26/04/2026
Selat Hormuz memasuki babak baru setelah Pemerintah Iran resmi memberlakukan tarif transit bagi kapal komersial mulai 24 April 2026. Di tengah pengawasan ketat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Teheran secara selektif memberikan pembebasan tarif bagi negara-negara yang dianggap sebagai mitra strategis atau “negara sahabat”, sebuah langkah yang memicu pergeseran peta logistik energi global. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, mengonfirmasi bahwa Rusia menjadi negara pertama yang mendapatkan pengecualian tarif tersebut. Menyusul Moskow, sejumlah negara seperti Tiongkok dan Malaysia dikabarkan masuk dalam daftar prioritas. Indonesia pun kini menjadi sorotan; sebagai negara dengan hubungan diplomatik yang stabil dengan Iran, posisi Jakarta dalam daftar “negara sahabat” menjadi krusial untuk mengamankan jalur impor minyak mentah dan menjaga stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Wakil Ketua Pertama Parlemen Iran, Hamid Reza Haji Babaei, menyatakan bahwa pendapatan perdana dari tarif transit ini telah masuk ke Bank Sentral Iran. Bagi kapal yang tidak mendapat pengecualian, biaya transit yang dibebankan bisa mencapai US$2 juta per lintasan. “Kami memberikan kemudahan bagi mereka yang berdiri bersama kami melawan blokade ekonomi,” tegas pihak Teheran.
Bagi Indonesia, kebijakan ini bak buah simalakama. Jika kapal-kapal pengangkut energi menuju tanah air mendapatkan pembebasan tarif, maka risiko lonjakan harga energi domestik dapat diredam. Namun, jika Indonesia tidak masuk dalam daftar pengecualian, biaya logistik yang membengkak diprediksi akan mendorong kenaikan harga minyak mentah global melewati angka US$100 per barel, yang secara langsung akan membebani APBN melalui subsidi energi.
Hingga saat ini, pintu Selat Hormuz tetap tertutup rapat bagi kapal-kapal asal Amerika Serikat dan Israel. Dunia, termasuk para pelaku industri maritim di Indonesia, kini tengah memantau dengan cermat keputusan final Kementerian Luar Negeri Iran mengenai daftar lengkap negara yang akan dibebaskan dari tarif “tol” laut paling kontroversial di abad ini.
Courtesy of berbagai sumber.