Nongkojajar Institute

Nongkojajar Institute Social-Economic Transformation and Training Centre

KETIKA NU DIMINTA BERKORBAN UNTUK PERSATUAN UMATBelakangan ini, pemerintah seolah sangat terobsesi dengan “kesatuan umat...
19/03/2026

KETIKA NU DIMINTA BERKORBAN UNTUK PERSATUAN UMAT

Belakangan ini, pemerintah seolah sangat terobsesi dengan “kesatuan umat”. Termasuk dalam hal tafsir penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Kesan sy, dorongan untuk menyeragamkan ini terasa lebih kuat ketimbang periode sebelumnya. Entah karena karakter individu Menteri Agama, atau bagian dari gejala lebih luas negara yg kian militeristik. Di “negara para tentara”, stabilitas dan kontrol adalah hal pokok, dan biasanya diupayakan dgn cara menyeragamkan.

Dalam konteks ini, NU adalah ormas yg paling potensial bisa diajak berkompromi dan mengalah. Kenapa? Pertama, epistemologinya lentur. Kedua, budaya komunalnya lebih memungkinkannya berselaras dgn kekuasaan atas nama kohesi sosial. Itu engga mungkin terjadi seandainya klaim “kepastian ilmiah”, “pendekatan paling modern”, dan etos purifikasi lebih dominan dalam ormas ini.

Namun perlu ditegaskan: ini baru sebatas potensi, bukan keniscayaan. Sejarah mencatat, pada 1992, 1993, dan 2000, NU pernah mengambil posisi berbeda dengan pemerintah. Artinya, kelenturan itu tidak identik dengan kepatuhan tanpa batas.

Karakter mudah kompromi ini bukan tanpa risiko. Bagaimanapun rukyat dan imkanur rukyat adalah metode sahih dalam keyakinan NU. Bila ini bisa diotak-atik, yg terancam bukan hanya konsistensi ilmiahnya, tapi juga legitimasi internalnya. Pertanyaan awamnya, “Lho, kalau bisa diubah demi persatuan, berarti selama ini ga yakin?”

Lebih dari itu, rukyat juga memiliki dimensi ritual dan kultural. Ia hidup sebagai tradisi yang membentuk identitas. Mengabaikannya begitu saja berarti berisiko mengikis bagian penting dari jati diri Nahdliyin.

Lalu, bukankah kita harus mendahulukan persatuan meski dgn mengorbankan pendapat ijtihadi?

Di titik ini, pertanyaan yg lebih mendasar justru perlu diajukan: persatuan versi siapa, dan untuk kepentingan apa? Persatuan bukanlah konsep yang sepenuhnya netral. Ia selalu membawa kepentingan dan perspektif tertentu. Maka, dengan segala risiko yang ada, masihkah ia otomatis dianggap maslahat? Apakah perbedaan = perpecahan = mudarat?

***

Sejak awal, penyatuan kalender Hijriah adalah hal “utopis” di Indonesia. Karena itu, peran ideal pemerintah harusnya tetap sebagai fasilitator, bukan penentu. Sy membayangkan seandainya sidang isbat bisa berubah fungsi. Bukan lagi menentukan “kebenaran nasional”, melainkan forum transparan untuk menyajikan data dan perbedaan.

Di sana data hisab diperlihatkan, laporan rukyat disampaikan, dan analisis astronomi dipaparkan. Ini sebenarnya sudah cukup berjalan. Hanya saja, mayoritas masih dalam format sidang tertutup sehingga tidak bisa diaudit publik. Wajar bila kadang ada curiga ini-itu.

Apakah sidang isbat masih diperlukan? Bisa jadi tidak dalam fungsi penetapan. Negara pada dasarnya tidak memiliki kewajiban teologis untuk menentukan awal Ramadhan, Syawal, atau Dzulhijjah. Penentuan itu dapat diserahkan kepada masing-masing individu dan kelompok.

Tentu, model ini tidak tanpa masalah. Bagi warga yang tidak terafiliasi dengan ormas mana pun, situasinya bisa membingungkan. Padahal, mereka membutuhkan kepastian praktis. Di sinilah dilema itu muncul. Namun, pemerintah sebenarnya tetap dapat menyediakan “default option” melalui penetapan kalender resmi untuk kepentingan administratif, seperti libur nasional dan layanan publik. Pilihan ini tidak bersifat memaksa, tetapi cukup membantu, sekaligus menjaga jarak negara dari kesan memihak ormas tertentu.

Membiasakan perbedaan terbuka seperti ini mungkin bikin tidak nyaman di awal. Sebagian masyarakat kaget dan media massa mungkin membesar-besarkan ketegangan. Wajar, ini fase transisi. Namun dalam jangka panjang, justru di sanalah kedewasaan sosial terbentuk—kemampuan menerima ikhtilaf, setajam apa pun perbedaannya.

Pada akhirnya tugas utama pemerintah adalah mengelola perbedaan, bukan menyeragamkannya. Kelompok-kelompok agama tentu harus berkorban untuk negara. Tapi yang harus dikorbankan bukan perbedaannya, tapi ego untuk memaksakan satu kebenaran kepada semua orang.

Repost: Mahbib Khoiron

BANJIRDi China, bencana banjir bukan sekadar “kejadian alam”—itu dianggap ancaman terhadap stabilitas nasional. Karena i...
02/12/2025

BANJIR

Di China, bencana banjir bukan sekadar “kejadian alam”—itu dianggap ancaman terhadap stabilitas nasional. Karena itu, responsnya selalu cepat, terukur, dan langsung menyentuh level tertinggi pemerintahan.

1. Sistem Komando Satu Pusat.

Begitu banjir besar terjadi, State Flood Control and Drought Relief Headquarters (SFCDRH) langsung aktif. Unit ini berada di bawah Dewan Negara (State Council) — setara “Kementerian Taktikal” untuk bencana air.

Mekanismenya sebagai berikut
• Komando Pusat langsung memberi instruksi ke provinsi dan kota.
• Tidak ada rapat berhari-hari, tidak ada koordinasi antar-lembaga yang tumpang tindih.
• Satu komando, satu jalur, satu keputusan — top-down dan wajib dipatuhi.

Di China, bencana bukan urusan retorika:. Itu urusan “perintah mengamankan idiologi”

2. Pasukan Dikerahkan Maksimal dalam Hitungan Jam

Ketika banjir melanda Henan, Sichuan, atau Hubei, pemerintah China biasanya mengerahkan:
• PLA (People’s Liberation Army)
• Armed Police Corps
• Militia Reserves
• Fire and Rescue Brigade

Semua dengan status Level I Emergency Response — level tertinggi.

Yang dilakukan mereka adalah :
• Perahu evakuasi diterbangkan dengan pesawat angkut Y-20.
• Helikopter Z-20 dikerahkan untuk penyelamatan atap-ke-atap.
• Kendaraan amfibi dan drone pemetaan dilepas untuk mendeteksi korban.
• Unit medis lapangan dibangun dalam waktu kurang dari 24 jam.

Semua bergerak sebelum ada konferensi pers.
Evakuasi dulu, bicara nanti.

3. Data Real Time, Radar Cuaca, dan Hidrologi

China memiliki jaringan sistem peringatan banjir paling masif di dunia:
• 60.000 titik sensor hidrologi
• Satelit Gaofen untuk pemetaan air
• Radar cuaca S-band
• Model AI prediksi aliran sungai Yangtze & Huai River

Akibatnya mitigate efektif :
• Ketika curah hujan ekstrem terdeteksi, peringatan Level Merah dikirim ke ponsel warga dalam hitungan detik.
• Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam) mengubah volume pelepasan air dalam hitungan menit, bukan jam.
• Kota-kota besar menutup subway dan mal sebelum banjir mencapai permukaan.

Teknologi dipakai bukan untuk propaganda, tapi untuk mengunci kerugian sedekat mungkin ke nol.

4. Evakuasi Massal Tanpa Drama

Satu hal yang sering dikagumi dunia adalah:
evakuasi di China berlangsung teratur seperti latihan militer. Ini bukan kebetulan.
Setiap desa, kecamatan, dan kota punya:
• Peta risiko banjir tahunan
• Rute evakuasi wajib
• Posko logistik permanen
• Latihan evakuasi publik setiap tahun

Ketika banjir datang ? Warga langsung bergerak ke titik aman paling dekat. Petugas desa mengabsen warga untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Lansia dan anak-anak selalu didahulukan, didampingi petugas. Tidak ada warga yang bingung harus ke mana. Tidak ada debat soal titik kumpul. Semua sudah terlatih seperti prosedur kebakaran di gedung perkantoran.

5. Transparansi Lapangan, Bukan Konferensi Pers

Pejabat China datang ke lokasi bencana bukan untuk pidato, tetapi untuk:
• memimpin koordinasi lapangan,
• memeriksa tanggul,
• memastikan logistik tiba,
• dan menegur aparat yang bergerak lambat.

Dokumentasi dilakukan oleh jurnalis negara, tetapi fokusnya pekerjaan nyata, seperti:
• bulldozer membersihkan lumpur,
• tim penyelamat mengangkat korban,
• teknisi listrik memulihkan jaringan.

Bukan sesi foto dengan pose “menunjuk tanah” sambil memegang HT.

6. Penindakan: Bukan Investigasi Kosmetik

Ketika banjir disebabkan oleh aktivitas ilegal seperti:
• penebangan hutan,
• tambang ilegal,
• pelanggaran tata ruang,

China langsung:
• Memecat pejabat kabupaten/kota,
• Menangkap operator tambang ilegal,
• Membongkar jaringan korupsi,
• Menurunkan tim disiplin partai untuk audit penuh.

Dalam kasus banjir di Henan (2021): 89 pejabat dan pengusaha dihukum, sebagian besar dihukum mati. Dokumen audit dipublikasikan. Tidak ada istilah “akan investigasi.” Pertanyaan pertama mereka selalu “ Siapa yang bertanggung jawab, dan apakah dia sudah ditahan?”

7. Pemulihan Cepat: 7 Hari untuk Fasilitas Dasar

Setelah banjir surut, China langsung:
• Menyambung listrik dan air dalam 48 jam.
• Memperbaiki jalan utama dalam 72 jam.
• Mengirim bantuan medis massal.
• Memberi kompensasi tunai untuk rumah rusak.
• Mengaktifkan skema asuransi bencana yang dikelola negara.

Dalam banyak kasus, warga sudah kembali ke rumah dalam waktu kurang dari seminggu.

Kenapa China Bisa Cepat? Karena di china elit nya engga punya saham di konsesi HTI dan tambang. Tokoh agamanya engga main tambang. Bencana itu fakta adanya moral hazard, maka yang dilakukan bukan retorika akan investigasi tapi langsung tangkap semua pihak yang terkait. Ringan kesalahan hukum kerja paksa dan dimiskinkan. Kesalahan berat, kirim ke Tuhan, terserah Tuhan gimana ngadilinya.

MacanMacanan
14/11/2025

MacanMacanan

Menaruh Telur Dalam Satu KeranjangAda pepatah lama yang sering dijadikan pedoman hidup: “Jangan menaruh telur dalam satu...
13/11/2025

Menaruh Telur Dalam Satu Keranjang

Ada pepatah lama yang sering dijadikan pedoman hidup: “Jangan menaruh telur dalam satu keranjang.” Artinya, jangan menggantungkan seluruh harapan pada satu hal, karena bila keranjang itu jatuh, seluruhnya akan pecah. Namun, tampaknya pepatah itu tidak berlaku bagi arah politik dan sejarah bangsa hari ini.

Paradoksnya, justru kita tengah menyaksikan bagaimana seluruh “telur” sejarah — baik yang bersih maupun yang retak — dimasukkan dalam satu wadah, tanpa ada lagi pemisahan antara kebenaran dan kepalsuan, antara pelaku dan korban.

Beberapa waktu lalu, pemerintah menetapkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini disandingkan dengan nama-nama besar seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Marsinah — dua sosok yang pada masa Orde Baru justru menjadi korban dari sistem kekuasaan yang dibangun Soeharto sendiri.

Gus Dur, kala itu Ketua Umum Nahdlatul Ulama, harus menghadapi tekanan dan rekayasa politik dalam Muktamar Cipasung. Campur tangan aparat, operasi intelijen, dan politik uang mewarnai perhelatan itu. Bahkan di lingkungan keluarganya sendiri, Gus Dur mesti berhadapan dengan pamannya, KH Yusuf Hasyim. Semua ini adalah potret kecil dari bagaimana Orde Baru memelihara kekuasaan dengan politik pecah belah, mengadu saudara demi mempertahankan dominasi tunggal. Gus Dur, dalam sejarahnya, adalah korban monoloyalitas dan represi terhadap kebebasan berpikir.

Nasib yang lebih tragis menimpa Marsinah, seorang buruh pabrik dari Sidoarjo. Keberaniannya memperjuangkan hak-hak pekerja membuatnya dibungkam secara kejam. Ia dibunuh dalam operasi senyap yang melibatkan aparat militer setempat, dengan dalih menjaga “stabilitas nasional”. Istilah yang seolah menjadi mantra sakral di masa Orde Baru, digunakan untuk menekan suara kritis rakyat. Siapa pun yang bersuara dianggap ancaman negara, dicap komunis, dan menjadi sasaran penindasan. Trauma kolektif terhadap tragedi 1965 membuat rakyat tak berdaya. Mereka memilih diam, karena sekadar berbicara bisa dianggap subversif.

Dalam bayang-bayang kekuasaan itu, kehidupan rakyat sesungguhnya jauh dari sejahtera. Kemiskinan merajalela, urbanisasi memadatkan kota, dan tanah rakyat diserobot atas nama pembangunan. Kasus Kedung Ombo, Nipah, dan Tapos hanyalah sebagian kecil dari wajah “pembangunan” yang menyingkirkan rakyat kecil. Negara kala itu dibangun di atas ketakutan: aparat menjadi mata dan telinga penguasa, dan hukum menjadi alat untuk membungkam, bukan melindungi.

Ironisnya, di tengah larangan berbicara soal Islam politik dan ideologi, Soeharto sendiri tetap memelihara ritual-ritual klenik dan mempercayai kekuatan mistik. Rakyat dipaksa mengikuti agama resmi, sementara penghayat kepercayaan justru dikesampingkan. Sebuah paradoks yang memperlihatkan betapa kekuasaan kala itu tak hanya otoriter, tetapi juga feodal dalam wataknya. Soeharto menempatkan dirinya layaknya raja, dengan demokrasi hanya sebatas upacara formal yang dikendalikan Golongan Karya dan militer. Ia terpilih tujuh kali berturut-turut dalam “demokrasi Pancasila” yang sejatinya tanpa pilihan.

Dalam situasi demikian, kekerasan menjadi instrumen utama negara. Penembakan misterius (Petrus) dijadikan sarana “penertiban sosial”. Hukum kehilangan makna; keadilan ditentukan oleh senjata, bukan pengadilan. Rakyat hidup dalam ketakutan yang disamarkan dengan istilah “kewaspadaan nasional”. Tak patuh berarti membangkang, dan pembangkangan berarti siap ditangkap.

Dua puluh tujuh tahun setelah Orde Baru tumbang, sejarah seolah berputar. Soeharto kini digelari Pahlawan Nasional. Keputusan itu datang di tengah kebangkitan kekuasaan keluarga lama: mantan menantu Soeharto memenangkan Pilpres 2024 dengan dukungan dari Jokowi, simbol reformasi yang dulu diharapkan menjadi antitesis Orde Baru. Kita seolah sedang menyaksikan perayaan masa lalu, di mana elit-elit lama kembali memegang kendali, dan rakyat diajak melupakan luka sejarah dengan bungkus populisme.

Kini, telur-telur itu benar-benar diletakkan dalam satu keranjang. Di dalamnya, pahlawan dan pecundang bercampur, korban dan pelaku disatukan dalam narasi tunggal yang kabur batasnya. Seakan-akan, kematian telah menghapus dosa, dan sejarah tak lagi butuh nurani. Padahal, gelar Pahlawan seharusnya disematkan pada mereka yang menegakkan nilai kemanusiaan dan memperjuangkan kebenaran, bukan pada tangan yang menindas dan mengalirkan darah bangsanya sendiri.

Namun, zaman memang tengah berbalik arah. Ketakutan kehilangan jabatan dan kenyamanan membuat banyak orang memilih diam. Moral publik merosot ketika kebenaran dikalahkan oleh kepentingan. Ironinya, Soeharto yang dulu tak mengenal pengadilan kini justru dimuliakan, sementara mereka yang berjuang menegakkan keadilan seperti Baharudin Lopa atau Benyamin Mangkudilaga hanya tersisa dalam ingatan.

Menaruh semua telur dalam satu keranjang kini menjadi simbol baru politik kita — bahwa penguasa ingin kita percaya, penindasan adalah kebijakan, pembunuhan adalah kebijaksanaan, dan pembungkaman adalah bentuk kedisiplinan. Padahal, dari Gus Dur dan Marsinah kita belajar bahwa kebenaran selalu menuntut keberanian, meski risikonya adalah pengasingan, penindasan, bahkan kematian.

Kebenaran dan pembenaran tidak akan pernah bisa disatukan. Kebenaran berjalan dengan kejujuran, sementara pembenaran memerlukan penjagaan dan paksaan. Sejarah telah membuktikan: pembenaran mungkin bisa bertahan sejenak, tetapi kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri — bahkan ketika dipaksa berada dalam satu keranjang.

---

12/11/2025
12/11/2025
10/11/2025

Ave Neohistorian!

Turut berdukacita atas kemunduran moral bangsa kita.

Address

Pasuruan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nongkojajar Institute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share