11/10/2026
TAKARIR HIKMAH AL-MAJZUB FI NUR
"Siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." - Yahya bin Mu'adz ar-Razi
Kita sering mengira perjalanan ini tentang menambah. Menambah ilmu, menambah amal, menambah tinggi. Padahal mungkin, perjalanan kita adalah tentang melepas.
1. LAISA
Kita belajar melepaskan keakuan. Seperti yang dikatakan Ibnu Arabi, "Tidak ada yang melihat Allah sebagai DIA, selain Allah sendiri." Maka pisau Laisa itu bukan untuk melukai kita. Ia datang dengan lembut, menyayat pelan-pelan rasa "aku bisa" di dada kita, agar di ruang yang kosong itu, akhirnya Huwa bisa berdenyut dengan tenang. Kita tidak kehilangan diri, kita hanya dikembalikan.
2. HANGUS
Lalu kita melihat ilmu dan amal kita hangus. Al-Ghazali berbisik, "Ilmu tanpa amal adalah gila, amal tanpa ilmu adalah sia-sia." Tapi ada satu lagi yang sering kita lupa: di hadapan Af'al-Nya, bahkan kebanggaan akan ilmu dan amal itu pun harus hangus. Kita tetap belajar, kita tetap beramal, tapi kita tidak lagi membawa-bawanya sebagai milik. Kita berjalan dengan tangan kosong, dan itu yang membuat langkah kita jadi ringan.
3. MABUK
Dan di situlah kita mengerti tentang mabuk. Rumi pernah berkata, "Kau adalah lautan dalam setetes." Mabuk dunia membuat kita haus terus. Tapi ada mabuk lain, yang justru membuat kita kenyang dalam genangan Cahaya-Nya. Kita tidak perlu seumur hidup mencari-cari di luar, karena setetes dari Cahaya itu saja sudah cukup membuat kita lupa pada dahaga yang lain. Mabuk ini tidak memabukkan, ia menyadarkan.
4. DEBU
Hingga akhirnya, kita tiba di puncak yang paling lembut: menjadi debu. Ibn Athaillah berkata, "Kuburkan eksistensimu dalam tanah ketidakterlihatan." Yang tertinggi itu bukan yang terbang dan terlihat. Yang tertinggi adalah kita yang menjadi debu, yang lupa caranya jatuh karena sedang disujudkan. Kita tidak lagi takut jatuh, karena kita sudah berada di tempat terendah yang justru paling dicintai - di atas sajadah sujud-Nya.
Kita semua masih belajar menjadi debu itu. Debu yang sedang belajar, dan disujudkan.
Ampunkan jika ada kata yang kurang beradab, ini hanya catatan seorang fakir yang mencatat dari ujung Jemaja.
Jemaja, 11 Oktober 2026
Muhammad Bayan - fakir ilmu dan adab
` RUANG KATA berat Sorotan publik