09/04/2024
kisah teladan #90
*RUMAH KUNO DI POROS BUMI*
Dari ayat yang terdapat dalam surat Ali Imran, dapat diketahui bahwa ternyata Ka'bah sudah berumur sangat tua sehingga dinamakan juga Baitul 'Atiq atau Rumah Kuno, karena Ka'bahlah yang didirikan mula-mula sebagai bangunan tempat ibadah.
Ka'bah sudah ada sebelum Nabi Adam muncul di muka bumi, dan sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk thawaf dan ibadah.
Ketika Adam dan Hawa diusir keluar dari taman surga, mereka bertemu di padang Arafah dalam rangka menunaikan ibadah di tempat Ka'bah berdiri.
Ka'bah kemudian hanyut dan runtuh akibat taufan serta banjir pada zaman Nabi Nuh.
Baru dibangun kembali pada masa Ibrahim.
Bersama dengan putranya, Ibrahim memperbaiki Ka'bah sampai berdiri kokoh kembali.
Namun ada bagian lowong yang tidak dijumpai reruntuhannya, mungkin terbawa air bah yang dahsyat dulu.
Untunglah tatkala mereka sedang kesulitan mencari-cari, Ismail menemukan sebuah batu hitam yang indah, Hajar Aswad, yang ternyata persis masuk di tempat lowong tersebut.
Saking gembiranya sampai tak sadar Ismail mencium batu itu berulang-ulang kali.
Ibrahim ayahnya juga melakukan perbuatan yang sama.
Inilah asal mula disunahkan mencium Hajar Aswad bagi para haji.
Ibrahim dan Ismail adalah orang pendatang.
Sebab penghuni asli tanah Hijaz merupakan bangsa tersendiri, yaitu bangsa Jurhum.
Namun karena kemudian Ismail yang orang Kanaan itu mengawini salah seorang putri asli, dan beranak-pinak dengan subur, maka muncullah keturunan Ismail yang menganut agama Ismail dari ajaran yang melengkapi agama bapaknya, Ibrahim.
• • •
Ibadah haji sudah dilakukan sejak dahulu kala dan merupakan ibadah tauhid yang tidak mengandung kemusyrikan atau khurafat yang menyeleweng.
Sampai akhirnya pengelolaan atas Baitullah itu diserahkan kepada seorang hartawan terkemuka, Amar bin Lahyin.
Dia orang berpengaruh dan dermawan.
Pernah ia memberi pakaian di samping makanan kepada ribuan jamaah haji serta menyembelih 10.000 ekor sapi untuk kepentingan mereka.
Akibat kebaikannya itu menyebabkan Amar bin Lahyin dianggap makhluk suci.
Terhadap anggapan ini Amr bin Lahyin merasa sangat s**a cita, dan ia begitu melambung dalam pujian serta penghormatan masyarakat.
Ia bahkan yakin sekarang bukan lagi Ka'bah yang merupakan Kiblat bagi hubungan manusia dengan Tuhan, karena ia mulai merasakan dirinya sebagai kiblat dari kedatangan manusia yang berduyun-duyun ke Mekah.
Ia merasa dirinya menjadi sangat penting dan seolah-olah yakin tidak akan pernah tertimpa derita atau kesakitan sebagaimana dialami manusia lain.
Masyarakat begitu p**a anggapannya kepada Amar.
Tragisnya ia sangat terpengaruh dan berubah wataknya lantaran anggapan itu.
la malah mempercayai dan menyebarkan takhyul-takhyul.
• • •
Pada suatu hari Amar bin Lahyin jatuh sakit.
Menurut kabar di Balqan Palestina terdapat sumber air panas yang bisa menyembuhkan segala penyakit.
Ia diiringkan pengikutnya pergi ke tempat itu dan secara kebetulan penyakitnya sembuh seketika.
Amar bin Lahyin mendapati orang-orang setempat menyembah berhala-berhala.
la pun bertanya,
_"Apakah ini?"_
Mereka menjawab,
_"Berhala. Kami meminta hujan bahkan meminta menang perang kepadanya. Permintaan kami selalu dikabulkan."_
Amar bin Lahyin sangat tertarik.
Lalu ia minta diberi salah satu berhala yang mereka sembah.
Ia memperoleh berhala terbesar yang bernama Hubal.
Oleh Amar bin Lahyin berhala itu dipajang di Ka'bah.
Lantas ia mengimpor berhala-berhala lain dari negeri-negeri yang berbeda untuk mendapatkan keberkahan yang lebih banyak, katanya.
Sehingga Ka'bah sarat sekali dengan ratusan patung berhala.
Sebab para jamaah haji pun ikut-ikutan memajang sesembahan suku atau negerinya di Ka'bah, tidak mau kalah dengan golongan lain.
• • •
Menjelang kelahiran Nabi, Yaman yang berada dalam kekuasaan Negus atau Hajasyi dari Habsyi atau Ethiopia.
Sebagai wakil Negus di Yaman diangkatlah seorang panglima yang ambisius.
Abraham bin Arsyam.
Ketika beberapa waktu kemudian dia diperintahkan oleh Negus untuk menyerbu Ka'bah dalam rangka menghancurkan berhala-berhala syirik yang bertentangan dengan ajaran Nasrani Timur yang dipeluk oleh Negus dan masih berkeyakinan tauhid, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Abrahah untuk melaksanakan keinginannya.
la mau mengubah kiblat rakyat Arab ke Shan'a ibu kota Yaman.
Untuk itu ia telah mendirikan gereja besar yang diberi nama Quraisy, buat mengambil simpati bangsa Quraisy di daratan Arab.
Karena tidak berhasil dengan cara itu maka ia berniat menghancurkan Ka'bah dan meratakannya dengan tanah.
Berangkatlah Abrahah membawa tentara sebanyak 60.000 infantri dan ribuan lainnya kavaleri bergajah.
Sepanjang perjalanan ia mendapat perlawanan hebat dari penduduk negeri-negeri yang dilewati kecuali di Thaif yang masyarakatnya menyambut ramah.
Sebelum memasuki Mekah mereka berkemah di luar kota untuk istirahat dan memata-matai situasi dalam kota.
Mereka sempat merampok 400 ekor unta milik Abdul Muthalib kakek Nabi yang waktu itu berkedudukan sebagai pemimpin suku Quraisy, dan penguasa yang mengelola Ka'bah.
Kurir Abrahah mendatangi Abdul Muthalib untuk menyampaikan tantangan.
Apabila penduduk Mekah hendak melawan supaya segera bersiap-siap.
Abdul Muthalib bukannya mempersiapkan tentara, malah menyuruh rakyatnya mengungsi atau menyingkir dari Mekah.
Kemudian ia berangkat menghadap Abrahah di kemahnya.
Sebagai kepala suku ia disambut baik juga oleh Abrahah.
Panglima Nasrani itu menanyakan maksud kedatangannya.
Abdul Muthalib menjawab bahwa ia hendak meminta kembali unta yang dirampas anak buah Abrahah.
Abrahah tertawa mengejek,
_"Ka'bah akan segera kami hancurkan. Engkau datang hanya untuk meminta untamu? Di mana kejantananmu?"_
Dengan tenang Abdul Muthalib menyahut,
_"Tentu saja. Sebab unta itu kepunyaanku dan menjadi tanggung jawabku. Sedangkan Ka'bah adalah milik Allah. Dialah yang akan melindungi keselamatannya."_
Pernyataan Abdul Muthalib ini terbukti kemudian dengan hancurnya tentara Abrahah oleh burung-burung Ababil yang datang dari langit sebagaimana diabadikan dalam surat Al-Fiil.
_"Tidakkah kau lihat betapa dilakukan Tuhanmu terhadap pas**an bergajah? Tidakkah Tuhanmu menjadikan daya upaya mereka sia-sia belaka? Dan dikirimkan-Nya atas mereka burung-burung Ababil, yang melontari mereka dengan batu-batu penuh wabah? Maka dijadikan-Nya mereka bagaikan daun-daun dimakan ulat.”_
• • •
Walaupun Ka'bah telah selamat dari angkara murka manusia, Ka'bah terpaksa roboh juga oleh erosi usia.
Sudah lama rusak bangunannya oleh gerogotan alam, lantaran Ka'bah juga makhluk Tuhan.
Masyarakat ingin memperbaiki tetapi mereka tidak berani.
Takut kuwalat.
Barulah tatkala di Jiddah kebetulan ada sebuah kapal Romawi yang terdampar kandas, dipimpin oleh Baqum yang ahli pertukangan, maka ia diminta oleh penduduk Quraisy untuk memperbaiki Ka'bah bersama seorang tukang bangsa Qibty yang tinggal di Mekah.
Orang Quraisy baru berani membantu tatkala pemimpin mereka Walid bin Mughirah terjun sendiri dan ternyata tidak terjadi bencana atasnya.
Untuk biaya mereka hanya mengambil dari harta yang halal, padahal penghasilan orang Quraisy kebanyakan haram semua.
Jadinya Hijir Ismail hanya diberi dinding sekadarnya saja.
Kesulitan terjadi ketika para pemimpin kabilah saling berebut untuk mengangkat Hajar Aswad sampai mereka menghunus pedang masing-masing.
Nyaris berkecamuk pertumpahan darah seandainya tidak muncul Muhammad yang kala itu baru berusia 35 tahun.
Karena kejujuran dan terpercayanya, Muhammad diminta menghakimi.
Hajar Aswad ditaruh di atas selembar kain yang lebar dan diangkat bersama-sama oleh para pemimpin kabilah itu.
Keutuhan dan kerukunan suku Quraisy terjaga kembali.
Sejak itulah Muhammad makin menanjak namanya di kalangan bangsa Arab sebagai tokoh muda yang tidak menonjol-nonjolkan diri, namun memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan yang tinggi.
~^°^~