02/11/2025
Lebih Buruk dari Orang-Orangan Sawah
Orang-orangan di sawah itu setidaknya berguna. Ia berdiri tegak, menakuti burung-burung, menjaga padi agar tumbuh. Tak bisa bicara, tak bisa sujud, tapi punya fungsi.
Lalu ada manusia—yang sempurna tubuhnya, cerdas pikirannya—tapi tak mengindahkan shalat dalam keseharian hidupnya. Yang lima waktu hanya berhenti di sajadah, tidak pernah berlanjut ke pasar, ke kantor, ke jalan, ke cara hidup.
Yang sujudnya selesai di lantai, tapi tak pernah sampai ke hatinya.
Shalat, katanya, “sudah”. Padahal yang belum justru dirinya: belum menjadi manusia yang membawa shalat itu ke dalam hidup.
Maka mungkin benar: orang seperti itu lebih hina dari sampah. Sampah masih bisa didaur ulang, jadi pupuk, jadi energi. Tapi hati yang membatu—yang menganggap ibadah sebagai ritual tanpa makna—sering tak bisa diolah lagi, kecuali oleh waktu dan musibah.
Sebab shalat bukan hitungan rakaat, tapi arah hidup. Dan orang yang tidak menegakkan arah itu, bahkan setelah menghadap kiblat, sesungguhnya telah kehilangan kompasnya. Ia berdiri, rukuk, sujud—namun tanpa ruh. Seperti orang-orangan: bentuknya manusia, tapi jiwanya kosong.