07/10/2025
Kisah Gus Fayyad Zafran Azmi di MQK Internasional 2025. Santri Nusantara yang Mendunia
Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) ke-8 tahun 2025 menjadi catatan penting dalam sejarah dunia pesantren Indonesia. Diselenggarakan di Pondok Pesantren As’adiyah, Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, ajang ini tampil dalam wajah yang berbeda. Jika sebelumnya MQK hanya berskala nasional dan diikuti oleh santri pilihan dari 33 provinsi di Indonesia, maka tahun ini langkahnya melampaui batas. Untuk pertama kalinya, MQK naik tingkat menjadi MQK Nasional & Internasional, diikuti oleh 10 negara Asia Tenggara.
Suasana pesantren As’adiyah pun berubah menjadi lautan peci dan sorban, suara kitab kuning bergema di aula, dan lantunan doa dari berbagai bahasa berpadu menjadi satu irama. Inilah momen ketika ilmu, adab, dan budaya santri bertemu di satu titik yang sama, semangat meneguhkan peran pesantren sebagai penjaga ilmu dan peradaban.
MQK sendiri dihelat setiap tiga hingga empat tahun sekali oleh Kementerian Agama RI. Ajang ini bukan semata perlombaan, tapi juga ruang silaturahmi keilmuan antarpesantren, wadah menjaga sanad, dan bukti bahwa kitab kuning bukan warisan masa lalu, melainkan napas peradaban Islam yang masih hidup hingga kini.
Tahun ini, MQK menghadirkan 13 bidang lomba utama, terbagi dalam tiga jenjang (marhalah) dan dua kategori (putra dan putri).
1. Marhalah Ula (tingkat dasar): Fiqh, Tauhid, Nahwu, Akhlak
2. Marhalah Wustha (tingkat menengah): Fiqh, Tauhid, Hadis, Tafsir
3. Marhalah Ulya (tingkat tinggi): Fiqh, Tafsir, Hadis, Ushul Fiqh, Tarikh Tasyri’
Dari seluruh marhalah itu, lahir nama-nama juara yang membawa harum pesantren dan daerah asalnya. Salah satunya adalah Gus Fayyad Zafran Azmi, santri yang usianya masih muda sukses menorehkan prestasi gemilang sebagai Juara 1 Majlis Nahwu Marhalah Ula (Putra).
Gus Fayyad merupakan delegasi Provinsi Jawa Timur, mewakili Madrasah Hidayatul Mubtadi’in, Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Namun jejak keilmuannya tak berhenti di sana. Beliau merupakan keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Huda Al-Muntahy, Kembang Jeruk, Banyuates, Sampang, Madura. Cucu almarhum KH. Abdul Mannan Muntaha, putra dari KH. Muktamar Zuhri, Lc dan Nyai Hj. Aisyah Abdul Mannan Muntaha.
Prestasi yang diraih Gus Fayyad bukan sekadar kemenangan pribadi. Ia membawa nama Lirboyo, Jawa Timur, dan tentu Indonesia ke hadapan para ulama dan santri dari 10 negara Asia Tenggara. Dalam ajang yang mempertemukan intelektualitas dan spiritualitas, Gus Fayyad menunjukkan bahwa ilmu yang lahir dari kesungguhan, disiplin, dan adab akan selalu menemukan jalannya menuju pengakuan dunia.
Selain Gus Fayyad, MQK 2025 juga menobatkan santri-santri berprestasi dari berbagai negara. Sebut saja Muhammad Habib Yusra (Indonesia) yang menjadi Juara I Fiqh Internasional, Mohd Fauzan Bin Abdullah (Malaysia) Juara I Tafsir Internasional, serta Chalisa Hasibuan yang menyabet Juara I Tafsir Marhalah Wustha. Keberagaman ini menegaskan bahwa pesantren bukan hanya milik bangsa Indonesia, melainkan bagian dari khazanah Islam global yang menghubungkan umat lewat ilmu.
Di tanah Madura, kabar kemenangan Gus Fayyad disambut haru dan bangga. Para alumni dan santri Al-Muntahy menyebutnya sebagai bukti nyata bahwa benih ilmu yang ditanam para kiai tidak pernah sia-sia. Dari sebuah kampung kecil Nanggher Desa Kembang Jeruk Banyuates, muncul santri muda yang kini dikenal di panggung internasional.
Perjalanan Gus Fayyad menjadi cermin bahwa tradisi keilmuan pesantren tetap relevan, bahkan semakin berharga di tengah arus modernitas. Pesantren bukan tempat yang tertinggal, tetapi ruang yang menyiapkan masa depan dengan bekal ilmu, akhlak, dan keteguhan niat.
Dan bagi para santri di seluruh penjuru negeri, kisah ini menjadi pesan yang lembut tapi kuat, bahwa jalan ilmu tak mengenal batas. Setiap lembar kitab yang dibaca dengan ikhlas adalah langkah menuju kemuliaan. Setiap doa kiai yang dipanjatkan adalah jembatan menuju keberkahan.
Semoga dari tangan-tangan santri seperti Gus Fayyad Zafran Azmi, lahir generasi baru ulama yang tak hanya pandai membaca kitab, tapi juga mampu membaca zaman dan menulis ulang sejarah peradaban Islam dengan pena keilmuan dan tinta ketulusan.
Author: Abdul Latif Malik