27/03/2024
Serial Dakwah Kebudayaan Ramadhan 1445 H
Part 5
*Nativisasi Kebudayaan Islam Masa Kolonial Hingga Orde Baru*
Narasumber
*Arif Wibowo, M. PI.*
Pendiri Laboratorium Dakwah Ki Ageng Henis, Direktur Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)
Moderator
*Amin Huda*
Pegiat Muqaddimah Institute
📆 *Kamis, 28 Maret 2024/19 Ramadhan 1445 H*
⏰ *Pukul 15.45-17.45*
Via Zoom Meeting
Daftar => https://bit.ly/PekanSejarahdanKebudayaan2024
*Pengantar*
Tidak dapat dipungkiri pergulatan Islam dengan kelompok anti Islam terus berlangsung dalam beragam bentuk. Mulai dari ekspresi verbal hingga beraneka rupa kebijakan. Padahal Islam merupakan proto nasionalisme Indonesia.
Jika ditengok ke belakang, de-Islamisasi dan nativisasi Indonesia ini telah ditanam sejak masa kolonial Belanda. Projek tersebut digarap secara sistematis. Mulai dari beragam kebijakan yang menghambat laju perkembangan Islam, seperti kebijakan ordonansi sekolah, ordonansi guru, aturan haji hingga pendekatan kebudayaan.
Bukan tanpa alasan, eksistensi Islam dinilai mengancam pemerintah kolonial Belanda. Sebagaimana pengakuan para sarjana barat Alb C Kruyt (tokoh Nederlands bijbelgenootschap) dan OJH Graaf van Limburg Stirum, yang dikutip Dr. Aqib Suminto “Bagaimanapun Islam harus dihadapi karena semua yang menguntungkan Islam di kepulauan ini akan merugikan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.” (Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985).
Para orientalis Belanda berusaha menghambat laju Islamisasi. Membenturkan Islam dengan budaya lokal. Citra Islam didudukkan sebagi agama asing. Dikatakan bahwa bahwa Islam itu tidak meresap ke dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia dan hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu. Ibarat pelitur di atas kayu, jika dikorek sedikit saja akan nampak wajah aslinya, yakni kehinduan, kebuddhaan dan animisme.
Seperti membangkitkan zombie, kaum nativis kebudayaan lama yang telah terkubur dan mati dalam masyarakat untuk menyingkirkan peran Islam. Sastra-sastra anonim bernuansa sentimen anti-Islam dimunculkan. Seperti; Babad Kedhiri, Suluk Gatolocho, dan Serat Dharmogandhul.
Politik pecah belah Belanda juga dimainkan dalam merusak struktur sosial masyarakat. Hubungan ideologis kaum santri dan priyayi dicerai-beraikan. Segolongan priyayi yang menikmati previlege pemerintah kolonial Belanda termakan sekulerisme. Di saat kaum kaum santri menyempurnakan anasir-anasir fiqhiyah dalam Islamisasi kebudayaan, segolongan priyayi itu cenderung menggambarkan Jawa dan masa lalu nusantara sebagai zaman klasik pra-Islam yang menjadi merupakan jatidiri bangsa.
Eksistensi priyayi 'sekuler' tersebut terus berlanjut bahkan mendapatkan panggung dalam proses berdirinya republik. Keberadaan mereka sebagai kelanjutan 'pikiran' barat turut melanggengkan sekulerisme dan gerakan nativisasi. Di era orde lama hingga orde baru mereka tidak segan segan mendorong munculnya kebijakan-kebijakan yang menghantam Islam. Mulai dari pembubara partai dan organisasi Islam, penerapan asas tunggal, larangan jilbab, penertiban kesusasteraan melayu dan lain sebagainya
Penyelenggara:
• Laboratorium Dakwah Ki Ageng Henis
• SWI College
• DDII Jawa Tengah
Narahubung:
• Muzakki (08543094245)
• Faizurrahman (082137797295)
Follow IG:
Website:
swicollege.com
labda.id
Subscribe YouTube:
LABDA ID