25/05/2026
Seni Gajah-Gajahan yang dikembangkan oleh Kyai Mujab Tohir (bersama para ulama/tokoh NU di Ponorogo) memang memegang peranan politik dan kultural yang sangat krusial pada era 1960-an, khususnya menjelang peristiwa tahun 1965.
Pada masa itu, kesenian ini secara sengaja digunakan sebagai instrumen strategi kebudayaan untuk mengimbangi dan menandingi dominasi Reog Ponorogo yang saat itu telah disusupi serta dikuasai oleh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI.
Berikut adalah dinamika sejarah dan strategi di balik penciptaan serta pop**aritas Gajah-Gajahan pada masa persaingan ideologi tersebut:
1. Polarisasi Budaya: Reog Lekra vs Gajah-Gajahan NU
Pada awal tahun 1960-an, PKI melalui Lekra berhasil melakukan penetrasi yang sangat kuat ke dalam basis-basis seniman tradisional di Ponorogo. Mereka merangkul para seniman Reog, memberikan bantuan alat, dan memodifikasi pakem cerita Reog untuk disisipi propaganda politik komunis (seperti tema perjuangan kelas atau anti-borjuis).
Melihat Reog telah menjadi alat politik PKI yang efektif untuk mengumpulkan massa, Kyai Mujab Tohir dan para tokoh Muslim (khususnya dari kalangan Nahdlatul Ulama/Banser) menyadari bahwa mereka tidak bisa melawan gerakan tersebut hanya dengan ceramah di dalam masjid. Mereka harus melawannya dengan kontra-strategi kebudayaan.
2. Memilih Gajah sebagai Simbol Tandingan
Dipilihnya bentuk gajah bukanlah tanpa alasan filosofis dan taktis:
Simbol Kekuatan Islam: Gajah sering dikaitkan dengan peristiwa sejarah Islam, yaitu Tahun Gajah (`Amul Fiil), tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, di mana pasukan gajah Abrahah yang sombong dihancurkan oleh kekuasaan Allah. Simbol ini digunakan untuk membakar semangat moral umat Islam dalam menghadapi tekanan politik saat itu.
Tumpangan para Santri: Jika Reog Lekra menampilkan visualisasi singa (Barongan) dan dadak merak yang garang, Gajah-Gajahan menampilkan figur gajah besar yang tampak tenang namun kuat. Di atas punggung gajah, diletakkan kursi untuk mengarak anak-anak santri yang khitan atau tokoh ulama, menyimbolkan kejayaan dan kehormatan generasi muda Islam.
3. Mengubah Pola Hiburan Rakyat
Kyai Mujab Tohir memodifikasi pertunjukan ini agar memikat hati masyarakat bawah yang menyukai keramaian, namun tetap menjaga batasan syariat:
Alat Musik: Musik pengiringnya diganti dari saron dan selompret khas Reog (yang saat itu identik dengan panggung Lekra) menjadi jedor, terbang (rebana), dan kendang yang bernuansa islami.
Lirik dan Syair: Sepanjang arak-arakan, lagu yang dikumandangkan bukan lagi lagu rakyat biasa, melainkan sholawat nabi dan syair-syair perjuangan (jihad) berbahasa Jawa dan Arab untuk membentengi akidah masyarakat dari ideologi ateisme.
4. Dampak Sosial-Politik di Ponorogo
Strategi kebudayaan Kyai Mujab Tohir ini terbukti sangat berhasil. Kesenian Gajah-Gajahan menjadi wadah konsolidasi massa yang luar biasa bagi umat Islam, khususnya warga nahdliyin di pedesaan Ponorogo. Setiap kali Gajah-Gajahan keluar, ribuan masyarakat berkumpul, yang secara otomatis memetakan kekuatan massa untuk mengimbangi pawai-pawai politik yang dilakukan oleh pihak PKI/Lekra.
Melalui modifikasi seni Gajah-Gajahan ini, Kyai Mujab Tohir berhasil membuktikan bahwa seni tradisional bisa menjadi benteng pertahanan ideologi dan agama yang sangat efektif di tingkat akar rumput tanpa harus kehilangan fungsi utamanya sebagai hiburan rakyat.