Patutlah kita acungi jempol terhadap apa yang dilakukan para santri di pesantren. Mereka mengkaji, menelaah kitab yang ditulis ulama pada masa keemasan islam (the golden ages of islam) . dan pendapat lain mengatakan -khususnya terjadi pada era Walisongo- Dengan mengkaji kitab kuning , para santri berusaha menyambung keilmuan mereka dengan para ulama yang mempunyai intelektualitas yamg lebih. Bany
ak orang ‘luar’ mencap kolot kitab kuning. Tapi hal ini lebih disebabkan karena mereka melihat waktu kitab tersebut dikarang, selebihnya mereka tidak tahu kualitas isi kitab tersebut , yang terbukti telah membangun peradaban yang cemerlang,. Yang perlu menjadi catatan adalah .kajian yang dilakukan santri pada kitab, hanya terfokus dan terbatas pada kitab yang membahas ilmu Agama. Padahal kitab kuning peninggalan ulama tidak hanya membahas ilmu agama, tapi juga membahas ilmu lainnya, seperti filsafat, astronomi, kedokteran dan lainnya. Mungkin hal ini lebih disebabkan adanya dikotomi ilmu di pesantren. yang tentunya selama tidak keluar dari koridor ahlussunnah wal jamaah. Mengupayakan bangkitnya Islam lebih baik daripada kita terjebak pada romantisme sejarah, dengan hanya membangga-banggakan kejayaan islam di masa lalu tanpa ada keinginan untuk membangkitkannya kembali. Salah satu uapya yang dapat kita lakukan adalah seperti yang dilakukan bangsa Barat : mengkaji kitab kuning. Karena kitab kuning adalah aset peradaban Islam.