MDSRA Watukumpul II

MDSRA Watukumpul II Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from MDSRA Watukumpul II, Cikadu/Watukumpul, Pemalang.

19/08/2024

BERSAMA ORANG SHOLEH

Berkumpul bersama orang sholeh, mencintai orang sholeh dan berteman orang sholeh tidak hanya berdampak positif di dunia, akan tetapi hingga ke akhirat.

Siapapun yang engkau cintai dan engkau idolakan saat di dunia, bersama mereka lah kalian akan dikumpulkan. Hendaknya kita hati-hati mengidolakan sosok saat di dunia.

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Ta'ala'anhu, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟ فَقَالَ: " الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

"Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, ia berkata: wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda jika ada orang yang mencintai suatu kaum, namun ia tidak pernah bertemu dengan mereka? Nabi menjawab: seseorang itu (kelak di akhirat) akan bersama dengan orang yang ia cintai." (HR. Bukhari no.6169, Muslim no. 2640).

Salafunas Sholeh rahimahullah menjelaskan:

أَيْ: يُحْشَرُ مَعَ مَحْبُوبِهِ، وَيَكُونُ رَفِيقًا لِمَطْلُوبِهِ

"Maksudnya: akan dibangkitkan bersama orang ia cintai, dan akan menjadi temannya hingga tujuan akhirnya (surga atau neraka)"

Lihatlah siapa yang kita idolakan?

Jika ia orang shalih, mudah-mudahan kita akan membersamai dia ke surga.

Jika ia orang yang rusak, ahli maksiat, orang-orang zolim atau bahkan orang kafir, takutlah dan bertakwa kepada Allah jangan sampai jadi teman yang akan membersamai dia ke neraka.

Sucikanlah hatimu segera dengan menempatkan kecintaanmu hanya kepada mereka yang Sholeh...

Semoga Allah memberi hidayah dan taufiqNya.

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

18/08/2024

قال بعض السلف :
أعمال البر یفعلها البر والفاجر ولا یقدر علی ترك المعاصی الا صدیق

Ulama Salaf berkata:
"Berbuat Baik" bisa dilakukan oleh orang baik dan orang jahat, namun "Meninggalkan Kemaksiatan" hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar baik dan jujur.

19/08/2023

_*6 Keuntungan Besar Memiliki se'orang Guru Waliyullah yang Mursyid.*_

*1. Saat di dunia,* ruhani mursyid akan selalu membimbing murid-muridnya _(murid shodiq)_ untuk selalu mengingat Allah (dzikir khofi) hingga menuju kepada Ma'rifatullah.

ﻛﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﻜﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻦ ﻣﻊ ﻣﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻴﻠﻚ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ.

_“Jadikanlah dirimu bersama Allah, jika kamu belum bisa menjadikan dirimu bersama Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan orang yang telah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itulah yang menyampaikanmu (me-wushul-kanmu) kepada Allah.”_

*[HR. Abu Daud]*

*2. Saat ajal tiba,* ruhani mursyid akan datang menemani dan membimbing muridnya untuk senantiasa mengucapkan kalimah terakhirnya dengan 'Laa ilaha ilallah'.

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

_”Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘laa ilaha illallah’, maka dia akan masuk surga."_

*[HR. Abu Daud]*

*3. Saat di alam kubur (barzah),* Se'orang Mursyid akan mengajarkan ilmu Ma'rifatullah hingga saat ia bangun di hari kiamat sudah dalam keada'an berilmu dan mengenal Allah (Ma'rifatullah).

وقال رسول الله [ صلى الله عليه وآله وسلم ] :

*« مَنْ مَاتَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ بَعَثَ اللّٰهُ فِي قَبْرِهِ مَلَكَيْنِ يُعَلِمَانِهِ عِلْمَ الْمَعْرِفَةِ ، وَقَامَ مِنْ قَبْرِهِ عَالِماً وَعَارِفاً »*

Rasulullah Saw bersabda :

*_“Jika seseorang berniat mempelajari dan beramal menurut keinginannya itu (ingin ma'rifat kepada Allah), tetapi mati sebelum mencapai tujuannya, maka Allah melantik dua orang mala'ikat sebagai guru yang mengajarnya ilmu dan ma'rifat sampai ke hari kiamat. Orang itu dibangkitkan dari kuburnya sebagai orang 'Arif yang telah memperolehi Hakikat”._*

والمُرَادُ مِنَ الْمَلَكَيْنِ رُوْحَانِيَةُ
النبي والولي.

Dua orang mala'ikat di sini menunjukkan : _*Ruh nya Nabi Muhammad s.a.w dan Ruh Wali Mursyid.*_

*[Kitab Sirrul Asror Karya Syaikh Abdul Qodir Aljailani QS. Hal. 84]*

*4. Saat di padang Mahsyar,* seorang Mursyid akan memimpin dan membimbing murid-muridnya berjalan bersama-sama menuju Syafa'atnya Rasulullah hingga kepada penjaminan untuk mendapat buku catatan amal dengan tangan kanan.

يَوْمَ نَدْعُوا۟ كُلَّ أُنَاسٍۭ بِإِمَٰمِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَٰبَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

_"Ingatlah, pada hari (ketika) kami panggil setiap umat dengan *pemimpinnya.* Dan barangsiapa diberikan catatan amalnya ditangan kanannya mereka akan membacanya (dengan baik), dan mereka tidak akan dirugikan sedikit pun."_

*[Q.S. Al_Isra 71]*

*5. Jika se'orang murid masuk neraka,* Seo'rang mursyid akan menyelamatkan murid-muridnya dan memberikan Syafa'at.

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

_“Sesungguhnya Allah mengharamkan dari neraka, bagi siapa yang mengucapkan laa ilaha illallah yang dengannya mengharap hanya ridho Allah.”_

*[HR. Bukhari no. 425 dan Muslim no. 33]*

_"Aku diberi sebuah buku yang luasnya sejauh mata memandang untuk menuliskan nama-nama muridku sampai hari kiamat. Demi keagungan dan kemuliaan Tuhanku, pada hari kiamat aku akan berdiri tegak dihadapan gerbang pintu neraka, *sekali lagi aku tidak akan bergeser sebelum murid-muridku masuk syurga."*_

*[Kitab Bahjatul Asror Fi ba'di manaqibi Syaikh Abdul Qodir Aljailani QS]*

*6. Saat di syurga,* se'orang mursyid akan selalu membimbing muridnya dan diperkenankan untuk selalu memandang Dzat Allah SWT, yan tidak setiap penghuni syurga mampu memandang Allah, tergantung seberapa besar Ma'rifat-Nya dia kepada Allah saat di dunia.

كل من لم يعرف الله في الدنيا فلا يراه في الأخرة ، وكل من لم يجد لذت المعرفة في الدنيا فلا يجد لذت النظرة في الأخرة _ احياء علوم الدين_٤_٣٢٦_الإمام أبي حامد محمد بن محمد الغزالي

_"Tiap-tiap orang yang tidak ma'rifat kepada Allah di dunia, maka ia tidak akan bisa memandang Dzat Allah di akhirat, dan tiap-tiap orang yang tidak merasakan lezatnya ma'rifat di dunia, maka ia tidak akan bisa merasakan lezatnya memandang Dzat Allah diakhirat"._

*[Ihya Ulumuddin Jilid 4 Hal. 326Imam Al-Ghazali]*

فمن رأى صفاته في الدنيا يرى ذاته في الآخرة بلا كيف

_"Maka, barangsiapa didunianya mampu memandang (Musyahadah) kepada sifat-sifatnya Allah, maka diakhirat nya akan mampu memandang Dzat Allah tanpa dapat dijelaskan keadaannya."_

*[Sirrul Asror_Syaikh Abdul Qodir Aljailani QS_ Pasal 9 Fi Bayani Ru'yatillahi Ta'ala]*

15/08/2023

Al-Hikam Pasal 26
Jangan Menunda Amal

اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ

" Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa "

Syarah :
Seorang murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi amal yang menyebabkan dekat dengan Allah, sehingga dia menangguhkan amal menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan.

Kebodohan itu disebabkan oleh :
1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah subhanahu wata'ala berfirman: ''Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.''

2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menantinya.

3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah. Seorang penyair berkata: ''Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.

07/08/2023

⚖️ HASIL MUSYAWARAH
LAJNAH MUROJA'AH SANTRI (LMS)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته 🙏
📒DESKRIPSI :

Dalam tradisi tawassul nabi muhammad, para sahabat, dan para auliya' yg lebih utama itu memakai lafadz _"ila hadroti"_ atau _"ila ruhi/ruhaniyati/arwahi"_

📝PERTANYAAN

1.Apa hukum mengirim fatihah kepada Rosulillah SAW, keluarganya dan Shohabat ?

2.Adakah aturan dan ketentua serta tata cara dalam mengamalkan hal itu ?

3.Apakah ada ta'bir yang menjelaskan bahwa itu pernah di lakukan oleh Rosul/Shohabat/Tabi'in ?

📖 JAWABAN :

1.Al-Ajhuri mengatakan, masalah ini menurut kami (kalangan Malikiyah) tidak ada nashnya.

Sementara pendapat yang muktamad di kalangan Syafi‘iyah membolehkannya (kirim Surat Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad SAW).

Kami merujuk ke mazhab mereka sehingga hal itu tidak haram bagi kami.

Orang sempurna tetap menerima peningkatan kesempurnaan sebagaimana dikatakan Syekh Ahmad Tarki dalam Hasyiyah Al-Kharasyi,”

2.Bisa anda ikuti tuntunannya di beberapa buku wirid yang di rumuskan para Ulama' yang di terbitkan oleh bebepara Pondok Pesantren.

3.Ada riwayat Abu hurairah R.a. seperti yang tercatat di bawah ini 👇👇👇

📚 REFERENSI :

1.فائدة: هل تجوز قراءة الفاتحة للنبي صلى الله عليه وسلم أولا؟ قال الأجهوري: لا نص في هذه المسئلة عندنا: أي معاشر المالكية، والمعتمد عند الشافعية جواز ذلك فنرجع لمذهبهم فلا يحرم عندنا والكامل يقبل زيادة الكمال قاله الشيخ أحمد تركي في حاشية الخرشي

(Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 14).

أولا: أن التوسل هو أحد طرق الدعاء وباب من أبواب التوجه إلى الله سبحانه وتعالى، فالمقصود الأصلي الحقيقي هو الله سبحانه وتعالى، والمتوسَّل به إنما هي واسطة ووسيلة للتقرب إلى الله سبحانه وتعالى، ومن اعتقد غير ذلك فقد أشرك
Artinya, “Pertama, tawasul adalah salah satu cara doa dan salah satu pintu tawajuh kepada Allah SWT. Tujuan hakikinya itu adalah Allah. Sedangkan sesuatu yang dijadikan tawasul hanya bermakna jembatan dan wasilah untuk taqarrub kepada-Nya. Siapa saja yang meyakini di luar pengertian ini tentu jatuh dalam kemusyrikan,”

(Lihat Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Hasani Al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, Surabaya, Haiatus Shafwah Al-Malikiyyah, tanpa catatan tahun, halaman 123-124).
---------
No.3
كتاب أحكام تمني الموت (مطبوع ضمن مؤلفات الشيخ محمد بن عبد الوهاب، الجزء الثالث)
[محمد بن عبد الوهاب]

صحيفة : ٧٥

ولابن أبي شيبة عن أبي جعفر قال: "كان الحسن والحسين يعتقان عن علي بعد موته".

وله عن الحجاج بن دينار مرفوعا: "إن من البر بعد البر أن تصلي عليهما مع صلاتك، وأن تصوم عنهما مع صيامك، وأن تصدق عنهما مع صدقتك".

وأخرج سعد الزنجاني عن أبي هريرة مرفوعا: *"من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب، وقل هو الله أحد، وألهاكم التكاثر، ثم قال: إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات، كانوا شفعاء له إلى الله تعالى".*

وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسنده عن أنس مرفوعا: "من دخل المقابر، فقرأ سورة يس، خفف الله عنهم، وكان له بعدد من فيها حسنات".

JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMUJangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pen...
04/08/2023

JANGAN SIA-SIAKAN WAKTUMU

Jangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pengalaman. Dengan merenungkan masa lalu, kita bisa meninggalkan hal-hal yang negatif dan mengambil sisi-sisi positif sebagai bekal menghadapi masa depan. Kita harus optimis bisa melakukan perubahan lebih baik di masa yang akan datang dengan terus melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik. Rasulullah saw bersabda, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat:

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ. وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

Artinya, “Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka).” (HR Al-Hakim).

Allah juga sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr: 18:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Saudaraku rahimakumullah,
Selain melakukan muhasabah terhadap apa yang telah dilakukan pada masa lalu, kita juga harus melakukan persiapan untuk menghadapi masa depan. Hal ini penting karena sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal yang cukup agar kita bisa sampai ke tujuan dengan baik.

Dalam mengarungi kehidupan melalui ikhtiar ini, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita diperintahkan untuk melakukan ikhtiar dan setelah itu kita diingatkan untuk bertawakal, berserah diri kepada Allah. Dalam surat Luqman ayat 34 disebutkan:

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya, “Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu p**a) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

Ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas masa depan dan ketidaktahuan kita tentang apa yang akan terjadi esok. Dalam satu ayat ini Allah menunjukkan lima kekuasaannya sekaligus tentang masa depan.

Pertama, Allahlah yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Tidak ada satu pun manusia yang tahu kapan kiamat datang.

Kedua, Allahlah yang mengetahui kapan hujan akan turun untuk menghidupkan bumi ini dan memberi rezeki kepada manusia untuk bekal kehidupan di dunia.

Ketiga, Allahlah yang tahu apa yang ada dalam kandungan seorang ibu. Walaupun saat ini sudah ditemukan alat-alat canggih untuk melihat kondisi bayi dalam rahim seorang ibu, seperti USG dan sebagainya, namun pada hakikatnya semua masih dalam fase prediksi.

Keempat, Allahlah yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Kita hanya berusaha dengan cara yang terbaik, namun Allah lah yang akan menentukan hasilnya.

Kelima, Allahlah yang tahu kapan seseorang akan mati. Tidak ada manusia yang bisa merencanakan umurnya, meninggal dunia di mana, dan di mana dia akan dikuburkan. Namun kematian merupakan keniscayaan yang akan dihadapi oleh semua makhluk yang bernyawa.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya, “Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (p**a) meminta percepatan.” (QS: Al-A’raf: 34)

Saudaraku rahimakumullah,
Mari kita renungi pesan Rasulullah saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Hakim:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya, “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sehatmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”

Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan taufiq NYA

31/07/2023

JIKA HATI TENANG, MAKA SETIAP HARI AKAN MERASAKAN BAHAGIA DAN SENANG

Hati adalah bagian terpenting dalam diri manusia. Mengapa disebut yang terpenting? Sebab hati menjadi penentu baik dan buruknya amalan anggota tubuh yang lain, sekaligus menjadi penentu bernilai atau tidaknya amal pemiliknya. Tak hanya itu, hati juga merupakan bagian yang paling mudah terpengaruh, mudah berubah, dan juga sulit diobati.

Tak heran bila para ulama tasawuf memiliki perhatian besar terhadap urusan yang satu ini. Salah satunya ialah Imam al-Ghazali. Menurutnya, siapa pun yang hendak menata laku amalnya, maka mulailah dengan menata hati. Namun, ia tidak akan mampu menata hatinya dengan baik, sebelum mengetahui lima hal prinsip tentangnya.

Pertama, Allah maha mengetahui apa pun yang tersimpan, yang terbesit, dan dirahasiakan dalam hati hamba-hamba-Nya. Hal itu berdasarkan firman-Nya sebagai berikut ini.

وَاللهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ

Artinya: “Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu,” (QS al-Ahzab [33]: 51).

Ayat-ayat lain yang senada dengannya menyebutkan, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati,” (QS al-Mukmin [40]: 19); “Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan,” (QS al-Nahl [16]:19); “Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” (QS al-Maidah [5]: 99). Dan masih banyak lagi ayat yang sejalan dengan kandungan ayat di atas.

Namun, intinya siapa pun yang sudah sampai pada hakikat ini, tidak akan berani menyimpan atau merahasiakan sesuatu yang tidak baik dalam hatinya. Sebab, semuanya diketahui secara pasti oleh Allah swt.

Kedua, Allah tidak memandang rupa, wajah, atau kulit hamba-Nya. Yang dipandang darinya hanyalah hatinya. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنِي آدَمَ أَكْرَمُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amalan kalian. Siapa saja yang memiliki hati yang bersih, maka Allah menaruh simpati padanya. Kalian hanyalah anak cucu Adam. Tetaplah yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa,” (HR. Al-Thabrani).

Ketiga, hati ibarat raja, sedangkan anggota tubuh lain ibarat rakyat yang mengikutinya. Jika yang diikuti baik, maka pengikutnya pun akan baik. Jika pemiminnya lurus, maka rakyatnya juga lurus. Adakalanya, pemimpin lurus, rakyatnya terkadang tidak lurus, apalagi pemimpinnya tidak lurus. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan:


أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Artinya, “Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging itu baik, maka baik p**a seluruh tubuh. Jika daging itu rusak, maka rusak p**a seluruh tubuh. Daging tersebut ialah hati,” (HR al-Bukhari).

Demi menjaga setiap amalan tetap baik, maka siapa pun harus menjaga dan selalu memperbaiki keadaan hatinya.

Keempat, hati adalah gudang berbagai macam permata berharga dan makna-makna penting bagi seorang hamba. Permata pertama adalah akal, sedangkan permata paling mulia adalah makrifat kepada Allah, yang merupakan sebab kebahagiaan dunia dan akhirat. Permata berikutnya adalah mata hati (bashirah) yang menjadi modal untuk mendekat dan menghadap kepada Allah. Selanjutnya adalah niat yang tulus dalam ketaatan, sekaligus yang menjadi faktor penentu tercapai dan tidaknya pahala kekal di sisi Allah. Berikutnya ialah macam-macam ilmu, hikmah, pengetahuan, yang menjadi faktor kemuliaan hamba, baik di hadapan Allah maupun di hadapan makhluk. Permata terakhir ialah perangai atau sifat-sifat yang terpuji.

Maka demi menjaga keberadaan permata-permata di atas, hati harus selalu bersih dan dijaga dari berbagai macam kotoran dan penyakit.

Kelima, hati memiliki beberapa keadaan berikut ini.
- Hati selalu menjadi sasaran serangan lawan. Dalam hal ini adalah serangan setan. Setan selalu mengintai kelengahannya. Ketika pemiliknya berdzikir, setan sedikit menjauh darinya. Namun, ketika pemilik hati lalai, setan kembali membisikinya. Di saat yang sama hati juga menjadi tempat turunnya bisikan baik, terutama ilham dan bisikan malaikat. Sehingga hati tidak terlepas dari dua sumber bisikan tersebut.

- Kesibukan hati jauh lebih banyak dari kesibukan anggota tubuh yang lain. Bagaimana tidak karena akal dan hawa nafsu berada di dalamnya. Tak heran hati menjadi tempat pertarungan antara dua pasukan besar, yakni pasukan nafsu beserta bala tentaranya dan pasukan akal beserta bala tentaranya.

- Khawatir atau bisikan yang datang ke dalam hati jumlahnya sangat banyak. Bisikan itu ibarat anak panah yang diarahkan kepadanya. Ia bagaikan air hujan yang terus menghujaninya baik siang maupun malam. Seorang ulama mengatakan, dalam sehari semalam, hati tidak kurang menerima tujuh puluh ribu bisikan, baik bisikan baik maupun bisikan yang buruk. Tidak ada yang bisa menolak bisikan itu. Berbeda dengan mata yang bisa beristirahat dengan menutupkan kedua bibirnya, hati terus-menerus dihujani bisikan.

- Mengatasi dan mengendalikan keadaan hati sangatlah sulit. Pasalnya, keadaan hati tidak terlihat. Apa yang terjadi di dalamnya terkadang tidak bisa dirasakan, sampai akibatnya benar-benar terlihat. Penyakit hasud atau dendam, misalnya. Tidak mudah dideteksi dan dihilangkan seseorang. Dibutuhkan upaya keras, pandangan yang tajam, timbangan yang matang, dan pelatihan jiwa, untuk mengobatinya.

- Kerusakan yang menimpa hati begitu cepat. Keadaannya mudah berubah. Para ahli bahasa menyatakan, mengapa hati disebut dengan kablu? Karena ia berasal dari kata qalbu, yang dalam bahasa Arab, berarti sesuatu yang mudah sekali berubah. (Lihat: al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin, , hal. 34-35).

Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita semua, terlebih jika hati kita telah mendapatkan hidayah dari-Nya.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia),” (QS Ali ‘Imran [3]: 8).

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu.”

30/07/2023

*_YANG SANGAT BERHARGA SULIT DIDAPATKAN._*

Di dunia ini tak ada yang lebih berharga dibanding ilmu, sebab itu untuk mendapatkanya butuh perjuangan ekstra, berani berkorban mencurahkan segala kemampuan.

Ilmu tak seperti Supermi yang instan, dan tak seperti tahu bulat yang bisa digoreng dadakan.

Abu Hilal berkata :

ودرجة العلم أشرف الدرج، فمن أراد مُداولتَها بالدَّعَةِ وطلبَ البلوغ إليها بالراحة؛ كان مخدوعاً

"Derajat ilmu adalah derajat yang paling mulia, maka siapa yang ingin meraihnya dengan santai-santai dan ingin mencapainya dengan berleha-leha, berarti dia adalah orang yang tertipu".

Secuil curhatan dari salah satu ulama besar yaitu Imam Ibnu Jauzi ra. Beliau berkata :

تأملت عجبا وهو أن كل شيء نفيس خطير يطول طريقه ويكثر التعب في تحصيله.

فإن العلم لما كان أشرف الأشياء لم يحصل إلا بالتعب والشهر والتكرار وهجر اللذان والراحة، حتى قال بعض الفقهاء : بقيت سنين أشتهي الهريسة لا أقدر لأن وقعت بيعها وقت سماع الدرس.

“Setelah lama merenung, dengan penuh keheranan berkesimp**an bahwa segala sesuatu yang berharga dan bernilai, jalan untuk mendapatkannya berliku dan harus susah payah untuk mendapatkannya.

Karena ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga maka kiat untuk mendapatkannya adalah dengan susah payah, rajin mengulang-ulang pelajaran dan terhalang untuk mendapatkannya kenikmatan dan kenyamanan

Ada seorang ulama fikih yang mengatakan,

“Bertahun-tahun aku ingin makan kue namun keinginan itu tidak bisa diwujudkan karena penjual kue itu berjualan bersamaan dengan jadwal mengikuti pengajian”
(Kitab 'Uluwwul Himmah)
________________________

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا، وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ... امين.


28/07/2023

*_Cara Mengusap Kepala Anak Yatim yang Benar._*

Jum'at 28 Juli 2023 bertepatan dengan hari 10 Asyura. Selain puasa Asyura salah satu tradisi yang ada di Indonesia adalah menyantuni anak yatim sehingga hari Asyura dikenal dengan istilah hari raya anak yatim. Hal ini berlandaskan

وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً،
[أبو الليث السمرقندي، تنبيه الغافلين بأحاديث سيد الأنبياء والمرسلين للسمرقندي، صفحة ٣٣١]

“Barang siapa yang mengusap kepala anak yatim dengan tangannya pada hari ‘asyura’, maka allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap rambut yang diusap” (Riwayat al-Samarqandi)

Meski hadits di atas menurut ulama' sangat lemah. Namun secara umum menyantuni dan mengusap kepala anak Yatim adalah hal yang dianjurkan dan mampu menjadikan hati lembut. Dalam sebuah hadits disebutkan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ، فَقَالَ: " امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ، وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ "
[أحمد بن حنبل ,مسند أحمد ط الرسالة ,14/558]

“Sesungguhnya seorang lelaki mengadu pada Nabi shallallaahu alaihiwasallam tentang kerasnya hatinya, Nabi bersabda ‘usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan pada orang miskin” (HR. Ahmad no. 9018)

Adapun cara mengusap kepala anak yatim yang benar menurut al-Munawi adalah

تلطفا وايناسا - أن اليتيم يمسح رأسه من أعلاه إلى مقدمه قال زين الحافظ العراقي: وورد في حديث ابن أبي أوفى أنه يقال عند مسح رأسه جبر الله يتمك وجعلك خلفا من أبيك
[المناوي، فيض القدير، ١٠٨/١]

“Diusap dengan lembut dan kasih sayang. Caranya adalah dari bagian atas ke depan. Sunnah membacadoa’ ketika mengusap kepala anak Yatim ‘Semoga Allah menutup keyatimanmu dan menjadikanmu pengganti
yang baik dari ayahmu’”

Jadi mengusapnya bukan dengan memutar tangan rata keseluruh kepala anak yatim. Apalagi dengan semangat 45. Kasihan mereka kalau ternyata setelah disantuni uang santunan yang diterima tidak cukup untuk biayai berobat karena pusing akibat kepalanya terlalu banyak diusap dengan cara seperti itu... 😀😀😀

25/07/2023

⚖️ HASIL MUSYAWARAH
LAJNAH MUROJA'AH SANTRI (LMS)
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته 🙏
📒DESKRIPSI
Di sebuah lembaga ada guru yang non muslim, sedangkan muridnya rata2 muslim semua. Kebiasaan kita sblm p**ang pastinya jabat tangan kpd gurunya.

📝PERTANYAAN

1. Apakah ada perbedaan cara menghormati antara guru muslim dan non muslim?

2. Bolehkah? Dan Bagaimana hukumnya jabat tangan pada guru yg non muslim tersebut dan mencium tangannnya layaknya guru muslim lainnya?

👳‍♂ PENANYA:

📚 JAWABAN :

1.Ada

2.Jabat tangan dengan non muslim boleh tapi tidak di sunnahkan, dan tidak usah cium tangan.

✅️ Keterangan lebih jelasnya, ada di bawah ini : 👇

📚 REFERENSI :

Ulama mazhab Syafi’i mengatakan, berjabat tangan dengan non-Muslim hukumnya boleh.

Imam Ramli menyebutkan :

(سُئِلَ) عَنْ مُصَافَحَةِ الْكَافِرِ هَلْ تَجُوزُ أَوْ لَا ؟ (فَأَجَابَ) بِأَنَّ مُصَافَحَةَ الْكَافِرِ جَائِزَةٌ، وَلَا تُسَنُّ.

“Ditanya tentang hukum berjabat tangan dengan non-Muslim; bolehkah atau tidak ?

Beliau menjawab bahwa berjabat tangan dengan non-Muslim hukumnya boleh, dan tidak disunnahkan”

(Ahmad bin Hamzah al-Ramli, Fatawa al-Ramli, juz 5, h. 181).

Ibnu Abi Syaibah juga menyebutkan :
حَدَّثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ العَسْقَلَانِي قَالَ: أَخْبَرَنِيْ مَنْ رَأَى ابْنَ مُحَيْرِيْز يُصَافِحُ نَصْرَانِيًّا فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ
“Waki’ bercerita kepada kami, dari Syu’bah, dari Abi Abdillah al-Asqalani, ia berkata: ‘Bercerita kepadaku orang yang melihat Ibnu Muhairiz berjabat tangan dengan seorang Nasrani di masjid Damaskus”

(Abdullah bin Abi Syaibah, Al-Kitab al-Mushannaf fil Ahadits wal A’tsar, juz 5, h. 248).

Pendapat ini serupa dengan fatwa yang dikeluarkan oleh Pusat Fatwa Elektronik Al-Azhar Mesir nomor 1020, berbunyi :
مُصَافَحَةُ غَيْرِ الْمُسْلِمِ جَائِزَةٌ، وَمِنَ الْبِرِّ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِهِ الشَّرْعُ
“Berjabat tangan dengan non-Muslim itu boleh, dan merupakan perbuatan baik yang diperintahkan oleh agama Islam kepada kita.”

{الفتاوى الفقهية الكبرى، ج ٤ ص ٢٢٣}

٠(وَسُئِلَ) نَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِعُلُومِهِ هَلْ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُقَبِّلَ يَدَ الْحَرْبِيِّ الْمُشْرِكِ وَأَنْ يَقُومَ إلَيْهِ وَأَنْ يُصَافِحَهُ وَأَنْ يَتَخَضَّعَ إلَيْهِ وَكُلُّ ذَلِكَ لِيَنَالَهُ مِنْهُ مَالِيَّةٌ وَإِذَا قُلْتُمْ بِعَدَمِ الْجَوَازِ فَمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ وَمَاذَا يَلْزَمُهُ ؟

Artinya : Ibnu Hajar al-Haitami ditanya tentang apakah boleh bagi seorang Muslim mencium tangan Kafir harbi musyrik, berdiri menghormati mereka, bersalaman dengan mereka, menundukkan diri pada mereka agar memperoleh hartanya, apabila anda tidak memperbolehkannya maka apa akibatnya dan apa konsekwensi hukum yang Dia terima ?

٠(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ لَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يُعَظِّمَ الْكَافِرَ بِنَوْعٍ مِنْ أَنْوَاعِ التَّعْظِيمِ سَوَاءٌ الْمَذْكُورَاتُ وَغَيْرُهَا وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ طَمَعًا فِي مَالِ الْكَافِرِ فَهُوَ آثِمٌ جَاهِلٌ كَيْفَ وَقَدْ قَالَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - «مَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِأَجْلِ غِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ» فَإِذَا كَانَ التَّوَاضُعُ لِلْمُسْلِمِ الْغَنِيِّ يُذْهِبُ ثُلُثَيْ الدَّيْنِ فَمَا بَالُك بِالتَّوَاضُعِ لِلْكَافِرِ، وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ٠

Ibnu Hajar menjawab tidak boleh bagi seorang Muslim mengagungkan orang kafir dalam bentuk apapun baik berupa perkara yang sudah dijelaskan maupun selainnya. Barang siapa yang melakukannya karena berharap harta si Kafir, maka Dia termasuk orang yang berdosa dan bodoh, bagaimana tidak sedangkan Nabi bersabda : "Barang siapa yang tawadlu' kepada seorang Muslim yang kaya (karena berharap hartanya) maka telah hilang dua pertiga agamanya".

Apabila tawaddlu' terhadap Muslim yang kaya saja bisa menghilangkan dua pertiga agamanya lalu bagaimana menurutmu jika tawadlu terhadap orang kafir ?
Wallohu a'lam.

{الأشباه والنظائر لابن نجيم، ص ١٨٩}

تَبْجِيلُ الْكَافِرِ كُفْرٌ
فَلَوْ سَلَّمَ عَلَى الذِّمِّيِّ تَبْجِيلًا كَفَرَ
وَلَوْ قَالَ لِلْمَجُوسِيِّ يَا أُسْتَاذِي تَبْجِيلًا كَفَرَ٠

Artinya : Mengagungkan orang kafir hukumnya kufur, maka apabila seseorang mengucapkan salam kepada Kafir dzimmi karena mengagungkan si-dzimmi, maka orang tersebut adalah Kufur, apabila seseorang berkata kepada seorang Majusi : "Wahai guruku" dengan tujuan mengagungkan si-majusi maka Dia kufur.

{تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ج ٢ ص ٧٠}

ويحرم بدءه بتحية غير السلام بل يحرم بكل كلام أشعر بتعظيمه لآية:) لا تجد قوماً يؤمنون بالله واليوم الآخر يوادّون من حاد الله ورسوله} الآية

Artinya : Haram hukumnya mengawali ucapan selamat, selain salam kepada orang kafir, bahkan haram mengatakan setiap perkataan yang mengandung unsur pengagungan terhadap orang Kafir berdasar ayat : Kalian tidak akan menemukan orang yang beriman pada ALLAH dan hari akhir yang mencintai orang yang memusuhi ALLAH dan Rasul - Nya.

أسنى المطالب في شرح روض الطالب،جزء ٣،صحيفة ١١٤

(وَيُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْحَيِّ لِصَلَاحٍ وَنَحْوِهِ) مِنْ الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ كَزُهْدٍ وَعِلْمٍ وَشَرَفٍ كَمَا كَانَتْ الصَّحَابَةُ تَفْعَلُهُ مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَمَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ صَحِيحَةٍ

(وَيُكْرَهُ) ذَلِكَ (لِغِنَاهُ وَنَحْوِهِ) مِنْ الْأُمُورِ الدُّنْيَوِيَّةِ كَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَ أَهْلِ الدُّنْيَا لِخَبَرِ «مَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ ذَهَبَ ثُلُثَا دِينِهِ»

(وَ) يُكْرَهُ (حَنْيُ الظَّهْرِ) مُطْلَقًا (لِكُلٍّ) مِنْ النَّاسِ لِمَا مَرَّ فِي خَبَرِ التِّرْمِذِيِّ

(وَيُسْتَحَبُّ الْقِيَامُ لِأَهْلِ الْفَضْلِ) مِنْ عِلْمٍ أَوْ صَلَاحٍ أَوْ شَرَفٍ أَوْ نَحْوِهَا (إكْرَامًا لَا رِيَاءً وَإِعْظَامًا) أَيْ تَفْخِيمًا قَالَ فِي الرَّوْضَةِ وَقَدْ ثَبَتَتْ فِيهِ أَحَادِيثُ صَحِيحَةٌ وَمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ كَالرَّوْضَةِ مِنْ اسْتِحْبَابِ الْمُصَافَحَةِ وَمَا بَعْدَهُ إلَى هُنَا أَعَادَهُ فِي السِّيَرِ مَعَ زِيَادَةٍ وَوَقَعَ لِلرَّافِعِيِّ بَعْضُ ذَلِكَ

Address

Cikadu/Watukumpul
Pemalang
52357

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MDSRA Watukumpul II posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share