08/07/2024
MENANTI KETUA NU RIAU YG PANTAS...?
Calon Ketua NU Provinsi Riau pada pilihan tahun 2024 memiliki tantangan besar karena harus segera mampu berkontribusi nyata bagi pelbagai kemajuan di Tanah Melayu ini. Artinya, seorang ketua NU Riau harus handal, bukan seorang pemimpin yang tidak kompeten. Tentu memprihatinkan jika Provinsi Riau memiliki seorang ketua NU yang hanya bisa memajang nama, mencari pamor atau bahkan memperkaya diri dengan jabatan sebagai pimpinan NU sekelas provinsi. NU Riau butuh pemimpin yang juga bisa mendukung berbagai program PBNU, yang sedang menghadirkan NU untuk international. Karena, NU memang ikut berperan sebagai force untuk dunia.
Satu hal penting harus disadari oleh siapapun yang "berani" mencalonkan diri atau dicalonkan. Yaitu, NU – Nahdlatul Ulama – secara organisasi adalah organisasinya para ulama/kyai, sehingga seseorang perlu berkaca siapa dirinya jika akan memimpin organisasi NU. Disini, rasa malu sangat penting. Sebab, malu dan iman saling terkait. Jika hilang salah satunya, maka hilanglah yg lainnya (HR. Al Hakim). Malu adalah akhlaq Islam (HR. Ibnu Majah). Artinya, malu adalah bagian dari iman (HR. Bukhari dan Muslim).
Riau saat ini, di tahun 2024, sesungguhnya sedang krisis tokoh NU (crisis of NU prominent figures) yang berkemampuan komprehensif, yaitu a) tokoh yang luar biasa keilmuan agama maupun pengetahuan umumnya, b) tokoh yang memiliki network ke pemerintahan maupun lainnya, c) tokoh yang kuat financial background-nya.
Tak juga dapat disangkal bahwa situasi saat ini di tahun 2024 sangat mencemaskan. Pertama, sejumlah calon Ketua NU Riau yg layak atau pantas ternyata tidak ingin maju karena kesibukan masing-masing dalam karir dan aktivitas lainnya.
Kedua, potensi munculnya calon ketua NU Provinsi Riau yang tidak berkapasitas atau tidak berkemampuan. Lebih parah lagi adalah jika, misalnya, calon ketua NU yang muncul hanya berambisi jabatan dan kemudian menggunakan organisasi Nahdlatul Ulama untuk kepentingan diri dan golongannya.
Semua pihak harus sadar bahwa NU bukan barang dagangan, yang untuk naik sebagai ketua NU harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah serta kemudian NU secara organisasi digunakan untuk kepentingan politik atau memperkaya diri. Jika yang menjadi ketua NU adalah sosok yang tidak berlatarbelakang pesantren, tidak bisa berbahasa Arab atau tidak mampu membaca kitab kuning, tidak berpengetahuan luas tentang sejarah berdirinya NU dan para ulama atau kiai yang berperan, tidak handal dalam menyikapi isu-isu kekinian berskala nasional maupun internasional, maka kesemua hal ini sebenarnya tidaklah bermasalah. Yang penting, yang bersangkutan ingin benar-benar mengabdi untuk kemajuan Nadhlatul Ulama.
Masalah paling besar adalah jika seseorang bernafsu menjadi ketua NU hanya untuk memperkaya diri dengan “menjual nama NU”, ditambah dengan ketidakmampuan keilmuan agama maupun umum seperti diulas diatas, maka nasib NU di Bumi Melayu Riau akan sangat membahayakan. Kita semua termasuk Anda pembaca yang budiman pastilah mendambakan kehadiran seorang ketua NU Provinsi Riau yang berkapasitas dan memiliki jiwa pengabdian tinggi.
yang layak
Sejauh yang saya simak serta lihat dan seterusnya, ada beberapa calon pimpinan NU Provinsi Riau yang layak atau pantas. Saya kategorikan, mislanya, calon yang berdomisili di wilayah Kota Pekanbaru. Diantaranya adalah;
1. Prof. Dr. KH Muhammad Syaifuddin, Guru Besar UIN Suska – Pekanbaru. Beliau ini memiliki segudang pengalaman dan juga menjabat Pengurus NU Provinsi Riau bersama saya sejak tahun 2015 era Ketua NU Drs. H. Tarmizi Tohor, MA
2. Dr. KH Ghozali Syafi'i, pengurus NU Riau yang sudah puluhan tahun. Beliau alumnus Ponpes Tebuireng, Jombang – Jawa Timur. Aktivitas kesehariannya adalah Dosen UIN Suska Riau dan MUI Provinsi Riau. Beliau juga pernah menjabat Ketua NU Kota Pekanbaru dan salah satu Dewan Pendiri PWNU Riau. Maknanya, Kyai Ghozali sangat mengerti tentang NU Riau. Tak heran jika beliau dikenal sangat aktif dalam berbagai kegiatan PWNU Riau.
3. Ir. Harmansyah atau Pak H. Ucok juga sudah lama berkiprah sebagai pengurus NU Riau, khususnya di bidang Tanfidziyyah NU (manajerial organisasi harian). Juga, aktif di Dewan Pengurus MUI Riau. Ir. H. Harmansyah, dikenal dengan Pak H. Ucok. Beliau piawai dalam lobi atau komunikasi.
Adapun calon yang berdomisili di Kab/Kota, diantaranya adalah;
1. Dr. KH. Kholid Junaidi, M.Pd, Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubtadiin di wilayah Kab. kampar dan jg dosen UIN Suska. Alumnus Ponpes Lirboyo, Kediri – Jawa Timur. Beliau ini energetik, punya semangat tinggi. Juga, pernah Pengurus PWNU Riau. Saya percaya dengan capability-nya.
2. Kyai Masdaruddin Ketua PCNU Bengkalis. Keilmuwannya tak diragukan. Ia juga handal kitab kuning.
NU Riau tidak akan malu jika memiliki pimpinan Tanfidziyyah dari nama-nama diatas. Sebab, untuk menyongsong masa depan NU Riau yang lebih berwibawa, seorang Ketua NU wajib bisa bahasa arab atau kitab kuning, meski harusnya kompetensi ini cukup dimiliki oleh orang-orang yang akan duduk di Syuriah NU (Dewan Fatwa istilahnya).
Selain itu, Ketua NU Riau kali ini diharapkan bisa mewujudkan adanya Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) dan mampu membuat terobosan untuk memiliki Sekretariat atau Kantor PWNU Riau yang mandiri dan layak untuk menggelar berbagai pertemuan, dll.
Syuriah NU Riau
Sejumlah nama berikut – disamping yang lainnya karena tidak sempat disebut satu persatu – sepertinya layak dan pantas di jajaran pimpinan atau jajaran Syuriah NU Riau. Diantara basic reasoning-nya adalah mereka berkemampuan membaca kitab kuning dan menjelaskan maknanya.
1. Prof. Dr. KH Syaifuddin. Ini jika beliau tidk berkenan menjadi Ketua NU Riau. Atau, Dr. KH. Ghozali Syafii, inipun jika beliau tidak maju sebagai calon Ketua NU Riau. Dr. Ghozali Syafii adalah alumnus Ponpes Tebuireng Jombang milik Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Selain itu, Dr. Ghozali Syafii pernah menjabat Ketua NU Kota Pekanbaru, termuda pada tahun 1994 se-Indonesia. Beliau juga menjabat Syuriah NU Riau selama 10 tahun dan sekarang Tim Caretaker Bidang Syuriah.
Jika Dr. KH. Ghozali Syafii lebih memilih maju sebagai Rois Syuriah NU Riau dan gagal, maka bisa dipastikan "ada sesuatu yang tidak beres" dalam proses pemilihannya. Kecuali, jika ada ulama atau kiai dari kab/kota yang lebih sepuh usianya dari Kiai Ghozali maju serta pernah menjabat di PCNU kab/kota, maka tidak akan menjadi persoalan. Atau, ada yang lebih senior saat di Syuriah NU Riau, maka Kiai Ghozali bisa saja mundur dari pencalonan.
2. Prof. Dr. Asmal May,
Beliau Guru Besar Fiqih UIN Suska dan pernah Pengurus PWNU Riau
3. KH Ahmad Syuhada, Tandun Kab. Rokan Hulu
Beliau pengasuh Ponpes Babussalam Kec. Tandun, Kab. Rokan Hulu
4. KH Ramlan, Syuriah PCNU Bengkalis dan tokoh NU Bengkalis
5. Dr. Kyai Iman Ghozali
Beliau Dosen STAIN Bengkalis dan Ketua MUI Kab. Meranti
6. KH Abu Yazid Pengasuh Ponpes Al Hisa Kota Pekanbaru
7. KH Syahruddin Kasim
Beliau adalah Ulama/Kyai Meranti, Pengasuh Ponpes Raudhatul Ulum Playar Kundur – Meranti, Pimpinan Majelis Taklim Rasulullah SAW Kab. Meranti dan Badal Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsyabandiyah.
8. Kyai Muhammad Nurdin Pengasuh Ponpes Al-Muawanah Alahair, Kab. Kep. Meranti
9. Kyai Mudhofir Basyir, Ponpes Nurul Huda Al-Islami Kota pekanbaru
10. Dr. Robithoh Alamhadi Faisal Pengasuh Ponpes Jabal Nur Kandis, Siak
11. KH Muhaimin Pengasuh Ponpes Amanah Bandarsungai, Kec. Sabak Auh, Siak.
12. Dst
Mustasyar NU
Selain Para Kepala Daerah atau Pejabat Tinggi di pemerintahan, sejumlah nama – selain yang lainnya – yang layak di jajaran Mustasyar NU Riau adalah sebagai berikut:
1. KH Busyro Ponpes Al Munawarah Kota Pekanbaru. Beliau adalah salah satu sesepuh NU Riau, yang berjuang keras mempertahankan tanah hibah milik NU di Jl. KH Ahmad Dahlan Pekanbaru. Beliau mengetahui siapa saja orang-orang oknum yang merampas tanah NU Riau.
2. Syekh KH Bunyamin Bin KH Imam Affandi Semukut, Meranti
3. KH Hasbullah Tanjung Samak, Meranti
4. KH Sholeh Tasik Putri Puyu, Meranti
5. KH Ali Mutarom Lubuk Batu Jaya, Indragiri Hulu
6. KH Badrussholeh Sungai Pagar, Kampar
7. KH Imam Sibawaihi, Kampar
8. Kyai Aminullah Sanusi, Pengasuh Majelis Sholawat Bintang Sembilan, Kubang – Kampar
9. KH Rohmat Afifi, Kota Dumai
10. Buya Amrizal Ketua MUI Bengkalis
11. KH Abdullah Subakat, Pengasuh Ponpes Hidayatul Mubarokah Kota Pekanbaru
12. Abah Kyai Mujissin Pengasuh Majelis Taklim Nur Rahmah Provinsi Riau, Pekanbaru
13. Tuan Guru Fadly Pengasuh Ponpes Sholawat, Kab. Bengkalis
14. Dr. H. Rizal Akbar, asli putra Melayu Riau. Beliau Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Tafaqquh fid Diin, Kota Dumai. Bisa jg beliau calon Ketua NU Riau.
15. Dr (Hc) HM. Rusli Zainal, SE, MP
Beliau adalah mantan gubernur Riau yang legendaris dan dikenal visioner
Tentu masih banyak para ulama dan kiai NU yang belum disebutkan dari berbagai kab/kota lainnya di wilayah Riau. Tinggal para pembaca budiman tambahkan dan usulkan.
Harus Keturunan Pendiri NU
Mengingat kehadiran Calon Ketua NU Provinsi Riau yang masih memiliki darah keturunan pendiri NU termasuk sulit di Bumi Lancang Kuning (apalagi selain dzurriyah Pendiri NU, jg berkemampuan bahasa Arab, Inggris dan bahasa asing lainnya serta kuat secara ekonomi maupun akses pemerintahan), maka ketua NU Riau tak harus yg masih punya darah pembesar Nahdlatul Ulama. Nama-nama tersebut diatas setidaknya bisa mewakili untuk hadir sebagai nahkoda NU Riau yang punya kharisma dan pengetahuan.
Jangan sampai yang terpilih untuk Periode 2024 nanti adalah orang yang tak berkapasitas. Diharapkan yang terpilih adalah punya background Master Degree atau Doktor ataupun Profesor Doktor. Ini jika NU Riau dirasa perlu untuk punya wibawa plus. Jika tidak, S1 pun tidak masalah. Jika diminimalkan, maka setidaknya kriterianya adalah sbb:
1. Pendidikan minimal S1
2. Punya latarbelakang pesantren atau bisa membaca kitab berbahasa Arab. Tak harus fasih berbahasa Arab/Inggris/bahasa asing lainnya. Memahami kitab kuning adalah tradisi NU. Tidakkah NU Riau ingin tampil berwibawa dan dipandang sejajar? Atau, menjadi hebat minimal di Bumi Sumatera.
Selain itu, idealnya seorang petinggi Nahdlatul Ulama selevel Ketua NU Provinsi tentu wajib mengerti secara general tentang hukum Islam baik Al Quran dan ilmu Al Quran; Hadis dan Ilmu Hadis; Fiqh dan Ushul Fiqh, dst. Ini jika benar ingin muncul di Riau seorang pemimpin Nahdlatul Ulama yg berkelas dan bergengsi.
Mari kita simak Ketua Umum PBNU sekarang KH Yahya Cholil Staquf. Beliau handal kitab kuning dan tentunya berlatarbelakang dunia pesantren. Dapat disimak di video media massa bahwa Kiai Yahya juga mengisi pengajian kitab kuning. Artinya, seorang ketua Tanfidziyyah NU memang harus bisa bahasa Arab atau kitab kuning. Kenapa demikian? Karena ini adalah Nahdlatul Ulama, organisasinya para ulama dan kiai. Bukan organisasi sembarangan, yang lantas pimpinannya dari kalangan yang tidk jelas dasar keilmuan agamanya.
3. Pernah menjabat sebagai pengurus NU level Provinsi atau Kab/Kota. Ini agar tidak shock atau grogi p**a nantinya. Selain itu, tak terdengar atau muttafaq bainal ulama pernah "semacam menjual nama NU" untuk kepentingan dirinya.
4. Telah sekian tahun domisili di tanah Melayu Riau, meski tak harus lahir di Bumi Riau.
5. Memiliki akses ke pemerintahan level provinsi, dan stakeholders lainnya.
6. Memiliki akses ke sejumlah ulama/kyai level nasional dan kab/kota, minimal mengenal dekat 10 ulama atau kyai level nasional dan 15 ulama atau kyai level kab/kota.
7. Memiliki dana pribadi - bukan dari sponsor - minimal Rp 50 jt. Ini agar yg bersangkutan punya “muruuah wal haibah” serta menghindari gosip. Juga, bukan karena untuk menuruti "permintaan sponsor dari manapun". Lebih-lebih sponsor yang – maaf – meminta barter dukungan politik di Riau.
8. Dikenal dermawan atau sedekah sosialnya bagus serta bukan dermawan dengan menggunakan uang negara atau hasil mengajukan proposal ke pihak atau instansi tertentu.
9. Handal di mimbar atau bisa berpidato di hadapan publik dengan menggunakan istilah-istilah yg menjadi tradisi Nahdlatul Ulama serta menguasai secara umum sejarah berdiri dan perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama.
10. Sanggup menulis surat pernyataan berisi a.l. misalnya;
- Tidak menjual nama NU untuk kepentingan pribadi.
- Mengabdikan diri untuk memajukan NU
- Menjadikan NU berkontribusi pada negara.
- Membawa NU yang terbaik di Sumatera.
e. Agenda Besar NU Riau
Giat ini dibagi 2 (dua), jangka pendek (short term) dan jangka panjang (long term) selama 5 tahun.
1. Konsolidasi Internal PWNU Riau & Banom yg ada. Lalu, persiapan pelantikan oleh PBNU, dll. Untuk hal ini, pasti butuh energi, waktu dan juga biaya.
2. Silaturrahim/Audiensi ke Pemprov Riau, Polda, Korem, BIN, Kejati, dll
3. Silaturrahim ke Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Riau, Ormas Muhammadiyah Provinsi Riau, MUI Provinsi Riau.
4. Konsolidasi dengan NU Kab/Kota se-Riau.
5. Mencari/Mengupayakan kantor Sekretariat NU Provinsi Riau yang layak (memiliki fasilitas yang diperlukan untuk internal maupun menyambut tamu-tamu eksternal)
6. Membuat berbagai program, termasuk secara mendasar adalah menghidupkan kembali tradisi amaliah ke-NU-an (Bahtsul Masaail, Istighosah, dll) di Kantor NU Riau. Juga, membuat langkah mendirikan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Riau. Tinggal dibuat Tim Pelaksana yg terdiri dari para profesor, doktor, dll.
7. Membuat sinergitas dengan para stakeholders terkait untuk kegiatan keagamaan-sosial-kebangsaaan level provinsi dan kab/kota. Juga, menginisiasi seminar atau pertemuan skala internasional ataupun antar negara bertempat di wilayah Riau.
8. Memberikan sikap / statemen atas hal-hal kekinian di level provinsi maupun nasional dan internasional.
9. Mengupayakan berbagai terobosan ekonomi kreatif-produktif. Restorasi ekonomi Nahdliyyin bersifat sangat urgent. Tak hanya di Riau, tetapi dalam skala nasional.
10. Memberikan pelbagai masukan konstruktif ke PBNU, melaksanakan berbagai instruksi PBNU dan selalu berkoordinasi meminta arahan dari pimpinan PBNU agar terwujud soliditas PWNU dan PBNU.
11. Dan masih banyak lagi.
Pemimpin NU yang Ambisius
Harus diwaspadai munculnya calon ketua PWNU Riau yang tidak kompeten dan yang ambisius. Atau, yang berpotensi menggunakan money politic untuk menjabat. Sebab, hal ini jelas hanya merendahkan martabat NU. Kunci suara ada di 12 kab/kota. Jika para ketua NU Kab/kota benar-benar menggunakan suara hati, memiliki wawasan luas dan menyadari bahwa NU adalah organisasinya para Ulama/ Kyai, maka pasti mereka akan memilih Ketua NU Riau yang berkarakter atau berkemampuan luar biasa.
12 kab/kota tersebut yang bertanggungjawab di dunia dan akhirat - apapun gelar dan status sosial mereka - terhadap hadirnya figur pemimpin NU Riau yang punya wibawa dan high calibre. Jika tidak, maka hanya akan mengundang tertawaan dari banyak kalangan sekaligus kita bersama-sama bisa menilai kualitas setiap ketua NU Kab/Kota.
Saya yakin bahwa 12 ketua NU Kabkota di Riau tidak tergiur dengan politik dagang sapi dalam memilih Ketua NU Provinsi Riau. Jika salah memilih, percayalah bahwa sejarah akan mencatat apa yang kita perbuat.
Keseriusan Ketua NU Kab-Kota
Ketua NU 12 kabkota - jika benar ingin ketua NU Riau yang karismatik dan berkemampuan tinggi - harus menyuarakan di sidang tatib atau pemilihan calon ketua NU Riau hal sebagai berikut:
1. Tes Membaca Al Quran agar diketahui tajwid nya
2. Tes membaca kitab kuning, misalnya Durratun Nasihin, Ushul Fiqh dan Fiqh, dll.
3. Tes tulisan mengarang dlm bahasa arab/inggris
4. Tes pengetahuan tarikh Islam dari Rasulullah SAW s.d. Abbasiyah.
5. Tes pengetahuan umum tentang sejarah Indonesia pra kemerdekaan dan peran NU.
6. Tes pengetahuan sejarah berdirinya NU dan perjalanan NU dari masa ke masa.
7. Tes pengetahuan umum terkait beragam isu vital atau strategis di Indonesia yang kira-kira nanti NU Riau bisa ikut memberi masukan konstruktif.
8. Tes pengetahuan tentang Riau dan progres yang dibutuhkan Riau dimana NU Riau bisa ikut kontribusi nyata nantinya.
9. Dll
Tes atau bahasa keren sekarang adalah fit and proper test atau uji kelayakan bisa diusulkan oleh Para Pimpinan NU Kab/kota se-Riau. Tim penguji berasal dari Tim Caretaker PBNU, PWNU dan Syuriah kab/kota. Para calon diuji satu persatu selama 1 jam minimal.
Apabila hal ini dilakukan, saya yakin 100 persen bahwa akan banyak calon ketua NU Riau yang mengundurkan diri. Sehingga, yang tersisa dan yang terpilih sebagai ketua NU Provinsi Riau benar-benar sosok yang handal, berkemampuan dan meyakinkan kita semua bahwa ia akan mampu menjadi nahkoda organisasi Nahdlatul Ulama yang luar biasa bagi NU Bumi Melayu Riau.
Akan tetapi, jika tidak dilakukan hal diatas atau tidak diusulkan oleh NU kab/kota dan kemudian Ketua NU terpilih di tahun 2024 adalah orang yang tidak bisa mengaji al Quran dengan baik, tidak mampu membaca kitab kuning, tidak punya akses ke pemerintahan, maka KESALAHAN BESAR tersebut ada pada yang memilihnya. Dan, bisa dipastikan NU KULTURAL yg akan lebih kuat dikenal di masyarakat.
Para Ulama/Kiai Pendiri Nahdlatul Ulama...Alfatihah.
Abdul Halim Mahally, LL.B (Hons), MPIR
Dewan Pendiri NU Istimewa (PCI-NU) Pakistan, (28/5/05)
Syuriah NU Provinsi Riau, 2015-2023