23/08/2026
Selamatkan Generasi Dayak dari Narkoba berapapun Harganya !!!
Banyak pihak bertanya mengapa sebuah Organisasi Masyarakat (Ormas) seperti Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN) yang dipimpin oleh Sadagori Henoch Binti (Ririn Binti) tampil begitu agresif, militan, dan "ngotot" seperti ingin mengambil alih peran pemberantasan narkoba.?
Sikap radikal GDAN didasari oleh tiga pemicu utama yang tidak bisa lagi ditoleransi.
Pertama,
Kehancuran Generasi penerus Peradaban Dayak didepan mata akibat Peredaran Gelap Narkoba
Narkoba telah merubah pribadi orang-orang Dayak yang terpapar : karakter menjadi tidak jujur, kasar, tidak menghormati orang tua, bahkan tidakan kriminalitas menjadi kebiasaan apabila tidak mampu membeli narkoba
Dampak berikutnya Keluarga
Pondasi Kehidupan orang Dayak adalah Keluarga,
banyak keluarga yang terpapar Narkoba terdiri dari semua anggota keluarga Ayah, Ibu dan anak pelaku kejahatan narkoba.
sehingga tujuan mulia lembaga keluarga menjadi hancur. proritas keluarga bukan lagi kebutuhan pokok sandang papan pangan sebagai yang utama tapi sabu sabu lah yang terutama. bahkan Hasil dari upah pekerjaan harian pun di conversi dengan narkoba sabu - sabu di beberapa daerah.
Jadi tidak salah Kehancuran Keluarga Dayak yang terlihat jelas dari Tingginya perceraian di Kalteng yg didominasi keluarga muda yg punya anak.
Dampak utama Kehilangan Visi hidup
Peredaran Gelap Narkoba di kalteng membuat pola hidup orang- orang Dayak menjadi liar gelap
karna pola hidup berubah, maka adat kebiasaan peradaban dayak telah retak secara berlahan, serta nilai nilai adat Dayak dicemari, digeser dan Mati.
Dampak yang terakhir adalah keimanan orang orang Dayak yang terdampak menjadi runtuh.
karna tuhan mereka adalah diri mereka sendiri yaitu keinginan untuk mendapatkan zat Narkoba, AKHIRNYA
orang- orang Dayak yang terlibat peredaran Gelap Narkoba mulai berbaris rapi menuju tujuan akhir mereka yaitu Neraka.
Kedua, GDAN muak dengan kelemahan sistem peradilan dan oknum-oknum yang menjadi parasit pelindung bandar.
Ketiga,
Dari pada hanya berorasi yang tidak berdampak dan menyalahkan saja, GDAN ingin berbeda yaitu membuktikan bahwa orang Dayak bisa berbuat bertindak bekerja untuk utus Dayak
walaupun dinilai kecil oleh sebagian pihak
Tapi GDAN memilih untuk berbuat
Hal dilakukan dengan GDAN langsung menikam jantung PASAR NARKOBA DI PUNTUN dengan meletakkan batu pertama pembangunan Posko Terpadu pada tanggal 1 Juni 2026,
Puncaknya dari alasan GDAN
PERISTIWA DI KATINGAN membuat kemarahan masyarakat Dayak meledak ketika operasi penggerebekan narkoba di Katingan berujung pada gugurnya tiga pahlawan Bhayangkara oleh mafia NARKOBA bersenjata.
GDAN menyadari bahwa urusan ini bukan hanya kepada penegak hukum Tapi Negara butuh masyarakat sipil yang berani bayar harga.
PEPERANGAN TERHADAP BANDAR NARKOBA TELAH DI MULAI.
GDAN TIDAK INGIN HANYA MENUNGGU BUKTI
TAPI GDAN INGIN MEMBUKTIKAN JIKA ADA HARAPAN UNTUK GENERASI DAYAK MENJADI ORANG ORANG YANG DAPAT DIANDALKAN OLEH BANGSA PADA INDONESIA EMAS 2045.
ISEN MULANG,
ELA MIKEH,
BANDAR NARKOBA MUSUH ITAH !