15/10/2025
Dari Singkawang Mengalir Doa dan Rindu untuk Masyayikh Al-Muntahy
Malam di Kota Singkawang terasa berbeda pada 13 Oktober 2025. Di kediaman Ustaz Zubairi, suasana penuh kehangatan menyambut ratusan jamaah yang datang berduyun-duyun mulai dari para alumni Al-Muntahy, simpatisan, hingga masyarakat sekitar. Lampu-lampu kecil di halaman rumah berpadu dengan lantunan doa dan shalawat, menciptakan suasana teduh dan khusyuk.
Malam itu, menggelar Haul Masyayikh Al-Muntahy, yang dirangkai dengan Tasyakuran Madrasah Sirojul Mubtadi’in dan TPQ Miftahul Ulum.
Dzikir, doa, dan shalawat mengalun dari hati-hati yang rindu, rindu kepada baginda Nabi, dan kepada para guru yang telah menanamkan ilmu dan adab dengan kasih yang tak pernah pudar. Tak ada kemewahan di acara itu, hanya wajah-wajah sederhana yang memantulkan ketulusan dan cinta kepada para masyayikh Al-Muntahy. Bagi banyak alumni, malam haul bukan sekadar acara tahunan, melainkan waktu untuk pulang; bukan ke tempat, tapi ke kenangan dan makna yang dulu mereka temukan di pesantren.
Keesokan harinya, Selasa pagi 14 Oktober 2025 pukul 08.00 WIB, suasana di rumah Ustaz Zubairi kembali hidup. Para santri dan alumni berkumpul dalam Kajian Kitab Al-Hikam yang dipimpin oleh KH. Ushuluddin Emha, S.Ag. Dengan tutur lembut dan penuh makna, beliau mengurai hikmah-hikmah ketuhanan dalam setiap bait kitab yang sejak lama menjadi rujukan para sufi dan santri.
Kajian Al-Hikam ini merupakan agenda rutin ISSMU-KAB yang digelar setiap tiga bulan sekali. Tujuannya sederhana namun mendalam, menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan spiritualitas santri di tengah derasnya arus zaman. Sebab, tradisi mengaji kitab adalah warisan yang tak boleh putus; di sanalah ruh pesantren hidup, menghubungkan hati para santri dengan ulama dan, pada akhirnya, dengan Allah.
Karena keesokan paginya digelar kajian kitab, beberapa alumni dari daerah jauh seperti Kubu Raya, Mempawah, dan Pontianak memilih untuk bermalam di Singkawang. Malam itu menjadi kesempatan langka untuk berbincang, bernostalgia, dan mempererat kembali silaturahmi antaralumni yang sudah lama tak bersua.
Menjelang siang, kajian ditutup dengan doa bersama. Langit Singkawang tampak teduh, seolah ikut mendengarkan setiap doa yang terucap pelan. Tak ada yang pulang dengan tangan kosong, sebab semua membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: dada yang penuh rindu, hati yang sarat ilmu, dan jiwa yang dipenuhi rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk menjaga tradisi dan warisan para guru.