12/06/2026
"NU (NAHDLATUL ULAMA) : Ormas Ahlus Sunnah Terbesar di Dunia !"
"Bukan Hanya Nasional, Tapi Internasional !"
Spanduk ini bukan sekadar klaim sepihak di atas kain, melainkan sebuah realitas sosiologis dan historis yang diakui oleh para antropolog dan pakar Islam dunia.
Pertanyaan mendasar :
"Kenapa NU bisa menjadi ormas Islam terbesar di dunia ?"
Jawabannya terletak pada prinsip karakter dakwahnya yang merangkul, bukan memukul; mendidik, bukan membidik; serta mengayomi seluruh lapisan manusia.
Berikut adalah uraian mendalam mengenai sejarah, metodologi, dan kiprah NU sebagai wujud nyata dari konsep Rahmatan lil 'Alamin sesuai tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah:
I. Akar Sejarah: Jaringan Sanad Ulama Pesantren dan Ahli Sunnah Wal Jama'ah
Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) didirikan pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926 M) di Surabaya oleh para raksasa keilmuan Islam Nusantara, di antaranya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syansuri, di bawah restu spiritual Syaikhona Kholil Bangkalan.
Secara genealogis dan teologis, NU lahir bukan sebagai gerakan politik instan, melainkan sebagai wadah benteng pertahanan bagi:
Akidah:
Mengikuti rumusan Imam Abul Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
Fiqih:
Mengikuti otoritas madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali), dengan mayoritas mempraktikkan Madzhab Syafi'i.
Tasawuf/Akhlak:
Mengikuti manhaj Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.
Ketika gelombang gerakan Wahabi di Arab Saudi mulai menghancurkan situs-situs bersejarah Islam dan melarang praktik madzhab pada awal abad ke-20, para ulama pesantren di Jawa membentuk Komite Hijaz.
Komite inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya NU, yang sukses berangkat ke Mekah untuk mendesak Raja Ibnu Saud agar tetap memberikan kebebasan bermadzhab dan melindungi makam Rasulullah ﷺ dari pembongkaran.
Sejak lahirnya, NU sudah bergerak menyelamatkan khazanah Islam internasional.
II. Metodologi Dakwah: Mengapa NU Mengayomi Semua Lapisan ?
Rahasia terbesar NU menjadi ormas terbesar adalah karena NU mengadopsi struktur berpikir Fikih Dakwah, bukan Fikih Hukum yang kaku.
NU melihat masyarakat dengan pandangan kasih sayang (Ainur Rahmah), bukan pandangan penuh kecurigaan (Ainul Baghdho').
Al-Qur'an memerintahkan metode dakwah yang merangkul ini dalam Surat An-Nahl ayat 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.”
Sesuai dengan ayat ini, NU membagi strategi dakwahnya ke seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali:
1. Dari yang Jenius hingga yang Paling Awam !
Di tingkat intelektual, NU memiliki ribuan lembaga pendidikan (Pesantren, Madrasah, hingga Universitas) yang melahirkan para pemikir kontemporer, ahli ushul fiqih, dan ilmuwan.
Namun di saat yang sama, NU tidak meninggalkan orang awam yang tidak bisa membaca kitab kuning.
Melalui tradisi Yasinan, Tahlilan, Manaqiban, dan Sholawatan, NU menyediakan wadah ibadah yang sangat ramah, mudah diikuti, dan menentramkan hati masyarakat pedesaan hingga kaum urban.
2. Dari yang Kaya hingga yang Paling Miskin !
Struktur NU masuk ke dalam urat nadi perekonomian rakyat paling bawah melalui LAZISNU (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah NU) serta pemberdayaan ekonomi warga struktural.
NU hadir di gubuk-gubuk orang miskin bukan untuk menanyakan status manhaj mereka, melainkan untuk memberikan bantuan dan mendampingi kehidupan mereka.
3. Dari yang Bertakwa hingga Pelaku Maksiat !
Inilah pembeda utama NU dengan sekte kaku seperti Wahabi.
Kelompok kaku akan menjauhi, membid'ahkan, dan mengafirkan pelaku maksiat. Sementara ulama NU mendatangi mereka.
Gus Miek (KH. Hamim Djazuli), salah satu ulama besar NU, terkenal dengan dakwahnya di lokalisasi, tempat perjudian, dan kelab malam untuk mengajak para pelaku maksiat berdzikir tanpa pernah menghakimi mereka.
NU memosisikan diri sebagai "Rumah Sakit Spiritual"; orang yang sakit (berdosa) diobati secara perlahan dengan akhlak yang lembut, bukan diusir dan dikutuk masuk neraka.
III. Kiprah NU sebagai Manifestasi Islam Rahmatan Lil 'Alamin
Rasulullah ﷺ diutus ke muka bumi ini mutlak sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
NU menerjemahkan ayat ini ke dalam tiga pilar komitmen kebangsaan dan kemanusiaan yang kokoh:
Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan sesama Muslim): NU merangkul seluruh firqah umat Islam selama mereka masih menghadap kiblat yang sama, menjaga kedamaian, dan tidak menumpahkan darah sesama muslim.
Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan sesama Bangsa): NU menjadi jangkar utama berdirinya NKRI. Melalui fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikeluarkan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, NU menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan minal Iman). NU berhasil menyatukan antara nasionalisme dan religiusitas.
Ukhuwah Basyariyah/Insaniyah (Persaudaraan sesama Manusia): NU menghormati hak-hak kemanusiaan tanpa memandang ras, suku, dan agama.
Kiprah internasional NU melalui gerakan Global Fiqh (Fiqih Peradaban) yang digagas belakangan ini membuktikan bahwa NU aktif mengupayakan perdamaian dunia dan menolak segala bentuk ekstremisme serta terorisme atas nama agama.
Kesimpulan:
Sekte-sekte kaku di luar sana tidak akan pernah bisa menjadi seperti NU. Mengapa ?
Karena metode dakwah mereka dibangun di atas fondasi seleksi ketat dan pengucilan.
Mereka hanya mau berteman dengan orang yang celananya sama, jenggotnya sama, dan isi kepalanya sama.
Begitu ada yang berbeda sedikit, langsung divonis bid'ah dan dijauhi.
Sementara NU berkembang menjadi organisasi raksasa dunia karena kelonggaran ruang, kelembutan hati, dan keluasan ilmunya.
NU bertindak seperti samudra luas yang menampung semua jenis air; ia tidak menjadi kotor karena sampah, melainkan mampu menjernihkan dan menghidupkan apa saja yang masuk ke dalamnya.
Itulah kelakuan dan manhaj asli pengamal Ahlus Sunnah wal Jama'ah sejati. Memperbaiki Akhlak, bukan mengaku paling berAkhlak baik !
Wallahu A'LAM BISHAWAB !