Natural Kapital Foundation

Natural Kapital Foundation Conservation, Smallholder Agriculture, Rural, Climate Change and Sustainable Development

KETIKA AIR GAMBUT HILANG, API MENDAPAT RUANG. 🔥💧Setiap musim kemarau, titik api kembali muncul.Di Limbung, Kubu Padi, da...
03/09/2026

KETIKA AIR GAMBUT HILANG, API MENDAPAT RUANG. 🔥💧
Setiap musim kemarau, titik api kembali muncul.
Di Limbung, Kubu Padi, dan Pasak Piang, di mana program YNKI – TFCA Kalimantan baru dimulai, citra satelit menunjukkan adanya area terbakar pada Agustus 2026. Melihat di mana api muncul saja belum cukup untuk memahami mengapa api bisa menyebar. Cerita kebakaran dimulai jauh sebelum api terlihat.
Gambut yang kehilangan air menjadi kering dan rentan terbakar. Gangguan tata air, kanal, perubahan penggunaan lahan, degradasi hutan, dan riwayat kebakaran membentuk kondisi lanskap yang berbeda-beda.
Karena itu, tiga desa dalam Lanskap Gambut Pesisir Kapuas tidak dapat dilihat sebagai ruang yang berdiri sendiri.
Kubu Padi masih memiliki fungsi hidrologi yang relatif baik, tetapi tetap menghadapi risiko kebakaran.
Pasak Piang menghadapi degradasi hidrologi berat dan riwayat kebakaran yang tinggi.
Limbung menghadapi tekanan hidrologi sekaligus pengaruh Sungai Kapuas dan dinamika pesisir.
Pemantauan Sentinel-2A tanggal 28 Agustus 2026, burnscar terpantau mencapai sekitar 1.513 hektare: Limbung ±700 ha, Kubu Padi ±387 ha, dan Pasak Piang ±426 ha.
Yang juga penting: Api hari ini memiliki sejarah.
Sebagian area terbakar berada pada belukar dengan riwayat kebakaran sebelumnya. Area dengan gangguan tata air dan gambut terdegradasi juga menunjukkan kerentanan lebih tinggi.
Maka pertanyaannya tidak berhenti pada: “Di mana lahan terbakar?”
Tetapi Lebih jauh: “Apa yang membuat suatu lanskap terus menjadi ruang bagi api?”
Kemudian: “Bagaimana membuat lanskap tidak mudah terbakar kembali?”
Pemulihan bukan hanya tentang lahan dan hutan yang terbakar. Yang perlu dipulihkan adalah fungsi lanskap: tata air, tutupan dan habitat, ketahanan terhadap kebakaran, produktivitas lahan, serta ketahanan masyarakat.
Memadamkan api adalah respons. Memulihkan fungsi lanskap adalah bagian dari pencegahan.
YNKI Story Landscape Series
Lanskap Gambut Kalimantan · Ketika Air Hilang, Api Mendapat Ruang

Pada 25-26 Mei 2026,   (YNKI) bersama TFCA menggelar Sosialisasi dan FPIC Program Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim ...
23/06/2026

Pada 25-26 Mei 2026, (YNKI) bersama TFCA menggelar Sosialisasi dan FPIC Program Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Desa di Desa Limbung dan Pasak Piang. Acara ini dihadiri oleh Erwin, perwakilan , selaku pengelola lanskap hutan di tingkat tapak.
Di Desa Limbung, ancaman kebakaran lahan dan pengelolaan tata air menjadi isu utama. Wilayah ini didominasi fungsi lindung gambut, sehingga perlindungan ekologis harus menjadi prioritas. Sementara di Desa Pasak Piang, tantangan tata air, risiko karhutla, dan banjir turut memengaruhi kehidupan warga. Pemulihan kawasan dan infrastruktur tata air menjadi kunci menjaga lahan pertanian dan perkebunan masyarakat.
KPH Kubu Raya melalui forum ini menekankan peran strategisnya: menjaga fungsi ekosistem gambut, mendukung perhutanan sosial, memperkuat pengendalian , serta memfasilitasi pemulihan hidrologis gambut dan kelembagaan masyarakat. Melalui FPIC, KPH memastikan pemahaman masyarakat tentang fungsi gambut, pengelolaan tata air, dan pencegahan karhutla berjalan seiring pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan.
Pesan utama KPH Kubu Raya: menjaga gambut bukan semata untuk lingkungan. Tata air yang baik menjaga produktivitas lahan, mengurangi banjir, dan menjamin keberlanjutan penghidupan masyarakat. Kesejahteraan dan kelestarian harus berjalan beriringan.

Pada Senin, 2 Juni 2026, YNKI bersama TFCA menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan FPIC program Mitigasi dan Adaptasi ...
22/06/2026

Pada Senin, 2 Juni 2026, YNKI bersama TFCA menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan FPIC program Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Desa Gambut. Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala KPH Wilayah Mempawah, Ibu Euis Hermawati, sebagai salah satu stakeholder lanskap-pengelola kelompok hutan produksi Peniti Besar-Sungai Temila. Kehadiran beliau menegaskan komitmen KPH dalam mendukung pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat dan berkelanjutan.
KPH Mempawah memiliki peran strategis dalam menjaga fungsi kawasan hutan, mendampingi pengelolaan hutan desa, serta memastikan restorasi ekosistem gambut berjalan sesuai kondisi lapangan. Melalui forum ini, KPH bersama YNKI-TFCA sepakat untuk memperkuat kolaborasi dengan Lembaga Desa Pengelola Hutan (LDPH) Kubu Padi Bersatu. Fokus penguatan mencakup tiga aspek utama: penguatan kapasitas kelembagaan, pendampingan teknis pengelolaan hutan, dan penguatan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
Desa Kubu Padi, yang terletak di Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, memiliki potensi besar dengan Hutan Desa seluas ±1.380 hektar. Namun, penguatan kelembagaan dan penyusunan dokumen RKPS/RKT masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dituntaskan. Dengan pendampingan intensif dari KPH dan program YNKI-TFCA, diharapkan pengelolaan hutan desa dapat berjalan lebih optimal memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
YNKI meyakini satu hal: masyarakat adalah kunci utama. Perlindungan hutan dan gambut tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui FPIC, kami memastikan setiap keputusan lahir dari persetujuan tanpa paksaan, dengan informasi yang utuh, dan dilakukan sebelum intervensi dilaksanakan.
Bagaimana pendapat tentang peran penting masyarakat dalam perhutanan sosial? Tulis di kolom komentar, ya!

PT Equator Sumber Rezeki (ESR), anak perusahaan dari First Borneo Group yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu, tengah ...
03/06/2025

PT Equator Sumber Rezeki (ESR), anak perusahaan dari First Borneo Group yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu, tengah menjalankan ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa sawit. Ekspansi ini tidak hanya memperluas jejak industri sawit, tetapi juga membunyikan alarm kekhawatiran serius. Wilayah konsesi PT ESR mencakup kawasan hutan tropis yang merupakan habitat kritis bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), spesies ikonik yang kini berstatus sangat terancam punah menurut IUCN.

Kegiatan pembukaan lahan yang terjadi di dalam kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) menandakan terjadinya deforestasi di area yang seharusnya dilindungi. Tindakan ini menjadi peringatan keras bagi PT ESR, bahwa keberlangsungan hidup orangutan, kelestarian hutan, dan stabilitas ekosistem tidak bisa dikorbankan demi kepentingan ekonomi sesaat. Hutan Kalimantan bukan hanya gudang karbon dan rumah bagi spesies endemik, tetapi juga penyangga kehidupan masyarakat adat dan lokal.

Lebih memprihatinkan lagi, kegiatan PT ESR dibungkus dengan minimnya transparansi dan lemahnya akuntabilitas. Tidak ada laporan dampak lingkungan yang terbuka kepada publik, sehingga masyarakat sipil dan pemangku kepentingan kesulitan menilai sejauh mana perusahaan ini menjalankan praktik keberlanjutan. Kondisi ini telah memicu reaksi tegas dari sejumlah pelaku industri global. Beberapa perusahaan besar, seperti Nestle dan Musim Mas, memilih memutus hubungan pasokan dengan PT ESR sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan dan penolakan terhadap praktik deforestasi.

Aktivitas PT ESR pun diduga telah melanggar prinsip-prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) sebuah standar etis dan lingkungan yang telah menjadi acuan global dalam rantai pasok minyak sawit berkelanjutan. Ketidakpedulian terhadap habitat orangutan dan eksploitasi sumber daya tanpa pertanggungjawaban bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga mencoreng citra industri sawit Indonesia di mata dunia internasional.

Lebih lanjut, praktik serupa juga dilakukan oleh dua anak perusahaan First Borneo Group lainnya PT Arjuna Sawit Utama dan PT Borneo International Anugerah yang turut memperluas perkebunan di kawasan berhutan lebat. Pola ekspansi semacam ini menunjukkan bahwa masalah ini bukanlah kasus tunggal, melainkan bagian dari pendekatan korporasi yang mengabaikan etika lingkungan dan sosial.

Data yang disajikan merupakan bentuk penyadartahuan kepada PT Equator Sumber Rezeki dan First Borneo Group agar mempertimbangkan secara serius dampak jangka panjang dari aktivitas ekspansi kebun sawit yang berlangsung. Perlu disadari bahwa perluasan ini tidak hanya mengancam keberlanjutan ekosistem hutan, tetapi juga berpotensi melanggar hak-hak masyarakat lokal. Oleh karena itu, kami mendorong penegakan hukum lingkungan yang tegas serta perbaikan tata kelola sumber daya alam yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan demi menjaga keseimbangan ekologis.

Hutan bukanlah lahan kosong untuk ekspansi tanpa batas. Ia adalah rumah bagi orangutan, bagi keanekaragaman hayati, dan bagi masa depan kita bersama. Melindunginya berarti menjaga kehidupan

Untuk memperkuat kapasitas tim, sesi ini difokuskan pada penerapan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Kelompok...
15/03/2025

Untuk memperkuat kapasitas tim, sesi ini difokuskan pada penerapan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Kelompok kerja restorasi gambut mendapatkan panduan langsung mengenai prosedur tagging, pengambilan sampel, serta teknik pengukuran vegetasi yang akurat. Interaksi dengan kelompok restorasi menjadi ajang berbagi pengalaman dan wawasan lapangan, memperkaya perspektif tim sebelum melakukan survei pada 27 Februari 2025.

Tim kemudian melakukan inventarisasi dan identifikasi tumbuhan di area restorasi (Hutan Desa), yang berjarak sekitar 2 km dari pemukiman di Dusun S**a Mulya, Parit Berkat 2. Kegiatan ini berlangsung secara sistematis: perintis membuka jalur tanam di depan, dipandu oleh navigator sebagai penunjuk arah, sementara anggota lainnya mengamati dan mencatat tumbuhan alami di sepanjang jalur. Setiap tumbuhan yang ditemukan ditandai (tagging) dengan pita, dicatat nama lokalnya, direkam koordinatnya menggunakan GPS, serta didokumentasikan secara detail.

Selain itu, tim melakukan pengukuran lingkar pohon (phiben), estimasi tinggi pohon, dan pengambilan sampel daun untuk identifikasi lebih lanjut. Sebagai bagian dari dokumentasi yang lebih mendalam, tim juga menyusun herbarium dari spesimen yang ditemukan. Sampel tumbuhan dikumpulkan secara lengkap, meliputi daun, bunga, buah, dan batang, kemudian difoto di atas kain hitam dengan skala pengukur untuk memudahkan analisis. Spesimen tersebut dikeringkan menggunakan metode pengepresan dan diberi label informasi lengkap, termasuk nama ilmiah, nama lokal, lokasi, tanggal pengumpulan, serta nama kolektor.

Dari hasil survei ini, teridentifikasi 16 jenis tumbuhan dari 10 famili dengan variasi ukuran tinggi dan diameter batang. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mendukung upaya restorasi dan pelestarian ekosistem gambut di Desa Permata Jaya.

Banjir di Kalimantan Barat bukan sekadar hujan deras yang kebetulan turun dalam waktu lama. Ada faktor yang lebih besar ...
01/02/2025

Banjir di Kalimantan Barat bukan sekadar hujan deras yang kebetulan turun dalam waktu lama. Ada faktor yang lebih besar yang perlu kita pahami yakni perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Suhu bumi yang semakin panas akibat emisi gas rumah kaca menyebabkan penguapan air laut meningkat. Artinya, ada lebih banyak uap air di atmosfer, yang kemudian jatuh sebagai hujan dengan volume besar dalam waktu singkat. Inilah mengapa kita sering melihat hujan deras yang ekstrem, bukan hujan gerimis yang turun perlahan seperti dulu.
Masalahnya, alam kita tidak lagi mampu menyerap air hujan seperti dulu. Deforestasi, pembukaan lahan gambut, dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan atau permukiman menghilangkan "spons alami" yang seharusnya menahan dan menyerap air. Akibatnya, air hujan yang turun deras langsung mengalir ke permukaan tanpa terserap tanah, mempercepat banjir dan merendam pemukiman.

yang berulang adalah sinyal bahwa kita perlu mengambil langkah serius dalam dan terhadap . Solusi berbasis alam seperti restorasi hutan dan lahan gambut, perbaikan tata kelola air, serta penguatan kebijakan lingkungan harus menjadi prioritas. Kita tidak bisa lagi hanya bereaksi saat bencana terjadi, kita harus bersiap sebelum bencana datang.

Jadi, Sobat Nature banjir bukan hanya soal hujan lebat tapi juga cerminan bagaimana kita memperlakukan lingkungan. Jika kita terus mengabaikan ekosistem yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan yang melindungi kita, maka banjir dan bencana lainnya akan semakin sering terjadi.

Halo, Sobat Nature! Pernahkah kalian membayangkan betapa berharganya hutan tropis bagi keberlangsungan hidup kita? Hutan...
30/01/2025

Halo, Sobat Nature! Pernahkah kalian membayangkan betapa berharganya hutan tropis bagi keberlangsungan hidup kita? Hutan bukan hanya "paru-paru dunia," tapi juga rumah bagi primata—penjaga alam yang diam-diam bekerja keras untuk bumi.

Di Kalimantan Barat, kita punya pahlawan bernama Orangutan, Bekantan, hingga primata unik lainnya yang hanya ada di sini. Mereka adalah penyebar biji alami, yang membantu pohon-pohon hutan tumbuh kembali. Dengan kata lain, primata adalah arsitek ekosistem yang menjaga hutan tetap hidup dan berfungsi sebagai penyangga iklim dunia.

Namun, ancaman nyata terus menghampiri mereka. Habitat primata kian menyusut karena ancaman deforestasi untuk perkebunan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan. Perburuan liar dan perdagangan ilegal juga menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup mereka.

Menurut sobat Nature, bagaimana strategi yang bisa kita lakukan untuk melestarikan primata agar mereka tetap mampu berkontribusi dalam keberlangsungan ekosistem hutan tropis? Yuk komen di bawah 🌱🌱🌱

Desa Pasak Piang, kini telah mulai dikenal dengan kopi lokal berkat semangat dan dedikasi seorang petani muda bernama Ro...
19/01/2025

Desa Pasak Piang, kini telah mulai dikenal dengan kopi lokal berkat semangat dan dedikasi seorang petani muda bernama Rohman bersama Kelompok Tani Teratai Putih. Yayasan Natural Kapital Indonesia sangat mengapresiasi kelompok tani tersebut dengan memberikan dukungan teknis berupa mesin huller, yang menjadi game-changer bagi para petani.

Mesin ini tidak hanya mengefisiensikan waktu dan tenaga, tetapi juga memastikan kualitas biji kopi tetap konsisten. Dengan proses yang lebih modern, kulit tanduk kopi terkelupas sempurna tanpa merusak biji kopi, menghasilkan produk berkualitas tinggi yang siap bersaing di pasar.

Namun, yang paling menarik adalah inovasi berkelanjutan yang diterapkan. Limbah kulit kopi tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanah. Dengan cara ini, petani kopi di Desa Pasak Piang tidak hanya menjaga produktivitas tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan.

Potensi ekonomi kopi saat ini memang sangat menjanjikan, terutama karena harga kopi yang sudah mengalami peningkatan. Dengan adanya dukungan sarana dan prasarana bagi petani kopi maka produktivitas kopi lokal bisa lebih signifikan. Setiap cangkir kopi Anda adalah hasil kerja keras dan inovasi dari para petani di desa Pasak Piang.

Pengikut

17/01/2025

Desa Permata Jaya di Kabupaten Kubu Raya memulai babak baru dalam pemulihan ekosistem gambut. Melalui kegiatan FPIC (Free, Prior, and Informed Consent), masyarakat desa berkomitmen untuk menjaga gambut yang lestari dan membentuk Kelompok Kerja Restorasi Gambut sebagai motor penggerak lokal.

Mengapa Lahan Gambut Penting?
• Menyimpan 600 gigaton karbon.
• Mencegah kebakaran dan kabut asap.
• Rumah bagi flora dan fauna unik.
Tetapi, ketika rusak, gambut bisa menjadi sumber bencana dengan pelepasan karbon yang besar.

Mengapa Restorasi Gambut Berbasis Komunitas?
âś” Menguatkan Ketahanan Desa: Kurangi risiko kebakaran dengan pendampingan.
âś” Mendukung Ekonomi Lokal: Olah hasil hutan bukan kayu untuk kesejahteraan masyarakat.
âś” Kolaborasi Inklusif: Semua pihak, dari pemerintah hingga masyarakat, berperan aktif.

Dukungan Kepala Desa, “Kami mendukung penuh pembentukan Kelompok Restorasi Gambut agar Desa Permata Jaya menjadi contoh desa restorasi gambut yang berkelanjutan,” – Sy. Solehudin Assegaf, Kepala Desa Permata Jaya.

Program ini digagas oleh Yayasan Natural Kapital Indonesia dan didukung oleh gerakan PM Haze. Bersama, kita pulihkan gambut untuk masa depan desa yang lebih hijau, adil, dan sejahtera!

Pada tanggal 19 November 2024, Yayasan Natural Kapital turut hadir dalam diskusi inspiratif bertajuk Berbagai Pengalaman...
01/12/2024

Pada tanggal 19 November 2024, Yayasan Natural Kapital turut hadir dalam diskusi inspiratif bertajuk Berbagai Pengalaman dan Cerita Pendampingan Desa sukses digelar di Balikpapan. Acara ini menghadirkan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendampingan desa melalui project KalFor,mulai dari rekan LSM, pemerintah daerah, hingga perwakilan komunitas lokal.

Pemaparan yang dilakukan oleh setiap peserta menyoroti keunggulan yang telah dicapai dari berbagai program pendampingan. Keberhasilan seperti peningkatan kapasitas kelompok masyarakat, pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, hingga peningkatan akses pasar bagi produk lokal menjadi bukti nyata dampak positif pendampingan di berbagai wilayah. Selain itu, cerita-cerita inspiratif dari lapangan menunjukkan bagaimana kolaborasi yang baik mampu membawa perubahan signifikan bagi masyarakat desa.

Namun, tidak hanya keberhasilan yang dibahas. Para peserta juga berbagi rekomendasi penting untuk memastikan keberlanjutan project di masa mendatang. Beberapa poin utama yang diangkat meliputi:
• Penguatan Kapasitas Lokal: Pentingnya pelatihan lanjutan untuk memperkuat kemampuan masyarakat desa dalam mengelola program secara mandiri.
• Kolaborasi Multisektor: Diperlukan sinergi yang lebih erat antara pemerintah, LSM, dan sektor swasta dalam mengikuti proses pendampingan dan mendukung pemberdayaan dan inovasi.
• Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan: Penerapan sistem evaluasi yang terstruktur untuk memastikan program berjalan sesuai rencana dan terus memberikan dampak positif.
• Dukungan Kebijakan Pengelolaan APL (Area Penggunaan Lain): Perlu adanya regulasi dan kebijakan yang mendukung pemanfaatan APL secara berkelanjutan, termasuk pemberdayaan masyarakat untuk mengelola dan melindungi sumber daya di wilayah tersebut.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman, tetapi juga forum diskusi produktif yang melahirkan ide-ide segar untuk pengembangan program di masa depan. Melalui refleksi dan masukan yang diberikan, semua pihak berharap pendampingan desa dapat menjadi pilar penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pengikut

Address

Pontianak
78121

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+6285752046377

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Natural Kapital Foundation posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Natural Kapital Foundation:

Shortcuts

Share