalam kondisi utuh, namun mengalami patah kaki dan diduga luka dalam. Ia pergi meninggalkan satu anak yang kini masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.

Hari-hari setelah kepergiannya, duka itu tak hanya dirasakan keluarga. Banyak pihak datang membawa kepedulian. Pada 28 April, Kang Dedi Mulyadi datang langsung ke rumah duka. Ia menyampaikan belasungkawa, memberikan santunan, dan berjanji akan membiayai pendidikan anak almarhumah dari SMP hingga perguruan tinggi, bahkan menjadikannya sebagai anak asuh. Beberapa hari setelahnya, pada 1 Mei, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, juga datang bertakziah. Ia bahkan turut menawarkan diri untuk membantu biaya pendidikan anak tersebut.

Semua perhatian mungkin bisa meringankan, tapi tak bisa menggantikan satu hal. Sebuah pesan yang tak akan pernah terbalas. Sejak malam itu, ia tak hanya kehilangan seseorang tapi juga kehilangan tempat untuk pulang.

Sumber: liputan6com
📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

01/05/2026

Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.30–20.52 Kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur.

Malam itu, Harum Anjarsari (30) sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri halal bihalal kantor. Ia sempat memberi kabar kepada suaminya bahwa KRL yang ditumpanginya berhenti mendadak karena menabrak taksi listrik di perlintasan. Suaminya, Radit (36), yang mulai cemas menyarankan Harum untuk turun dan membagikan lokasi. Namun Harum memilih tetap melanjutkan perjalanan dengan KRL menuju Cikarang.

Waktu berlalu Harum tak kunjung tiba. Radit pun menyusul dari Stasiun Tambun bersama anak bungsunya, penuh kekhawatiran. Kecelakaan itu merenggut nyawa belasan orang. Dan Harum menjadi salah satunya. Ia meninggalkan seorang suami dan dua anak laki-laki berusia 7 dan 3 tahun.

Rabu pagi, 29 April 2026, pukul 10.00 WIB, Harum dimakamkan di TPU Cipayung, Jakarta Timur. Di hari itu, anak sulungnya (7) hanya bisa terdiam menatap foto ibunya di atas nisan. Sesekali tangannya mengusap, seolah ingin meraih sesuatu yang tak lagi bisa kembali.

“Ibu lagi bobo…” ujar sang nenek pelan, seolah-olah memberitahu kepada cucu nya yang paling kecil berumur 3 tahun. Sebuah penjelasan sederhana untuk kehilangan yang belum ia pahami. Kini yang tersisa hanyalah kenangan. Dan anak kecil, yang harus belajar menerima, bahwa ibunya tak akan pulang lagi🥀

Sumber:ig/kumparancom
📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Adrian adalah seorang remaja yatim piatu yang kini duduk di bangku SMP dan harus hidup sendiri di sebuah kost kecil di B...
29/04/2026

Adrian adalah seorang remaja yatim piatu yang kini duduk di bangku SMP dan harus hidup sendiri di sebuah kost kecil di Bandung. Ia kehilangan Ibunya dua tahun lalu, lalu disusul Ayahnya setahun kemudian membuatnya terpaksa belajar kuat di usia yang masih sangat muda.

Meski biaya sekolahnya sudah terbantu, Adrian tetap harus menanggung kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk sewa kost sebesar Rp500 ribu setiap bulan. Untuk makan, ia hanya mengandalkan bantuan dari MBG. Tak jarang, ia harus memilih menahan lapar demi bisa tetap memiliki tempat berteduh.

Sepulang sekolah, Adrian bekerja sebagai juru parkir di sebuah toko buku loak. Dari recehan itulah ia bertahan hidup. Bahkan, Adrian mengaku belum makan sejak kemarin karena tidak memiliki biaya sama sekali.

Di tengah keterbatasan, Adrian tetap rajin beribadah dan tidak menyerah. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang tentara. Jika suatu hari Allah memberinya rezeki lebih, Adrian ingin memperbaiki makam sang Ayah yang kini sudah rusak. Ia terus bersekolah, karena ia percaya pendidikan adalah harapan untuk mengubah masa depannya.

Sumber: yt/abifatimahfahira

📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Sri Apriliani (22), warga Kampung Pasir Muncang, Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi kini harus me...
27/04/2026

Sri Apriliani (22), warga Kampung Pasir Muncang, Desa Buniwangi, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi kini harus menjalani hari-harinya seorang diri. Ia menjadi yatim piatu setelah ibunya meninggal pada 2019, disusul ayahnya di tahun 2023.

Sri tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang kondisinya memprihatinkan. Tanpa kamar mandi di dalam, dengan pintu rusak dan bangunan yang mulai roboh membuatnya sering merasa takut saat malam tiba, hingga terkadang mengungsi ke rumah neneknya.

Pendidikannya pun terhenti saat SMP kelas 2. Bukan karena ia tak ingin melanjutkan, tetapi karena tak kuat menghadapi perundungan akibat kondisi tangan kanannya yang lemah sejak kecil. Trauma itu membuat Sri kehilangan kepercayaan diri, bahkan untuk sekadar mencoba bekerja. Di usianya sekarang, ia hanya memiliki harapan sederhana ingin memperbaiki rumahnya agar lebih layak, memiliki kamar mandi, dan sembuh dari penyakitnya. Sejak kecil, Sri pernah mengalami panas tinggi (step). Setelah mendapatkan suntikan saat berobat, tangan kanannya menjadi lemah dan tidak bertenaga, hingga ia harus menulis menggunakan tangan kiri. Kondisi itulah yang membuatnya sering dirundung saat sekolah.

Update terbaru, Sri kini mulai mendapat bantuan dari banyak orang baik. Bantuan tersebut ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian ia simpan untuk masa depannya. Di balik semua luka yang pernah ia rasakan, perlahan Sri kembali melihat harapan.

Bahwa di dunia ini ia tidak benar-benar sendiri.

Sumber: yt/hadewechannel
📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Bocah 12 Tahun Hidup Sebatang Kara, Berjuang Sendirian Demi Meraih Impiannya🥺Kisah ini sempat viral di tahun 2022. Di us...
24/04/2026

Bocah 12 Tahun Hidup Sebatang Kara, Berjuang Sendirian Demi Meraih Impiannya🥺

Kisah ini sempat viral di tahun 2022. Di usia yang masih sangat muda, Ariadin sudah dihadapkan pada kenyataan hidup yang tidak mudah. Di umur 12 tahun, ia harus menerima takdir kedua orang tuanya meninggal dunia dan menjalani hari-harinya seorang diri. Kini, Ariadin tinggal di sebuah kamar kecil sederhana yang terbuat dari triplek, menumpang di rumah salah satu tetangganya yang berbaik hati di Dusun Sigi, Desa Rato, Kecamatan Lambu, Bima, NTB.

Di tempat itulah, ia belajar mandiri. Semua ia lakukan sendiri mulai dari mencuci pakaian, menjemur, hingga memasak nasi untuk makan hariannya. Sepulang sekolah, Ariadin tidak langsung beristirahat. Ia justru membantu tetangganya bekerja di ladang, sebagai bentuk terima kasih atas tempat tinggal yang diberikan kepadanya. Hidup dalam keterbatasan dan kesendirian tidak membuatnya menyerah. Justru dari semua itu, tumbuh tekad besar dalam diri Ariadin untuk terus melanjutkan pendidikannya.

Ia memiliki satu impian sederhana namun begitu dalam menjadi seorang guru agama. Bagi Ariadin, itu bukan sekadar cita-cita, tapi juga cara untuk membahagiakan kedua orang tuanya, meski kini hanya bisa ia kirimkan lewat doa. Di balik kamar kecilnya, ada mimpi besar yang terus ia jaga. Dan di balik kesederhanaannya, ada keteguhan hati yang tak semua orang miliki.

Kini, Ariadin sudah menginjak bangku SMK. Perlahan, ada kebaikan yang datang membantunya untuk tetap sekolah dari sepatu, seragam, hingga biaya transportasi dan kebutuhan hariannya.

Sumber: argon.insanbumimandiri

📌BERITA INI BERSIFAT MENGINFORMASIKAN DAN MENINGKATKAN KESADARAN

Meisya Rahmatun Najwa, 14 tahun, tinggal di Terboyo Wetan, Semarang, bersama ibu dan juga kakaknya.Di usia 6 tahun, Meis...
23/04/2026

Meisya Rahmatun Najwa, 14 tahun, tinggal di Terboyo Wetan, Semarang, bersama ibu dan juga kakaknya.

Di usia 6 tahun, Meisya kehilangan ayahnya. Awalnya ia belum mengerti sampai suatu hari ia mulai bertanya, “Kenapa aku nggak punya ayah seperti yang lain?” Sang ibu hanya bisa menjelaskan, bahwa ayahnya sudah tiada dan bila rindu meisya bisa mendoakan nya. Ayah Meisya meninggal setelah berjuang melawan sakit asam urat yang menjalar hingga ke saraf mata dan menyebabkan glukoma. Sebelum pergi, ayah Meisya yang saat itu sedang sakit sempat berpesan:

“Kalau bapak nggak ada nanti, neng jadi orang yang baik ya… jadi dokter, biar bisa sembuhin bapak.. biar bapak nggak sakit lagi ya…”

Kalimat itu terus teringat sampai sekarang. Sejak saat itu, hidup Meisya berubah. Ia tumbuh dengan satu harapan yang selalu ia jaga. Meski kini sudah ada ayah sambung, rasa rindu itu tetap ada.

Setiap kali rindu, Meisya memilih shalat, berdoa dan “bercerita” kepada ayahnya.

Hari ini, Meisya dikenal sebagai anak yang aktif. Ia ikut lomba pidato, menyanyi, hingga qori seolah sedang mengejar mimpi yang dulu dititipkan ayahnya.

Tulis doa terbaikmu untuk Meisya di kolom komentar 🤍
Dan jika kamu ingin ikut menguatkan langkahnya, yuk ambil bagian dengan membantu anak-anak yatim seperti Meisya dengan mengunjungi profile kami dan klik link di bio. Karena bagi mereka dukungan kecil dari kita bisa jadi alasan mereka untuk terus bertahan

Address

Jalan Ngablak Indah II, No. 24A Bangetayu Kulon, Genuk
Semarang
50115

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Doa Anak Yatim posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Doa Anak Yatim:

Share