Suku Rongkong

Suku Rongkong Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Suku Rongkong, Community Organization, Palopo.

ALAT TENUN DAN KAIN TENUN RONGKONG DI KOLEKSI DI AMSTERDAM & ROTTERDAMTerjemahan halaman 29–30…biasanya dihiasi dengan p...
06/06/2026

ALAT TENUN DAN KAIN TENUN RONGKONG DI KOLEKSI DI AMSTERDAM & ROTTERDAM

Terjemahan halaman 29–30

…biasanya dihiasi dengan pola menggunakan benang pakan tambahan berwarna.²⁶

Demikian p**a di p**au-p**au Sangihe dan Talaud, di wilayah Tae Toriaja diperoleh efek hias pada ikatan polos melalui penggunaan benang pakan yang tipis dan tebal. Dari Gambar 5 tampak bahwa benang pakan yang “lebih tebal” diperoleh dengan melipatgandakan benang pakan hingga tiga kali.²⁷

Gambar 5. Tepi kain dan jalannya benang lungsi serta pakan pada suatu tenunan dari wilayah Tae Toriaja, dibuat dengan dua gelendong.

Efek garis yang dihasilkan melalui penggunaan jalur-jalur lungsi dengan warna berbeda diterapkan pada kain kafan ikat Galumpang yang terkenal (nama lokal: kain sekumandi). Kain-kain ini biasanya tersusun atas empat bidang tenunan, di mana dua bidang tengah dihias secara khusus dengan teknik ikat.²⁸

Sementara itu, dua bidang sisi menampilkan garis-garis lungsi dengan warna berbeda. Bidang sisi pada kain kafan Rongkong (nama lokal: poritutu) juga menunjukkan jalur-jalur lungsi berwarna berbeda, tetapi dipadukan dengan jalur-jalur sempit benang lungsi yang diikat.

Bidang-bidang berwarna berbeda yang memanjang searah panjang kain juga ditemukan pada batik yang sangat langka dari daerah Karama Hulu, yang tersimpan di Amsterdam dan Rotterdam. Kain-kain ini terdiri atas sejumlah tenunan panjang dan sempit yang dijahit menjadi satu sepanjang tepi-tepinya. Satu atau lebih bidang tengah dihias dengan teknik batik tetes satu sisi (lihat Gambar 38).²⁹

Dua dari tiga contoh yang diketahui memiliki ujung yang ditutup dengan bidang melintang yang dihias menggunakan teknik anyaman papan (plangi).³⁰ Contoh bernomor Amsterdam 385–1 dilengkapi dengan rumbai tali yang diikat.

3. Pengeringan dan Pengolahan Kulit Kayu yang Dipukul

Selain kain tenun, kain penutup pinggang, rok, dan sebagainya, suku Dayak dan Toriaja juga menggunakan pakaian yang dibuat dari kulit kayu yang dipukul hingga lunak. Pengolahan kulit kayu kemungkinan telah dikenal di Borneo dan Sulawesi, atau di tanah asal nenek moyang Dayak dan Toriaja, lebih awal daripada seni menenun.

Kulit dari berbagai jenis pohon³¹ cocok untuk diolah dengan cara dipukul. Untuk itu, lembaran-lembaran kulit kayu yang lebar dilepaskan, kemudian direndam dalam air dan dipukul dengan alat pemukul datar. Alat-alat pemukul ini memiliki alur-alur dalam dan, tergantung daerah asalnya, dibuat dari kayu, batu, atau tembaga. Pemukulan dan perendaman yang dilakukan berulang-ulang menyebabkan bagian yang lebih lunak dari kulit kayu terlepas. Lembaran kulit kayu yang telah dipukul menjadi lebar kemudian dilipat dua lagi dan dipukul kembali, sehingga akhirnya terbentuk lembaran yang lentur. Jika diamati lebih dekat, lembaran ini ternyata tersusun atas jaringan halus serat-serat yang saling bertumpang tindih secara miring.

Beberapa kelompok Toriaja yang menggunakan jenis kulit kayu dengan serat sangat halus mampu menghasilkan lembaran yang menyerupai kertas, di mana serat-serat penyusunnya hampir sepenuhnya menyatu akibat proses pemukulan. Jenis-jenis kulit kayu yang digunakan di Borneo …



Catatan kaki

²⁶ Contoh di Amsterdam no. 46–46 dan 46–47; di Rotterdam antara lain no. 23765. Contoh terakhir ini seluruhnya dihias dengan motif yang berulang menggunakan teknik pakan tambahan, sehingga diduga teknik hias ini tidak menggunakan alat pilih, melainkan diterapkan dengan bantuan bilah pola atau pengangkat pola.

²⁷ Amsterdam no. 46–44, rok (nama lokal: dodo) dari kapas putih; menurut pemberinya juga digunakan dodo berwarna hitam. Rotterdam no. 23801, dodo, juga dari kapas putih; Amsterdam no. 1641–1, kain berkabung yang berasal dari Toriaja Luwu, dari kapas hitam.

²⁸ Dalam koleksi Amsterdam terdapat alat tenun dari Kanandédé (no. 172–1) untuk menenun bidang tengah berikat pada kain kafan Rongkong. Dalam koleksi Rotterdam juga terdapat alat tenun dari Galumpang (no. 26218) untuk tujuan yang sama. Kedua alat tenun itu memiliki lungsi melingkar; bukaan tenun dibentuk dengan rol dan pengangkat, tanpa sisir tenun, tetapi menggunakan penahan lebar. Sebagai pengganti bilah silang digunakan seutas tali yang dua kali dililitkan pada lungsi. Semua benang lungsi dibagi dalam kelompok-kelompok enam helai dan diikat dengan benang kapas pada sebuah bilah yang melintang di atas lungsi. Pembagian kelompok ini terutama dimaksudkan untuk memudahkan pengikatan dalam proses ikat.

²⁹ Lihat juga Nouhuys, 1925–1926, hlm. 111 dan seterusnya.

³⁰ Amsterdam no. 247–3 dan no. 835–1, Rotterdam no. 26092. Di kedua museum juga terdapat kain dari Rongkong yang seluruhnya dihias dengan teknik plangi. Kain dari contoh-contoh tersebut tampaknya bukan berasal dari tradisi asli setempat. Menurut J. F. W. L. Goslings, yang melalui perantaranya museum Amsterdam memperoleh contoh no. 247–3, kain-kain tersebut adalah kain kafan dan para tobara serta tomakaka di Galumpang dimakamkan dengan kain semacam itu.

³¹ Mengenai jenis-jenis pohon yang kulitnya digunakan, lihat Heyne, Jilid I, 1950, hlm. 559.

HANYA ORANG RONGKONG DAN GALUMPANG YANG MENGENAL SENI TENUNBerikut terjemahan halaman ini ke dalam bahasa Indonesia:⸻…ke...
06/06/2026

HANYA ORANG RONGKONG DAN GALUMPANG YANG MENGENAL SENI TENUN

Berikut terjemahan halaman ini ke dalam bahasa Indonesia:



…ketebalan yang berbeda.¹⁹) Apabila hal ini diterapkan tidak hanya pada benang lungsin tetapi juga pada benang pakan, maka akan timbul efek kotak-kotak (belah ketupat).²⁰) Perbedaan bahan antara berbagai kelompok benang lungsin dan pakan juga menghasilkan efek kotak-kotak.²¹) Penggunaan dua jenis bahan hanya untuk kelompok-kelompok benang pakan tertentu kembali menghasilkan pola garis-garis.²²)

Sulawesi Tengah. Sementara seni tenun dan teknik hias pada kain tenun masyarakat Dayak, Sangihe, dan Talaud telah jauh lebih dahulu dikenal, seni tenun masyarakat Toriaja baru ditemukan dan dideskripsikan sekitar tahun 1920-an.

Menarik bahwa di wilayah Toriaja hanya penduduk Galumpang dan Rongkong yang mengenal seni tenun. Dalam hal ini, daerah Mamasa yang berbatasan langsung termasuk ke dalam wilayah Galumpang, sedangkan wilayah Masamba juga harus dimasukkan ke dalam daerah Rongkong.²³)

Dalam koleksi museum terdapat beberapa kain tenun dengan anyaman polos, di mana benang lungsinnya secara berselang-seling terdiri atas serat nanas yang disambung-sambung dan kapas, sedangkan benang pakannya seluruhnya terbuat dari serat nanas.²⁴) Di koleksi museum Amsterdam juga terdapat kain cawat katun milik orang Tae Toriaja. Menurut keterangan pengumpul benda-benda tersebut, Tuan Wolvenkamp, kain cawat untuk penggunaan sehari-hari tidak diberi hiasan dan berwarna hitam atau putih alami. Contoh-contoh yang terdapat dalam koleksi semuanya merupakan kain cawat upacara, dan sebagaimana…



Catatan

19. Misalnya Amsterdam No. A 2624, sarung dari Sangihe Besar.

20. Amsterdam No. A 1308, baju panjang wanita dari Sangihe. Pada titik-titik pertemuan kelompok benang lungsin dan pakan yang lebih tebal, ditambahkan p**a motif dengan teknik anyaman hias.

21. Leiden No. 1691–2, baju panjang pria (laku manandu), Tabukan, Sangihe. Untuk lungsin dan pakan digunakan secara bergantian kelompok benang kofo dan kapas.

22. Amsterdam No. A 4665, potongan kain tenun dari Kep**auan Sangihe dan Talaud dengan kain yang belum selesai, di mana kelompok benang pakan bergantian terdiri atas kofo dan kapas; lihat juga Leiden No. 130–4, kain tenun dari Sangihe.

23. Di daerah Galumpang, tenun terutama dibuat di kampung-kampung Galumpang, Salokapja, Dingin, Lebani, Kawatang, dan Bulo (lihat Toriadja’s v. Galoempang, 1933, hlm. 23). Pusat-pusat tenun Rongkong adalah kampung Kanandédé, Limbong, dan Uri (Nouhuys, 1921–22, hlm. 239).

24. J. Kruyt, 1922, hlm. 415. Orang Toraja tampaknya, selain membuat simpul penyambung pada serat nanas, juga membuat simpul penguat pada serat tersebut, sebagaimana dilakukan oleh suku Kajan dan Pnihing di Kalimantan yang merupakan beberapa suku pengolah serat nanas.

25. Rotterdam No. 14269, berasal dari daerah hulu Sadang, diperoleh pada tahun 1908; Amsterdam No. 46–48, ikat pinggang/cawat (piu dalam bahasa setempat) dari Tae Toraja, diperoleh pada tahun 1917. Menurut pengumpul piu tersebut, Tuan Wolvenkamp, pada awalnya kain cawat dan rok (dodo dalam bahasa setempat) di daerah ini seluruhnya ditenun dari serat nanas.

KENANGAN TENTANG MASAMBAKami, para bekas pegawai Binnenlands Bestuur (B.B.) yang pernah bertugas di Hindia Belanda sebel...
02/06/2026

KENANGAN TENTANG MASAMBA

Kami, para bekas pegawai Binnenlands Bestuur (B.B.) yang pernah bertugas di Hindia Belanda sebelum Perang Dunia Kedua, tentu masing-masing memiliki daerah tugas yang paling berkesan. Bagi saya, demikianlah adanya. Saya selalu mengenang dengan penuh kasih daerah Masamba, sebuah onderafdeling dalam Afdeling Luwu, yang bertepatan dengan wilayah swapraja Luwu di Residensi Sulawesi Selatan.

Mungkin berlalunya waktu telah mengaburkan pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan yang juga pernah saya alami di sana. Kehidupan di Masamba sama sekali bukan suatu idil. Ketika saya dan istri tiba di sana bersama kedua anak kami pada Oktober 1939, bayang-bayang Perang Dunia Kedua telah menggantung seperti awan gelap di atas kami. Badai itu akhirnya benar-benar datang, dan setelah kapitulasi terhormat almarhum Kolonel Gortmans (Perang Januari), yang mempertahankan Sulawesi Tengah, kami harus melapor kepada pihak Jepang yang menaklukkan wilayah itu pada 27 Maret 1942.

Namun perpisahan kami membuktikan bahwa kami telah memperoleh tempat di hati penduduk dan para kepala adat. Ketika saya sebagai orang Belanda meninggalkan Masamba, ibu kota onderafdeling itu, kerumunan orang yang berkumpul berdiri terdiam; tidak tampak sedikit pun ancaman. Sebaliknya, beberapa orang berulang kali mengucapkan kata-kata yang mengharukan dan mendoakan: “Tot weerziens” (sampai bertemu lagi). Salah seorang kepala adat tua yang setia, yang karena suatu keperluan mendesak pernah melewati kebun saya, meletakkan tangannya di bahu saya. Dengan mata cokelatnya yang lembut ia menatap saya dengan tenang dan mantap sambil berkata: “Tida lama, Tuan” (Tidak lama lagi, Tuan) – seakan-akan mengatakan bahwa kami akan segera bebas kembali.

Kepercayaan yang diberikan para kepala adat dan rakyat kepada para pegawai pemerintahan Belanda menjadikan Masamba daerah yang menyenangkan dan mudah diatur. Saya dan istri mengenal banyak dari mereka secara pribadi dan menganggap mereka sebagai sahabat; tampaknya mereka pun menganggap kami demikian. Oleh karena itu, perpisahan yang menyedihkan itu tidak menghapus kenangan indah kami tentang kota Masamba yang ramah dan menyenangkan serta masa tinggal kami di onderafdeling tersebut.

Masamba bukanlah onderafdeling kecil. Luasnya hampir setara dengan dua provinsi besar di Belanda. Dari pantai barat laut Teluk Bone, melalui rawa-rawa pantai yang luas dan sulit ditembus, dataran sempit yang dihuni penduduk, serta perbukitan bergelombang, wilayah itu membentang hingga pegunungan paling terpencil di Sulawesi Tengah. Simpul pegunungan terbesar di Sulawesi, Gunung Kambuno setinggi sekitar 2.800 meter, memancarkan punggung-punggung gunung setinggi 2.000–2.400 meter ke segala arah. Pada peta, semuanya tampak seperti duri-duri landak.

Di bentang alam yang keras ini, manusia tampaknya hanya dengan susah payah dapat memperoleh tempat hidup. Bahkan pemerintah Belanda, meskipun telah membangun jalan dan jalur setapak, belum mampu sepenuhnya menghilangkan keterasingan banyak desa. Jauh dari jalan raya Palopo–Masamba–Malili dan sedikit jalan cabangnya, desa-desa itu terletak di tanggul sungai yang kering, di pantai, di bukit kecil, di dasar lembah yang dalam, atau di dataran tinggi yang luas. Beberapa desa berdiri sendirian, tetapi kebanyakan berkelompok dan dihuni oleh kerabat satu suku. Rawa-rawa dalam, hutan lebat, punggung gunung yang tinggi, lembah dan jurang yang curam, serta sungai-sungai yang meluap akibat hujan deras mengelilingi mereka. Pada masa lampau, sebelum Kompeni datang, semua itu menjadi perlindungan terhadap musuh yang selalu mengintai.

Perjalanan dinas di wilayah itu penuh variasi. Begitu meninggalkan jalan raya, belantara segera menelan Anda. Jika perjalanan berlangsung lama, “neraka hijau” itu dapat menekan suasana hati. Saya masih teringat malam-malam menginap di hutan hujan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Keheningan yang misterius dan melankolis hanya dipecahkan oleh suara angin dan gemerisik daun-daun basah. Namun keesokan paginya, setelah mencapai punggung gunung, segala kelelahan terbayar dengan pemandangan indah ke dataran tinggi yang damai dan subur, atau panorama tak terlupakan ke dataran pantai dan Teluk Bone hingga pegunungan Kolaka.

Beberapa kampung sangat sulit dicapai. Di antaranya Tabuan, di bagian selatan pegunungan Kambuno, yang menjadi puncak tantangan. Kepala distrik pernah mengunjungi kampung itu satu kali pada tahun 1923 dan kembali dalam keadaan fisik yang hancur. Tidak ada orang Belanda lain yang pernah mencapai desa tersebut. Saya sendiri tidak pernah dapat melakukan perjalanan itu karena ancaman perang yang semakin meningkat membatasi kebebasan bergerak saya. Mungkin Tabuan merupakan surga masa depan bagi para etnolog dan peminat pendakian gunung.

Dalam perjalanan dinas, malam hari sering menjadi bagian paling menarik. Setelah saya menetap di sebuah bivak dekat kampung, para tetua desa biasanya datang berkunjung. Mereka adalah laki-laki yang pada masa mudanya, sebelum tahun 1905—dan kadang-kadang diam-diam juga sesudahnya—pernah memenggal kepala musuh di kampung-kampung lawan.

Menurut pandangan mereka, musuh selalu berada pada posisi yang tidak adil. Setelah panen, “perang” harus dilakukan terhadap musuh, dan kepala-kepala yang dipenggal menjadi sarana memperkuat kekuatan komunitas serta merupakan rampasan terpenting. Jika musuh lebih kuat atau lebih terpandang, mereka harus tunduk dan memberikan penghormatan. Kepala-kepala yang dipenggal, atau budak-budak yang harus dikorbankan dalam upacara tertentu, sering dijadikan persembahan. Dalam beberapa kasus, musuh bahkan lebih s**a mempertahankan “keadaan perang” agar dapat terus memperoleh kepala-kepala untuk dipenggal.

Bagi kami, itulah sisi keras dari masa lalu mereka. Dengan ramah para tetua meyakinkan kami bahwa sekarang keadaan sudah lebih baik. Seseorang dapat berjalan ke mana-mana tanpa senjata dan tetap aman. Namun dalam hati mereka masih ada kerinduan terhadap olahraga yang menegangkan dan berbahaya itu: perburuan kepala.

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik pada kisah-kisah perburuan kepala itu sendiri. Yang lebih menarik bagi saya adalah cerita-cerita tentang asal-usul dan perkembangan komunitas mereka serta hubungan antarkepala adat. Untuk membuat mereka lebih terbuka, suasana akrab dan penuh kepercayaan harus terlebih dahulu tercipta. Para lelaki duduk bersama saya dalam lingkaran, minum kopi, merokok, atau mengisap p**a sirih sesuai kebiasaan masing-masing.

Kemudian saya bertanya siapa leluhur tertua dari kepala adat yang paling terkemuka. Salah seorang lelaki yang sangat tua mulai berbicara. Dengan senyum kagum dan hormat ia menyampaikan kisah itu dalam bahasa yang khidmat dan baku, yang tidak biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Seorang penerjemah berbahasa Melayu menerjemahkan apa yang tidak saya pahami.

Dengan demikian para pahlawan kuno seakan hidup kembali: para pendiri, pemelihara, dan pengembang masyarakat yang dianugerahi kekuatan luar biasa. Lasaeo, Sang Tuan Matahari, penguasa yang dikirim para dewa ke bumi dan pendiri kerajaan tua Baebuna. Lalong Matoa, pengembara yang tak terkalahkan, yang lebih cerdik daripada keturunan Lasaeo namun tetap harus mengakui Lasaeo sebagai penguasa.

Ada p**a Tokoi, perempuan dari kampung Siwowo di Rampi, seorang pahlawan wanita yang memiliki tujuh suami dan bahkan lebih kuat daripada mereka semua. Lalu Pong Lumombo, yang juga disebut Ne Malotong, “Si Lidah Hitam”, yang membebaskan budak perempuan Indo Serena dari Raja Buaya karena ia tidak bersalah atas pelanggaran perjanjian perbatasan antara Luwu dan Mamuju. Pejuang terkenal itu kemudian membuat perjanjian dengan Raja Buaya di istana bawah airnya, sehingga orang Rongkong dan buaya tidak lagi saling memburu. Masih banyak pahlawan lainnya yang kisah-kisahnya tetap hidup dalam tradisi lisan masyarakat.

Tanpa lelah para tetua melukiskan pandangan mereka tentang dunia. Menurut keyakinan mereka, kosmos adalah satu kesatuan yang mencakup segalanya. Dunia manusia berada di antara dunia atas dan dunia bawah dari kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi. Para dewa datang kepada manusia, atau mengirim utusan mereka, yang dipanggil untuk memerintah manusia dan mengajarkan ketetapan-ketetapan para dewa.

Orang-orang yang memiliki karunia khusus dapat mendatangi para dewa untuk mengajukan kehendak atau pertanyaan mereka, atau para dewa sendiri datang kepada mereka. Dalam kosmos ini, tugas masyarakat adalah membantu memelihara keharmonisan “segala yang ada”. Pelanggaran terhadap adat-istiadat dan ketetapan-ketetapan kuno membawa malapetaka bagi seluruh alam. Dengan demikian manusia merupakan bagian dari keseluruhan ciptaan dan turut mengambil bagian dalam kesatuannya.

Saya masih ingat suatu malam di Lena, tidak jauh dari pegunungan. Jauh di bawah sana Sungai Rongkong bergemuruh melewati bongkah-bongkah batu besar, di dekat sebuah air terjun kecil. Angin malam berdesir lembut. Sesekali seekor burung malam menjerit, tetapi selain itu tidak terdengar suara apa pun. Di seberang jurang yang dalam, punggung pegunungan tampak hitam menjulang di bawah langit berbintang. Musim hujan sudah dekat dan ladang-ladang sedang dipersiapkan. Api-api kecil dinyalakan di antara semak-semak dan segera seekor “ular api” yang menyala-nyala merayap perlahan ke atas lereng di seberang, dengan bunyi gemeretak lembut.

Kami duduk hingga larut malam berbincang sebagai sahabat baik dan tenggelam dalam kisah-kisah indah yang menghidupkan kembali masa lalu yang telah lama berlalu. Ayam-ayam mulai berkokok dan udara menjadi sangat dingin. Ketika bulan muncul di balik pegunungan, pada saat yang sama tampak di sana-sini titik-titik berkilauan: bagian sungai, sebuah sungai kecil, sebuah kolam kecil. Daun-daun rumpun bambu berkilat diterpa cahaya di udara. Dinding-dinding pegunungan tampak jelas dalam bayang-bayang hitam dan abu-abu. Anjing-anjing pun terbangun dan lolongan mereka mengakhiri suasana damai itu.

Kami kemudian tidur sebentar. Penulis kampung kepala menjembatani jarak sosial di antara kami dan berkata kepada saya:

“Cerita-cerita lama itu sungguh indah, tetapi kami yang muda tidak lagi mengenalnya.”

“Benar,” jawab saya, “tetapi saya berharap kalian tetap akan menghormati dan memeliharanya.”

Malam-malam yang saya habiskan bersama para lelaki tua yang bijaksana, yang saya kenal di wilayah Masamba, kini juga termasuk ke dalam masa lalu yang telah lama berlalu. Nasib telah memisahkan kami. Dari para lelaki tua yang menceritakan kisah-kisah lama kepada saya, hanya sedikit yang masih hidup, demikian p**a para kepala adat tinggi dan rendah yang mendengarkannya bersama saya. Sebagian meninggal karena sakit atau usia tua, tetapi banyak yang meninggal dengan cara lain. Bahkan setelah tahun 1949, Kahar Muzakkar masih menimbulkan banyak korban di antara mereka. Namun saya tidak pernah dapat menganggap mereka sebagai musuh pribadi saya, meskipun pada tahun 1945 mereka memilih berpihak kepada Republik. Dan mereka pun tidak menganggap saya demikian.

Dengan demikian saya dapat menyimpan kenangan indah tentang wilayah Masamba, yang bercampur dengan rasa iba yang mendalam atas penderitaan yang ditimpakan kepada penduduk oleh pemberontakan terhadap pemerintahan Indonesia yang sah sejak tahun 1950.

Marilah kita berharap bahwa bagi mereka juga akan segera tiba hari kebebasan yang tenteram dan tanpa gangguan.

J. M. van Lijf

—————————————————————————————
Sumber :

Buku Peringatan

dari

Perhimpunan Pegawai Negeri

pada

Pemerintahan Dalam Negeri

di

Hindia Belanda

1956

Diterbitkan oleh:

N.V.A. Oosthoek’s Uitgevers Mij., Utrecht

(Perusahaan Penerbit Oosthoek, Utrecht, Belanda)

Terjemahan lengkap judul:

“Buku Peringatan Perhimpunan Pegawai Negeri pada Pemerintahan Dalam Negeri di Hindia Belanda.”

Kutipan Halaman 181 - 185

Address

Palopo

Telephone

+85362051945

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suku Rongkong posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Suku Rongkong:

Shortcuts

Share