Yayasan WeBe Konservasi Ketapang

Directions Website

Yayasan WeBe Konservasi Ketapang edukasi satwa di lindungi dan pemberdayaan masyarakat pesisir dan p**au p**au kecil

Yayasan WeBe Konservasi Ketapang melakukan penjajakan program kemitraan bersama Bappeda Kabupaten Ketapang 24 September ...
25/09/2026

Yayasan WeBe Konservasi Ketapang melakukan penjajakan program kemitraan bersama Bappeda Kabupaten Ketapang 24 September 2026 sebagai langkah awal untuk membuka ruang kolaborasi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pertemuan ini membahas berbagai peluang kerja sama, mulai dari program konservasi berbasis masyarakat, penguatan peran masyarakat pesisir, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan yang dapat berjalan seiring dengan upaya perlindungan lingkungan dan pemanfaatan potensi daerah.

Bagi WeBe, kolaborasi bukan hanya tentang menyusun program, tetapi juga membangun ruang bersama agar pengetahuan, pengalaman, dan potensi masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pembangunan. Melalui penjajakan ini, WeBe bersama Bappeda Ketapang berharap dapat mengidentifikasi peluang program yang relevan dan berdampak bagi masyarakat serta lingkungan. Karena menjaga alam dan mengembangkan potensi daerah membutuhkan langkah bersama, dari gagasan hingga aksi nyata.

Selasa, 22 September 2026, Aula Kantor Kecamatan Kendawangan menjadi tempat bertemunya berbagai pihak yang memiliki kepe...
24/09/2026

Selasa, 22 September 2026, Aula Kantor Kecamatan Kendawangan menjadi tempat bertemunya berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pesisir dan laut Kendawangan. Dalam kegiatan Sosialisasi Pengelolaan Kawasan Konservasi Kendawangan dan Perairan Sekitarnya yang dilaksanakan oleh UPT Pengelola Kawasan Konservasi di Perairan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, masyarakat, pemerintah desa, kelompok nelayan, dan berbagai pihak lainnya duduk bersama untuk memahami kembali bagaimana kawasan konservasi dapat dikelola dan dijaga secara berkelanjutan. Bagi kami di Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, pertemuan seperti ini bukan sekadar berbagi informasi, tetapi menjadi ruang untuk mendengar, berdiskusi, dan mempertemukan berbagai peran yang ada di masyarakat.

Karena menjaga laut tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Ada pemerintah yang mengelola, ada masyarakat yang hidup dan bergantung pada pesisir, ada kelompok nelayan yang sehari-hari beraktivitas di laut, dan ada banyak pihak yang dapat mengambil bagian dalam menjaganya. Yayasan WeBe turut hadir sebagai peserta sekaligus membantu pelaksanaan dan koordinasi keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini. Dari Kendawangan, kami belajar kembali bahwa konservasi akan menjadi lebih kuat ketika pengetahuan bertemu dengan pengalaman masyarakat, dan ketika setiap pihak mau mengambil peran. Sebab, menjaga kawasan konservasi hari ini berarti menjaga sumber daya pesisir dan laut agar tetap memberi kehidupan untuk hari ini dan generasi yang akan datang.

Pernah kepikiran bagaimana tim di lapangan mencatat begitu banyak informasi dari lokasi yang luas dan kondisi yang berag...
22/09/2026

Pernah kepikiran bagaimana tim di lapangan mencatat begitu banyak informasi dari lokasi yang luas dan kondisi yang beragam? Di sinilah LILA hadir. LILA membantu tim Yayasan WeBe dan kelompok masyarakat dalam mencatat lokasi, mendokumentasikan temuan, hingga menyinkronkan data secara lebih terstruktur. Mulai dari pemantauan mangrove, lamun, keanekaragaman hayati, pemetaan, hingga temuan lapangan, setiap titik yang dicatat punya cerita tentang kondisi lingkungan di sekitarnya.

Tapi, teknologi saja nggak cukup. LILA hanyalah alat bantu. Di balik setiap data, ada orang-orang yang turun langsung ke lapangan untuk mengamati, memahami, dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata. Karena pada akhirnya, dari lapangan menjadi data, dan dari data menjadi langkah untuk menjaga alam.

LILA — Lokasi, Informasi, dan Data Lapangan.
Teknologi membantu mencatat. Manusia yang memberi makna pada data.

Supported by SEA Grants.
SEA Grants is an initiative of the GEF/UNEP/UNOPS
SCS SAP Project in partnership with COBSEA.

Bagi kami di Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, menjaga alam tidak selalu dimulai dari tengah hutan atau dari laut. Kadan...
17/09/2026

Bagi kami di Yayasan WeBe Konservasi Ketapang, menjaga alam tidak selalu dimulai dari tengah hutan atau dari laut. Kadang, langkah itu dimulai dari sebuah perbatasan. 10–15 September 2026, WeBe berkesempatan menjadi peserta dalam Operasi Gabungan Indonesia–Malaysia di kawasan Aruk–Biawak, yang diinisiasi oleh Sarawak Forestry Corporation (SFC) Malaysia bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kalimantan Barat melalui Satpel PLBN Aruk. Bersama tim gabungan, kami melihat langsung bagaimana pengawasan dilakukan melalui patroli, pemeriksaan kendaraan dan barang, blockade, hingga sosialisasi kepada masyarakat untuk mencegah penyelundupan komoditas karantina dan satwa liar lintas batas.

Di lapangan, setiap pemeriksaan membawa cerita. Sedikitnya 336 kendaraan diperiksa, 278 batang kayu olahan ditemukan, dan 240 kilogram daging sapi tanpa dokumen karantina yang sah berhasil diamankan untuk penanganan lebih lanjut. Ada p**a satu ekor cica daun besar (Chloropsis sonnerati) yang berhasil diselamatkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya di TWA Gunung Melintang. Bagi kami, pengalaman ini mengingatkan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati membutuhkan lebih dari sekadar pengawasan ia membutuhkan kolaborasi, kepedulian, dan keberanian untuk bergerak bersama. Dari garis perbatasan Aruk–Biawak, kami belajar bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, karena tidak ada batas negara bagi pentingnya menjaga kehidupan.

Pertanyaan itu membawa tim Yayasan WeBe Konservasi Ketapang dan Program Studi Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Tanjungpur...
17/09/2026

Pertanyaan itu membawa tim Yayasan WeBe Konservasi Ketapang dan Program Studi Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Tanjungpura menyusuri sejumlah kawasan pesisir Kendawangan pada 11–14 September 2026. Dalam kegiatan Survei Cepat Karbon Sedimen, tim melakukan survei lapangan dan mengambil sampel sedimen di beberapa titik, mulai dari Pulau Gelam, Darat Malang, Tanjung Lumpang, Teluk Tanjung Tinggi Utara, hingga Teluk Sabun. Setiap sampel dikumpulkan dan disimpan pada suhu rendah menggunakan es di dalam box, kemudian dibawa ke Pontianak untuk penelitian lebih lanjut guna mengetahui kandungan karbon yang tersimpan di dalam sedimen. Sebanyak 9 orang terlibat dalam kegiatan ini, terdiri dari 4 orang FMIPA Universitas Tanjungpura, 2 orang dari Pokdarwis/Pokmaswas Cempedak Lestari, dan 3 orang dari Yayasan WeBe Konservasi Ketapang sebagai pendamping.

Di balik setiap sampel, ada cerita tentang ekosistem pesisir yang menyimpan lebih dari yang terlihat. Di sela perjalanan dan pengambilan sampel, tim juga menemukan burung madu bakau, menambah catatan keanekaragaman hayati dalam perjalanan survei. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kemitraan untuk mendukung penelitian dan upaya konservasi pesisir dan laut di Kalimantan Barat, khususnya di Pulau Gelam. Karena memahami pesisir bukan hanya tentang melihat apa yang ada di permukaan, tetapi juga mempelajari apa yang tersimpan di dalamnya. Mari terus mengenal, menjaga, dan mendukung upaya konservasi pesisir karena setiap data dari lapangan dapat menjadi langkah penting untuk menjaga ekosistem di masa depan.

Pengembangan pariwisata tidak selalu dimulai dari sebuah destinasi baru. Terkadang, langkah awalnya justru dimulai dari ...
12/09/2026

Pengembangan pariwisata tidak selalu dimulai dari sebuah destinasi baru. Terkadang, langkah awalnya justru dimulai dari sebuah pertemuan, percakapan, dan kemauan untuk saling berbagi. Pada 10 September 2026, Yayasan WeBe Konservasi Ketapang bersama Wira Wisata Khatulistiwa (WIATA) berkesempatan melakukan koordinasi bersama Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata, Kabid Pemasaran dan Kelembagaan Pariwisata, Disporapar Kabupaten Sambas, serta dosen Poltesa. Pertemuan ini menjadi ruang untuk melihat lebih dekat perkembangan pariwisata di Kabupaten Sambas sekaligus bertukar gagasan mengenai VisitKalbar dan bagaimana potensi daerah dapat dikembangkan serta diperkenalkan dengan lebih baik.

Dari pembahasan tersebut, kami melihat bahwa Sambas memiliki cerita dan potensi yang menarik untuk terus dikembangkan. Mulai dari destinasi, kekayaan budaya, hingga peluang kolaborasi dalam penguatan informasi dan promosi pariwisata. Bagi WeBe dan WIATA, pertemuan ini bukan sekadar koordinasi, tetapi menjadi bagian dari proses menyambungkan ide, pengetahuan, dan jejaring antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra pariwisata. Karena ketika banyak pihak berjalan bersama, potensi yang ada bukan hanya menjadi tempat untuk dikunjungi, tetapi juga dapat menjadi cerita yang dikenal lebih luas.

Satu kolaborasi dimulai dari satu ruang diskusi. Dari sana, lahir banyak kemungkinan untuk menciptakan dampak yang lebih...
07/09/2026

Satu kolaborasi dimulai dari satu ruang diskusi. Dari sana, lahir banyak kemungkinan untuk menciptakan dampak yang lebih luas. 4 September 2026, Yayasan WeBe bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3KM) Politeknik Negeri Ketapang (POLITAP) berdiskusi di Ruang Program Studi Teknologi Informasi POLITAP untuk membahas pengembangan program dan kolaborasi ke depan. Berbekal kerja sama yang sebelumnya telah berjalan bersama Prodi Teknologi Informasi, pembahasan kali ini diarahkan untuk memperluas kolaborasi dengan program studi lain yang relevan. Berbagai peluang dibahas, mulai dari riset, pengembangan produk olahan masyarakat pesisir, digitalisasi melalui SIPP dan LILA, pariwisata berkelanjutan, hingga rencana pembangunan stasiun riset di Pulau Gelam

Lebih dari sekadar membahas rencana, pertemuan ini menjadi langkah untuk menyatukan potensi dan memperkuat jejaring. Yayasan WeBe dan POLITAP sepakat untuk menjajaki keterlibatan lebih luas antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, NGO, hingga jejaring regional. Roadmap program, keterlibatan dalam kegiatan GMD, penguatan riset, pengembangan inovasi, hingga peluang kerja sama tingkat Asia menjadi bagian dari tindak lanjut yang akan didorong bersama. Karena ketika pengetahuan bertemu dengan kebutuhan masyarakat dan semangat menjaga lingkungan, kolaborasi tidak lagi sekadar wacana tetapi dapat menjadi jalan menuju konservasi yang berkelanjutan dan masyarakat pesisir yang semakin berdaya.

Bagaimana kalau teknologi yang kita kembangkan hari ini bisa benar-benar membantu masyarakat di lapangan?Pada Kamis, 3 S...
07/09/2026

Bagaimana kalau teknologi yang kita kembangkan hari ini bisa benar-benar membantu masyarakat di lapangan?

Pada Kamis, 3 September 2026, Yayasan WeBe berdiskusi bersama Dosen Teknologi Informasi POLITAP untuk membahas lanjutan tiga inovasi yang sedang dikembangkan: LILA, aplikasi pencatatan temuan berbasis lokasi; WebAR, teknologi yang menghadirkan pengalaman digital interaktif untuk mengenal suatu tempat; dan Visit Kalbar, sistem informasi pariwisata untuk memperkenalkan potensi destinasi di Kalimantan Barat. Dari ruang diskusi sederhana, lahir berbagai gagasan untuk menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Teknologi bukan sekadar tentang aplikasi dan sistem. Teknologi menjadi berarti ketika mampu menjawab kebutuhan, mempermudah pekerjaan, membuka akses informasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui kolaborasi Yayasan WeBe dan TI POLITAP, kami terus mencoba mengubah ide menjadi inovasi yang dapat memberikan kontribusi bagi Kalimantan Barat.

Menurut kamu, inovasi teknologi apa yang paling dibutuhkan untuk membantu masyarakat dan potensi daerah di Kalimantan Barat?
Tulis idemu di kolom komentar!

Dari ide, menjadi inovasi. Dari inovasi, menjadi kontribusi.

Address

Pontianak

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan WeBe Konservasi Ketapang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share