24/09/2026
Ancaman drone dalam peperangan modern semakin mendapat perhatian serius. Benda terbang tanpa awak yang berukuran relatif kecil kini dapat digunakan untuk melakukan pengintaian hingga membawa muatan serangan. Kondisi tersebut membuat kemampuan pertahanan udara jarak pendek menjadi semakin penting.
Situasi inilah yang menjadi salah satu gambaran menarik dalam rangkaian Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield (SGS) 2026. TNI Angkatan Darat bersama militer Amerika Serikat melakukan latihan kemampuan pertahanan udara dengan melibatkan dua sistem rudal yang cukup dikenal, yakni Mistral dan Stinger.
Latihan penembakan berlangsung pada 9 September 2026 di Lapangan Tembak Staling Armed, Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD, Martapura, Sumatera Selatan. Dalam kegiatan tersebut, Batalyon Arhanud 10/Dam Jaya mengoperasikan rudal Mistral, sementara unsur pertahanan udara US Army menggunakan rudal Stinger.
Drone Disiapkan sebagai Target
Yang menarik dari latihan ini bukan sekadar penggunaan dua rudal pertahanan udara tersebut. Sebelumnya, personel TNI, US Army, dan US Marine Corps melakukan persiapan untuk penembakan sasaran udara berupa pesawat nirawak atau target drone.
Persiapan itu mencakup penyamaan pemahaman mengenai sistem persenjataan, koordinasi teknis, hingga prosedur pengoperasian senjata. Target drone kemudian digunakan sebagai sasaran dalam latihan untuk memberikan gambaran terhadap skenario menghadapi ancaman dari udara.
Penggunaan drone sebagai sasaran latihan menjadi relevan dengan perkembangan medan perang saat ini. Berbagai konflik dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa drone dapat digunakan dalam jumlah besar dan dengan berbagai fungsi.
Karena itu, pertahanan terhadap drone tidak cukup hanya mengandalkan sistem pertahanan udara jarak jauh. Lapisan pertahanan yang mampu menghadapi sasaran udara berukuran lebih kecil juga menjadi bagian penting dari konsep pertahanan modern.
Mistral TNI Bertemu Stinger Amerika
Dalam latihan SGS 2026, masing-masing pihak menggunakan sistem yang mereka operasikan sendiri.
TNI AD menurunkan Mistral melalui Batalyon Arhanud 10/Dam Jaya. Rudal ini merupakan sistem pertahanan udara jarak pendek yang dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman udara pada ketinggian rendah.
Sementara itu, US Army membawa sistem FIM-92 Stinger. Rudal tersebut juga merupakan sistem pertahanan udara jarak pendek yang telah lama digunakan militer Amerika Serikat.
Latihan bersama seperti ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menembakkan rudal. Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana personel dari dua negara dapat memahami prosedur, berkoordinasi, dan bekerja dalam satu skenario latihan.
TNI menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan interoperabilitas serta menyelaraskan prosedur penggunaan sistem persenjataan antara kedua negara.
Mengapa Kemampuan Anti-Drone Semakin Penting?
Drone telah mengubah cara militer melakukan pengamatan dan serangan. Ukurannya yang relatif kecil, kemampuan terbang tanpa awak, serta biaya yang dapat lebih rendah dibandingkan pesawat tempur membuat drone menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pertahanan udara.
Namun, menghadapi drone juga tidak selalu berarti menggunakan rudal. Dalam perang modern, sistem anti-drone dapat terdiri dari berbagai lapisan, mulai dari radar dan sensor elektro-optik hingga senjata kinetik dan sistem peperangan elektronik.
Latihan yang dilakukan TNI dan Amerika Serikat memberikan pengalaman bagi personel untuk menghadapi skenario ancaman udara dalam lingkungan latihan yang terkendali.
Dengan kata lain, fokusnya bukan hanya pada apakah sebuah rudal mampu mengenai sasaran, tetapi juga bagaimana seluruh unsur pertahanan udara dapat bekerja secara terkoordinasi.
Bagian dari Latihan Multinasional
Latihan Mistral dan Stinger tersebut merupakan salah satu bagian dari Super Garuda Shield 2026.
SGS tahun ini melibatkan 4.743 personel dari 21 negara dan berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Materinya tidak hanya mencakup pertahanan udara, tetapi juga berbagai kemampuan operasi lainnya.
Bagi TNI, latihan seperti ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan prajurit sekaligus memperluas pengalaman bekerja bersama militer negara mitra.
Bagi Amerika Serikat, latihan tersebut juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan Indonesia dalam lingkungan operasi yang berbeda.
Bukan Sekadar Latihan Menembak Rudal
Hal yang paling menarik dari latihan ini sebenarnya bukan hanya Mistral dan Stinger yang ditembakkan.
Pesan yang lebih besar adalah bagaimana pertahanan udara menghadapi perubahan ancaman. Jika dahulu perhatian utama banyak tertuju pada pesawat tempur dan rudal, kini drone juga menjadi salah satu sasaran yang harus diperhitungkan.
TNI dan Amerika Serikat melalui SGS 2026 menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi ancaman udara membutuhkan kombinasi antara sistem senjata, kemampuan personel, koordinasi, dan prosedur yang teruji.
Latihan tersebut juga memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi drone membuat sistem pertahanan udara jarak pendek tetap memiliki peran penting dalam peperangan modern.
Seluruh rangkaian latihan penembakan Mistral dan Stinger dilaporkan berlangsung dengan baik tanpa insiden.
Dengan semakin banyaknya drone yang digunakan dalam konflik modern, kemampuan mendeteksi dan menghadapi sasaran udara berukuran kecil kemungkinan akan menjadi salah satu kemampuan yang semakin diperhatikan oleh banyak negara, termasuk Indonesia.