Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan

Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan Katuran sanggyaning para mudha/i Tinggar Jaya Wetan mbabarake kawigatosanipun/ mundut pirsa kaliyan prastawa wigati ingkang jumbuh kaliyan dinten samangke.
(1)

27/11/2017

Tabah
Mungkin kalau mendengar kata ini, kita bisa mengartikannya dalam multi-tafsir. Sebagian memiliki pengertian kata “tabah” sebagai sikap pasrah dan berdiam diri menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Sebagian lagi memaknainya sebagai ketahanan dalam menjalani ujian demi ujian yang amat berat dan kadang menakutkan. Tetapi ada yang betul-betul menghidupi kata “tabah” tadi: melaluinya dalam kesabaran, bahkan bers**acita melewati semuanya dengan senyum dan keceriaan.

Merasa…

Lantas, kita perlu melihat keterkaitan dari topik ini dengan gejala yang sering kita sebut sebagai sumbu pendek. Ya. Kita sering kali merasa kukuh akan pendapat kita tentang hidup, diperlakukan tidak adil, dan kurang akan segala sesuatnya sehingga mudah kecewa, sakit hati, tersulut, terprovokasi, dan seterusnya karena begitu menuntut kesempurnaan dunia. Aneh. Ingin ada perbaikan di segala sektor kehidupan, tapi hanya terus berdebat saja.

Bukankah kalau begitu sikap yang demikian malah tidak mencerminkan makna dari ketabahan? Mengapa tidak kita sambut lembar kehidupan baru dengan aturan-aturan yang baru? Lebih baik daripada terus argumentasi di media, televisi, bahkan dalam keseharian. Carol Dweck (2006) dengan gamblang menjelaskan bahwa perspektif mencapai sebuah keunggulan sangat mempengaruhi daya juang dan kemampuan seseorang serta niat maupun perhatiannya dalam belajar. Maka benar adanya yang disampaikan Leo Buscaglia: The person who risks nothing, does nothing, has nothing, is nothing, and becomes nothing. He may avoid suffering and sorrow, but he simply cannot learn, feel, change, grow, love, and live.

Belakangan makin kita menjumpai perilaku negatif pengemudi lau lintas yang sudah keterlaluan; bahkan sampai mengumpat dan melakukan kekerasan. Tak heran hal serupa ternyata terjadi di dunia maya. Akun-akun bayaran (dan gosip) terus bertebaran di berbagai medsos, menyebarkan negatif dan memaksakan menggiring opini mereka. Celakanya yang ikut terperangkap dalam lingkaran kegaduhan ini juga banyak. Bukannya membersihkan masyarakat kita dari sumber penyakit, aparat penegak hukum justru sibuk mengkriminalisasi dan mengurus hal-hal tidak penting lainnya. Sungguh sebuah dagelan yang tidak pantas kita pertontonkan ke dunia luar!

Tantangan dalam Ketidakberdayaan

Kerap kita menyingkapkan pesimisme yang bunyinya begini: “Bangsa kita adalah bangsa tidak berdaya.” Mulai dari kesemerawutan hukum, ketidakmampuan menghasilkan ilmuwan mumpuni, sulitnya menciptakan kultur entrepreneurship, keterbatasan pangan, dan masih banyak lagi. Panjang kalau menuliskan daftar segudang permasalahan tadi disini. Kita sangat pandai dalam berkomentar dan mengkritik. Tapi kita malah meluputkan, menarik diri dari pencarian jalan keluarnya. Tanpa sadar, kita turut menjadi bagian dari “kekacauan” yang pada dasarnya kita buat sendiri.

Baiklah. Saya ingin berbagi pengalaman dengan Anda sekalian soal ini. Setidaknya ada dua kegalauan yang membuat saya begitu gelisah. Pertama, keinginan saya menempuh jalur kewirausahaan setelah menamatkan studi S1. Sayangnya masih belum mendapat restu dari kedua orang tua hingga saat ini. Saya kurang tahu persis apa sebenarnya yang ada pada benak mereka. Meski begitu, saya cukup memaklumi kekhawatiran mereka (yang agak berlebihan) akan masa depan saya: modal, penghasilan, kecukupan hidup, dan seterusnya. “Ternyata memang susah mengajak orang keluar dari kenyamanan yang semu.” Begitu saya berkata dalam hati.

Kedua, saya sedikit frustrasi dengan pusaran kerumitan yang terjadi pada dunia pendidikan kita. Pendekatannya begitu birokratis. Sudah begitu tidak ada wadah untuk mereka yang memiliki keunggulan non-mekanistik (tidak hanya berfokus pada teori, tapi lebih kepada penerapan dalam keseharian) di luar kelas. Tak heran kalau sekolah -juga para pendidik kita- cukup kesulitan menemukan anak-anak yang punya jalan lain untuk berkarya. Saya pun merasa d**gkol dengan para akademisi yang begitu getol menekankan scientific paper sebagai keutamaan dalam berinovasi. Padahal itu sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan yang ada di lapangan secara komprehensif.

Tapi begitulah dunia bekerja. Kebanyakan kita lebih memilih menjalankan SOP yang sudah ada ketimbang merampingkannya dan membuatnya bernas. Memang ini ujian kita bersama, yang membutuhkan persistensi untuk terus bersabar menjalaninya. Pertarungan yang berat diluar sana. Dan kadang kita merasa tak berdaya melalui itu semua. Tapi perjalanan bangsa ini masih Panjang. Jadi harus terus menjaga asa demi mewujudkan keutuhan berkarya. Itulah tantangan yang akan kita hadapi kini dan mendatang dalam ketidakberdayaan tadi.

Longer Journey

Itu sebabnya ilmu ketabahan hanya bisa didapat lewat ujian maha berat. Kata Leon Brown, “You are your own worst enemy. It is your negative thoughts that hold you back, nothing else.” Anda akan mengalami banyak kepahitan serta hal-hal tidak menyenangkan lainnya ketika melangkah memulai hal baru. Bahkan itu bisa saja datang dari orang terdekat Anda. But it is your attitude that does matter enormously, not the object is. Semua berpulang kembali pada kita dalam menyikapinya.

The longer journey is awaiting us. Begitu orang bijak selalu berprinsip. Melepaskan segala urusan masa lalu, menjalani lebih baik kehidupan sekarang, dan memperbaiki masa depan. Set our best foot forward within more wisdom. Keluar dari perangkap kegaduhan. Bertahan pada komitmen untuk selalu menolong orang lain. Because it is a longer journey to make the world a better place to live. Menuju kehidupan yang lebih kolektif dan menyejahterakan. For brighter life and more happiness. Ya. Karena kebahagiaan memang harus kita bagikan dengan semesta dan juga seluruh isinya. Itulah gunanya ilmu ketabahan.

08/11/2017

Tiga tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai telah memberikan tingkat kepuasan yang lumayan tinggi bagi masyarakat. Namun, sukses itu ternyata tidak serentak menghilangkan kegelisahan masyarakat. Tentu kegelisahan itu tidak disebabkan pertama-tama karena pemerintahan Presiden Jokowi, tetapi justru karena peluang-peluang demokrasi yang disalahgunakan secara tidak bertanggung jawab oleh sementara kalangan.

Itulah latar belakang bagi Bentara Budaya Yogyakarta dalam menjalankan program seni dan budayanya selama September-Oktober 2017, menyongsong tiga tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Programnya adalah pameran foto bertema Di mana Garuda dan pameran lukisan serta pentas kesenian berjudul Hilangnya Semar. Garuda, simbol kekayaan identitas bangsa, akhir-akhir ini seakan menghilang. Dalam pameran Di mana Garuda, para wartawan foto yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia menampilkan karya yang menggambarkan bagaimana Garuda masih bisa ditemukan walau dalam ketersembunyiannya yang dalam.

Hilangnya Semar memperlihatkan keprihatinan serupa. Khusus di Jawa, Semar adalah simbol kebudayaan, identitas, dan pamomong, yang selalu mendampingi manusia dalam s**a dukanya. Dengan Hilangnya Semar dilukiskan bagaimana dewasa ini kebudayaan, identitas, dan pamomong itu menghilang. Hilangnya Garuda dan Semar mengajak kita merenungkan kembali kegelisahan yang akhir-akhir ini terjadi. Pertama-tama, kendati banyak kemajuan, dewasa ini kita mudah merasa tidak terikat satu sama lain. Tiadanya keterikatan itu membuat hidup jadi kurang nyaman, tidak terjamin, dan kurang bahagia. Sebagian warga, lebih-lebih kelompok minoritas, malah merasa hidup dan keberadaannya kurang diterima. Seakan mereka bukanlah saudara se-Tanah Air dan sebangsa.

Sebagai tempat, Tanah Air itu ada dan menampung kita. Namun, karena di tempat itu kita tak lagi merasakan keintiman, keterikatan, kenyamanan, dan keamanan, kita seperti kehilangan Tanah Air. Tanah Air itu bagaikan ibu, tempat kita ingin selalu kembali dan rindu. Hilangnya Garuda dan Semar adalah simbolik ketika Tanah Air seperti tak lagi bisa menjadi ibu. Sekarang, kita mudah menjadi serba gelisah. Mungkin karena Semar sudah ditelan raksasa, seperti digambarkan dalam pameran seni di Bentara Budaya itu. Raksasa itu adalah globalisasi yang menelan bulat-bulat hidup kita, lebih-lebih kaum kita yang miskin dan terpinggirkan.

Bagi kaum yang terakhir ini, globalisasi bukanlah keuntungan, melainkan kerugian. Dalam keadaan belum siap, mereka sudah dipaksa masuk ke dalam globalisasi yang telah menjadi sivilisasi modern. Padahal, seperti dikatakan sosiolog Zygmunt Bauman, sivilisasi modern bukanlah jaminan manusia tak menjadi barbar, malah sivilisasi bisa juga menyebabkan kebarbaran. Hal itu terjadi karena andalan sivilisasi globalisasi adalah teknologi. Sementara, kata Bauman, dalam teknologi tersembunyi risiko “adhiaphorisasi”. Maksudnya, karena teknologi, manusia dijadikan indifferent, acuh tak acuh, tak peduli dan cuek dalam perilaku moralnya.

Teknologi membuat semuanya jadi netral. Akibatnya, keberadaan manusia pun bisa dianggap tak punya nilai istimewa. Karena itu, manusia bisa begitu saja ditiadakan. Globalisasi teknologi modern itu bisa menelan mentah-mentah Semar sebagai simbol wong cilik. Itulah kiranya barbarisasi teknologi zaman modern yang sedang melanda kita dewasa ini.

Teknologi yang netral terhadap nilai hidup manusia dengan mudah memperalat manusia untuk menjadi barbar. Tindakan barbar itu boleh kita lihat dengan paling jelas dalam kekejaman dan kebrutalan aksi-aksi terorisme. Dalam fenomena itu tampak bagaimana teknologi modern menggandeng fanatisme primitif untuk menjadi kekuatan superdestruktif terhadap kemanusiaan. Kita gelisah karena barbarisme teroris ini juga sudah mendatangi hidup kita. Dan, menyedihkan, karena lagi-lagi yang jadi alat dan diperalat adalah kaum miskin, kurang pendidikan, dan terpinggirkan oleh arus globalisasi.

Semar-semar palsu

Cuek dan tak peduli terhadap kemanusiaan akibat kemajuan teknologi itu memang telah melanda Tanah Air kita. Ibaratnya kita telah menjadi manusia batu. Hati kita membatu tak punya perasaan. Di hadapan manusia batu ini, seorang Semar, personifikasi kearifan dan kebijaksanaan, juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia memberi tahu dan menasihati, tetapi itu semua seperti angin berlalu buat manusia batu. Akhirnya Semar pun hilang, bukan karena ia memang mau menghilang, melainkan karena ia sudah tak lagi didengarkan dan dipedulikan. Kecuekan terhadap kemanusiaan itu menjadi paling terwujud dalam diri politikus kita. Mereka tak memandang rakyat dalam segala aspek manusianya yang utuh. Kemanusiaan rakyat disempitkan hanya pada emosi, naluri primordial, dan sentimen mayoritas serta agresi fanatisme keagamaan. Akal sehat, rasa kebersamaan, dan naluri toleransi dikesampingkan. Ini semua dijalankan oleh politikus semata-mata demi meraih kekuasaan, yang belum tentu membahagiakan rakyat.

Sementara rakyat sendiri memang belum terlalu matang dalam menyadari dan mengolah kemanusiaannya secara utuh. Maka, dengan mudah, mereka tersulut oleh provokasi politik yang membakar emosi, naluri primordial, supremasi mayoritas, serta agresi fanatisme keagamaannya. Kemanusiaan rakyat sungguh dimiskinkan oleh kepentingan kekuasaan para politikus. Dan, rakyat sebagai endapan kebijaksanaan, guru hidup berketetanggaan, gotong royong dan toleransi jadi menghilang. Itulah tragika yang ingin digambarkan dengan hilangnya Garuda dan Semar.

Politikus-politikus mengerjakan semuanya itu demi dan atas dasar kebebasan, yang diberikan oleh demokrasi. Namun, mereka menyalahpahami kebebasan. Kebebasan digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan sebagai penyangga demokrasi. Demi alasan kebebasan, rakyat terus diprovokasi untuk menggunakan kebebasannya, dengan melebih-lebihkan bahwa rakyat berhak atas semuanya. Wacana kebebasan dipersempit menjadi “mana hakku” dan “bagaimana aku memperoleh hakku”.

Itulah yang oleh filsuf Axel Honneth disebut sebagai “patologi kebebasan”. Kebebasan demikian adalah patologis karena berakibat menyempitkan manusia hanya sebagai “orang yang berhak” dan melupakannya sebagai “manusia yang berkewajiban”. Memang apabila manusia hanya disempitkan pada haknya, ia akan menjadi patologis buat lingkungannya, tak peduli terhadap kesosialan, keterikatan, dan kewargaannya. Situasi ini menjadi makin patologis jika wacana kebebasan dibumbui dengan bahasa sentimen primordial yang bernada mengecualikan: “mana hakku sebagai pribumi” dan “bagaimana aku harus meraih hakku sebagai pribumi”.

Politikus penyalah guna kebebasan itu kini berkeliaran dalam jagat demokrasi kita. Mereka menarik karena pandai membungkus dirinya dengan pencitraan yang mudah diterima rakyat. Mereka memikat karena pandai menggunakan bahasa yang akrab dengan rakyat. Mereka itulah “semar-semar palsu” yang digambarkan oleh pameran seni Hilangnya Semar. Semar memang figur rakyat. Karena itu, dengan menjadi seperti Semar, mereka juga mudah diterima rakyat.

Semar-semar palsu itu pandai berkata bijak dan damai. Namun, kebijakan dan kedamaian itu hanyalah bungkus untuk menyembunyikan tindakannya yang s**a menyulut pertentangan dan permusuhan. Mereka arif berkhotbah tentang kesederhanaan, tetapi dalam tindakannya mereka penumpuk harta dan koruptor. Mereka itulah “Semar Mroyek”, Semar yang bergelimangan uang karena proyek-proyeknya. Semar itu sesungguhnya dewa rupawan bernama Ismaya. Ketika ia mroyek, Ismaya pun meninggalkan dirinya. Semar hanya menjadi badan wadak belaka. Celakanya, kewadakan ini justru diterima dengan mudah karena dewasa ini banyak warga masyarakat sudah didangkalkan, diwadakkan dalam formalisme, ritualisme, dan materialisme semata-mata.

Semar-semar palsu itu adalah politikus-politikus bunglon. Dengan mudah mereka berganti wajah. Wajah atau kepala mereka bisa berganti-ganti, tetapi badannya tetaplah Semar. Dengan berbadan Semar, mereka tetap bisa diterima orang kebanyakan. Namun, sebenarnya mereka menipu karena kepala mereka bukanlah kepala Semar. Itulah lambang pribadi yang terbelah. Badannya proletar, tetapi kepalanya borjuis. Badannya “kiri”, tetapi kepalanya “kanan”. Badannya “timur”, tetapi kepalanya “barat”. Sesekali kepalanya “partai ini”, lain kali “partai itu”. Kepala kutu loncat ini tak merasa bersalah karena mereka yakin badannya tetaplah Semar yang merakyat. Mereka lupa rakyat lama-lama akan tahu bahwa mereka bukanlah pribadi politik yang berintegritas.

Banyak Semar palsu sekarang menjadi aktor politik demokrasi kita. Mereka merasa menegakkan demokrasi, tetapi sesungguhnya mereka ancaman yang bisa meruntuhkan demokrasi. Di banyak belahan dunia, akhir-akhir ini fakta politis memperlihatkan, demokrasi sungguh terancam jika pemerintahan dan jabatan kenegaraan jatuh di tangan politikus tak berintegritas yang mroyek dan korup. Parlemen juga diperlemah apabila anggotanya terpisah dari keprihatinan dan keinginan rakyat. Seperti yang terjadi pada kita, DPR merembuk dan memutuskan sesuatu, sementara rakyat di tempatnya sendiri dan dengan caranya sendiri sudah memutuskan dan menjalankan sesuatu yang berlawanan dengan rembukan dan putusan DPR. Itu dengan mudah terbaca dalam lalu lintas media sosial yang begitu kritis dan sinis terhadap kebijakan, langkah, dan kata-kata pejabat atau anggota DPR.

Keadaan demikian adalah tanda bahaya bagi demokrasi, tepatnya demokrasi representatif yang kita miliki. Soalnya, lama-lama rakyat tak percaya lagi kepada representasi wakil-wakilnya. Mereka merasa keprihatinannya tak disalurkan dengan baik oleh wakil-wakilnya. Kalau demikian, apa gunanya representasi mereka? Pertanyaan ini adalah cikal bakal bagi munculnya gerakan populisme. Populisme itu mudah marak di negara-negara demokrasi yang kuat, apalagi di negara yang baru belajar demokrasi seperti kita. Padahal, kita tahu, populisme itu bahaya bagi demokrasi karena, bagi mereka, perantara atau representasi sudah tidak relevan lagi. Mereka cenderung memangkas perwakilan itu. Jelas, ini bisa berakibat pada anarki, apalagi jika dalam situasi demikian muncul demagog-demagog populis yang pandai membakar nyala populisme itu.

Dari hal di atas benarlah adagium yang berkata, “demokrasi bisa mengubur dirinya sendiri”. Sebab, lawan dari demokrasi tak datang dari “luar”, tetapi dari “dalam” dirinya sendiri. Dan, lawan-lawan itu adalah aktor-aktor patologis demokrasi: politikus-politikus yang tak bertanggung jawab, korup, dan tak berintegritas. Dalam hal ini perlu kita ingat sejenak ejekan J Goebbels, demagog fasistis rezim N**i. Kata Goebbels, “Inilah lelucon demokrasi: bagi musuh bebuyutannya, demokrasi menyediakan sendiri senjata yang digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.”

Sengkuni tobat

Menghadapi tahun politik menjelang Pemilu dan Pilpres 2019, Presiden Jokowi kelihatannya meraba segala kegelisahan, kekhawatiran, dan bahaya di atas. Karenanya, Presiden meminta kita waspada dan tak membuat kegaduhan: “Masyarakat butuh ketenangan. Masyarakat perlu kesejukan. Masyarakat memerlukan pemimpin yang memberi semangat, syukur kalau bisa memberi inspirasi. Masyarakat perlu itu. Bukan malah membuat masyarakat khawatir” (Kompas, 20/10/17).

Sesungguhnya, seperti ditemukan para wartawan foto dan diungkapkan para seniman dalam pameran “Hilangnya Garuda dan Semar” itu, kegaduhan itu tak ada di tingkat bawah. Para wartawan menunjukkan, Garuda tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Garuda itu mewujud dalam kegembiraan anak-anak yang bermain dan optimistis akan masa depannya, dalam kegembiraan menyambut perayaan 17 Agustus, juga dalam perbuatan cinta kasih dan tolong-menolong yang amat biasa dan sederhana. Sementara beberapa seniman menggambarkan, Semar juga tidak hilang, kita bisa menemukannya asal kita mencari dia di tengah kehidupan yang sederhana. Ia tersenyum di pasar ikan, ia bekerja sebagai penyapu jalan, yang menyapu bukan dengan sapu lidi, melainkan sapu persatuan.

Rakyat biasa juga bisa mengambil hikmah justru dengan hilangnya Semar. Dalam pertunjukan wayang kulit untuk menutup pameran di Bentara Budaya, digelar lakon Ilange Semar. Diceritakan, hilangnya Semar membuat terang dan jelas mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia tak bisa mengelak untuk diterangi cahaya terang itu. Bahkan, Patih Sengkuni, tokoh culas dan provokator kerusuhan yang ulung, tak bisa tidak harus mengakui kesalahannya. Ia tak bisa lagi menutupi kejahatannya. Ia tersiksa oleh kejahatan itu. Maka, ia ingin bertobat. Alasan pertobatannya bukan lagi moral, politik atau kekuasaan, melainkan kehidupan. Ia merasa sudah tua, tak boleh lagi ia meneruskan kejahatannya. Kalau tidak, bagaimana ia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ketika mati nanti.

Sengkuni akhirnya bertobat. Mana ada Sengkuni bertobat? Ini sungguh melawan pakem wayang. Namun, malam itu lakon wayang Ilange Semarmemang sengaja hendak dijadikan sindiran agar politikus kita juga mau bertobat, seperti Sengkuni. Memang, seluruh perbuatan politik pun tak bisa hanya dipertanggungjawabkan secara politik dan demi kekuasaan. Politik harus dipertanggungjawabkan juga terhadap kehidupan, yang mau tak mau harus berhadapan dan berakhir dengan kematian dan akhirat. Untuk itu, siapa pun perlu bertobat.Harian KOMPAS

17/06/2017

Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan's cover photo

17/06/2017

Timeline Photos

16/01/2017

--:: Pelita si Buta ::-----

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.

Melihat hal itu, orang buta tersebut terbahak dan berkata, "Buat apa saya bawa pelita ? Kan sama saja buat saya ! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

Tak berapa lama dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata ! Beri jalan buat orang buta d**g !" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

-----***-----

Kemudian orang buta tersebut melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta ? Tidak bisa lihat ya ? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat !"

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta ! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam !"

Si buta tertegun. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta."

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanannya masing-masing.

-----***-----

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tersebut. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam ?"

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama."

Senyap sejenak. Secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta ?"

Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

-----***-----

Ketika mereka sedang mencari pelita mereka, lewatlah seseorang. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Sepertinya saya perlu membawa pelita, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Refleksi Hikmah :

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan !).

Si buta pertama, mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, TIDAK SADAR bahwa LEBIH BANYAK JARINYA yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama, mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun sebenarnya mereka bisa melihat.

Penabrak kedua, mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua, mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat, mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing ? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam ? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

10/01/2017

Kelahiran bukanlah awal dari kehidupan, karna sejatinya kita sudah hidup sebelum kita terlahir kedunia, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, karna nanti kita tetap hidup di alam yang lebih indah. so tidak ada kematian, yang ada hanyalah hidup di tempat lain. Tempat yang lebih kekal abadi.
Rest In Peace
Thank you for your attendant!!

10/01/2017

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak-bapak, Ibu-ibu shaha sadherek-sadherek ingkang kinur-matan.

Innalillahi wa innailaihi raji’un.

Kula minangka wakilipun para ta’jiyah PB. KRW nderek bela sungkawa dhumateng ahli waris keluarga ingkang nembe pikantuk
pacobaning Gusti kanthi kunduripun Bg. Indra Saputra wonten ngayunaning Pangeran Ingkang Maha Kawasa.

Salajengipun ingkang kita suwun mugi-mugi arwahip almarhum angsala berkah rohmating Pangeran
Ingkang Maha Agung, pinaringana jembar kuburipun saha penari ngana pajar marginipun, sageda dipun apunten sadaya kalepat saha dosa-dosanipun.

Mugi-mugi sadaya keluarga ingkang tinilar pinaringan sabar; tawakal saha pinaringan darmaning agesang wonten alam bebr yan. Mugi-mugi pinaringan manah ikhlas, rila saha narima ingi takdir. Jer manungsa punika namung nampi punapa ingkang dipi kersakaken Pangeran. Manungsa menika namung titipanipun Pangeran ingkang sawanci-wanci kapundhut. Kita sadaya namun sadremi nglampahi, asumarah wonten ngarsanipun.

Wusana cekap samanten kemavvon atur kula, mbok bilih won ten klenta-klentuipun rembak kula ingkang kirang mranani, kula tansah nyuwun agunging pangaksami.

Akhirul kalam bilahit taufik wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb,.

Ingkang nderek bela sungkawa
Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan.

29/12/2016

Point of view,

Saat perjalanan seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. ”Oh... saya mau ke Jakarta terus ”connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw... hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.

Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah, anak yang di Singapore tadi, putra yang kedua ya bu?? Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”” Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.””

Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”

Pemuda itu segera menyahut, ”Maaf ya Bu..... kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ”??

Do you want to know the answer??????...
.......Dengan tersenyum ibu itu menjawab,
” Ooo ...tidak tidak begitu nak....Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”

Today's lesson : Everybody in the world is important. Open your eyes. ...your heart....your mind....your point of view because we can't make summary before reading ”the book ”completely.A wise man said...The more important thing is not WHO YOU ARE But WHAT YOU HAVE DONE

26/12/2016

KEBIASAAN BAGAI MENCABUT POHON

Pada suatu hari seorang tua yang bijaksana berjalan melalui hutan bersama seorang muda yang terkenal tidak bertanggung jawab dan kepala batu. Orang tua itu menghentikan langkahnya, lalu menunjuk sebuah pohon yang masih kecil. ”Cabutlah pohon itu,” katanya. Segara pemuda itu membungkuk, dan hanya dengan dua jari saja ia dengan mudah dapat mencabut pohon itu.

Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebuah pohon yang agak besar. ”Coba cabut pohon ini,” katanya. Sekali lagi pemuda itu menuruti perimtahnya, namun kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan dengan sekuat tenaga mencabut akar pohon itu.

Akhirnya, mereka berhenti lagi di depan sebuah pohon yang sangat besar. ”Sekarang, cabutlah pohon ini!” perintahnya lagi.
”Wah, itu tidak mungkin!” protes pemuda itu.

”Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldoser.”

”Engkau benar sekali,” Jawab orang tua itu.

”Kebiasaan, entah baik ataupun buruk, sama seperti pohon-pohon itu. Kebiasaan yang belum berakar dalam seperti pohon yang masih sangat kecil, dapat dicabut dengan sangat mudah. Kebiasaan yang akarnya mulai mendalam seperti pohon yang sudah agak besar; untuk mencabutnya diperlukan usaha dan tenaga yang kuat. Kebiasaan yang sudah sangat lama telah berakar sangat dalam, sehingga orang itu sendiri tidak bisa lagi mencabutnya. Jagalah dirimu agar kebiasaan yang sedang engkau tanamkan adalah kebiasaan-kebiasaan baik.”

25/12/2016

안녕 하세유. 안녕 조모 십새유. 제 이르믄 KRW 입니다! 사랑해유!

16/06/2016

Kisah inspiratif Ramadhan:
Mati Hanya Membawa Amal
Pada suatu hari di sebuah Rumah sakit Fikri Medika Bogor, seorang kakek tua ditemani cucu dan anaknya. Rupanya sang kakek sakit parah dan menjelang sakaratul maut. Ketika itu dikumpulkannya semua anak anaknya dan beliau berpesan:
"Anaku sekalian, sepertinya ayah sudah tidak kuat lagi, napas ayah terasa sangat berat, nak dengarkan wasiat ayah baik- baik: jika ayah meninggal nanti tolong ayah dipakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun lusuh, kumal dan robek tak apa pakaikan saja, itu adalah kaos kaki kesayangan ayah sewaktu masih bekerja dulu" begitu pintanya lirih. Tak lama kemudian sang kakek itupun meninggal dunia. Pihak keluarga sesuai wasiat meminta ke Bpk modin untuk memakaikan kaos kaki bekas ke jasad, namun modin itu menolak, karna agama melarang memakaikan jasad kecuali kain mori 2 helai saja. Terjadi perdebatan sengit antara anggota keluarga dan modin. Sampai akhirnya datanglah notaris keluarga membawa sepucuk surat terakhir almarhum yang isinya:
"Anaku sekalian pasti sekarang kalian merasa bingung karna modin tidak mengijinkanmu untuk memakaikanku kaos kaki kesayanganku kejasad ayah. Itulah sebenarnya yang ayah ingin tunjukan padamu, bahwa ketika kita mati, kita tidak membawa apapun, jalankan emas permata, kaos kaki bekas yang sudah sobekpun tidak kita bawa, hanya amal kebajikan yang bisa kita bawa ke akhirat kelak...

30/01/2016

Perasaan kaya sepi bae..

30/01/2016

Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan

21/01/2016

Ikut meramaikan Kirab Piala Jenderal Soedirman Cup

21/01/2016

To: Anggota SPBKRW
Mohon maaf halaman ini belum sempurna masih dalam tahap pengembangan mohon bantuannya untuk ikut berpartisipasi mendesain latar dan tampilanya.

Address

Gedung Mabes KRW, Jl. Tinggar Jaya Wetan, Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang
Purbalingga
53356

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pengurus Besar Komunitas Remaja Wetan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Nearby non profit organizations


Other Community Organizations in Purbalingga

Show All