13/08/2026
Pada tahun 1981, Mansur Geiger, seorang geolog muda, menyusuri Sungai Kahayan untuk mencari sumber daya mineral. Beliau tiba di Tumbang Mahuroi, desa terakhir di hulu sungai dan membuatnya sebagai basis kegiatannya. Ia tinggal bersama masyarakat, hidup sederhana seperti mereka, dan menjalin persahabatan yang erat dengan warga—termasuk Bue Sumbin, seorang tetua yang yang kelak menjadi salah satu pendiri YTS
Dari pengalaman itu, Mansur Geiger melihat potensi besar yang dimiliki masyarakat. Yang mereka butuhkan bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan, kepercayaan, dan pendidikan untuk mengembangkan potensi mereka. Inilah semangat yang kemudian menjadi bagian dari lahirnya Yayasan Tambuhak Sinta (YTS): berinvestasi pada manusia dan membangun masyarakat melalui hubungan yang dilandasi kepercayaan. Pada 8 Agustus 2026, Mansur Geiger kembali mengunjungi Desa Tumbang Mahuroi setelah 13 tahun tidak berjumpa dengan masyarakat di sana.
Nama Tambuhak Sinta sendiri diberikan oleh Bue Sumbin. Tambuhak berarti tali yang diikatkan pada tiang yang kuat untuk mengamankan barang yang berharga, sementara Sinta berarti cinta. Sebuah nama yang menggambarkan harapan agar YTS menjadi ikatan yang kuat yang menyatukan masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Hingga kini, semangat itu tetap menjadi bagian dari cara YTS bekerja: hadir, tinggal bersama masyarakat, mendengarkan, belajar, dan berjalan bersama mereka untuk jangka panjang.