15/09/2025
RUMAH TANPA CAHAYA
Di sebuah rumah kecil di pinggir kota, tinggal seorang ibu bernama Rani bersama putrinya, Sinta yang baru berusia 4 tahun. Hidup mereka terasa berat sejak suaminya, Budi, kehilangan pekerjaan. Bukan karena tak ada kesempatan, tapi karena Budi lebih memilih tenggelam dalam mabuk, narkoba, dan judi online.
Setiap malam, Rani dan Sinta harus menahan napas mendengar suara pintu dibanting keras. Budi pulang dalam keadaan sempoyongan, matanya merah, kata-katanya kasar. Tak jarang, tangannya melayang ke wajah Rani hanya karena makanan tidak sesuai selera. Sinta, yang masih kecil, sering menjadi sasaran teriakan, bahkan tendangan, hanya karena dianggap mengganggu.
Hari demi hari, rumah itu berubah menjadi penjara penuh ketakutan. Rani berusaha kuat, tapi luka-luka di tubuhnya tak bisa menutupi luka di hati Sinta. Anak kecil itu tumbuh dengan rasa takut, belajar menangis dalam diam, dan mulai berpikir bahwa cinta dalam keluarga berarti penderitaan.
Di balik semua luka, Rani terus berdoa agar ada jalan keluar. Sebab ia tahu, KDRT bukan hanya menghancurkan tubuh, tapi juga merampas masa depan anaknya.
---
Rani adalah seorang ibu yang lembut. Di setiap sujudnya, ia selalu menyebut nama suaminya, Budi. Ia berdoa agar suatu hari Budi sadar, kembali menjadi ayah yang baik bagi Sinta, dan menjadi suami yang melindungi. Namun doa-doa itu seakan menguap begitu saja. Semakin hari, kelakuan Budi justru semakin parah.
Mabuk, narkoba, dan judi online membuatnya kehilangan kendali. Setiap kali kalah, rumah menjadi medan amarah. Rani sering menjadi pelampiasan—dipukul, ditampar, bahkan pernah dicekik hingga ia nyaris tak bisa bernapas. Tubuhnya penuh luka, tetapi hatinya lebih hancur.
Sinta, anak perempuan mereka yang masih kecil, tumbuh dengan ketakutan. Ia sering dimarahi tanpa alasan. Teriakan dan bentakan ayahnya membuatnya terbiasa menangis dalam diam, menyembunyikan wajah di balik bantal agar suaranya tak terdengar.
Di tengah semua penderitaan itu, Rani tetap mencoba tegar. Ia menangis dalam kesunyian, tapi di depan anaknya ia berusaha tersenyum. Malam-malam panjang ia habiskan dengan doa, berharap suatu saat badai ini reda. Namun kenyataan tak kunjung berubah—Budi semakin jauh, dan rumah yang seharusnya jadi tempat berlindung justru menjadi neraka bagi istri dan anaknya.
---
Suatu malam, hujan turun deras. Budi pulang dengan langkah sempoyongan, aroma alkohol menusuk. Sinta yang ketakutan berlari ke pelukan ibunya. Budi berteriak, melempar piring, lalu mendekat dengan mata penuh amarah.
“Dasar istri tak berguna!” teriaknya sambil mencekik leher Rani. Sinta menangis keras, memohon, “Ayah, jangan! Jangan sakiti Ibu!” Tapi teriakan kecil itu justru membuat Budi semakin marah.
Rani terbatuk, napasnya tersengal. Matanya menatap anaknya yang menangis ketakutan. Dengan sisa tenaga, ia tersenyum tipis, mencoba menenangkan. Air matanya mengalir bukan karena sakit dicekik, tapi karena melihat masa kecil anaknya dirampas ketakutan.
Ketika Budi akhirnya melepaskannya, Rani terjatuh di lantai, terisak dalam diam. Sinta memeluk ibunya erat, tubuh kecil itu gemetar. Rani berbisik lirih di telinga putrinya:
“Maafkan Ibu, Nak… Ibu hanya ingin kau tetap kuat. Jangan pernah percaya bahwa cinta berarti luka. Suatu hari nanti… kita akan keluar dari ini.”
Malam itu, Sinta menangis sampai tertidur di pelukan ibunya. Rani tetap terjaga, memandang wajah kecil itu sambil berdoa—meski hatinya hancur, ia berjanji pada dirinya sendiri: demi anaknya, ia tak akan menyerah.
Hujan di luar mereda, tapi di hati Rani dan Sinta, badai itu masih belum usai.
---
"Air mata dalam diam, doa yang tak pernah berhenti, dan luka yang terus disembunyikan. Inilah kenyataan pahit yang dialami Rani dan anaknya. KDRT bukan hanya menghancurkan tubuh, tapi juga mematahkan jiwa. Jangan biarkan rumah menjadi penjara bagi mereka yang seharusnya dilindungi."
👉 Jangan diam. Suarakan kebenaran.
👉 Follow akun ini untuk terus bersama melawan KDRT.
👉 Bagikan cerita ini agar lebih banyak yang peduli.